Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 7: Serangan Magician


__ADS_3

*Buaghh!


Suara benturan antara tanganku dengan tangan Robot. Di saat-saat terakhir aku bisa sedikit melindung area dadaku denan tanganku, akan tetapi…


Di pukul oleh Robot yang terbuat dari besi sangatlah sakit!


“Khekh!”


Aku segera mengambil beberapa langkah mundur, dan dengan cepat juga Robot ini menyusul dan melancarkan pukulan kembali.


Aku hanya bisa bertahan saja.


Sementara itu, para peneliti dan penonton yang mengobservasi pertarungan ku saat ini sedang dalam keadaan tak mengenakkan, mungkin karena kemampuanku tak kunjung muncul juga.


“Belum keluar juga ya, itu!?”


Ucap Pak Ari untuk memecah keheningan.


“Benar, apa yang terjadi Saidhan?”


Balas Pak Tri, sementara itu…


“Dia itu, walau teknik dan gerakannya cukup bagus, dalam pertarungan dia hanyalah seorang amatiran, ya! Menarik sekali…”


Semua orang menatap kearah tooru.


Sementara itu, aku dalam keadaan sangat kesusahan saat ini. Robot ini benar-benar ahli!


Gaya bertarungnya sangat sulit di tebak. Bertahan saja sangat sulit untuk ku. Hingga akhirnya, dia bisa membuka pertahanan ku.


“Cih!”


Dan di saat itu terdengar kembali suara.dari Robot tersebut.


[Warning, Energy Burst, will be activated!]


Dan setelah itu, dada dari Robot tersebut memulai mengumpulkan energy dan melancarkan laser terkuat miliknya.


“Apa!?”


Bahkan orang-orang di sana juga Nampak sedikit khawatir dengan keadaan ku saat ini.


Posisi ini, aku tak bisa menghindar! Bagaimana ini?


Energy itu semakin membesar.


Dan di saat itulah aku kembali melihatnya! Pengelihatan itu, mimpi itu, Nothigness dan Infinite secara lebih jelas lagi! inilah…


Benar juga, sekarang aku juga manusia berkemampuan khusus! Aku tak boleh terus menerus lari dari kenyataan ini. Aku….


Infinite! Aku percaya padamu.


Energy tersebut langsung saja bergerak dan memanjang ke arahku.


“Infinite Spatial Delay!”


Dan benar saja, laser itu secara sempurna berhenti beberapa centimeter dari tubuhku.


Semua orang kecuali Pak Tri dan Pak Ari, menjadi sangat terkejut.


“Itu dia!”


“Akhirnya itu keluar!”


Para peneliti yang tadi bersikap biasa mulai kebingungan, mereka segera menyaksikan pertarungan ini baik-baik.


Tooru yang melihat ini langsung saja tersenyum


“Naruhodo na…”


Saat ini si Robot sama sekali tak mengeluarkan pergerakan. Mungkin karena sensor tak mendeteksi tanda bahaya dan sensor menganggap kalau serangan Energy Burst masih dalam perjalanan menuju target.


Ini membuat opini Pak Tri jika aku sebenarnya tak menghentikan serangan, akan tetapi mendelay serangan.


“Benar sekali! Sistem mendeteksi peluasan ruang terjadi di sanan!”


Ujar Pak Ari, Pak Tri tersenyum mendengar itu.


“Sudah kuduga…!”


Sementara itu, Tooru terus menatap kearah layar komputer yang menampilkan statistik pertarungan saat ini.


Seluruh ilmuwan benar-benar terkagum karena ini. Tentu saja, karena Esper yang bisa memengaruhi ruang secara langsung dan sampai ke tahap tak terukur belum pernah terjadi.


“Subarashi!”


Ucap beberapa ilmuwan di sini. Mereka semua akhirnya mengerti kenapa Pak Tri menganggap ku sebagai berpotensi Stage 7. Tidak, bahkan potensi kemampuan ini bisa melampaui Stage 7….


Mungkin jika dinilai dari sisi kendali dan keahlian ku dalam memakainya. Masih lah sangat jauh dari Stage 7… dan inilah yang menjadi masalah dalam penentuan Stage dalam diriku.

__ADS_1


Kembali ke pertarungan, aku saat ini sudah bangkit dan menatap sebuah bola laser Energy yang sedang dalam keadaan di delay. Kali ini, aku menjadi lebih merasakannya…


Dibandingkan saat melawan Kira sensasi ini terasa jauh lebih bebas dan leluasa. Aku mengepalkan tanganku.


“Saatnya untuk mengakhiri ini!”


Kurasa para ilmuwan itu sudah cukup melihatnya. Aku mengarah kan tanganku kearah Robot yang saat ini tepat berada di depanku.


“Robot ini… boleh ku hancurkan tidak?!”


Aku bertanya, takut jika saja ini adalah barang berharga dan mahal.


“Soal itu… apa boleh di hancurkan?”


Ucap Pak Tri kepada para ilmuwan yang satu ruangan dengan dirinya. Mereka kemudian memberikan anggukan setuju.


“… Ya, Robot itu boleh kau hancurkan!”


“Kalau begitu… Munculah dari ketiadaan 'Infinite Energy’ yang sempurna!”


Dan setelah itu, sebuah kilatan energy muncul dan membungkus tanganku dengan sempurna. Dan dari itu pula, aura Nothingness menjadi merembes keluar… seluruh orang yang menyaksikan pertarungan merasa tertekan karena itu.


“Lontarkan!”


Sesaat setelah ku mengucapkan itu, Energy ini kemudian terfokus pada satu titik dan langsung terlontar.


Sensor Robot sama sekali tak memunculkan tanda bahaya. Dan di saat sudah mendekat, Energy ini terpecah dan langsung melapisi seluruh bagian Robot.


Secara cepat ia menghilang, keberadaan Robot itu sama sekali tak meninggalkan jejak. Semua orang langsung saja terkejut akan hal ini, bahkan aku pun juga terkejut.


Dampak yang diberikan berbeda dengan yang kukira. Dan setelah itu, aku berlutut karena kehabisan tenaga, nafasku bahkan terengah-engah karenanya.


“A-apa yang terjadi?”


"Android nya menghilang?”


“Tapi bagaimana?”


Seluruhnya kebingungan dengan kejadian itu.


“Tidak, Android itu sudah hancur sekarang!”


Ucap Tooru. Dan karena ucapannya ia di pandangi oleh Pak Tri.


“Maksudmu?”


Mereka semua tercengang mendengar penjelasan Tooru.


“Seperti yang di harapkan dari Tooru, kau hebat sekali…!”


Ucap Pak Ari memuji.


Setelah itu kerena Test sudah selesai. Pak Tri langsung masuk ke tempat uji coba untuk membantuku, begitu pula dengan Pak Ar. Sementara itu, Tooru terlihat masih ada di ruangan itu dan terus melihat ke arahku.


‘Tadi itu, mirip sekali dengan teknik pemisahan milikku, tapi konsepnya berbeda… apa tadi itu sebenarnya?’


Pikir Tooru di benaknya.


...----------------...


Sudah beberapa jam berlalu, saat ini sudah malam. Karena kelelahan aku langsung tertidur setelah makan.


Tak disangka, disalah satu bagian Labolatorium ini, terdapat tempat untuk menginap. Bahkan fasilitasnya mungkin setara dengan hotel bintang 4. Ini cukup memuaskan.


Akan tetapi sekarang, suasana hatiku sedang dalam keadaan buruk sekali. Hal ini dikarenakan, di kalkulasi Stage-ku, mereka mengatakan jikalau aku sudah 86% cocok Stage 7. Akan tetapi, masih dibutuhkan beberapa percobaan untuk meningkatkan persentase, setidaknya di atas 93%. jadi kemungkinan besar aku akan dihadapkan dengan pertarungan yang mungkin lebih sulit daripada yang sebelumnya.


“Sial… padahal tadi saja sudah sangat melelahkan!”


Saat ini aku sedang mendinginkan kepala di sebuah halaman belakang labolatorium. Di sini sangatlah nyaman, karena aku bisa dengan jelas melihat laut yang ada di belakang Labolatorium.


Aku tak tahu kenapa Labolatorium ini dibangun di pinggir laut, apa itu termaksud ke dalam fasilitasnya? Tetapi yang terpenting ialah, aku bisa menikmati ini semua dengan nyaman.


Akan tetapi, hal ini hanya berjalan sebentar saja. Karena setelah itu, datanglah seseorang dengan pakaian yang, errmm…. Bagiku itu terlihat sangat aneh.


Dia memakai baju panjang dengan tudung, selain itu ia juga memakai penutup mulut yang membuatnya hampir menutupi seluruh kepalanya, mirip seperti pakaian yang di pakai oleh Exorcist, jadi kemungkinan dia itu adalah seorang Magician. Namun, yang ada di pikiranku saat ini adalah…


‘Hiburan malam, kah?’


Yaa, itu sangat aneh, bagaimana ada hiburan makam


semacam ini di sebuah Labolatorium besar. Tidak, ada hiburan malam saja juga termaksud kedalam kategori langka.


Aku kemudian berinisiatif bertanya, karena lama-lama ini jadi sedikit mencurigakan.


“Permisi, ada apa ya…”


Sedikit keheningan terjadi. Aku berpikir mungkin dia tak mengerti karena aku menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi…


Orang itu merentangkan tangannya ke arahku. Dan kemudian…

__ADS_1


“Wahai Bumi yang agung, perlihatkan aku wujud mu, datanglah Earth Golem!”


“Sorcerer!?”


Tangannya seketika memunculkan sebuah pola lingkaran sihir. Dan tanah yang test berada di depan orang itu mulai retak dan kemudian bersatu membentuk sebuah golem tanah yang tingginya mungkin sekitar 3 meter.


“Hancurkan lah bocah itu!”


Ucapnya memerintah golem yang ia panggil.


Dan seketika, Golem itu mulai bergerak dan mengaum.


Si Golem kemudian mengambil sebuah bongkahan tanah besar dan meremukkannya. Ah, ini aku tahu apa yang akan terjadi. Aku segera melarikan diri sebelum ia mulai melebarkan bongkahan tanah itu. Karena itu pasti akan menjadi hujan serangan yang mungkin akan menyakitkan jika terkena itu. Ini adalah hal yang lumrah terjadi di film-film fantasi tahu.


“Jangan biarkan dia kabur!”


Dengan cepat, golem tersebut melemparkan bongkahan tanah yang ia pegang, dan ternyata jaraknya jauh melebihi perkiraan ku.


Walau aku sudah sempat melarikan diri, jangkauan tanah-tanah itu bisa sampai kepadaku. Apa-apaan ini? Apa ini juga termaksud kedalam Test? Tidak, tapi….


Sudah lama kudengar bahwa SRC cukup sering berseteru dengan Magic Parlemen. Sebuah parlemen khusus para Magician yang di bawah kepemimpinan langsung dari Sang Raja sihir jaman ini.


Dan tentu saja, perseteruan itu berdasarkan latar belakangnya, dimana sejak era dulu sekali, Para Esper adalah musuh utama para Magician. Para Magician takut dengan perkembangan Esper yang begitu pesat hingga saat ini, mereka meyakini jika di suatu saat nanti, akan tiba era dimana Sihir Kuno, di geser oleh Sihir yang lebih modern.


Tentu saja hal ini sangatlah dibenci oleh para sesepuh Sihir yang berpusat di Roma Italia. Bagiku, mereka hanyalah pemuja Sihir Gila. Sebenarnya, ada kala dimana para Magician mulai menyerah menghadapi perubahan jaman. Akan tetapi, mereka akhirnya mendapatkan secercah harapan datang kembali, lahirnya seseorang yang menyandang gelar Raja Sihir sangatlah memberikan mereka sebuah motivasi untuk terus bisa mempertahankan aliran Sihir Kuno.


Untuk saat ini, mungkin menurut media, SRC dan Magic Parlemen udah tak berseteru. Namun di balik layar, mereka semua masih aktif dalam saling mengirim para pengintai. Mencoba untu saling memata-matai satu sama lain, memantau sejauh apa perkembangan kedua sisi.


Dan penyerangan ini, pasti terjadi kerena kebocoran Informasi tentangku, yang bahkan dikatakan sudah mencapai 86% Stage 7. Bagi para Magician, para Stage 7 adalah ancaman besar.


Mereka adalah bukti nyata seberapa cepatnya perkembangan dari pihak Esper, terutama para Scientist. Beberapa dari Stage 7 dikatakan mampu sampai ke level kekuatan Raja Sihir yang sejak jaman dulu dianggap sangat Superior.


Itulah mengapa, para Magician sangat ingin membunuhku sekarang ini. Jika Stage 7 kesembilan terlahir. Pastinya dunia akan lebih melirik ke arah perkembangan pesat para Esper. Dan banyak juga seorang Magician yang tak terlalu mempercayai Sihir Kuno akan mencoba masuk ke dalam Sistem Stage.


“Ya, ampun inilah mengapa aku tak menyukai orang-orang berkemampuan!!”


Lemparan Golem sangatlah kuat, aku beberapa kali terkena dampak dari benturan antara bongkahan yang ia lempar dengan tanah. Mereka bertemu kembali.


Kesal karena aku terus saja mampu menghindarinya, si Magician ini langsung mengisyaratkan Golem nya untuk segera maju dan menyerang ku secara langsung.


“Maju, hancurkan dia!”


Dan seketika si Golem langsung saja melompat dan melesat menuju ke arahku. Lompatan nya tinggi, tinggi sekali.


“Aa-aaaaahh!!”


*Brruaghhh!


Bunyi benturan antara pukulan si golem dan tanah. Bunyi ini terdengar sangat kencang, bukti seberapa kuat benturan yang terjadi. Syukurlah aku masih bisa menghindarinya, kalau tidak mungkin Saidhan M. Ardhiyasa hanya tinggal nama saat ini.


Setelah itu, golem tersebut mengangkat kedua tangannya. Ia sedang dalam posisi siap untuk kembali melancarkan pukulan. Namun, saying sekali! Aku sudah dalam posisi sempurna saat ini…


Kau tahu…, kemampuanku sudah jauh berkembang semenjak datang tahu!


‘Infinite!’


Golem melancarkan pukulan, namun kali ini antisipasi sidah berhasil kulakukan… pukulan si Golem sudah secara sempurna berada dalam Infinite Spatial Delay.


Aku tersenyum karenanya dan menatap kearah penggeraknya, si Sorcerer. Namu, ekspresi yang ditunjukannya hanyalah sebuah senyum remeh, dan kemudian mengatakan…


“Ini belum berakhir!”


Secara tiba-tiba, dari belakangku kembali muncul sebuah golem yang ukurannya lebih kecil, yaitu 2 meter.


Kedatangannya sangat mendadak! Mustahil di antisipasi…


Pikirku menyadari sebuah Golem lainnya ada di belakangku saat ini. Si golem segera melancarkan serangan kearah perutku yang pertahanannya terbuka lebar.


Untung saja, aku aku masih bisa merasakan sebuah delay terjadi di saat-saat terakhir sebelum pukulan golem secara telak mengenai ku. Sehingga damage yang ku terima bisa di minimalisir.


Saat ini, aku hanya bisa mengatakan ‘Nice, Infinite!’


Akan tetapi, tentu saja ya… serangan masih belum berakhir sampai disini. Si golem terlihat Nampak bersiap-siap untuk kembali melancarkan pukulan. Aku sudah pasrah sekarang ini… tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, aku sudah bersiap untuk merasakan sakit.


Akan tetapi, sebuah suara membuyarkan semua itu, bahkan karena itu nampaknya pukulan si golem menjadi meleset, tepat berada di tengah-tengah kedua kakiku yang sedikit terbuka.


“Yare-yare, bagaimana bisa situasinya jadi runyam begini? Ne, Saidhan-kun!”


Suara ini, jangan-jangan!


Aku langsung membuka kedua mataku ini, saat ini aku melihat seseorang laki-laki, berdiri di atas golem dengan santainya. Bahkan si Sorcerer sendiri terkejut akibat ulahnya.


Dia itu, adalah…


“Kamu itu....!”


Dia hanya membalas dengan sebuah senyuman. senyuman yang entah mengapa saat ini membuat ku menjadi lega dan merasa terselamatkan.


"Tooru!??"

__ADS_1


__ADS_2