Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 11: Penentuan Stage dan Jalan-jalan


__ADS_3

Tengah malam, di salah satu Labolatorium utama milik SRC. Yang terletak di Tokyo, Jepang. Seorang Remaja berusia 18 tahun sedang berjalan di lorong-lorong Lab.


Dia bernama Shinyaku Tooru, salah satu dari 8, tidak mungkin sudah 9 Esper yang mencapai Stage 7. Beberapa menit kemudian, Ia sampai ke ruangan yang ia tuju.


Membuka pintu ruangan, dan nampak lah sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup luas.


Ia berdiri di depan beberapa meja dengan sekumpulan orang, yang dikonfirmasi merupakan seluruh Petinggi Lab. Ini, sedang menghadap kearahnya. Karena bentuk ruangannya seperti ini, ia merasa seperti seorang pelaku tindak kriminal yang akan di adili, tentu saja hal ini sedikit membuatnya tidak nyaman.


“Ada apa memanggilku di tengah malam seperti ini? Aku sangat lelah tahu…!”


Perkataannya bukanlah kebohongan, beberapa jam yang lalu, ia melakukan sebuah pertarungan untuk menolong Saidhan yang diserang oleh seorang Magician.


“Tujuan kami memanggilmu kemari adalah untuk mempertanyakan tindakanmu dengan membiarkan Saidhan M. Ardiyasha bertarung!”


“Ehm, itu benar sekali… apa ada yang salah dengan itu!?”


*Buugghh!


Salah seorang Profesor memukul meja dengan cukup keras.


“Jangan bercanda kau! Padahal kau tahu sendiri, kalau hal itu diluar prosedur yang kami miliki!”


Ucap Profesor itu dengan nada yang cukup tinggi.


“Dakara, aku bertanya apa ada yang salah dengan hal itu…?”


Tooru-san menjawabnya dengan santai


“Kaauu...!”


Selang beberapa saat, seorang yang ada di sampingnya menepuk pundaknya untuk menenangkan rekannya.


“Tenanglah…!”


Si Profesor itu kemudian menghela nafasnya.


“Shinyaku-san, kau tahu sendiri bukan? Tindakan yang kau ambil itu di luar prosedur Test Stage kami! Dan karena hal itu, Kalkulasi yang kami buat menjadi berantakan, kalkulasi yang seharusnya menjadi patokan dalam Test selanjutnya… Test yang dilakukan Saidhan tadi juga berpotensi gagal dan harus diulang kembali. Kau tahu…?”


Tooru-san sedikit dia sesaat mendengarkan peringatan para Profesor ini.kemudian ia menjawab.


“Lalu kenapa? Bukannya kalian semua juga melihat pertarungan yang dilakukan Saidhan-kun… Dan hal itu juga memenuhi kriteria Test, bukan? Lalu apa yang salah?”


Seluruh Profesor terdiam karena ucapan Tooru-san.


“Lagipula, jika saja kejadian hari ini tak terjadi, kalian akan seberusaha mungkin membiarkan Saidhan-kun pulang dan menentukan Stage untuknya begitu saja…”


“Yang kalian inginkan hanyalah melakukan eksperimen terhadap kemampuannya bukan? Dan asal kalian tahu saja, aku menyimpulkan bahwa dia juga Stage 7 bukanlah tanpa alasan, aku ini jugalah seorang Stage 7, jadi harusnya aku juga sama mengerti nya dengan kalian! Jika Ayahku di sini sekarang, dia pasti akan setuju denganku…”


Para Profesor itu semakin dibuat tak bisa menjawab olehnya, hal ini dikarenakan Tooru-san membawa nama Ayahnya.


Ayah Tooru-san, Shinyaku Tooya bisa dibilang merupakan ilmuwan no. 1 di Lab. Ini. Seluruh kalkulasi dan hipotensis nya dalam sebuah penelitian sama sekali belum pernah salah. Dengan membawa namanya saja, seluruh Profesor mungkin saja bisa diajak untuk memikirkan hal ini kembali.


Tooru-san menghela nafasnya.


“Baiklah kalau memang kalian masih tak bisa menerima begitu saja akan hal ini, biarkan aku mengawasi dan melatih dia…!”


Setelah mendengar hal itu, seluruh Profesor sedikit terkejut, mereka tak menyangkan seorang seperti Shinyaku Tooru, ingin melatih dn mengawasi seseorang.


"Apa kau yakin?"


Ucap salah satu Profesor untuk mengkonfirmasi


“Dengan begitu kalian bisa puas bukan? Setelah ini perhatikan saja kami dan jangan mengganggunya… ini peringatan!”


Setelah mengatakan itu, Tooru-san membalikkan badannya dan pergi.


“Sudahlah, aku mau kembali dan tidur!”


Ia segera meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan para Profesor kembali berdiskusi untu mencari pilihan apa yang paling terbaik.


Di perjalanan kembali ke kamarnya, Tooru-san masih memikirkan tentang tadi.


“Semoga mereka tak menghalangi,,,”


...----------------...


Pagi hari yang cerah. Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur.


Aku terbangun dari tidur yang sangat nyenyak ini. Setelah melewati berbagai macam kejadian di hari kemarin, aku berharap hari ini bisa berjalan lancar tak ada masalah yang terjadi.


Hal yang pertama kali dilakukan di setelah bangun tidur sudahlah pasti, ke toilet. Setelah selesai, tentu saja aku memulai kebiasaan di pagi hari, yaitu membersihkan tempat tidur dengan ditemani oleh alunan musik santai di pagi hari…


Dan karena itu aku menjadi sadar, kalau aku tidak sedang di rumah…


“Oh, ya… Aku sedang berada di Jepang!”


Yaa, ini hanya kebiasaan pagi hariku yang lainnya.


Setelah selesai melakukan bersih-bersih tempat tidur, aku hanya duduk diam sembari sedikit melihat ke luar jendela.


“Kamar ini cukup nyaman juga…”


Ucapku pelan menikmati ketenangan pagi. Aku melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 7:00 pagi.


Setelahnya, aku menyalakan Smartphone ku, hanya untuk melihat dan memberi kabar pada keluarga dan para kenalanku. Cukup banyak orang yang mengirim pesan, terutama pesan dari Rei…


Dia berulang kali mengirimi pesan hingga menumpuk. Bahkan sampai lebih dari 200 pesan belum terbaca.


Ya ampun, orang ini…


Mayoritas pesan yang ia kirim adalah informasi tentang lokasi wisata di Tokyo dan permintaan untuk mengirim banyak foto di sana.


“Merepotkan saja…”


Walaupun begitu, karena pesannya ini aku menjadi berpikiran tentang jalan-jalan… Aku melupakan jadwal yang sudah ditetapkan, sedikit karena pengaruh ucapan Tooru-san semalam.


Entah mengapa, aku lebih ingin ucapannya benar-benar terjadi…


Karena terlalu lama memikirkan hal itu, perutku yang keroncongan mulai berbunyi, tanda bahwa ia harus segera di isi. Dan disitu aku baru mengingatnya.


“Benar juga… kalau dipikir-pikir aku belum makan dari semalam!”


Setelah itu, aku segera keluar kamar dan menuju daerah Kantin untuk mencari sarapan pagi.

__ADS_1


Sampai di sana, aku melihat menu yang terpampang. Dan… aku tak bisa membacanya.


Di tengah kebingungan, sebuah suara masuk kedalam telingaku.


“Saidhan-kun! Kesini, kesini!!”


Aku menoleh ke arah suara itu, suara ini sepertinya aku kenal…


“Uwah…!”


Tooru-san ada di salah satu meja di kantin ini. Lengkap dengan dua porsi sarapan dihadapannya, eh tunggu… dua porsi? Apa dia sedang makan dengan seseorang Tapi dimana dia?


Karena disuruh, aku mulai mendekatinya.


“Yaa, mau sarapan?”


Tanya dia, aku merespon dengan mengangguk dan berkata…


“Ya, benar… tetapi aku tak mengerti tulisan itu! Itu kanji Jepang bukan?”


Ucapku sembari menunjuk papan menu yang ada di atas bagian kasir. Tooru-san menengok ke arah itu pula.


“Ehm, ya benar…”


“Kenapa begitu? Bukannya tempat ini bersifat Global ya?”


“Ya itu benar, dan jika kau ingi papan menu dengan menggunakan huruf alphabet, kau minta saja…”


Ucapnya menyarankan, mendengar hal itu aku segera berbalik dan menuju kasir lagi, namun ia menghentikan ku.


“Eeettt-, tunggu, tunggu! Karena aku sudah menduga hal ini akan terjadi, aku sudah memesankan nya untukmu!”


Ahh, ternyata satu porsi yang lainnya untuk ku!


“Apa boleh?”


Aku bertanya untuk mengkonfirmasi…


“Tentu..”


“Kalau begitu dengan senang hati akan ku makan…”


Setelah itu, aku segera memakan sarapan ditemani oleh Tooru-san, di sela-sela itu, aku sedikit bertanya apa gerangan dia ada disini.


“Omong-omong Tooru-san, kenapa kau disini? bukannya kemarin kau pulang?”


Dia menoleh…


“Tidak, aku kembali kesini karena suatu hal, jadi aku menginap…”


Aku hanya bisa mengatakan ’oh’ saja… setelah itu tak ada yang bicara. Yaa, memang aku bukanlah orang yang terlalu suka mengobrol saat sedang makan. Hingga selesai, tak ada yang memulai pembicaraan.


Namun, aku mulai menyinggung perihal ucapannya kemarin.


“Jadi, Tooru-san… soal perkataan mu kemarin malam. Apa ada kabar terbaru…?”


Dia memasang senyuman penuh percaya diri karena pertanyaan ku.


“ Tenang saja… aku yang menjamin hal itu!”


“Benarkah?”


Dia mengangguk.


“Baiklah, aku percaya…”


Beberapa saat kemudian, sebuah suara memanggilku kembali terdengar, kali ini dari luar kantin.


“Saidhan!”


Aku menoleh ke sumber suara itu ternyata yang memanggilku ialah Pak Ari dan Pak Tri.


“Ooh, Pak Ari, Pak Tri… ada apa, teriak-teriak begitu?”


Tanpa aba-aba, Pak Ari langsung memegang tangan kananku.


“Selamat! Profesor member tahuku tadi, karena kesalahan kalkulasi kemarin, Test hari ini di batalkan, kau sekarang adalah Stage 7!”


Eh?


“Aaahh, eh? Benarkah!”


Mereka memberiku selamat toh…


Setelah itu, Pak Tri memegangi bahuku…


“Itu benar! Selamat, ya Saidhan!”


“Terima kasih.”


“Waah, aku tak pernah menyangkan kalau orang Indonesia ada yang bisa mencapai Stage 7…”


“Benar sekali…”


Mereka berdua mulai membicarakannya. Sedangkan aku menoleh ke arah Tooru-san.


Dia hanya memasang pose seakan-akan tidak tahu dengan menjulurkan lidahnya…


Ahh, orang ini… apa jangan-jangan ia mengancam para profesor? Sudahlah, itu tak penting.


“Jadi Test hari ini dibatalkan?”


Aku bertanya kepada Pak Ari dan Pak Tri. Mereka merespon dengan mengangguk.


“Lalu, kapan kita pulang?”


“Ehhmm, kapan ya… mungkin besok pagi!”


“Baiklah, kalau begitu… ada tempat yang ingin ku kunjungi sebelum kembali…”


“Kemana?”


“Waahh, jadi ini kota Shibuya, ya!”

__ADS_1


Kali ini, aku bersama dengan Pak Ari dan Pak Tri, dan dipandu oleh Tooru-san, kami sedang pergi berjalan-jalan di Daerah Shibuya.


Di sini cukup ramai, banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang.


Melihat kerumunan ini, aku jadi tak bisa menahannya… untuk mengeluarkan jokes ini…


“Hey, Pak Tri... di sini, tak ada kutukan, bukan?”


Ucapku kepada Pak Tri.


“Kutukan? Apa maksudmu?”


“Ah, tidak… lupakan saja!”


Dia hanya memasang ekspresi bingung… itu tentu saja, dia bukan termaksud komunitas. Namun, tiba-tiba Tooru-san menyaut ucapan ku tadi.


“Tenang saja, Saidhan-kun! Semua kutukan yang ada disini sudah ku murni kan..!”


Aku menoleh ke arahnya.


“To-tooru-san… kau mengerti?”


Dia memasang wajah sombong.


“Tentu saja! Aku ini juga orang Jepang tau..!”


Ahh, benar juga…


Setelah itu, kami berdua sedikit membicarakan tentang topik seputar Manga di sela-sela perjalanan kami.


Aku sendiri memang cukup menyukai membaca Manga, walau tak seakut Rei.


Kami saling membicarakan tentang Manga favorit kami masing-masing.


“Jadi apa Manga favoritmu, Saidhan-kun?”


Dia menanyakannya.


“Ehhmmm, apa ya… kalau soal favorit mungkin Jojo Bizzare Adventure…”


“Wahh, kita sama!”


“Benarkah? Kebetulan sekali!”


“Benar sekali..”


“Memang Part 7 yang terbaik, ya…”


“Part 4 itu adalah yang balik bagus…”


.


Kami sedikit memandang satu sama lain sesaat.


“Apa yang kau bicarakan, Saidhan-kun? Sudah jelas Part 4 itu yang terbaik…!”


“Tidak, tidak! Tooru-san semua orang tahu kalau Part 7 adalah maha karya..!”


Perselisihan terjadi…


“Hehh!”


Sementara itu…


“Kalian berdua, apa yang terjadi?”


Ucap Pak Ari menanggapi sifat kami.


“Bisa dibilang, selera Manga kami berbeda…”


Ucapku pelan.


Tak terasa waktu berjalan cukup cepat, saat ini sudah pukul 17:00. Sudah seharian kami berkeliling Tokyo, di temani oleh Tooru-san. Kami banyak mendatangi tempat-temat wisata, yang disarankan Rei, dan mengikuti arahan Tooru-san.


Dan hasilnya, kami benar-benar menikmati ini… hari ini sangatlah menyenangkan.


“Mungkin sudah saatnya kita kembali…”


Ucap Pak Tri menyarankan.


“Benar juga, kalian harus bersiap-siap untuk pulang besok bukan?”


Pak Tri mengangguk.


“Baiklah, kalau begitu aku akan pulang ke rumah! Kalian tahu jalan pulang kan?”


“Ya, tentu saja!”



Kau baru mau pulang sekarang Tooru-san?”


Tanyaku padanya.


“Tentu saja, kemarin aku tak pulang! Kalau lebih dari ini Ibuku bisa marah kau tahu! Dan tak ada siapapun yang bisa melawannya saat dia marah, bahkan Ayah sekalipun…”


Dia mengatakannya dengan nada yang sedikit suram di akhir perkataannya.


“B-begitu?”


“Kalau begitu, Sayonara!”


Dia kemudian berbalik dan melambaikan tangan.


“Baiklah, ayo kembali…”


Dan akhirnya, hari-hari penuh keseruan berakhir, setelah hari-hari berat yang terjadi belakangan ini. Aku menjadi bisa merasakan antusias seperti tadi… itu benar-benar menyenangkan.


Walaupun begitu, masalah tak sepenuhnya selesai… Saat aku udah kembali, mungkin berita tentang Stage 7 ke-9 datang akan sangat menghebohkan. Dan ini akan membawaku kedalam hal-hal yang merepotkan lainnya. Akan tetapi, aku sudah bersiap-siap akan hal ini…


Datanglah, rumor dan gosip ibu-ibu, aku akan menghadapi mu dengan sepenuh jiwa raga ini!


“Baiklah, mari kita kembali ke kehidupan biasa kita!”

__ADS_1


Ucapku pelan.


__ADS_2