
Akademi ini… sangatlah luas! Ya, aku tahu akan hal itu! Karena aku sekarang akan mencoba berkeliling disini.
Lebih tepatnya, aku dan Al akan melakukannya.
Sebagai pemandu, ia nampaknya cukup baik! Dia bilang kalau sudah memiliki cukup banyak pengetahuan akan seisi Akademi. Dan juga…
Dia ini popular banget, loh!!
Kami berdua belum lama meninggalkan asrama tadi, dan dia ini sudah beberapa kali dihampiri dan digoda oleh banyak murid perempuan. Tapi dia dengan cekatan menghindarinya. Yaah, untuk Level ini, mungkin aku tak perlu iri akan hal itu.
Dari awal juga aku selalu berfikir, kalau menjadi kakak popular itu sangat menyusahkan. Aku belajar dari Al…. itulah mengapa, sekarang aku kembali melihat pemandangan yang sudah biasa terjadi saat kami SMP.
Yaah, aku hanya bisa sedikit menertawai hal itu.
Setelah beberapa saat setelah Al berhasil lolos dari kejaran FanGirls nya, aku berpikiran tantang kunci kamarku.
“Oh, ya… Al!”
“Emh? Ada apa?”
“Sepertinya akan lebih baik jika kita segera mendapatkan kunci manual kamarku!”
“Kunci manual?”
“Ya… bukankah kau sudah bilang? Akan memintanya ke pengawas asrama!”
Dia diam sesaat, kemudian…
“Ah, benar juga…! Akan tetapi…”
“Eh, ada masalah apa? Apa tidak bisa?”
“Bukan itu… hanya saja, aku tak yakin pengawas ada di posnya sekarang!”
Dia mengucapkannya dengan melihat kearah jam tangannya. Aku mengikuti hal itu, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10:55, sebentar lagi sudah jam 11. Ini mendekati waktu istirahat makan siang.
“Apa dia sedang beristirahat di suatu tempat?”
“Mungkin…!”
“Apa tau tahu dimana?”
Al mencoba mencari kemungkinan tempat dimana si pengawas ini berada. Dirinya ini memang cukup dekat dengan pengawas itu, tap dia pasti tak tahu kemana dia pergi saat istirahat makan siang.
“Sudah tahu?”
Aku mencoba untuk bertanya padanya secara pelan, karena dia terlihat cukup fokus dengan pemikirannya sendiri.
Setelah itu, ia merespon dengan menggelengkan kepalanya…
“Entahlah, dia itu orangnya agak sulit di tebak!”
Itu bisa jadi landasan kah? Kalau begitu…
“Kalau begitu, kita lihat di kantin saja, bagaimana?”
“Kantin?”
Eh, kenapa reaksinya itu agak mencurigakan?
”Emh…! Kantin…! Masih adakan di akademi ini!?”
Al mengangguk pelan.
“Ya, tapi…”
“Tapi kenapa…?”
“Aku tidak yakin dia akan berada di tempat yang ramai dan terbuka seperti itu…!”
“Eh, memangnya kenapa!?”
“Yaah, seperti yang kubilang sebelumnya, dia ini agak sulit di tebak…”
Makanya memang itu bisa dijadikan landasan, kah?
“…Dan juga, dia itu sedikit suram orangnya!”
Ohhh, begitu…
“Yah, kalau belum dicoba tidak akan tahu bukan?”
“Baiklah, ayo coba kesana…”
Setelah sepakat, kami berdua mencoba untuk pergi ke kanti ACJ. Sekalian, aku penasaran dengan bagaimana rupa kantin si Akademi elit seperti ini.
Selama perjalanan, aku mencoba untuk mengobservasi tentang siapa gerangan di pengawas asrama itu.
“Hey, Al… Pengawas asrama itu, apa dia seorang murid di Akademi ini?”
“Tidak, dia seorang anggota staff di sini!”
“Begitu? Omong-omong, memangnya dimana pos yang biasa ia tempati!”
“Yaah, ada dua…! Biasanya di ruang staff, kalau tidak, mungkin di ruangan pribadinya!”
“Ruangan pribadi? Apa setiap anggota staff punya ruangan pribadinya masing-masing!?”
“Ya, mungkin saja… aku juga tak tahu!”
“Ohh, kalau dia ini, dimana ruangannya?”
“Kau tahu bukan, ada meja besar di aula Asrama!?”
Aku merespon dengan menggelengkan kepala.
“Di situ! Dibaliknya ada pintu, di situ ruangannya! Dia lebih sering bekerja di ruangan itu…”
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mengerti.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak kesana saja? Untuk mengambil kuncinya!”
“Hmm, benar juga! Tapi aku agak ragu dengan itu…”
“Kenapa?”
“Karena setahuku, kuncinya hanya ada satu!”
“Lalu…?”
“Biasanya dia selalu membawa kuncinya, kemanapun ia pergi!”
“Begitu? Walaupun seperti itu… ada kemungkinan juga bukan, dia meninggalkan kuncinya di ruangannya!?”
“Tidak apa-apa, kalaupun dia meninggalkan kunci itu diruangan nya, dia bisa menduplikat nya!”
“Duplikat?”
“Ya, dia itu tukang kunci!”
“Hah, tukang kunci…?”
Belum sempat bertanya tentang lanjutannya, ia langsung mengatakan kalau tujuan kita sudah dekat dengan tujuan kita.
Beberapa saat kemudian, kami akhirnya sampai ke kantin akademi ini, ya… itu yang kulihat. ini biasa, penampilan luarnya tak terlalu besar ataupun mewah dari yang kukira. kantin ini berukuran sedang dan Nampak seperti umumnya.
Tapi tak apa-apa, ini lebih baik… seperti kata pepatah, yang berlebihan itu tidak baik.
“Ayo…”
Tanpa, ada penundaan lagi… aku dan Al segera memasuki kantin ini. Mencari keberadaan si Pengawas itu.
“Ayo…”
“Ya…”
Dan didalamnya… ini cukup luas! Ada beberapa warung yang buka dan banyak meja untuk 4 orang disini. Selain itu, walaupun hari minggu kantin ini ramai sekali, ya…! Aku tak menyangka nya.
Kami berdua melihat seluruh, meja-meja yang di isi oleh beberapa murid, tidak… lebih tepatnya, Al yang melihat ke sekeliling.
Dan dia menemukan orang yang kami cari.
“Ah, itu dia!”
Sesaat setelah menangkap keberadaan dari si pengawas itu, dia langsung menunjuknya, aku mengikuti dan melihat kearah yang ia tunjuk.
Al menunjuk kearah seorang perempuan dewasa, yang saat ini sedang makan di salah satu meja yang paling pinggir dan dipojokan. Ia juga sendirian saja, tanpa ada yang menemani.
Sendirian, terpampang jelas dari aura dan mukanya. Entah mengapa… aku jadi agak kasihan dan ragu.
“Hey, apa dia benar-benar si Pengawas itu?”
Ucapku bertanya kepada Al, meragukan orang yang ia tunjuk, sementara itu… Al hanya mengangguk saja.
“Benar! Ayo kesana…”
“Kak Alika!”
Wah, mereka cukup dekat…
Setelah Al memanggilnya, orang yang bersangkutan menoleh kepadanya. Dan kemudian, ia tersenyum.
“Aldian… halo! Kenapa mencari ku? Kangen, ya…!?”
Waah, apa dia juga seorang FansGirl Al rupanya. Sementara itu, Al memasang sebuah ekspresi yang bisa dibilang harusnya menusuk jika kita dilihat olehnya.
“Eh, apa-apaan itu…? Terasa menusuk sekali, loh! Aldian!”
Al menghentikan ekspresinya dan menghela nafas.
"‘Haah, seperti biasa, kau sendirian lagi, kak?”
“Ugh…”
Kali ini, ia benar-benar sudah tertusuk oleh ucapan Al. Tak ku sangka anak ini, sudah bisa mengatakan hal-hal seperti itu secara langsung sekarang.
“Jadi, ada keperluan apa? Mencari ku?”
Akhirnya, perempuan yang Al panggil sebagai Kak Alika itu mulai serius sekarang.
“Ah, ini Temanku punya keperluan denganmu!”
Dia menyuruhku untuk mengatakannya.
“Halo, namaku Saidhan… teman SMP nya Aldian!”
Pertama-tama, memperkenalkan diri dulu, itu penting.
“Ah, aku Alika… pengawas Asrama dan salah satu Staff di akademi ini!”
Benar kata Al, orang ini… dia itu, terlihat agak suram orangnya. Wajahnya Nampak lesu, begitupula dengan gaya bicaranya!
“Kalau boleh tahu ada masalah apa kau datang mencariku?"
Dia mulai menanyakannya.
“Ahh, ya…! Itu, karena aku baru saja pindah ke akademi ini, aku belum memiliki Kartu pelajar untuk mengakses kunci kamar asrama!”
“Ohh…”
“Karena itu, untuk sementara itu, bisakah aku meminjam kunci aslinya dulu? Setidaknya hingga aku mendapatkan Kartu pelajar ku!”
“Hoo, jadi begitu, ya…! Aku mengerti situasinya.”
Alika terlihat memasang sedikit pose berpikir, ia menaruh tangannya di bawah dagunya.
__ADS_1
“Apa tidak bisa…?”
Dia diam tak menjawab, ini berlangsung tak lama… karena setelahnya ia segera menjawab.
“Sepertinya…”
Dia sedikit menjeda perkataanya.
“… Tidak bisa?”
“Ehh, kenapa…?”
“Habisnya… aku tidak diizinkan untuk meminjamkan kunci yang asli kepada siapapun! Pihak sekolah yang memerintahkannya!”
“Eh… benarkah?”
“Beneran…!”
Ya, aku sedikit kecewa karena ini… padahal kami sudah berusaha mencari Alika dengan susah payah, yaah… tidak juga sih, karena aku sudah mengira dia akan berada di Kantin.
Dan disaat itu pula, aku teringat dengan ucapan Al tentang dirinya itu.
“Kalau begitu bagaimana dengan duplikatnya? Kalau hanya sekedar duplikat boleh mungkin, ya…!?”
“Duplikat?”
Eh, kok dia terlihat kaget dengan permintaanku barusan, apa Al berbohong soal itu?
“Ah… iya! Sebelumnya Al sedikit bercerita tentangmu… mengenai Tukang Kunci atau semacamnya!”
Aku mengatakan itu sembari menunjuk kearah Al, dan bersamaan dengan itu, Al sedikit menampilkan gelagat agak panik mendengarnya.
“Al-di-an…!”
Eh? Kok begitu…?
“Y-yaa? Kenapa Kak…?”
Alika berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Al, sementara Al sendiri, ia agak mundur beberapa langkah, walaupun itu percuma. Karena Alika langsung berjalan dengan cepat kearahnya.
Alika segera memegangi dan mencubit kedua pipi Al, yang nampaknya itu sedikit kencang.
“Aldian…? Apa yang sudah kau katakan pada temanmu ini?”
“Tidak, tidak! Aku tidak mengatakan hal apapun yang tidak jelas! Kok!”
Ucap Al membela dirinya.
“Dan juga… sakit, sakit tahu! Lepaskan aku!”
Setelah merengek seperti itu, Alika baru melepaskannya. Al hanya diam dan memegangi kedua pipinya yang kulihat, sepertinya agak memerah. Itu pasti agak sakit, ya…
“Ya ampun, kau ini… mengatakan hal yang tak diperlukan saja!”
“Mau bagaimana lagi… itu sangat diperlukan saat ini, tahu!”
“Hahh, dasar…”
Untuk mencoba sedikit pembelaan kepada Al, aku mencoba kembali menanyakannya.
“Jadi, apa bisa…?”
Mendengar kembali pertanyaan itu dariku, ia kembali ke tempat duduknya. Namun, bukannya menjawab, ia justru malah kembali kedalam kegiatannya memakan makan siangnya.
Cih… perempuan ini!!
Karena dia itu lebih tua dariku dan seorang angora staff, aku mencoba untuk bersabar.
“Permisi… bagaimana? Apa bisa?”
Sekali lagi, aku mencoba bertanya kepadanya dengan nada yang lembut. Dan karena itu, ia bereaksi.
Alika sedikit menoleh kepadaku, dan setelahnya ia menghela nafas.
“Haahh, tak ada pilihan lain, ya…! Baiklah, baiklah akan ku kabulkan permintaanmu!”
“Benarkah?”
"kamar nomor betapa?"
"S-10!"
Dia hanya mengangguk, kemudian… ia mengambil salah satu sendok besi yang ada di meja kantin ini.
Setelah itu, ia terlihat sedikit meraba-raba sendok, beberapa saat kemudian… sendok terlihat seakan-akan menjadi kenyal dan ia tekan menjadi gepeng.
“Wahhh…!”
Dan kemudian, terciptalah sebuah salinan kunci yang terbuat dari sendok. Setelah yakin dengan itu, ia menyerahkannya kepadaku.
“Ini…! sudah cukup bukan?”
Aku menerima kunci itu.
“Terima kasih!”
Setelah menerimanya, aku dan Al segera pergi meninggalkan Alika sendirian.
“Hey, Al… sebaiknya kita kembali ke asrama saja!
Kelilingnya lain kali, aku ingin membereskan kamarku lagian!”
“Eh, tiba-tiba sekali? Ada masalah apa memangnya?”
“Yaah, kau tahu… sekarang panas sekali!”
Aku menunjuk kearah matahari yang saat ini sudah berada tepat di atas kepala kami. Ini berarti sudah tengah hari. Tanpa berpikir panjang, Al menyetujuinya.
__ADS_1
“Baiklah…”
Dan begitulah… kami tak jadi berkeliling Akademi, justru malah menjadi pencarian terhadap Pengawas Asrama.