
Rika tengah asik bercengkrama dengan Vinda langsung diam ketika pintu ruangan Michael terbuka. Tampak atasannya dengan wajah lusuh, tetapi tidak mengurangi ketampanannya sama sekali. Matanya yang melihat langsung bangkit dan menundukan kepala. Sedangkan Michael, dia hanya melangkah tak peduli dan langsung meletakan dokumennya di meja kerja.
“Kamu boleh keluar, Rika,” ucap Michael yang masih membelakanginya.
“Baik, Tuan. Permisi,” jawab Rika dan langsung keluar meninggalkan Vinda yang masih duduk dan menatap semuanya.
Terdengar pintu tertutup dan helaan napas Michael yang terasa begitu berat. Vinda yang melihat langsung bangkit dan hendak mendatangi pria di hadapannya, tetapi diurungkan karena Michael sudah membalik tubuh dan menatap Vinda dengan tatapan datar.
“Mau ke mana, Vinda?” tanya Michael dengan mata mengamati Vinda yang sudah setengah berdiri.
Vinda yang ditanya akhirnya mengurungkan niat dan kembali duduk. “Tidak. Aku hanya ingin bertanya. Apa kamu ada masalah?” ucapnya dengan tatapan penasaran.
Michael yang mendengar tak menjawab dan hanya menghela napas panjang. Dia melangkah mendekati Vinda yang masih duduk di sofa ruangannya. Matanya bahkan tak pernah melepaskan pandangan dari wanita di hadapannya. Sekarang dia benar-benar tidak bisa melepaskan Vinda.
Vinda yang melihat Michael sudah duduk di sebelahnya langsung menatap bingung karena tiba-tiba pria tersebut bersandar di pundaknya dan menggenggamnya erat. Vinda hanya bingung melihat Michael yang terasa berbeda.
“Kamu ada apa? Ada masalah?” tanya Vinda lagi dan kali ini sembari melirik ke arah Michael.
Michael menggeleng pelan. “Aku hanya ingin seperti ini sebentar. Boleh, kan?”
Vinda yang mendengar tersenyum dan mengelus pipi Michael penuh cinta. “Tentu saja,” jawabnya dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. Ada rasa bahagia bercampur haru, tetapi ada rasa pedih dan takut yang juga melandanya. Dia takut jika nanti saat Michael menceraikannya, dia sudah begitu dalam mencintai pria di sebelahnya.
“Vinda,” panggil Michael pelan dan membuat Vinda mengalihkan pandangan, “apa kamu benci aku?” celetuk Michael karena dia sadar bahwa dulu dia pernah berbuat begitu kejam kepada istrinya tersebut. Dia merasa malu dan juga menyesali semuanya.
“Marah? Untuk apa?” Vinda mengerutkan kening bingung.
Michael mendongak dan menatap Vinda yang juga menatapnya. “Semua yang pernah aku lakukan ke kamu. Aku benar-benar jahat kepadamu,” ucap Michael meneliti wajah Vinda yang masih menimbulkan senyum manis dan tulusnya. Rasanya dia benar-benar merasa hancur dan menyesal. Michael memilih Vinda mengoloknya atau memakinya. Setidaknya itu akan membuat beban pikirannya menjadi berkurang, termasuk rasa bersalahnya.
“Aku tidak pernah marah dan dendam denganmu, Michael. Semua sudah berlalu dan aku tidak pernah memasukan apa yang kamu lakukan dulu. Jadi, untuk apa kamu masih memikirkannya,” sahut Vinda membuat Michael merasa begitu bersalah, “yang terpenting, kamu harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan marah-marah terus,” usul Vinda dengan senyum meledek.
“Memangnya aku suka marah-marah?” Michael langsung menegakan badan dan menatap Vinda dengan pandangan memprotes tidak suka.
“Memangnya kamu tidak tahu? Seluruh karyawanmu begitu takut menatapmu, Ael. Padahal kamu hanya manusia biasa.” Vinda menatap Michael dengan wajah tak percaya. Jadi, seperti ini bos galak yang selalu terlihat seperti anak kecil di matanya.
Michael yang mendengar berdecak kesal. “Itu bukan karena salahku, Vinda. Itu karena mereka sendiri yang takut,” elak Michael yang tidak mau dikatakan galak atau kejam.
Vinda yang mendengar hanya tersenyum karena melihat wajah kesal Michael. Bahkan, tawanya sudah terdengar di telinga pria tersebut dan membuat Michael menatapnya dengan wajah tak suka. Namun, Vinda tidak merasa takut sama sekali. Dia malah semakin menahan tawanya yang siap meledak.
“Vinda, kenapa kamu tertawa? Apa aku lucu?” protes Michael tak suka.
Vinda mengangguk dan menghentikan tawanya, meski terkadang masih terlihat tawa yang siap meledak. “Michael, apa mereka tahu bagaimana kalau atasannya merajuk? Aku rasa jika mereka melihat, tidak akan ada yang takut lagi denganmu.”
Michael yang mendengar hanya diam dan memperhatikan Vinda lekat. Selama dia menikah dengan Vinda, belum pernah ada yang dilakukannya untuk membahagiakan wanits tersebut. Dia malah selalu menambah ribuan masalah yang selalu dihadapi Vinda. Bukankah itu tidak adil sama sekali? Terlebih mengingat semua memang karena ulahnya yang terlalu egois.
Michael menggenggam tangan Vinda erat dan itu membuat tawa wanita di hadapannya meredam. Matanya menatap Vinda lekat dan tersenyum. “Kamu mau ke suatu tempat? Aku akan mengantarmu.”
__ADS_1
“Kamu mau menjadi sopirku?” tanya Vinda dengan mata menatap tak percaya. Bahkan, senyumnya tidak pernah luntur sama sekali.
“Terserah kamu menyebutku apa,” sahut Michael pasrah, “jadi, ada yang ingin kamu datangi?”
Vinda diam sejenak dan tersenyum lebar. “Aku ingin ke cafe Dika. Sudah lama aku tidak datang ke sana,” pintanya dengan tatapan memohon.
“Hah?” Michael mengerutkan kening heran. Dia berpikir bahwa Vinda akan mengatakan suatu tempat indah seperti pantai atau semacamnya. Lagi pula mereka juga belum pernah berbulan madu selama menikah. Yang ada, kehidupan rumah tangganya selalu dipenuhi dengan masalah dan dia adalah sumbernya.
Vinda mengangguk antusias. “Iya, Ael. Aku benar-benar merindukan mereka semua. Aku rindu Dika, Della dan semua yang ada di sana,” jelas Vinda penuh dengan semangat, “boleh, ya?”
Michael menghembuskan napas keras. Dia tidak tega mematahkan semangat Vinda dan langsung mengangguk. Di luar perkiraannya, Vinda malah langsung berhambur dan memeluknya dengan erat. Rasanya dia benar-benar begitu nyaman. Kenapa baru sekarang dia menyadari segala perasaannya?
Vinda yang mulai sadar hendak melepaskan pelukannya, tetapi dicegah oleh Michael.
“Biar seperti ini. Aku masih ingin bersamamu,” kata Michael membuat Vinda menghentikan tindakannya.
Vinda hanya diam dan meresapi pelukan yang terasa semakin erat. Rasanya dia benar-benar seperti berada di dunia lain. Merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dirasanya. Aku takut jika nantinya aku hancur, Ael, ucap Vinda dalam hati. Namun, dia masih tetap memeluk Michael dan tak melepaskannya sama sekali.
_____
Rika menghela napas lega ketika dia keluar dari ruangan Michael. Atmosfer yang dirasakan benar-benar berbeda ketika hanya ada dirinya dan juga Vinda. Ketika Michael datang, semua ruangan rasanya langsung gelap dan tak ada warna. Bahkan dia benar-benar ingin pingsan jika terus menghadapi atasannya ketika selesai meeting. Bahkan otaknya berpikir, bagaimana cara seorang Vinda menghadapai suami kejam seperti Michael. Atau malah dia bertingkah manis kepada istrinya? Membayangkannya saja Rika merasa tidak akan mungkin.
Rika baru saja duduk ketika seorang pria datang ke mejanya dan langsung berpangku dagu. Melihatnya saja membuat Rika tersenyum. Bukan karena dia mencintai pria yang sudah menampilkan senyum menenangkannya, tetapi karena pria di hadapannya selalu melakukan hal yang sama setiap harinya.
“Halo, Rika cantik,” sapanya.
“Kenapa kamu selalu memanggilku dengan sebutan yang terlalu formal,” protes Mike tidak suka karena saat Rika menyapanya dengan kata ‘Pak’ karena dia tidak akan bisa melancarkan rayuan mautnya kepada gadis di hadapannya.
“Maaf, Pak. Ini adalah lingkungan kantor dan saya begitu menghormati anda sebagai atasan,” jawab Rika dengan sopan.
Mike hanya menghela napas panjang dan memutar bola mata lelah. Selalu saja jawaban yang sama. “Baiklah,” putus Mike setelahnya, “aku mau tanya, Michael ada di ruangan?”
“Tuan Micahel ada di ruangan, tetapi masih bersama dengan istrinya,” jelas Rika dengan senyum ramah.
“Istrinya? Memangnya dia sudah menikah?” Mike mengerutkan kening bingung. Sudah hampir tiga bulan dia pergi dari perusahaan Michael karena urusan di lain tempat dan sahabatnya sudah menikah? Tanpa mengabarinya? Rasanya dia ingin mencekik Michael saat ini juga.
“Iya, Pak. Tepatnya sudah berapa lama saya kurang paham.” Rika tidak ingin melakukan kesalahan nantinya.
Mike berdecih kesal. “Kalau begitu aku akan kembali lagi nanti. Selamat berkerja cantik,” ucap Mike dan berlalu meninggalkan Rika.
Rika yang mendengar hanya menghela napas dan tersenyum menatap Mike yang sudah menjauh, menghilang di balik pintu yang lain. Namun, perlahan senyumnya juga ikut menghilang. Bersamaan dengan tatapan mata yang mengarah kepadanya. Rasanya setiap kali mendapat tatapan tersebut dia merasa benar-benar terluka. Bukan karena dia takut atau sebagainya, tetapi karena mata yang biasaya memandang dengan cinta kini menatapnya dengan kebencian.
Rika hanya diam dengan wajah datar ketika langkah pria tersebut menuju ke arahnya. Dia merasa, semua yang dilakukan memang salah. Seharusnya dia tidak pernah bekerja di perusahaan yang sama dengan pria di tersebut.
“Apa kamu selalu bertingkah semanis itu kepada semua pria?” tanya Randy dengan wajah dingin.
__ADS_1
Rika menatap Randy dengan tatapan datar. “Itu bukan urusan anda, Dokter Randy,” jawab Rika sembari meyakinkan hatinya akan baik-baik saja.
“Kamu benar. Tetapi aku mau, kamu berhenti dari pekerjaan klub malammu dan bekerja di kantor Michael dengan benar. Kamu tahu? Kantor ini tidak pernah membiarkan karyawannya mencoreng nama baik perusahaan,” kata Randy dingin, “aku hanya mengingatkan.”
Rika menarik napas dalam dan menatap Randy terluka. Jika saja dia tidak sedang berhadapan dengan pria tersebut, dia yakin, air matanya akan mengalir sempurna. Bahkan, hatinya sudah merasa begitu terluka karena perkataan Randy. Apa dia sehina itu? Bahkan, Randy tidak pernah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu tahu, Rika? Saat Michael tahu pekerjaanmu sebagai wanita pelayan nafsu pria, dia akan segera memecatmu. Jadi, sebelum itu terjadi, tinggalkan klub malam dan berubahlan menjadi wanita baik-baik,” saran Randy dan segera meninggalkan Rika yang masih diam. Dia bahkan enggan melihat wajah wanita tersebut. Rasanya dia benar-benar mual jika mengingat apa yang pernah dilihatnya.
Rika melihat kepergian Randy dengan mata nanar. Senyum mirisnya kembali terukir dan ada tetesan bening dari mata yang mengalir. Dia benar-benar ingin menangis, tetapi langsung diurungkan. Dia memilih menghapus air matanya, menghela napas dan langsung duduk di kursi kerja kembali.
“Apa dia selalu bertingkah seperti itu kepadamu, Rika? Apa kalian memiliki masalah?”
Suara lembut tersebut membuat Rika mengalihkan pandangan. Matanya menatap sosok Vinda yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya. “Bu Vinda,” ucap Rika dengan nada bergetar. Bagaimana jika dia dipecat dari perusahaan karena ucapan Randy beberapa menit yang lalu?
“Apa yang dikatakan Dokter Randy benar?” tanya Vinda penasaran dan tak mendapatkan jawaban apa pun. Rika hanya diam dengan kepala menunduk. Dia tidak bisa menjelaskan apa pun saat ini.
_____
Randy melangkah meninggalkan kantor Michael yang juga merupakan tempatnya menjadi dokter perusahaan. Dia bahkan meminta satu ruangan tak jauh dari ruangan Michael dan langsung dituruti. Entah apa yang dulu pernah dipikirkannya, tetapi rasanya dia ingin dekat dengan Rika.
Menyadari pikiran konyol tersebut, Randy tersenyum miris. Harusnya dia tidak pernah melakukan hal konyol yang malah membuatnya semakin terluka. Selalu berbicara dengan kasar kepada Rika. Randy hanya mencoba mengobati lukanya yang begitu dalam hingga saat ini. Apalagi melihat Rika tersenyum bersama dengan Mike, rasanya dia benar-benar cemburu dan merasakan sakit secara bersamaan.
Cemburu? Randy menghela napas kasar. Rasanya dia sudah benar-benar gila karena mencemburui mantan kekasih yang sudah jelas-jelas menghianatinya. Mata kepalanya melihat sendiri seorang Rika keluar dari dalam klub bersama pria dan memeluknya erat. Awalnya dia mengira itu hanya kebetulan, tetapi semakin hari dia melihat kekasihnya keluar masuk klub dan itu membuat perasaannya tergores.
“Kamu sudah keterlaluan, Rika. Aku benar-benar membencimu,” tegas Randy dengan mata menggelap.
Dia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia tidak ingin melihat Rika atau berhubungan dengannya. Bersamaan dengan hal tersebut, ponselnya berdering dan menampilkan foto wanita dengan senyum anggun, tetapi berusia lebih tua darinya. Terlihat dari kerutan wajah yang mulai terlihat jelas.
Randy meraih ponsel yang ada di sebelahnya dan segera mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Ma.”
“Halo, Randy. Kamu bisa pulang sekarang?” suara lembut mamanya terdengar begitu merdu dari seberang telfon.
“Iya, ada apa memangnya, Ma?”
“Pulanglah dulu. Kita bicarakan di rumah,” jawab mamanya sembari mematikan ponsel.
Randy yang mendengar mengerutkan kening heran. Ada apa dengan mamanya? Perasaannya kembali tidak enak. Dia memilih untuk membelokan mobil dan kembali ke rumah. Lagi pula dia tidak memiliki jadwal di rumah sakit hari ini. Jadi, dia bisa pulang dan segera menemui mamanya.
______
🍁🍁🍁🍁🍁
Kim masih punya satu hutang nih sama kalian semua. Sabar ya nanti Kim tepati kok hehe 😆😆
Selamat membaca. Semoga kalian suka. Jangan lupa like, comment, tambah favorit, vote Kim dan follow. Eh, kok banyak mau. Tak apalah 😅😅😅
__ADS_1
Sampai ketemu di chapter selanjutnya sayang-sayangkuh 😚😚😚😚
🍁🍁🍁🍁