
Artosh, seorang Celestial dan merupakan entitas Kosmik. Dan seorang sesuperioer dirinya kembali muncul dihadapan ku, didalam mimpiku.
“Yaah, walau waktu itu benar-benar hampir saja, ya...! Bahkan, Heavenly Eye’s sendiri sudah sampai bangkit, aku benar-benar prihatin kepada Kisa!”
Artosh, ia langsung mengatakan beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepadaku. Dia terlihat menikmati hal itu.
Sementara itu...
“Haah...”
Aku menghela nafas pelan, Artosh sendiri menyadari hal itu. Dia sedikit mengangkat kepalanya kearahku. Menatapku dengan pandakan yang berbeda dari sebelumnya...
“Protagonis!? Ada apa?”
“Aku sebenarnya tidak peduli sama sekali, kalau kau ini semata-mata hanyalah khayalanku, ataupun kau ini memang benar-benar ada! Tapi, jika kau ingin menemuiku didalam mimpi, janganlah datang disaat yang seperti ini!”
Aku langsung saja mengeluarkan segala unek-unek ku. Bagaimana tidak mungkin, disaat aku ingin mendapatkan ketenangan didalam tidur yang nyenyak. Aku justru mendapatkan mimpi yang bisa dibilang berat.
Sekarang ini, aku sadar secara sepenuhnya, bukan lagi terlalu terikat dengan mimpi lagi. aku bisa melakukan yang otakku pikirkan sekarang juga.
Seperti bergerak dan mencoba untuk menjitak kepala Artosh sekali saja. Walaupun aku tidak yakin kalau itu akan membuatnya sedikitpun merasa sakit.
Sementara itu, Artosh memasang raut wajah yang agak terkejut. Menlihat dan mendengar gelagatku tadi.
“Aahh... soal itu, emm...”
Itulah Reaksi dari Artosh, terhadap apa yang kukatakan sebelumnya.
“Haahh...! kau tahu, besok aku ini harus masuk ke akademi, dan tentunya itu wajib! Kalau kau benar-benar maha tahu, kenapa kau selalu seperti ini!?”
“Sebelumnya, disaat pertemuan kita untuk pertama kali, aku berakhir mengalami demam tinggi! Aku tidak mau berakhir yang sama seperti dulu!”
Ya, benar...! terakhir kali, atau pertama kalinya aku dan Artosh bertemu langsung didalam mimpi ini. aku berakhir di Rumah Saki karena demam tinggi.
Akibatnya, aku harus menepi selama kurang lebih satu minggu. Terlebih lagi dengan 3 hari latihan bersama Tooru-san dan untuk menyelamatkan Kisa.
Itu sangat memakan banyak waktu... aku bahkan sudah diberi sedikit peringatan dari pihak akademi, untuk segera kembali hadir dalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Ya, itu terasa amat sangat membuat seorang murid yang rajin dan baik hati sepertiku ini ketar-ketir.
Sementara itu, Artosh bahkan membuat raut wajah yang lebih terkejut dari sebelumnya. Itu sedikit membuatku merasa tenang.
“Aaahh...! soal itu, aku minta maaf! Akan tetapi, untuk yang sebelumnya kau tidak bisa sepenuhnya! Hal itu terjadi diluar dugaan ku, secara tiba-tiba limitless menghubungkan koridor jiwa kita berdua...”
Aku mendengar alasan darinya, dan kurasa itu agak masuk akal, walau tetap saja mencurigakan.
“Haaah, begitukah...? lalu, apa ada jaminan dengan demam tinggi itu!?”
__ADS_1
Dia kembali kedalam posisi tenangnya dan kemudian berkata.
“Kalau soal itu, tenang saja! Bukankah sebelumnya sudah kuberikan kau izin untuk kesini, setelah kau menyelesaikan 1 rute!?”
Rute... apa yang ia maksudkan itu adalah persoalan soal Heavenly Eye’s dan Neo Genesis. kalau tidak salah, dia bilang soal Silver Route dan Golden Route.
Semua orang mengiginkan Akhir yang bahagia. Tetapi, apakah ini bisa berakhir dngan bahagia...
“Jadi aku perlu kesini, setelah menyelesaikan satu rute, ya...!?”
“Ya, benar sekali! Kali ini, tubuh meta-fisikmu sudah siap untuk masuk kedalam ruang Blue Altar. Jadi kau tidak perlu mengkhawtirkan soal resikonya!”
“Baiklah, aku mengerti... Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?”
“Bukan hal yang besar, aku hanya akan memberikanmu sedikit penjelasan yang lebih lanjut soal dunia ini! tujuanmu dan tujuan lawan-lawanmu, hanya seperti itu...”
Aku sedikit tercengang karena itu...
Memang, sekilas itu biasa saja, tidak... itu tidak mungkin terdengar biasa saja. Bagiku, sekarang ini segala informasi yang ada tentang pergerakan dari R.IO. yang merupakan pemimpin dari pergerakan Magician sekte kuno di Indonesia ini.
“Penjelasan seperti apa? Apa kau ingin memberitahukan kemana pergerakan lawanku selanjutnya?”
Tanyaku dengan sangat antusias. Artosh sempat memejamkan matanya sesaat.
“Tidak... aku tidak akan memberitahumu sampai sejauh itu! Itu tidak mungkin...”
“Kenapa seperti itu, bukankah hal yang kau inginkan akan lebih cepat tercapai jika kau memberikanku semua penjelasan...!”
Aku membalas itu... mempertanyakan alasan dibalik itu. Dan Artosh sendiri, aku melihatnya... dimana suasana tiba-tiba terasa berubah secara drastis.
Aku sedikit menedang karena itu...
“Haah...”
“Protagonis, aku tidak bisa melakukan itu...! jika aku memberikanmu sebuah arahan secara langsung, maka Testament Limitless tidak akan pernah mewujudkan itu!”
“Aku yang sekarang, tidaklah Maha Kuasa, aku tidak bisa melakukan sesuatu diluar ketentuan yang ku ciptakan! Tidak untuk sekarang...”
Artosh menjelaskannya, alasan-alasan yang membuatnya tidak bisa melakukan hal itu. Semua hal yang berkaitan dengan spoiler dari Testament Limitless.
Sebenarnya, bagiku Artosh dan Testament Limitless masih sangatlah asing. bahkan, aku selalu memikirkan untuk tidak mengiraukan itu. Karena, pada dasarnya aku merasa tidak punya kewajiban untuk itu. tapi justru, Artosh mengatakan hal sebaliknya... dia mengatakan kalau ini adalah tugasku, dan itu pasti kulakukan.
Tapi, semakin kesini... aku semakin berfikir kalau yang dia sampaikan mungkin ada benarnya. Terkadang, hatiku bergerak saja untuk mengikuti segala alurnya, seakan aku berada dalam arus takdir dunia yang berbeda dari semuanya.
Eksistensi dari Saidhan M. Ardhiyasa, sedari awal hanya untuk mencapai Golden Route di Testament Limitless.
Aku mencoba untuk menenangkan diri sendiri, dengan menghela nafas
__ADS_1
“Haah, ya ampun...! bagaimana itu bisa...?”
Aku menanyakannya lagi, alasan dibalik alasan itu semua.
“Celestial adalah mahluk yang agung, kami memiliki wujud dan identitas yang tak terbatas! Dan setiap dari kami, memiliki sebuah wujud manusia...! Dimana, seluruh kekuatan asli yang kami miliki hanya bisa digunakan kurang dari 0,01%”
0,01%... yang benar saja, itu kecil... kecil sekali. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku selalu mengira kalau dirinya mungkin saja lebih kuat daripada Tooru-san. tapi dengan fakta ini, aku tidak bisa membayangkan seperti apa kekuatan asli Celestial jika mereka dalam bentuk aslinya.
Mungkin dunia akan bergetar hanya karena kehadirannya.
“Jadi begitu, ya...! Sangat disayangkan sekali, ya!”
Sangat disayangkan begitu...
Artosh berdiri dari duduknya, aku sedikit maju kedepan dan menghampirinya. Desai interior dari ruangan ini cukup menarik bagiku.
“Jadi, kita sedang berada dimana sekarang?”
Aku menanyakannya karena, aku tidak merasakan hawa apapun diluar ruangan ini. Atau, mungkin lebih tepat jika disebt sebagai bangunan yang cukup besar.
Aku menoleh kesamping kanan dan kiri. Mencoba untuk terus memeriksa dengan lebih seksama lagi. walau pada akhirnya, aku hanya akan terpesona dengan gaya futuristik ini.
“Apa ini Blue Altar? Rasanya seperti berbeda sekali...”
Aku kembali menoleh kearah Artosh, yang masih diam berdiri melihat kearahku.
“Ah, benar juga...! yang sebelumnya itu memang di Blue Altar, namun kali ini aku memanggilmu kedalam Kastil ku! Yeaah, Kastil ini masih dalam ruang lingkup Blue Altar sih...”
“Jadi begitu, ya... Kastil yang cukup menarik!”
Aku menangguk mengerti, Artosh berjalan kearahku dan kemudian menaruh tangannya di bahuku.
“Baiklah, sebagai tuan rumah yang baik, seharusnya aku menyuuguhkan mu beberapa camilan terbaik! Untuk saat ini, silahkan duduk!’
Dengan sedikit kekuatan, Artosh sedikit mendorong turun bahuku. Seketika, sebuah kilatan cahaya putih dengan sekejap menutupi semua pandanganku. Dan dalam sekejap pula, ruangan tempat kami berbicaralah tadi berubah komposisi dan posisi barang-barang.
Tanpa sadar, aku sudah dalam posisi duduk, disebuah sofa empuk yang sangat nyaman diduduki. Di depanku, terdapat sebuah meja berukuran sedang dan dofa yang lainnya.
Tentunya, Artosh sedang duduk di sana. Ia sedang menuangkah secangkir teh didalam dua buah gelas kristal.
‘Apa yang terjadi...?’
Itu adalah yang ada dibenak ku... Artosh menyelesaikan kegiatan yang ia lakukan. Dan menyodorkanku salah stau gelas itu.
Dia kembali menyender di sofanya, dan menatap kearahku serius.
“Baiklah, Protagonis...! tanpa perlu basa-basi lagi, aku akan mulai keadalam penjelasan umumnya!”
__ADS_1
“Tentang Fase selanjutnya...! keberadaan dunia-dunia yang lainnya!”