Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 39: Demam tinggi dan Pergerakan


__ADS_3

Aldian Ressha Han, memulai pagi hari dengan sangat awal, ia sudah bangun sejak jam setengah 6. Sedikit membersihkan tempat tidurnya, setelah itu ia segera mempersiapkan segala kebutuhan untuk sekolahnya hari ini.


Ini memakan waktu tak terlalu lama, ia kemudian segera mandi saat jam 05:55. Itu masih terlalu pagi… tapi inilah kehidupan sehari-harinya yang biasa-biasa saja. Ini adalah normal baginya, ia menghabiskan waktu sekitar 5 menit untuk mandi, setelahnya… ia memakai seragam, dan duduk sembari membuka lembaran-lembaran pelajaran.


Guna menghafal dan memahami materi yang diajarkan kemarin, hal ini dikarenakan materi yang diajarkan di ACJ itu sangatlah luas dan sulit, bahkan ini sampai membuatnya kebingungan dipertama kali.


Namun, sepertinya ia sudah bisa mengatasi masalah ini. Al biasanya menghabiskan 15 menit dalam melakukan ini. ia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di kamarnya ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul 06:15, ia menyudahi kegiatan yang ia lakukan, dan mencoba untuk rileksasi beberapa saat, kemudian ia meraih Manga yang ada di Rak buku miliknya dan membacanya.


Walau kebanyakan ia sudah membacanya, namun ia tetap saja suka untuk Re-read seluruh Manganya, hanya untuk menghabiskan waktu saja


Di tengah-tengah itu, ia juga melihat dan membalas semua pesan yang masuk sejak malam… yaah, karena pada dasarnya ia merupakan orang yang populer, banyak sekali pesan yang masuk.


Ia mencoba untuk membalas beberapa saja, yang penting-penting saja baginya. Namun, ada satu hal yang agak aneh baginya… yaitu, teman baiknya… Saidhan tak mengiriminya pesan!


Ya, walau mereka berdua saat ini tinggal bersebelahan, namun Saidhan tetap saja sering mengiriminya pesan di jam-jam seperti ini. Biasanya, untuk menanyakan kegiatan, PR, atau bahkan sekedar untuk mengecek kalau dirinya sudah bangun atau belum. Begitu pula sebaliknya, Al sendiri juga sering mengirimi Pesan kepada Sai di jam-jam seperti sekarang, karena temannya itu belum mengiriminya pesan…


Maka ia berinisiatif untuk mengiriminya pesan, sekedar untuk mengecek Sai sudah bangun atau belum.


Setelah Al mengirimi pesan, ia memutuskan untuk menyudahi kegiatannya, dan segera memasak untuk sarapan. Di kamar ini sebenarnya terdapat ruang kecil sebagai dapurnya.


Walaupun sebenarnya, ia biasa sarapan di kantin. Namun, kali ini berbeda… ia baru saja dikirimi berbagai jenis bahan-bahan makanan dari keluarganya, karena itu, ia memilih untuk memasak sendiri, demi menghemat pengeluaran bulanan.


Setelah siap, ia memakannya di sebuah meja kecil… sembari kembali melihat Smartphonenya.


Ia mencoba kembali melihat pesan yang ia kirim ke Sai, ia masih belum membalasnya, bahkan membacanya saja belum… ia terdiam sesaat menatapnya.


“Tumben sekali… bahkan ia belum membaca!”


Ucapnya kemudian kembali memasukkan makanan ke mulutnya.


“Baiklah, nanti akan kucek saja dia…!”


Setelah itu, Al kembali memakan sarapannya… Hingga, waktu terus berlalu, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 06:35. Ini sudah saatnya ia berangkat, namun… Saidhan masih belum membaca pesannya, mungkin ia akan mengunjungi dirinya terlebih dahulu.


Al pergi keluar, ia membuka pintu dan kembali menutup, dan menguncinya. Ia melihat kearah kamar sebelah, lebih tepatnya kearah kamar nomor S-10.


“Masih Sepi…!”


Al menuju ke depan pintu kamar itu, seperti yang dirinya pernah bilang sebelumnya, kamar Asrama di ACJ itu sudah sangat modern, apalagi kamar seri S… setiap pintunya sudah memiliki sistem sidik jari.


Dan kebetulan, Al sudah memasang sidik jarinya di Kamar milik Sai, begitu pula sebaliknya… jadi ia bisa masuk dengan mudah.


Al membuka pintu ini, tentu saja… sebelumnya ia sudah mengetuk pintu dan memanggilnya. Namun, Sai tak menjawabnya sama sekali. Karena itu,ia memutuskan untuk masuk kedalam… mengingat kalau ia pergi kemarin, mungkin saja temannya itu masih tidur.


Dalamnya masih gelap, lampunya masih dimatikan… sepertinya benar, Sai mash tidur.


“Haa, ya ampun… Sai! Oi, kau masih tidur!?”


Al sengaja mengatakan ini dengan sedikit teriak, ia juga menyalakan lampunya… supaya temannya ini bangun. Namun, Sai tetap saja tak mau bangun…


Al melihat kearah Sai, keadaannya ini cukup berantakan, kasur tempat Sai berbaring sangat berantakan. Selain itu, raut wajah yang dipasang Sai saat ini sungguh bruk, I terlihat sangat tidak sehat.


“Hey, Sai…!?”


Ucap Al sedikit khawatir, kemudian ia sedikit berjongkok untuk melihat keadaan temannya ini. dia mencoba untuk mengecek suhu tubuhnya dengan memegang dahinya.


Dan…


“Ah…! Panas sekali!”


Al benar-benar terkejut karena ini, suhu tubuh Sai benar-benar panas sekali! Ia sedang demam tinggi


“Oi! Sai, apa yang terjadi, oi!!”


Al sedikit mengguncang tubuh Sai pelan, hingga akhirnya… ia membuka matanya.


“Haah, Sai…!”


Sai menengok kearah Al dengan pandangan yang lemah dan lesu…


“Al…!”


“Kau demam tinggi! Suhu tubuhmu panasnya gila! Apa yang terjadi kemarin!?”


Ucap Al untuk menanyakan kejadian kemarin, untuk mengetahui situasinya.


“I-ini… sudah berbeda…!”


Ucap Saidhan dengan suara yang sungguh pelan. Namun, Al masih bisa mendengarnya dengan samar-samar.


“Ada apa?”


“T-olo-ng! L-indungi-lah, K-kisa!”


Ucap Saidhan melanjutkannya.


“Kisa? Apa maksudnya…?”


Sai kembali tak merespon, ia sudah pingsan sekali lagi. Melihat ini, Al langsung saja bergegas untuk menelfon ambulans.


Dan begitulah, serentetan kejadian terjadi… Saidhan yang demam tinggi, Al khawatir dan memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit, karena hal itulah, Aldian menjadi terlambat mengikuti kelas selama hampir 1 jam pelajaran.


......................


Saat ini, sudah diluar jam pelajaran, artinya… para murid Akademi akan aktif di Klub dan Ekskul yang mereka ikuti. Walaupun telat dalam memulai pelajaran hari ini. Al tetap saja bisa menyelesaikan hari ini dengan minim kendala, ia saat ini sedang berada di ruangan Klubnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan para anggota Klub Penelitian Sejarah Dunia yang lainnya. Mereka semua saat ini sedang berada di ruangan Klub mereka.


Tentunya, saat ini… Saidhan tidak ada disitu, karena ia saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


Al sedang menceritakan kejadian pagi hari ini, kepada teman-temannya, mereka hanya menyimaknya dan memasang wajah risau, tanda seberapa mereka mengkhawatirkan Saidhan. Mau bagaimanapun, mereka saat ini sudah dekat sekali dengan Saidhan dalam kurun waktu sebulan ini.


Di ruangan klub ini, hanya terdapat seluruh anggota kecuali Sai, dan juga satu orang anak perempuan yang sedang duduk berdekatan dengan Sylphy, anak itu sedikit meneteskan air matanya mendengar kabar tentang Saidhan.


“Begitulah ceritanya! Setelah itu, aku langsung saja memanggil ambulans, dan Saidhan dibawa ke rumah sakit!”


Mereka semua memasang ekspresi khawatir.


“Kasihan Sekali, Saidhan…!”


Ucap Charla, melihat kakaknya begitu… Charlotte berinisiatif untuk mengelus kepala Charla.


“Tidak apa-apa, kok! Dia sudah di rumah sakit, loh… kakak!”


Mendengar itu, Charla kembali tersenyum…


“Tapi kenapa, bukankah kemarin ia terlihat baik-baik saja? Setelah kalian pergi menyelidiki gudang bekas kemarin, Sylphy?”


Ucap Fano bertanya kepada Sylphy…


Sylphy hanya diam saja sembari mengingat kembali segala gerak-gerik dan tingkah laku Saidhan, ia sama sekali tak merasa kalau Saidhan menunjukan tanda-tanda kalau ia sedang sakit.


“Aku sama sekali tak merasa kalau ia sedang sakit! Dia sehat-sehat saja, selain itu… kemarin kami sedikit terlibat pertarungan, ia sungguh hebat sekali!”


Ucap Sylphy sembari memegang dagunya…


Sontak, yang lainnya langsung saja terkejut karena mendengar kata ‘pertarungan’ keluar dari mulut Sylphy… mereka sudah tahu bagaimana mengerikannya Sylphy disituasi pertarungan.


“K-kamu bertarung dengannya, Sylphy?”


Ucap Charla agak kaget…


“Eh…?”


“Ahh… pantas saja! Kalau begitu sudah jelas kenapa Sai jatuh sakit!”


Ucap Al melanjutkannya…


“Apa maksudnya itu…?”


“Paling dia kena masuk angin yang over! Atau mungkin Angin duduk!”


Ucap Fano melanjutkannya, tentu dengan sedikit bercanda…


“Hei…!”


“Hmm, benar juga…!”


“Bahkan Charlotte sekalipun!?”


Sylphy menjadi agak down, Kisa melihat ini mencoba untuk menyemangatinya.


Melihat hal itu, yang lainnya mencoba untuk meredakan situasi ini.


“Haa, jadi… kenapa bisa dia bertarung denganmu seperti itu?”


Ucap Fano…


"Bukan! Enak saja, Saidhan tidak bertarung denganku, tapi bersama ku! Kami diserang mahluk sihir, dan kami berdua membasmi mereka!”


“Mahluk sihir?”


Ucap yang lainnya secara bersamaan…


“Ya… mereka tercipta disekitaran gudang itu, sepertinya… aura sihir yang dibicarakan Fano memanggil mereka!”


Ucap Sylphy menjelaskan situasi…


“Lalu, apa Saidhan menjadi demam, karena terpapar Energi sihir itu? Bukankah dia itu sebelumnya hanya Unknown Class?”


Ucap Charlotte menyuarakan pendapatnya… yang lain langsung saja mulai sependapat setelah mendengar itu.


“Ya… itu mungkin saja…! Pemusatan Energi sihir secara besar, terkadang bisa menjadi racun bagi manusia dengan Sihir kecil! Kita bisa memakai dugaan seperti itu!”


Gumam Sylphy, yang lainnya hanya terdiam memikirkan itu… ditengah-tengah keadaan sunyi ini, Kisa bertanya kepada Sylphy.


“Kak…!”


“Ada apa?”


“Berbicara soal itu, apa ini ada sangkut pautnya dengan aku menyalurkan Energi ku kepada, Kak Saidhan?”


Ucap Kisa dengan nada dan suara yang agak memelas, melihat itu Sylphy…


“Tidak, tenang saja! Itu semua masih saja hanya dugaan! Bisa saja Saidhan baru terkena saat ia tidur! Selain itu, aku juga masih baik-baik saja!”


Ucap Sylphy menenangkan Kisa, selain itu… yang dikatakannya memang benar adanya! Cadangan Energy sihir yang Sylphy punya tidaklah terlalu besar…


Kalau dibandingkan, bahkan Seluruh Energi milik Sylphy tak sebanding dengan setengah Energi sihir milik Al. Faktanya, Energi sihir Al memang sangat besar. Itu adalah salah satu alasan ia dijuluki sebagai Wonder Kid Aldian.


Mendengar itu, Kisa menjadi sedikit tenang… segera setelahnya, Al baru menyadari keberadaan Kisa.


“Oh, iya! Siapa dia? Apa kenalan mu Sylphy?”

__ADS_1


“Ah benar juga… kau belum tahu, ya Al..? Dia ini sebenarnya anak yang kami temui saat penyelidikan kemarin!”


Ucap Sylphy menjelaskan siapa itu Kisa…


“Lalu kenapa dia ada disini?”


“Untuk sekarang, ia tinggal bersamaku…! Setidaknya sampai ia memiliki rumah tetap!”


‘Rumah tetap?‘ Itu adalah kata-kata yang membuat Al sedikit bingung… namun ia bisa mengerti nya dengan segera.


“Hoo, jadi siapa namanya?”


Ucap Al menanyakan nama anak itu.


“Namanya Kisa!”


“Kisa!?”


Untuk sesaat, Al menjadi teringat akan sesuatu hal mendengar nama Kisa. Ya, benar sekali…! Ia mengingat kata-kata yang diucapkan Saidhan.


“T-olo-ng! L-indungi-lah, K-kisa!”


‘Kisa…!?’


......................


Di suatu tempat, di atap sebuah gedung lama… yang nampaknya dihentikan proyek pembangunan nya. Terdapat tiga orang Magician…


Mereka itu adalah yang sebelumnya…


Orang dengan rambut dan baju bewarna hijau tua itu adalah Haki, sama seperti Sylphy… dia merupakan pengguna Sihir Angin.


Orang yang bertubuh besar dan kekar ini adalah John, pengguna Sihir Tubuh.


Sedangkan, orang yang rambut hitam ini, Sihirnya masih tidak diketahui… namanya adalah Renra.


“Hei, Haki… mau sampai kapan kita akan menunggu seperti ini!?”


Ucap John mengeluh… sementara itu, Renra juga sependapat dengannya… namun, ia memilih untuk diam.


“Ya, ampun…! Ini bahkan belum 1 hari, loh.. John! Cobalah bersabar sedikit!”


Ucap Haki membalas keluhan John…


Haki kembali diam dan kembali memandangi kota, begitu pula dengan John… namun, kali ini Renra yang mengatakan sesuatu.


“Haki! Aku memang bilang kalau akan mengikuti perkataan mu kemarin, tapi setidaknya berilah aku jawaban! Apa alasanmu membiarkannya lepas…!? Padahal kau bisa merasakan keberadaannya!”


Ucap Renra bertanya.


“Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya!? Kita tunggu sampai ia mencapai bentuk aslinya!”


Balas Haki dengan tenang.


“Aku menanyakan niatan aslimu! Tuan RIO benci menunggu, lalu kenapa kau justru ingin menunggu!?”


Ucap kembali Renra dengan sedikit berteriak… Renra adalah yang paling terkuat dari mereka bertiga, teriakannya tadi sedikit membuat John takut. Namun, berbeda dengan John… Haki sama sekali tidak takut.


Haki sama berbahayanya dengan Renra dalam artian yang berbeda… oleh karena itu, Renra memutuskan untuk mengikuti apa yang ia rencanakan. Namun, tetap saja Renra waspada, jikalau Haki berkhianat suatu hari nanti.


Haki masih diam tak menjawab, kemudian…


“John, Renra! Soal Heavenly Eye’s ini, bisakah kalian mempercayaiku untuk bertanggung jawab sepenuhnya!?”


Ucap Haki…


“Apa maksudmu…?”


“Kalian berdua kembalilah ke tempat Tuan RIO! Katakana kalau serahkan urusan ini kepadaku dan bawahan ku!”


Ucap Haki…


“Apa yang kau rencanakan?”


Tanya Renra… John hanya diam menyimak, karena pada dasarnya ia merupakan otak otot.


Haki sedikit menoleh kebelakang, kearah Renra… ia menyadari tatapan itu.


“Apa kau ingin menyembunyikan suatu yang menarik dari kami?”


Tanya Renra…


“Mustahil…!”


“Haa, baiklah… untuk kali ini akan kubiarkan kau betindak semau mu! Kalau gagal tanggung sendiri!”


Ucap Renra memperingati.


“Tentu saja…!”


Ucap Haki dengan senyumannya…


“John, ayo pergi…!”


“Baiklah!”


Segera setelah itu, mereka berdua langsung saja menghilang, pergi menuju Tuan mereka. Menyisakan Haki seorang diri…

__ADS_1


"Hahaha! Ini akan menjadi sangat menarik!”


__ADS_2