
Setelah melakukan sedikit jalan-jalan dan kemudian tersesat.
Namun, beruntung aku bisa kembali lagi, ini semua berkat bantuan dari Sylphy yang secara tidak sangka kami bertemu.
Di sebuah danau buatan kecil yang ada di akademi ini.
Aku mengalihkan pandangan menuju Smartphone ku. Guna melihat saat ini sudah jam berapa.
Sekarang sudah pukul 16:00. Itu artinya, aku sudah berkeliling selama hampir 1 jam. Cukup lama juga, ya… padahal, aku mengira kalau hal ini baru berjalan sekitar 30 menit.
Aneh sekali…
Kesamping soal itu, kami saat ini sudah berada di depan Asrama. Selama perjalanan, aku sudah mengingat dengan baik jalan yang ada disini. Dengan begini, jika sesuatu terjadi aku sudah Oke.
Tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
Sementara itu, aku diam dan menatap Asrama ini, dengan sangat serius. Entah mengapa, ada yang masih janggal.
Sylphy yang melihatku hanya diam saja mulai menanyakannya.
“Kenapa, apa ada sesuatu?”
Ini membuyarkan lamunanku..
“Ahh, tidak! Bukan apa-apa!”
“Omong-omong… Sylphy, kau tinggal disini juga bukan?”
Dia menoleh kearah ku karena pertanyaan itu.
"Tentu saja, kalau tidak aku tinggal dimana?”
Benar juga, ya…
“Memangnya ada apa?”
“Tidak, bukan apa-apa! Hanya saja aku penasaran, Asrama disini tak dipisah, ya…?”
“Dipisah…?”
“Itu loh, laki-laki dengan perempuan! Dipisah di gedung yang berbeda.!”
“Ahh, kalau soal itu… ya, Asrama ini dipisah kok! Tapi bukan beda bangunan!”
“Maksudnya?”
“Lihatlah…”
Dia menunjuk kearah Asrama.
“Kau lihat? Bagian laki-laki dan perempuan dipisah, bagian kiri ke sana itu bagian untuk perempuan! Sementara, bagian kiri dan kesitu untuk laki-laki!”
"Ohm, begitu?”
Sylphy menjelaskannya secara rinci dan sederhana.
“Lalu, bagaimana dengan kita? Bukannya letak kamarmu berdekatan dengan kamar aku dan Al?”
“Oh, kalau soal itu… Seri S berbeda!”
“Berbeda?”
“Ehm…! Kerena Seri S itu berada paling puncak, dengan fasilitas yang paling bagus. Kita ada di bagian atas!”
Dia menunjuk ke atas.
“Karena dibuat lebih sedikit, jadinya Laku-laki dan perempuan tak dipisah, toh… di Seri S tak ada yang berbagi kamar, karena seorang menempati satu kamar sendiri!”
Benar juga, kami menempati kamar sendirian,dan tak berbagi kamar dengan siapapun. Sungguh beruntung aku di masukkan ke Seri S….
“Jadi begitu, ya…! Aku baru tahu…”
Tak beberapa lama kemudian, datang sebuah suara yang terdengar tak asing memanggilku.
“Sai..!”
Aku menoleh kearah asal suara tersebut. Dan benar, dia adalah Al.
“Apa yang kau lakukan diluar?”
“Al, ya…! Aku hanya berjalan-jalan sedikit, kok!”
Dia segera menghampiriku, kemudian… ia melihat kearah Sylphy.
“Sylphy…? Kau ada disini rupanya?”
Aku mengalihkan pandangan lagi, kali ini menuju Sylphy…
“H-hai! Maaf, ya…! Aku malah gak datang, hahaha!”
Ohh, dia tertawa.
Sementara itu, Al hanya menghela nafasnya, cukup panjang…
“Ya ampun… Padahal yang mengusulkan pertama itu kau, bukan?”
“Maaf!~”
Hmm, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan…
“Sudahlah, lupakan saja! Selain itu, Sai… kau ngapain aja?”
“Dibilang ngapain, aku cuma berkeliling sekitar sini saja, kok! Walau tersesat…”
__ADS_1
“Tersesat?”
“Ya... Saidhan tersesat dan memintaku untuk menunjukan jalan kembali!”
“Begitu?”
“Ya, begitu!”
Ah, aku jadi merasa tidak enak dengan situasi seperti ini… karena itu, yang harus dilakukan adalah. Segera pergi…
Dengan sigap, aku segera mendorong Al dan membawanya segera kembali. Tak lupa ditengah-tengah itu, aku mengucapkan salam dan terima kasih pada Sylphy.
“Ah, kalau begitu… kamu duluan, ya… Sylphy! Dan juga, terima kasih untuk tadi! Dadah~ sampai nanti”
Kami berdua pergi dan aku melambaikan tangan, Sylphy terlihat ikut melambaikan tangannya pelan juga.
“Ah… Ya! Sampai nanti!”
Dengan cepat, aku mendorongnya. Bukan karena apa-apa, tapi… ah, sudahlah!
Sementara itu, Al nampaknya tak mengerti dengan tindakan yang baru saja kulakukan. Yaa, itu…
Ia segera bergerak melepaskan diri dari dorongan ku.
“Hei!~ hentikan… lepaskan!”
Dengan segera, Aku menghentikan aksiku ini. Dan kemudian hanya sedikit tertawa…
“Apa yang kau lakukan tadi? Tiba-tiba saja seperti itu?”
“Hahaha, bukan apa-apa! Hanya saja tidak enak dengan situasi!”
Dia hanya menghela nafas pelan.
“Sudahlah ayo…!”
Aku hanya mengangguk. Kami kembali ke kamar asrama.
Karena bersebelahan, kami tak perlu menggunakan Pesan lagi untuk berkomunikasi. Cukup keluar dan masuk ke sebelah saja! Itu simpel… seperti yang baru saja dia lakukan…
“Yaah, Sai! Permisi…”
Setelah memastikan kalau dirinya mengetuk pintu, walaupun ia melakukan itu setelah membuka pintu. Bahkan ia tak menggunakan bel sama sekali. Dia segera memasuki ruangan kamarku.
“Apa…?”
Al hanya diam, dan melihat keseluruhan dari ruangan.
“Wooh, ini sudah tertata rapi! Cepat juga! Padahal sebelumnya cukup berantakan dan berdebu… hebat juga kau bisa membersihkan ini sendirian!”
Aku hanya mendengus kecil.
“Tidak, bukan apa-apa…”
Setidaknya aku harus memberikan kesan pertama yang bagus. Jika tak,aku tak tahu lagi harus apa.
Aku sendiri sebenarnya masih ragu, bisakah aku menjalani kehidupan yang santai di dalam lingkungan seperti ini? Entahlah, mari kita lihat kedepannya.
Sementara aku sedang berbenah, Al hanya diam di kursi dan membaca koleksi Manga yang kubawa kesini.
Yaa, hitung-hitung balas budi untuk tadi…
Walaupun begitu, dalam beberapa waktu kebelakang. Al memang cukup banyak membantu ku lagi. Seperti menyarankan apa yang bisa dilakukan besok dan membantu merekomendasikan buku-buku. Dan lain-lain lagi…
Dan setelahnya, yang kami berdua lakukan hanyalah bermalas-malasan, membaca Manga. Dan juga, tak lupa aku mengajaknya untuk bermain Game Online.
Itu adalah beberapa hal yang bisa kami lakukan di sisa waktu pada malam, hari minggu ini. Besok adalah permulaan nya…
...----------------...
Keesokan harinya, adalah hari yang cerah. Hari dimana aku akan masuk pertama kalinya di akademi ini.
Walaupun aku dan Al tidur cukup larut, karena kebablasan bermain Game Online. Tapi aku masih tetap bisa bangun cukup awal, aku juga tentu saja telah mandi dan dalam keadaan sangat bersih.
Saat ini, jam didinding sudah menunjukkan pukul 06:05. Masih sangat pagi untuk berangkat, walaupun aku akan berangkat saat Al sudah memanggilku.
Yang bisa dilakukan saat ini adalah…bersiap-siap. Lagi dan lagi, sudah beberapa kali aku terus berbenah dengan segala kebutuhan, Sudahlah.
Berada di depan cermin yang menyatu dengan lemari pakaian, saat ini aku sedang mencoba untuk melihat berapa tingkat kecocokan,ku dengan seragam dari ACJ.
Putih-putih… itu adalah yang kupikirkan melihat setengah tubuh bagian atas milikku. Rambut dan kulit putih, dengan blazer warna putih pula, untung saja kemeja ini bewarna hitam. Begitu pula dengan celananya, ini terlihat bagus.
Yaa, jika ku ukur… mungkin pakaian ini masuk dengan penampilanku. Bukankah aku terlihat keren saat ini?
Dengan penuh kepercayaan diri, aku mencoba untuk melakukan banyak pose. Terutama pose Jotaro…
Ahh, tiba-tiba saja aku merasa bodoh melakukan ini. Terutama, aku tak punya Stand miliknya, yaitu Star Platinum. Sudahlah, lebih baik aku pergi untuk sarapan dahulu.
Setelahnya, aku segera melepas Blazer ini, warna putih soalnya, aku taku jika ia terkena noda. Akan sulit dihilangkan…
Dan begitulah, aku memakan sarapanku dengan tenang dan nikmat. Karena ini adalah kali pertama aku mulai hidup jauh dari rumah dan orang tua. Yang ku jadikan sebagai sarapan hanyalah sebuah mi instan cup, Pop Mie…
Apa ini tidak baik? Entahlah, yang terpenting ini baik untuk isi dompetku.
Setelah beberapa menit, aku menghabiskannya. Kemudian, aku hanya berdiam diri dan bermain SmartPhone. Hingga terdengar suara Bel berbunyi.
“Bel? Apakah itu Al…?”
Aku sedikit ragu tentang hal ini, karena biasanya ia hanya mengetuk pintu. Toh, kami sudah mengenal satu sama lain cukup lama, dan membentuk hubungan kepercayaan.
Walau bagaimanapun, dia itu sahabat baikku.
Tapi taka pa, aku akan mencoba melihatnya. Akan tetapi… bukankah ini masih terlalu pagi? Masih 06:10 sekarang ini, tahu…
__ADS_1
Karena suara bel ini semakin keras, aku segera membukakan pintu, dan ternyata… orang yang menekan bel saat ini bukanlah Al.
Dia orang lain, aku sama sekali tak mengenalnya…
Dia adalah perempuan dengan tinggi yang rata-rata. Wajahnya terlihat ceria dan terang, dengan rambut bewarna hitam yang terurai sebahu.
Dia terlihat tersenyum dan menatapku secara seksama. Aku tak mengenalnya…
“Aahh, kamu siapa, ya? Apa ada keperluan denganku?”
Dia hanya diam saja… jika dilihat dari Seragam yang ia kenakan, bisa dipastikan ia adalah murid. Mungkin ia dari tahun pertama, itu artinya ia seangkatan denganku.
Namun, aku belum mengenal dirinya.
Hingga, akhirnya ia buka suara. Gadis ini menunjukku dengan tangan kanan.
“Jadi kamu, ya…?”
“Aku?”
Dia mengangguk…
“Jadi kamu, si penguin baru kamar ini?”
Ahh, hanya ingin menyapa, toh…
“Ah, iya benar… aku penghuninya yang sekarang!”
“Jadi kamu… si Stage 7 yang baru itu, ya…!”
Aku agak kaget dengan hal itu… bagaimana ia mengetahuinya? Apa Al yang member tahunya? Atau Sylphy?
“I-itu benar…! omong-omong, kau tah itu dari mana?”
Lagi-lagi ia tak menjawab. Ia justru mengulurkan tangannya, disitu terasa kalau ia menggunakan energy sihir. Jadi dia Magician…
Saat ini, tangannya sedang menggenggam sebuah miniature bunga mawar yang terbuat dari Es.
“Silahkan!”
“Ini, bukankah…”
Mengikuti dengan apa yang ia ucapkan, aku mengambil miniature ini.
“Ini adalah tanda teman!”
“Eh, tanda teman?”
Dia hanya tersenyum saja dan tidak menjawab, kemudian ia membalikkan diri dan segera pergi.
“Kalau begitu… aku pergi dulu, ya…! Dadah!~”
Setelahnya, ia segera mengacir pergi dari sini…
“Aku bahkan belum tahu namanya siapa…”
Ya ampun, sudahlah… mungkin kita ketemu lagi nanti.
Saat baru saja ingin masuk kembali., aku mendengar suara pintu kamar Al terbuka.
“Ah…!”
.
“Periang dan menggunakan sihir Es, ya…!”
Aku merespon dengan mengangguk.
“Ya… tingginya sekitar segini!”
Aku memasang tanganku di ketinggian yang kira-kira setinggi Gadis tadi.
“Mungkin itu Charla!”
“Charla?”
“Ya, dia pas seperti ciri-ciri yang kau sebutkan tadi…!”
“Begitu…”
“Oh, ya… omong-omong, apa kau sudah tahu kau masuk kelas yang mana? Kalau belum tahu, mau ku antar ke ruang guru?”
Aku menggelengkan kepala, tanda menolak.
“Tidak, aku sudah mendapatkan pesan dari pihak yang bersangkutan! Mengenai kelasku…”
“Benarkah, kau di kelas mana?”
“1-A!”
“1-A?”
“Benar…!”
“Ugh… takdir benar-benar mengikat kita! Kau sekelas denganku!”
“Benarkah?”
Al merespon dengan mengangguk.
Jadi begitu, ya… ini memang takdir! Tetapi, jika aku sekelas dengan Al, berarti aku sekelas dengan Sylphy juga, ya…!
“Kalau begitu, ikuti aku!”
__ADS_1
Baiklah… ayo dimulai! Hari pertamaku sebagai murid akademi ini!