
Setelah mengalami pertarungan super besar dan dengan tingkat destruktif yang sangat tinggi.
Pertarungan dengan tensi yang panas dengan Sua-san. Dan kemudian, berdampak dengan terciptanya sebuah sungai yang membelah Pulau berukuran sedang itu.
Dan juga, mengakibatkan diriku yang sungguh kelelahan. Apa kalian bertanya kalau aku terluka… jawabannya adalah tidak.
Aku sangat bersyukur atas hal itu, karena serangan-serangan itu bisa membunuh seseorang dengan mudahnya. Dan juga, aku lebih memilih tadi untuk disebut sebagai permainan menyerang dan bertahan daripada pertarungan. Dimana Sua san menyerang dan aku bertahan.
Sekarang, satu-satunya kelebihan ku adalah pertahanan mutlak yang nyaris tak tertembus. Itu dinobatkan oleh Tooru-san tadi setelah pertarungan…
Itu mungkin saja benar, untuk sekarang aku merasa seperti Spatial delay itu bersifat pasif. Ia akan selalu aktif jika saja radar menunjukkan potensi bahaya sedang menuju kearah ku. Itu semua karena energy didalam tubuhku semakin stabil.
Semenjak jatuh sakit seminggu yang lalu, setelah mimpi bertemu dengan Artosh. Aku merasakan kalau aku energy yang ada di tubuhku semakin bisa ku kendalikan dengan baik, bahkan bisa menahan serangan mematikan dari Sua-san. Jadi, apakah perihal itu bisa dikatakan sebagai angin segar untukku.
Entahlah, aku tidak bisa memutuskan hal itu. Tapi, aku masih berharap untuk bisa tumbuh semakin kuat lagi…
Selama pertarungan, Sua-san sama sekali tidak menahan diri… ia membom-bardir aku dengan serangan-serangan cepatnya.
Bahkan, yang kudengar dari Tooru-san, ia bisa dibilang tidak serius dan terhambat oleh sesuatu. Ia mengatakan, kalau pulau itu memiliki medan magnet yang kuat.
Sebagai pengendali listrik, muatan yang dikontrol oleh Sua-san sering kali mengikuti arah medan tersebut.
Akibatnya, ia tidak bisa mengerahkan serangan potensial terbaik miliknya.
Disaat itulah, aku sama sekali tidak ingin membayangkan kalau diriku harus melawannya didalam kondisi dan tempat yang terbaik…
Setelah itu, kami selesai dalam pertarungan. Aku sungguh kelelahan dan kemudian jatuh pingsan.
Disaat aku tersadar, aku sudah berada di atas kasur yang empuk. Dan di sebelahku, lebih tepatnya di samping kiri kasur, terlihat Tooru-san yang sedang menonton televisi dengan santai.
“Eh, Tooru-san?”
Dia menengok kearah ku…
“Saidhan-kun, kau sudah sadar ya… bagus, bagus!”
“Berapa lama aku tertidur!?”
“Tidak terlalu lama, hanya sekitar 1 setengah jam!”
Balas Tooru-san, aku hanya merespon dengan ber 'oh' saja. Aku menoleh kesamping kanan dan kiri. Merasa asing dengan tempat ini, aku bertanya…
“Dimana kita? Apa kita sudah kembali!?”
“Ya, kita sudah pergi dari pulau itu, tapi bukan ke Indonesia!”
Ucap Tooru-san, seketika aku terkejut atas hal itu.
“Eh? Lalu kita dimana?”
Sebelum menjawab, ia menoleh ke arahku sekali lagi. menampakkan senyumnya… dia mengajakku keluar.
“Kita sedang ada di Hawaii!”
Ucapnya dengan sedikit teriak…
“Eehh… ehh… ehhh!? Yang benar saja!”
Saat ini, kami berada di rumah kenalan dari Sua-san. Ia sering kali datang ke Hawaii, hanya sekedar liburan saja. Begitupun dengan Tooru-san.
Ahh, orang-orang ini… bahkan aku sama sekali tidak pernah membayangkan diriku berada ataupun liburan di Hawaii.
Namun, mereka semua… sudahlah, tak perlu kupikirkan lagi.
Seperti yang tadi kubilang, saat ini kami sedang berada dirumah kenalan Sua-san. Kami sedang ada diruang makan rumah ini.
Kenalan dari Sua-san adalah mantan teman satu kuliahnya. Sua-san bilang kalau ia pernah kuliah selama 1 tahun di Amerika. Dan kebetulan, orang itu bertemu dan berteman baik dengan Sua-san.
Keluarganya memiliki banyak rumah dan villa… Kali ini, kami bertiga menginap di salah satu rumahnya, atas persetujuan dari teman Sua-san tentunya.
__ADS_1
Kami dilayani dengan baik, diberikan makanan dan minuman yang sangat enak dan berkelas. Itu membuktikan seberapa kaya teman dari Sua-san ini.
Tapi, walaupun begitu… aku sama sekali tidak bisa lepas dari ketegangan ini. berbeda denganku, Tooru-san dan Sua-san bisa dengan tenang menikmati makanannya.
Sua-san menoleh ke arahku yang belu menyentuh makananku.
“Ada apa, Sai-chan? Nanti keburu dingin loh!”
“Ahh, ehm… Ya!”
Setelah menerima peringatan darinya, aku baru mulai menyendok makanan. Sementara itu, Tooru-san juga ikut bicara.
“Tidak perlu tegang begitu, santai saja! Saidhan-kun… kalau kau tidak makan, nanti bakal kesulitan latihan lho!”
Kemudian…
“Lakukan saja sepertiku!”
Dia kemudian, langsung saja mengambil salah satu ayam goreng dengan santai. Dengan wajah yang sangat-sangat biasa saja. Aku tidak mungkin seperti itu, dan juga, Tooru-san coba jagalah sikapmu sedikit.
Jika kita lihat, Sua-san masih mending… ia terlihat tenang dan tahu batasan. Tapi, Tooru-san berbeda. Dia kelewatan santai…
Yaa, Tooru-san sebenarnya tidak terlalu perlu menjaga sikap dengan orang lain. Ia pasti akan sangat santai kepada orang lain. Lagipula, orang lainlah yang justru akan menjaga sikapnya didepan Tooru-san.
Orang lain, akan sebisa mungkin tidak melakukan sesuatu yang membuat Tooru-san marah. Itu karena, di dunia ini sekarang, manusia yang bisa seimbang atau mungkin lebih superior darinya hanyalah Brian Vector dan Raja Sihir saat ini.
Hanya mereka berdua…
Ah, sudahlah… saat ini aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Yang dilakukan sekarang hanyalah fokus, fokus…
Aku akan siap…
...----------------...
Di sebuah gedung tinggi yang tak terpakai, terletak dipinggir kota Jakarta. Saat ini, seorang sedang terbaring dengan tenang.
Orang itu tak lain adalah Haki…
Itu menyebabkan mereka terlambat 3 hari dari jadwal pencangkokan yang diperkirakan. Dan juga, mereka jadi tidak bisa pindah tempat dari gedung ini.
Karena dengan Haki yang sedang dalam keadaan tak berdaya dank arena mereka tidak bisa memindahkan Add Crystal, kristal yang berfungsi sebagai alat pengevolusi dan pencangkokan Heavenly Eye’s dari pusat energinya.
Hal ini membuat mereka menerima berbagai kerugian… Salah satunya, adalah membiarkan para murid-murid ACJ punya waktu selama tiga hari untuk menyiapkan rencana untuk menyelamatkan Kisa.
Karena itulah, mereka mau tak mau harus memulai prosesnya sekarang juga, secepat mungkin. Karena mereka sudah tidak punya kesempatan untuk pindah tempat. Tentunya, mereka juga harus waspada pada kemungkinan serangan.
Setelah kejadian itu pula, Mala dan Dios sudah memanggil banyak penyihir pengikut RIO untuk membantu menyelesaikan rencana ini.
Termaksud, 3 orang penyihir berkekuatan setara stage 5. Mereka sebanding dengan Mala dan Dios.
Semuanya, juga atas perintah Haki…
Kali ini, ia masih yakin kalau rencana nya akan berhasil. Walaupun sudah mengalami beberapa perbedaan diluar dugaan.
Haki sedang terbaring di kasurnya… Ia menatap kearah langit-langit ruangan dengan satu tangannya memegangi dahinya. Haki masih memiliki banyak pikiran.
Yang paling ia pikirkan adalah tentang penghalang rencana ini. Para murid-murid elit dari Akademi Citra Jakarta. Yang paling penting lagi, ia masih belum melihat rupa dan seperti apa kekuatan dari Stage 7 terbaru itu.
“Haaa…”
Haki menghela nafas panjang… ia melepas tangannya dari dahinya, dan menatap kearah telapak tangannya.
Tak lama kemudian, ia bangkit dari tidurnya dan terduduk. Pandanganya masih tertuju kepada telapak tangannya. Kemudian…
“Mala!”
Segera setelah Haki memanggil namanya, Mala langsung berlutut kepada Haki.
“Selamat pagi, Tuan Haki! Apakah anda sudah baik-baik saja? Tubuh anda sudah stabil?”
__ADS_1
Tanya Mala kepada Haki…
“Yaa…! Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku!”
Balas Haki…
“Tidak…. Ini sudah sewajarnya!”
“Selain itu, apa persiapan sudah selesai semua?”
“Ya… persiapan berlangsung dengan lancar! Rencana bisa dimulai kapanpun!”
“Bagus kalau begitu! Langsung saja mulai prosesnya!”
“Tetapi, dengan kondisi yang sekarang… apa anda yakin?”
Tanya Mala untuk mengkonfirmasi ini sekali lagi…
“Tentu saja! Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi…”
Balas Haki…
“Baiklah… kalau itu kemauan anda!”
“Ah tapi, sebelum itu… aku ingin bertemu dengannya! Selagi ia masih bisa melihat kita semua!”
“Baiklah, tolong ikuti saya!”
Setelah itu, Haki langsung saja mengganti bajunya, dan kemudian ia mengikuti Mala untuk menemuinya. Ya… untuk menemui Kisa.
Haki sudah sampai… ia langsung saja memasuki kamar tempat Kisa dikurung saat ini. Haki sebenarnya sedikit terkejut melihat ini… karena, saat ini keadaan Kisa sama sekali berbeda dari perkiraannya.
Ia selalu mengira, kalau Kisa akan memasang wajah yang pasrah dan seperti sudah tidak ada cahaya hirup lagi. Karena mau bagaimanapun, matanya akan di tumbalkan untuk evolusi Heavenly Eye’s dan diambil.
Dan saat proses itu, kemungkinan kalau wadah akan terkorbankan sangat tinggi. Jadi, wajar saja kalau ia memasang wajah seperti itu.
Namun, keadaan Kisa saat ini berbeda, ia masih terlihat sangat segar dan bugar. Wajahnya sama sekali tidak kekurangan cahaya. Hatinya masih sangat tangguh dan percaya akan Saidhan dan teman-temannya.
Kisa menatap kearah Haki, ia sudah terlihat tidak takut lagi. Haki tersenyum melihat itu…
“Ya… sudah tiga hari kita tak bertemu, ya!”
Kisa diam tak menjawab selama beberapa saat… ia menatap Haki dengan pandangan tajam.
“Ada apa? Tatapan mu seperti itu, sejak kapan kau seberani ini?”
“Kau akan kalah…”
Ucap Kisa dengan suara pelan, namun masih bisa terdengar oleh Haki…
“Haa?”
“Kau akan kalah, Kak Saidhan, Kak Sylphy dan teman-temannya pasti bisa menghentikan semua rencana-rencana mu itu! Dan menyelamatkanku!”
Ucap Kisa dengan suara yang lantang…
“Hou, kenapa kau seyakin itu? Mereka sudah pernah kalah olehku di pertarungan sebelumnya!”
“Tentu saja! Karena mereka adalah yang terkuat! Kemenangan mu tak lebih hanyalah sebuah keberuntungan! Selanjutnya akan sangat berbeda!”
“Kenapa menurutmu begitu…?”
“Karena, fokus mereka sekarang adalah menyelamatkan ku! Bukan melindungi ku!”
Ucapan ini sedikit menggetarkan Haki, sebuah perasaan tertantang itu datang dari anak kecil ini… ia tersenyum mendengar hal itu.
“Menarik sekali, kalau begitu… akan kutunggu pertarungan kedua kami semua!”
Setelah mengatakan itu, Haki langsung pergi keluar meninggalkan Kisa sendirian. Diluar, sudah ada Dios dan Mala yang menantinya.
__ADS_1
“Dios, Mala! Segera beritahu yang lain! Proses pengevolusian Heavenly Eys’s, akan dimulai sekarang ini juga!”