
Rika sudah menunggu Randy dengan mata yang menunjukan kebahagiaan. Senyum di bibirnya bahkan tidak pernah luput sama sekali. Ucapan Vera, mama mertuanya benar-benar membuat hatinya menghangat. Pelukan yang dirasa masih begitu terasa meski sosok yang baru saja memanjakannya sudah pergi dari apartemen sejak satu jam yang lalu.
“Randy lama banget sih pulangnya,” gerutu Rika dengan mata menatap ke arah pintu apartemen. Dia benar-benar menunggu Randy dan akan mengatakan semua kabar gembira yang baru saja didapatkan.
“Randy pasti kaget,” ujar Rika berniat memberikan kejutan kepada suaminya.
Rika mencoba menyibukan diri dengan menonton televisi, meski pikirannya masih tetap melayang entah ke mana. Hati yang terlalu berbunga membuatnya merasa kurang fokus. Hingga bunyi yang begitu ditunggu terdengar, membuat Rika yang masih duduk langsung melompat turun dari sofa dan segera berlari ke arah pintu. Tanpa melihat siapa yang bertamu, Rika langsung membuka pintu.
“Randy,” ucap Rika yang langsung berhambur memeluk suaminya dengan begitu erat.
Randy yang baru saja datang menatap Rika dengan pandangan bingung. Ada apa dengan istrinya?. “Kamu kenapa, sayang? Kamu benar-benar terlihat begitu bahagia. Apa ada hal yang terjadi selama aku pergi?” tanya Randy dengan pandangan menyelidik.
Rika melepaskan pelukannya dan tersenyum begitu manis. Jemarinya menggenggam tangan kekar Randy dan membawa suaminya masuk. Setelah sampai di dalam dan pintu sudah terkunci, Rika segera membawa Randy ke sofa. Pria tersebut hanya diam dengan kening berkerut melihat istrinya begitu berbeda. Padahal ketika dia pergi, Rika masih terlihat begitu lesu dan juga kurang semangat.
Rika mendudukan Randy yang masih bingung di sofa. Sedangkan dia duduk di bawah dan mendongak menatap suaminya yang masih memandang begitu lembut.
“Sepertinya kamu jauh lebih baik dari tadi. Apa ada hal baik yang terjadi?” tanya Randy dengan jemari yang menangkup pipi Rika dan menatap istrinya dengan perasaan gemas.
Rika yang mendengar langsung mengangguk dan mengumbarkan senyum menawannya. “Kamu tahu, aku memiliki kabar bagus untuk kamu, Mas,” ucap Rika pelan.
“Oh iya? Apa?” tanya Randy dengan wajah antusias. Dia bahkan sudah turun dan duduk di karpet bulu yang diletakan di depan televisi.
Rika membenarkan duduknya dan menatap Randy dengan penuh kebahagiaan. “Kamu tahu, tadi mama datang ke sini,” ujar Rika memberitahu.
“Apa? Mama ke sini? Mau ngap....” Randy menghentikan ucapannya karena jemari Rika sudah membekap mulutnya.
Rika menggeleng pelan dengan bibir yang masih mencetak senyum manis. “Mama datang gak mau buat masalah, Mas. Mama datang cuma mau bilang kalau beliau sudah merestui kita. Beliau akhirnya mau menerima aku sebagai menantunya,” jelas Rika dengan seluruh kebahagiaan yang sudah ditunjukan.
“Apa? Mama merestui kita?” tanya Randy dengan kening berkerut.
Rika mengangguk antusias. “Iya. Tadi mama nyariin kamu juga, tetapi aku bilang aja kamu masih di rumah sakit. Jadi deh mama cuma bilang sama aku.”
“Terus, sekarang mama di mana, sayang?” tanya Randy menyelidik.
“Mama pulang, Mas. Mama bilang mau ke sini lagi besok. Terus katanya kita boleh pulang ke rumah yang dulu,” jawab Rika dengan wajah polos.
Mama memberikan restu? Randy menatap televisi yang masih menyala dengan pandangan dalam. Namun, meski demikian, dia masih tetap meragukan mamanya. Matanya menatap Rika yang masih tersenyum dengan penuh kebahagiaan, membuat Randy tidak tega untuk mengatakan isi hatinya.
Apa yang sebenarnya Mama rencanakan?, batin Randy mulai resah.
“Mas, kamu mikirin apa?” tanya Rika yang sudah menatap Randy dengan pandangan bingung.
Randy yang baru saja ditegur langsung menggeleng dan tersenyum. “Bukan apa-apa, sayang. Aku keluar sebentar, ya?”
“Mau ngapain lagi?” tanya Rika dengan mata menyipit curiga.
Randy yang melihat langsung tertawa kecil dan mencubit pelan pipi istrinya. “Aku cuma mau ketemu papa dan membicarakan mengenai pembangunan rumah sakit baru,” terang Randy membuat Rika mengangguk.
“Tetapi pulangnya jangan malam-malam,” ucap Rika dengan manik mata memohon.
Randy mengangguk. Setelah mencium kening Rika sekilas, dia langsung bangkit dan keluar apartemen. Dia harus menanyakan apa yang sebenarnya direncanakan mamanya.
Randy tidak percaya mama dengan mudahnya merestui hubungan Randy dengan Rika. Aku harus memastikan semuanya, batin Randy merasa curiga.
__ADS_1
_____
Hari mulai semakin gelap ketika Roy menapakan kaki di rumah kayu dengan tangga di bagian luarnl. Rumah panggung yang masih terlihat begitu kokoh. Sekitarnya juga tampak ramai karena memiliki tetangga yang juga begitu ramah. Terbukti ketika Roy dan Sam baru saja datang. Mereka semua langsung menyambut dengan begitu baik.
“Roy, di mana Rensi?” tanya Sam tidak sabaran. Matanya menatap sekeliling dengan mata menyelidik, berharap segera mendapatkan Rensi dan mengajaknya kembali.
Roy menatap Sam dan menghela napas panjang. Langkahnya terhenti dan Roy mulai menatap Sam dengan wajah serius. “Sam, kamu yakin mau menemuinya?” tanya Roy tidak yakin.
Sam mengangguk dan menatap Roy bingung. “Ada apa dengannya?” Sam malah balik bertanya dan menatap Roy tidak kalah serius.
Roy menghela napas panjang dan menatap Roy tajam. “Kamu tahu, Rensi adalah wanita yang dulunya hampir di nikahi oleh tuan Michael. Tetapi semua itu gagal karena dia yang kabur bersama dengan Dave. Setelah itu ada insiden di mana kamu disuruh menembak tuan Michael dan sebagainya. Rensi bahkan hampir membunuh nona Vinda yang jelas-jelas adalah saudaranya. Kamu yakin akan membawanya pulang bersamammu?” tegas Roy sekali lagi. Dia tidak mau ketika Rensi keluar dari desa akan membuat masalah dan mengacaukan kembali keluarga Michael yang sudah berbahagia.
Sam diam sejenak dan menatap Roy. Dia masih mencerna semua berita lain yang diterimanya. Ini memang baru didengar dan terasa bodoh. Namun, Sam memilih untuk mengangguk. “Bagaimana pun dia dulu, tetap saja dia adalah wanita yang mengandung anakku, Roy. Jika dulu dia begitu, aku akan coba untuk mengubahnya,” putus Sam dengan yakin.
Roy menghela napas kembali dan mengangguk. “Baiklah. Apa pun keputusanmu, aku yakin semua adalah yang terbaik,” ucap Roy menyerah.
Roy kembali membimbing Sam menuju ke rumah yang dimaksud. Roy mengetuk pelan pintu kayu di hadapannya. Menunggu seseorang yang ada di dalam segera membukakannya. Tidak lama, sampai seorang wanita dengan pakaian sederhana keluar dan menatap Roy dengan senyum ramah.
“Tuan Roy. Ada apa ya anda datang kemari?” tanya wanita bernama Eka yang masih menatap dengan wajah bingung.
“Rensi ada?” ucap Roy dengan tegas.
“Ada. Nona Rensi ada di lantai dua kamar paling ujung,” jelas Eka singkat.
Sam yang mendengar langsung masuk dan menerobos Eka yang menatap bingung. Langkahnya dengan cepat menaiki anak tangga dan mencari kamar yang dimaksud. Ketika matanya menatap kamar paling ujung, dengan cepar Sam segera membuka dengan perasaan berkecambuk.
“Rensi,” panggilnya dengan terburu-buru.
_____
Semua tidak akan terjadi seperti ini jika aku tidak terlalu egois dan juga serakah, batin Rensi menyesali semua perbuatannya.
Rensi kembali menatap hamparan sawah yang terlihat begitu asri karena padi yang siap di panen. Dia ingin datang ke sana dan bermain sepuasnya. Namun, karena kondisi kehamilan yang tidak memungkinkan, dia mengurungkan niat awalnya. Rensi cukup menikmati pemandangan di hadapannya dari balik jendela kamar.
Suara gebrakan pintu membuat lamunan Rensi hilang seketika. Dia mengabaikan siapa yang ada di belakang karena dia yakin, itu pasti Eka yang terburu-buru datang untuk memastikan keadaannya. Rensi masih tetap fokus dengan pemandangan di luar dan enggan berbalik badan.
“Rensi,” panggil seseorang dari arah belakang dan itu membuat Rensi penasaran.
Rensi berbalik dan menatap pria dengan badan kekar tengah menatapnya lekat. Keningnya berkerut ketika melihat pria yang sudah melangkah ke arahnya. “Anda siapa?” tanya Rensi dengan pelan.
Sam yang sudah berada di hadapan Rensi langsung memeluk Rensi erat. Membuat wanita tersebut berontak dan mencoba melepaskan pelukannya.
“Aku mencarimu,” bisik Sam ketika Rensi sudah memukul pelan lengannya dan mulai berontak dengan perilakunya.
“Lepas. Aku tidak mengenal anda,” tegas Rensi dengan mata menatap penuh amarah.
Sam menghela napas dan mengabaikan perlawanan Rensi. “Tenang, Rensi. Tenanglah. Aku adalah ayah dari anak yang kamu kandung.”
Rensi yang mendengar langsung diam dengan wajah yang sudah menunjukan ketegangan. Jantungnya berdetak menyadari pria yang saat ini memeluknya adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab dengan kehamilannya.
“Kamu pria berengsek yang sudah menghamiliku? Lepaskan!” bentak Rensi sembari mengeluarkan semua kemampuannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan ini. Kita bangun rumah tangga yang sempurna. Aku menyayangimu, Rensi. Aku mohon percayalah,” ucap Sam mencoba meyakinkan Rensi yang masih berontak.
__ADS_1
Rensi mengabaikan semua ucapan Sam. Sampai pada akhirnya, matanya mulai mengabur, membuat semua perlawanannya sia-sia. Rensi memejamkan mata, menghilangkan rasa sakit yang mulai menyerang. Hingga keasadaran yang mulai menghilang. Semua terlihat gelap. Rensi pingsan.
Sam yang melihat langsung melepaskan pelukannya dan menatap Rensi dengan mata membelalak. “Rensi. Bagun, Rensi. Bangun,” ucap Sam mulai dipenuhi air mata.
Roy dan Eka yang mendengar langsung menyusul ke kamar Rensi dan membawanya ke rumah sakit. Bahkan, sepanjang perjalanan, Sam hanya menggenggam tangan Rensi erat. Dia baru tahu jika selama ini kandungan Rensi memang lemah karena banyak pikiran. Tetapi, Rensi masih memiliki hati dan tetap mempertahankan kandungannya.
Tuhan, jangan ambil mereka, pinta Sam dengan penuh harap.
______
“Apa yang Mama rencanakan?” tanya Randy dengan nada tajam dan mata menatap Vera dengan penuh ketegangan.
Randy baru saja masuk ke rumah mamanya dan melihat mamanya tengah menyesap kopi. Dengan cepat dia menanyakan mengenai semua keluh kesah yang sudah mengganjal dalam hatinya. Vera yang ditanya menatap Randy dengan tatapan dibuat seolah bingung dan meletakan cangkir berisi teh tersebut.
“Apa maksudmu, Randy? Kamu baru saja datang dan sudah menuduh mama dengan hal yang bahkan belum mama ketahui alasannya?” Vera balik bertanya dengan kening berkerut bingung.
Randy yang mendengar berdecak kesal dan menatap mamanya dengan pandangan tajam. “Mama merestui hubunganku dengan Rika secepat itu? Bahkan, Mama adalah orang yang sudah dengan kekeh melarang pernikahanku dengan Rika,” jelas Randy dengan suara tajam, “jadi, apa yang sebenarnya Mama rencanakan?”
Vera yang mendengar diam sejenak dan mengulum senyum mendengar penuturan anaknya. “Jadi itu yang kamu pikirkan mengenai mama?” tanya Vera dengan suara lembut, tetapi terkesan tegas. Randy yang ditanya hanya diam dan menatap mamanya dengan pandangan acuh.
“Mama tidak sekejam itu, Randy. Mama juga mau kamu bahagia. Jadi, setelah berpikir panjang, mama merestui kalian. Mama mengalah. Bagaimana pun dia adalah wanita yang mengandung anakmu. Inilah cara mama untuk mendapatkanmu kembali,” ucap Vera dengan wajah melembut.
Randy yang mendengar hanya memejamkan mata dan meresapi setiap kalimat yang dilontarkan mamanya. Dia benar-benar ingin percaya, tetapi rasanya begitu sulit. Randy membuka mata dan menatap mamanya yang masih menatap dengan pandangan meyentuh. Jujur, dia ingin sekali semua ini adalah kenyataan.
“Ma, apa pun yang sedang Mama rencanakan. Randy mohon, jangan libatkan istri dan anakku. Aku akan melindunginya dari Mama. Jadi, jangan pernah macam-macam,” tegas Randy yang langsung berbalik dan mulai melangkah meninggalkan mamanya.
Vera yang mendengar menghela napas panjang dan menatap anaknya dengan tetes air mata yang mulai mengalir. “Bahkan, anakku juga sudah tidak percaya. Mama benar-benar menerimanya, Randy. Meski terkadang mama masih tidak rela melihatnya bersama denganmu. Mama hanya mencoba mempercayai pilihanmu,” ucapnya pilu.
_____
“Mas, apa Rensi setelah ini baik-baik saja, kan? Apa di sana dia tidak kesepian? Lalu, kalau nanti dia melahirkan, apa ada yang menolong?” tanya Vinda yang sudah berbaring di ranjang dan memeluk tubuh Michael erat. Menjadikan tangan suaminya sebagai bantalan.
Michael sudah memejamkan mata terpaksa membuka kembali matanya dan menatap Vinda yang masih memainkan dada bidangnya. “Kamu pikir aku sekejam apa, sayang? Kamu pikir aku akan membuangnya ke hutan yang tidak ada orang sama sekali?”
Vinda diam sejenak dan mengangguk. Selama ini dia memang berpikir bahwa Michael meletakan saudarinya itu di hutan yang begitu sepi dan tidak memiliki tetangga sama sekali. Namun, dia tidak cukup berani untuk mengungkapkan karena takut Michael marah jika dia mengungkit mengenai Rensi.
Michael yang mendengar segera berdecak kesal dan mengertakan pelukannya. “Sayang, aku tidak sekejam itu. Aku bahkan selalu memberikan yang terbaik untuk Rensi. Aku meletakannya di desa di mana dia bisa mengoreksi kesalahannya. Dia juga memiliki tetangga yang ramah dan baik. Kalau masalah teman, aku sudah menyiapkan satu orang untuk mengurusnya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, baby,” jelas Michael dengan tampang kesal.
Vinda yang mendengar segera menatap lekat ke arah Michael. “Jadi dia tidak diletakan di hutan?” tanya Vinda merasa kurang yakin.
Michael tertawa pelan mendengar penuturan istrinya. Dia segera menggeleng dan mencubit pelan pipi Vinda karena gemas. Setelahnya, dia menyatukan keningnya dengan kening Vinda. Matanya menatap istrinya dengan senyum lembut.
“Aku masih cukup sadar diri untuk tidak membuat istri kesayanganku ini khawatir. Aku tidak akan melukai keluargamu, sayang. Aku begitu mencintaimu,” ucap Michael pelan.
Vinda yang mendengar tersenyum dan mengangguk. “Aku juga menyayangimu. Aku benar-benar mencintaimu, Mas. Bahkan ketika takdir mulai berusaha memisahkan kita. Aku tetap mencintaimu,” ucap Vinda dengan penuh semangat.
Michael yang mendengar langsung tertawa kecil dan memeluk kembali istrinya. “Tidurlah. Sudah malam. Aku tidak mau nanti kamu sakit.”
Vinda yang mendengar mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Hingga matanya mulai terpejam dan memasuki alam mimpi. Bersama dengan Micahel yang juga mulai terlelap dalam tidur.
_____
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Hayoo..yang udab pada nuduh tante Vera, jangan lupa nanti sungkem ya. 😆😆😆
🍁🍁🍁🍁🍁