Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 10: Akhir Pertarungan


__ADS_3

Melebur… Semuanya…


Keberadaan Domain sihir ini dapat dengan sempurna di hancurkan… Kekuatan yang tak terkalahkan milik Tooru-san. Hebat sekali, tingkatan ini memang berbeda…


Kekuatan ini, bahkan jauh lebih kuat dari milik Al… Kemampuan dari seorang Stage 7.


Salah satu orang yang berada di puncak Hierarki orang-orang yang berkemampuan khusus. Keganjilan tingkat Dunia…


Dia yang mendapatkan perlindungan Surgawi…


Dengan 3 pasang sayap yang Nampak indah, bewarna putih dan bersinar. Tersusun dari jutaan Partikel-partikel yang ada di alam semesta. Dengan kemampuan yang bisa memisahkan dan melerai partikel penyusun sebuah benda, dan mengubah benda itu ke tahap pertama…


Ahh benar, bagaimana bisa aku tak menyadari siapa orang ini? Nama dan kemampuan yang pernah kudengar sebelumnya. Tooru-san, dia ini…


Dia adalah salah satu Esper Stage 7 yang dikatakan mampu melawan seluruh kekuatan militer dunia sendirian. Memiliki kemampuan yang tak tertandingi, yang kemungkinan mampu membahayakan keberadaan Tata Surya, tidak bahkan Galaksi Bima sakti sekaligus.


Dialah, Tooru Shinyaku itu sendiri…


Orang ini terlalu kuat…!! Kekuatan yang Superior.


Kutarik kembali kata-kataku sebelumnya… Dunia ini, terdapat banyak sekali orang dengan kemampuan yang super kuat.


Tooru-san adalah salah satunya… dan juga, kedelapan Stage 7 lainnya juga masing-masing pasti memiliki


keunikan dan kehebatannya tersendiri.


Mengatakan jika kemampuan khusus ku sendiri tak tertandingi. Ya ampun, tanpa ku sadari aku menjadi sombong. Dasar diriku ini…


Pertarungan sudah selesai sekarang, hasilnya adalah kemenangan telak untuk Tooru-san. Tak terpungkiri…


Saat ini, si Sorcerer itu sedang terbaring tak sadarkan diri… dia mungkin kehabisan Energy Sihir.


Tooru-san menengok kepadaku.


“Bagaimana? Aku keren, kan?”


Aaaa, orang ini, malah membahas hal seperti itu…


“Aahh, ehmm, Keren kok!”


Yah, setidaknya aku akan mengiyakannya… dia sudah menyelamatkanku.


“Selain itu, Tooru-san! Kau baik-baik saja?”


“Apa aku terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja??”


Dia hanya merespon nya dengan sedikit memiringkan kepala.


“Ahh, tidak juga, ya… aku tak bisa membayangkan dirimu ada dalam keadaan tidak baik-baik saja…!”


Aku sedikit menaruh jari telunjuk ke kening bagian bawah, lebih tepatnya berada di antara kedua alis ku. Inilah Pose berpikir diriku.


“Benarkan… lagipula aku ini kuat!”


Setelah mengatakan hal itu, Tooru-san mengalihkan pandangannya ke arah Si Sorcerer yang terbaring pingsan itu. Beberapa saat kemudian, dia segera mendekatinya…


“Eh, Tooru-san? Ada apa?”


Dia tak menjawab.


Tooru-san berlutut utuk sedikit memeriksa tubuh dan perlengkapan si Sorcerer…


“Sudah kuduga…”


“Apanya…?”


Aku mendekatinya dan ikut berlutut. Dan melihat sebuah Kalung dengan batu permata bewarna merah terang.


“Oooh, permata yang cukup bagus! Apa itu?”


Memang terlihat bagus, tapi aku entah mengapa seperti pernah melihatnya? Mungkin hanya perasaan ku saja.


“Ini Artifak Sihir…!”


Eh?


“Artifak sihir? Maksud mu Artifak sihir yang itu..?“


“Memangnya yang mana lagi…?”


Artifak sihir… itu adalah sebuah alat sihir kuno, biasanya merupakan benda yang sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Artifak Sihir memiliki berbagai jenis dan kekuatan.


Tipe Artifak sihir ini adalah untuk menguatkan dan menambah Energy sihir secara drastis… sungguh alat yang sangat berharga dan bernilai bagi para Magician…


Tapi, dari mana dia mendapatkan benda seperti ini…? Dan juga, saat bertarung tadi, dia sedikit membicarakan tentang misi atau sebagainya. Dia juga mengoceh tentang Raja… apa dia ini benar-benar seorang dari Parlemen Sihir yang ditugaskan untuk membunuhku?


Sudahlah, aku tak peduli soal itu…


“Apa kau tak merasa aneh, Saidhan-kun? Walau berulang kali kau dan aku menghancurkan Golem yang seharusnya memakan banyak energy sihir. Orang ini masih bisa terus bertarung, bahkan hingga mengeluarkan Sihir Besar dan Sihir Area sekuat tadi!”


“Hmm, kalau dipikir-pikir benar juga, ya…! Dia ini cukup kuat juga…”


“Kuat?”


“Eh!?”


“Eh?”


“D-dia kuat kan?”


Aku menunjuknya.


“DIa?”

__ADS_1


Tooru-san juga menunjuknya. Aku mengangguk…


“Hahahaha, Jangan bercanda Saidhan-kun… dia ini hanyalah amatiran, kau tahu…!”


“Amatiran? Dia?”


“Benar! Strateginya buruk, selain itu dia juga mudah termakan emosi! Itu sudah cukup untuk menyebutnya sebagai amatiran!”


“Jadi, intinya dia ini lemah!?”


“Em, benar sekali…”


“Bagi kamu sih mungkin mudah… tapi bagiku ini sangat merepotkan tahu! Kamu ini Stage 7!”


Dia menoleh kepadaku dan kemudian tersenyum.


“Apa yang kau bicarakan, Saidhan-kun? Kau ini juga Stage 7, loh!”


“Eh!?”


“Eh?”


Lagi-lagi??


“Aku? Stage 7? Kau bercanda, kan?”


“Tentu saja tidak… lagi pula aku sudah bilang bukan? Dari pada melakukannya besok, lebih baik kau melakukan Test Stage sekarang bukan?!”


Dia kemudian mengangkat Si Sorcerer di pundaknya. Dan kemudian berjalan, aku segera menyusulnya. Kami berjalan santai menuju kedalam Lab. Lagi…


“Aaah, itu memang benar! tapi memangnya itu Valid? Kalkulasi mu bisa saja terjadi kesalahan!”


Dia berbalik dan menatapku.


“Apa kau meragukan hasil perhitunganku, Saidhan-kun?”


“Bukan begitu… tapi~”


Aahh, kalau dipikir-pikir benar juga, ya…! Tidak ada alas an untuk meragukan hasil perhitungan dan hipotensis dari orang ini. Walau seperti tingkahnya itu, dia ini tetaplah seorang Esper Scientist Stage 7 yang Super Jenius.


Dia bahkan bisa menentukannya dinamika, gaya dan vector dari berjuta-juta Partikel yang ada. Meragukan perhitungannya adalah hal yang bodoh. Hanya saja…


“Hanya saja aku ingin hasil kalkulasi dari pihak resminya saja!”


“Tenang saja, Ayahku salah satu Profesor yang bekerja disini! dia pasti percaya dengan hasil perhitunganku…!”


“Eh, benarkah? Siapa ayahmu itu?”


Aku bertanya, jujur ini sedikit meragukan…


“Prof. Touya! Walaupun saat ini dia sedang tidak di Jepang!”


“Eh? P-profesor Touya yang itu? Profesor Shinyaku Touya!?”


“Ah, benar-benar! Dan juga, kenapa kau tahu ayahku, tetapi kau tak seperti mengenalku!”


“Aahh, soal itu.. aku cendrung lebih mengenal orang-orang yang jenius dari pada orang dengan kemampuan yang hebat!”


“Kalau boleh jujur, aku baru sadar kalau kau itu Shinyaku Tooru, dari Stage 7 setelah orang ini menyebutkannya!”


“Kalau soal kepandaian, bukannya ku juga tak kalah!?”


“Berita tentang kepandaian mu dan sebagainya di tutupi oleh berita tentang sebagaimana superiornya kemampuan milikmu, Tooru-san!?”


Dia hanya bisa cemberut karena itu…


“Oh, ya… omong-omong, bagaimana kau bisa tau nama depanku? Bukannya waktu itu aku belum memperkenalkan diri?”


“Dari, Pak Ari… aku mendengarnya memanggilmu seperti itu tadi, kupikir itu namamu!?”


“Begitu?”


Apa dia keberatan soal itu… Ah! Benar juga, di Jepang memanggil nama seseorang yang baru di temui dengan nama depannya itu tidak biasa, ya? Apa dia keberatan soal itu!


“Apa kau keberatan?”


Dia menggeleng.


“Tidak juga, Di Indonesia, memanggil seseorang dengan nama langsung adalah hal yang lumrah bukan?”


“Aahh, kurasa mungkin begitu…”


Keadaan menjadi sunyi untuk sementara, beberapa saat kemudian nampak Pak Tri dan Pak Ari, bersamaan dengan beberapa pihak keamanan Labolatorium datang ke arah kami…


“Saidhan, Tooru… apa yang terjadi!?”


Tanya Pak Tri.


“Dan… siapa itu?”


Sambung Pak Ari.


“Ooooh, kalian! Apa yang kalian lakukan disini?”


Ah, Tooru-san… kenapa malah bertanya hal seperti itu?


“Kami berulang kali mendengar suara-suara yang keras berulang kali dari arah sana… akan tetapi karena ada Tabir Energy yang menghalangi kami, dan Tabir itu naru saja menghilang…!”


Ujar Pak Tri menjelaskan.


Akan tetapi, aku sama sekali tak sadar dia ini sudah memasang Tabir Energy… Dia ini, handal juga, ya.


“Jadi apa yang terjadi di sini? Darimana asalnya suara-suara tadi? Dan siapa orang itu…?”

__ADS_1


“Ah, Tadi itu…”


Saat aku baru saja ingin menjelaskan secara rinci kejadian yang menimpa ku tadi… Tooru-san, secara tiba-tiba memotong ucapan ku.


“Tadi itu hanya pertarungan kecil… jangan dihiraukan!”


“Pertarungan kecil? Jelaskan rincian nya!”


“Baiklah… Orang ini adalah seorang Magician yang entah dari mana dan entah mengapa, dia menyerang Saidhan-kun! Suara berisik tadi adalah suara-suara dari sebuah pertarungan kecil, kau tahu…”


Ucap Tooru-san sembari menurunkan, si Sorcerer itu… dan setelah itu, pihak keamanan segera pergi membawanya terlebih dahulu.


“Magician? Apa dia ini orang suruhan dari Parlemen Sihir?”


Ucap Pak Ari menduga…


“Entahlah, tapi yang pasti, orang ini mempunyai Artifak Sihir!”


“Artifak Sihir?”


Tooru-san mengangguk dan merogoh kantong celananya, kemudian ia memberikan Artifak itu kepada Pak Tri.


“Tapi darimana dia mendapatkannya?”


"Entahlah…”


“Apa jangan-jangan, dia memang benar orang suruhan Parlemen sihir?”


Aku hanya bisa menyimaknya saja.


Beberapa saat kemudian, secara tiba-tiba Tooru-san mendekat dan langsung merangkul ku.


“Selain itu, Aku punya berita besar loh!”


Semua orang menoleh ke arahku dan Tooru-san.


“Apa…?”


“Saidhan-kun… sekarang dia juga Stage 7 loh…!”


Eh?


“Eh? Bukannya Test lanjutannya akan dilaksanakan esok?”


Tanya Pak Ari.


“Heh, hal seperti itu sudah tak peru dilakukan lagi!”


“Eh, kenapa?”


“Karena yang mengalahkan orang itu adalah dia..!”


Ucapnya sembari menunjuk ku dengan jempolnya. Tentu saja ucapannya barusan sedikit dibumbui dengan bumbu kebohongan.


“Eh?”


“Apa itu benar, Saidhan?”


Kali ini Pak Tri yang merespon.


“Ah, tentu saja tidak! Tooru-san yang mengalahkannya… Tidak mungkin aku bisa mengalahkannya!”


Terlebih lagi, dengan menggunakan Sihir Area nya itu. Mustahil…


“Ayolah, jangan merendah Saidhan-kun… Jika bukan karena mu, aku tak akan bisa menemukan titik lemahnya.”


Tooru-san… lagi-lagi kamu berbohong! Yaa, walau saja perkataan mu itu adalah kebenaran. Seharusnya kau bisa mengalahkannya dengan mudah, walau tanpa tahu kelemahannya kau pasti juga bisa menang dengan mudah. Kemampuanmu terlalu Superior tahu…


Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang… Ah, sudahlah! Entah mengapa dia sedikit mengingatkanku dengan Rei.


“Tenang saja, Walau Saidhan-kun tak mengalahkannya, aku melihat gaya pertarungannya! Kalkulasi ku menunjukkan kalau dia ini memenuhi syarat sebagai Stage 7! Ini tak perlu didebatkan!”


Dia mengucapkannya dengan sedikit gaya…


“Benarkah? Akan tetapi, hal yang seperti itu memangnya boleh? Memangnya boleh Saidhan?”


Pak Ari menanyakannya kepadaku.


“Yaah, walau kau tanyakan hal itu kepadaku. Sini juga ingin tahu hal itu…”


Aku meresponnya dengan bertanya kembali.


“Sudahlah, hal itu kita lihat saja besok! Bagaimana tanggapan dari para Profesor!”


Ucap Pak Tri melerai.


“Lebih baik sekarang kau kembali ke kamarmu, Saidhan!”


“Ah, benar juga! Aku sendiri cukup lelah…!”


“Kau pulang ke rumah mu sendiri sana!”


Ucap Pak Tri dengan nada yang sedikit kesal.


“Saidhan-kun, aku di usir!!”


Dia menjerit ke arahku. Yaah, kalau dipikir-pikir hari ini memang sangat berat, Test Stage saat siang itu sudah sangat melelahkan dan menguras energy. Dan baru saja aku harus terpaksa bertarung dan menghabiskan banyak energy kembali.


Sungguh hari yang berat, sangat berat…


“Baiklah, kalau begitu aku kembali dulu…!”


Sesaat setelah itu, aku memisahkan diri dari kerumunan tadi menuju ke kamarku. Aku ingin segera istirahat. Dan beharap besok adalah hari yang cerah dan penuh kegembiraan, sehingga…

__ADS_1


“Semoga aku bisa berlibur besok…”


__ADS_2