
Suasana mencekam terasa begitu kental dalam ruangan berbau obat tersebut. Suara sakit yang tertahan membuat pria yang saat ini menggenggam tangan istrinya merasa begitu tersiksa. Wajah yang biasanya terkesan datar dan juga tidak pernah menampilkan ekspresinya sama sekali, kini dia tengah mati-matian menenangkan istrinya yang sudah merasa menyerah.
Michael menggenggam tangan Vinda dengan erat, tidak sedetik pun berniat meninggalkannya. Dia hanya ingin menatap Vinda dan menemaninya sampai semua rasa sakit yang diraskaan istrinya berubah menjadi senyum bahagia.
Tuhan, apa selama ini melahirkan memang sesakit ini? Jika engkau berkenan, pindahkan rasa sakit tersebut untuk hamba. Jangan persulit Vinda dalam prosesi kelahiran anak kami. Jangan hukum dia untuk semua kesalahanku, batin Michael memohoh.
Sudah dua kali Vinda merasakan dokter dalam ruangan tersebut memasukan sejenis obat agar memperlancar prosesi kelahirannya. Namun, semua sama saja. Vinda hanya merasakan sakit karena bayinya tidak juga lahir.
“Dokter, bagaimana ini? Aku mau istriku segera ditangani,” ucap Michael dengan wajah mengeras dan menatap dokter dengan tegas.
“Kita akan lakukan operasi,” kata dokter tersebut dengan wajah seirus.
Vinda yang awalnya mati-matian menolak akhirnya pasrah ketika melihat Michael sudah menitikan air matanya lemah. Dia menyetujui keinginan suaminya untuk melakukan operasi pengangkatan bayinya.
“Janji kamu akan tetap baik-baik saja,” ucap Michael ketika melihat wajah Vinda yang begitu lemah. Dia benar-benar takut jika sampai kehilangan Vinda. Sampai ingatan beberapa bulan yang lalu kembali terlintas. Mengulang kembali percakapannya dengan Vinda.
“Mas, apa pun yang terjadi, kamu akan tetap menyayangi anak kita, kan? Kamu akan merawatnya dengan baik, kan?”
Michael langsung menitikan air matanya perlahan.
Vinda tersenyum dan mengangguk pelan. “Aku mencintaimu, Michael,” ucap Vinda dengan suara pelan.
Michael hanya mampu mengangguk dan menatap Vinda yang sudah dibawa ke ruang operasi. Seketika, tubuhnya terasa lemas. Semua perbuatannya kepada Vinda yang lalu semakin terulang dalam benaknya.
“Tuhan, selamatkan mereka. Aku bahkan belum sempat membahagiakan Vinda selama ini. Aku akan mengorbankan apa pun asal bisa bersama dengannya,” ucap Micahel dengan nada lemah.
Tasya yang menunggu di depan langsung menitikan air mata. Vinda, aku mohon kembali. Jangan biarkan suamimu kembali ke dalam dunia yang begitu gelap. Apa pun, aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Jadi bangunlah. Michael membutuhkanmu, batin Tasya memohon.
_____
Michael masih tetap menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan bergejolak. Rasanya dia benar-benar tidak bisa tenang sama sekali. Matanya bahkan tidak mau lepas dari pintu yang masih setia menutup.
__ADS_1
Randy yang sudah datang langsung mendekati Michael yang ada di depan ruangan dan enggan beranjak. Dia menepuk pelan pundak saudaranya dan menampilkan senyum menenangkan.
“Kamu sudah makan?” tanya Randy dengan suara pelan.
Michael menggeleng. Dia bahkan sudah beberapa kali menitikan air mata. Wajah kasar dan garang yang sering ditakuti oleh rekan kerjanya kini berubah menjadi wajah lelah dan juga tidak karuan. Penampilannya bahkan sudah tidak terurus. Pakaian kusut dan tidak dimasukan. Michael bahkan lupa untuk mengisi perutnya dan terus berdoa agar istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
“Michael, aku rasa kamu juga harus makan. Kamu harus menjaga dirimu dengan baik,” ujar Randy masih membujuk.
“Nanti,” jawab Michael pelan dan kembali menatap pintu di hadapannya.
Randy hanya dapat pasrah dengan pilihan Michael. Dia memilih duduk di bangku yang sama dengan Michael. Sekarang yang dapat dilakukan hanya menemani pria tersebut dan memberikan dukungan. Tasya sendiri sejak tadi hanya menitikan air mata meski tidak menimbulkan suara. Sedangkan Rika, dia juga duduk diam dan menyaksikan keduanya.
Pintu ruangan terbuka, membuat Michael yang melihat langsung bangkit. Suster yang baru saja keluar membawa bayi dan menunjukannya kepada Michael.
“Tuan Michael, ini anak anda. Jenis kelaminnya laki-laki,” ucap suster tersebut dengan senyum sumringah.
Michael yang melihat langsung menatap dengan mata berbinar. Ini anaknya? Suara tangis keras membuat lorong yang tadinya sepi menjadi begitu ramai. Helaan napas lega terdengar. Namun, hanya sekilas dan Michael kembali menatap suster yang sudah siap untuk pergi.
“Suster,” panggil Micahel dengan suara lemah.
“Bagaimana dengan kondisi istri saya?” tanya Michael penasaran.
“Dokter masih menanganinya,” jawab suster tersebut singkat.
Michael yang mendengar menghela napas kasar dan segera duduk. Jika saja saat ini dia bisa memaksa dokter untuk dengan segera menyelamatkan istrinya, dia akan melakukannya. Namun, Michael tidak melakukan itu semua dan memilih untuk menunggu. Dia tidak mau membuat dokter yang menyelamatkan istrinya terganggu dengan teriakan konyol yang dia lakukan.
Rika yang melihat menitikan air mata pelan. Vinda, kamu sudah membuat seseorang berhati batu menangis tanpa rasa malu hari ini. Jadi, kamu harus tetap kembali dan mendampinginya. Anakmu membutuhkanmu. Tuhan, selamatkan Vinda. Jangan biarkan Michael kembali memiliki hati batu dan tidak berperasaan, pinta Rika dengan tulus.
Tuhan, jangan biarkan hati yang mulai terang kembali meredup, batin Randy sembari menatap Michael yang benar-benar merasa frustasi.
_____
__ADS_1
Ruangan tersebut terdengar begitu sunyi dan hanya terdengar suara alat yang telah dipasangkan di beberapa bagian tubuh wanita yang saat ini berbaring di ranjang rumah sakit. Vinda masih setia memejamkan mata, bahkan setelah anak yang begitu diinginkannya lahir dengan begitu sehat. Berat badan yang begitu sempurna dengan bagian mata yang sama persis dengannya. Sedangkan bagian lain, semua mirip dengan Michael.
Michael memasuki ruangan tersebut dengan hati berdebar. Rasanya dia tidak sanggup melihat istri yang biasanya selalu tersenyum hanya berbaring dengan wajah lesu. Namun, Michael sekuat mungkin menghentikan air matanya dan mulai melangkah masuk. Mengmbil tempat duduk di dekat Vinda.
Michael mengumbar senyum dan meremas pelan tangan istrinya yang masih tertanam selang infus. Matanya menatap wajah Vinda yang tampak begitu tenang. Michael menyelipkan rambut Vinda yang keluar sampai bagian wajah dan mengelus pelan pipi lembut istrinya.
“Sayang, kamu mau tidur sampai kapan?” tanya Michael dengan suara lemah, “aku dan anak kita membutuhkanmu. Mau sampai kapan kamu tidur di sini?”
Michael memaksakan bibirnya untuk terus tersenyum dan mencoba menguatkan diri sendiri. Dia yakin, Vinda mampu melihat penampilannya. Itu sebabnya dia sudah datang dengan tampilan rapi. Dia tidak mau jika nanti Vinda membuka mata, istrinya melihat penampilannya yang acak-acakan.
“Kamu tahu? Dia begitu sehat. Bahkan, tangisnya membuat seisi rumah sakit jadi berisik,” ucap Michael lagi, “dia.. dia membutuhkan mamanya,” lanjut Michael dengan air mata yang mulai mengalir.
Kembali, Michael gagal mempertahankan air matanya dan kembali menangis. Michael menggenggam erat tangan Vinda dan menumpahkan semuanya. “Dia membutuhkan asi mamanya. Dia butuh kamu, Vinda. Kamu pernah bilang, kan? Kita akan merawatnya bersama.”
Michael menarik napas dalam dan mendekap jemari Vinda yang sejak tadi di genggamanya. “Vinda, please don’t go. You have to wake up. I do not allow you to leave us. Me and our baby need you. Open your eyes, honey. I hope,” bisik Michael lemah. Bahkan, air matanya sudah menetes semua. Kali ini, dia benar-benar merasa lemah.
Tuhan, buat dia bangun. Jangan buat dia pergi dari kami. Jangan rampas dia, Tuhan. Kami begitu membutuhkannya, batin Michael benar-benar lemah.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Yuhurr..Kim balik lagi nih. Kali ini Kim belum siap dibully gegara bilang, KOK SEMUA YANG HAMIL PENYAKITAN. Jadi, Rensi kandungannya emang lemah sejak awal. Kalau Rika, dia terlalu banyak pikiran karena Randy yang belum menerima mamanya sepenuh hati. Jadi, kadang kalau Vera datang dia masih curiga gitu. Kalau Vinda...sssttt dilarang spoiler. 😄😄😄
Oke. Selamat membaca. 3 Bab udah banyak menurut Kim karena kondisi yang memang sedikit kurang sehat. Hehe (alasan aja deng biar besok bisa ketemu sama kalian semua karena besok adalah hari spesial untuk Kim😚😚)
Yuks, jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow kim.
Jangan lupa mampir juga ke cerita Kim yang baru. Judulnya "Wedding with My Lecturer". Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote.
Oh iya, ada yang mau cerita Bara, Dave dan Alice? Jangan lupa comment pendapat kalian ya. Kalau memang banyak peminat Kim bakal buat, tetapi gak di novel ini. Karena novel ini juga sudah punya dua cerita di dalamnya.
__ADS_1
Jangan lupa follow ig Kim untuk tahu judul-judul baru yang bakal Kim update. (@kimm.meili)
See you again sayang-sayangkuh 😚😚😚