
Aahh… ini hebat! Sungguh hebat, dia bisa menerbangkan mahluk sebesar itu dengan mudah…
Aku bisa mengerti itu, walaupun ia tadi memakai Sihir besar-nya. Pada kenyataanya, itu tidaklah dengan kekuatan penuhnya, bahkan aku yakin kalau Energy sihir yang dipakai untuk menggunakan Sihir besar belum 50% dari kemampuannya.
Dengan kemampuan dan kendali sehebat itu, tak yang perlu di ragukan lagi dari seorang Putri Angin, Sylphy…
Ini memang selevel dengan Al… selain itu, mengetahui kalau ia itu berjuang dari Stage 1, membuatnya menjadi semakin terlihat luar biasa.
Kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan…
Aku jadi penasaran, sedahsyat apa Sihir besar miliknya, saat ia mengeluarkan itu dengan sepenuh kekuatannya.
Pasti akan sangat kuat, bagiku… Sihir besar yang ia keluarkan barusan, lebih kuat dari Magician yang menyerang ku di Tokyo waktu itu. Bahkan dengan ia sudah menggunakan Aartifak sihir.
Sihir besar sendiri memang cukup kuat, bagi seorang Magician yang berada di tingkat atau setara dengan Stage 4 kebawah, Sihir besar merupakan kartu As nya, itupun jika ia menguasainya.
Kalau dalam susunan dari awal maka susunannya adalah Sihir Dasar (Basic Magic) < Sihir Lanjutan (Advance Magic) < Sihir Besar (Great Magic) < Sihir Suci (Holy Magic) < Sihir Kuno (Acient Magic) \= Sihir Utama (Ultimate Magic) < Sihir Dunia (World Magic).
Seperti itulah susunan Hierarki Teknik Sihir yang diketahui…
Sihir Dasar atau Basic Magic adalah yang paling mendasar, setiap Magician pasti dan harus menguasainya, karena ini adalah fondasi dari terciptanya Teknik-teknik Sihir baru. Di tahap ini, seorang Magician bisa memanipulasi Energy sihir milik diri mereka sendiri maupun Energy sihir alam.
Sihir Lanjutan atau Advance Magic adalah terusan dari pada Sihir dasar. sama seperti Sihir dasar, teknik ini pasti dimiliki atau dikuasai oleh setiap Magician, pada tahap ini… seorang Magician akan memasuki kedalam bentuk baru yang cocok dengan Magician itu sendiri. Seperti Al dengan Sihir Api dan Sylphy dengan sihir Angin.
Sihir Besar atau Great Magic, disini para Magician sudah membuat teknik tingkat tinggi milik mereka sendiri, dengan tipe sihir mereka.
Sihir Suci atau Holy Magic, ini berbeda dari yang sebelumnya… perlu kondisi dan pelatihan yang baik bagi seseorang yang bisa menggunakan Sihir ini. Sihir suci itu sendiri adalah sihir yang menggunakan kepercayaan sepenuh hati terhadap diri maupun yang lain, untuk menghasilkan Energy sihir baru.
Sihir Kuno atau Acient Magic, Sihir ini merupakan sihir peninggalan zaman dahulu, yang berarti Sihir yang sudah ada pada era kejayaan Sihir. Seiring dengan perkembangan zaman, Sihir kuno di incar oleh banyak Magician, terutama Sakte Magician kuno.
Sihir Utama atau Ultimate Magic, SIhir yang menjadi puncak tertinggi level sihir, meski secara keberadaan Sihir utama dan Sihir kuno itu setara. Di tahap ini, seorang Magician bisa menciptakan sebuah teknik terkuat miliknya sendiri.
Sihir Dunia atau World Magic, secara teori… keberadaan Sihir ini masih belum terlalu terealisasi. Namun diyakini, seorang yang menyandang gelar Raja Sihir pasti bisa menggunakannya. Sihir yang bisa menghancurkan, menciptakan, atau memengaruhi dunia dalam Level tinggi, sungguh sihir yang mengerikan…
Dan itu adalah tingkatan-tingkatan Hierarki dalam Teknik sihir yang ku pelajari dari berbagai sumber. Apa kau ingin tahu kenapa seorang seperti diriku mau mempelajari hal ini sampai sedetail ini?
Tentu saja karena ini adalah salah satu Materi penting dalam sekolah. Jadi, karena itulah aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, bisa-bisa nanti nilai-nilai ku jelek…
Oke, kesampingkan dahulu soal pelajaran tentang Sihir ini. sekarang yang penting adalah, bisa lolos dari kepungan Mahluk-mahluk sihir tadi dan membasminya.
Walaupun sebenarnya, aku tak terlalu banyak membantu… kebanyakan Mahluk sihir tadi dibasmi oleh Sylphy. Toh, sihir angin miliknya adalah tipe sihir Area, jadi akan lebih mudah membasmi semuanya sekaligus.
Sedangkan aku? Huh.. aku sendiri sebenarnya masih tak mengerti kekuatanku sendiri seperti apa? Kemampuanku ini terlalu berat dan membingungkan, jika aku tak bisa mengerti ini seperti apa, sampai kapanpun aku tak bisa menguasainya…
“Hebat sekali…!”
Ucapku melihat aksi dari Sylphy barusan…
Dia menoleh ketika mendengar itu…
“Itu tadi hebat sekali!! Kau sangatlah kuat, seperti yang diharapkan dari seorang Putri Angin!”
Ucapku memuji, dan seketika Sylphy terlihat sedikit Blush karena mendengar aku menyebutnya sebagai ‘Putri Angin’…
“P-putri Angin!? Apa-apaan itu?”
Ucapnya dengan suara yang agak terbata-bata.
Ohh, dia nampaknya tidak menyukai julukannya itu.
“Iya… itu julukan mu, bukan? Apa kau tidak menyukainya?”
"Ya… tidak begitu juga, hanya saja aku merasa aneh kalau kau yang mengatakan itu!”
Eh…? Kok bisa begitu? Bagaimana itu bisa terjadi…? Ah, sudahlah… lupakan saja, karena pada dasarnya, ia tak terlalu menyukainya!
“Eh… baiklah! Aku tidak akan mengucapkannya secara langsung lagi!”
Ucapku pelan… setelah itu.
“Dan juga, begitupun dengan dirimu sendiri, Saidhan! kau sudah cukup hebat!”
Cukup, kah?
“Yaah, ini masih belum ada apa-apanya! Bahkan jika dibandingkan denganmu tadi. Aku masih bukan tandingan mu…!”
__ADS_1
Dia sedikit tersenyum mendengar itu, lalu berkata…
“Sudah kubilang bukan? Santai saja, kalau kau sepenuhnya mengerti dan menguasai kemampuan mu itu. Aku yakin kau pasti bisa menjadi yang terkuat!"
Ucapnya menjelaskan..
“Aku mengerti… baiklah, lebih baik kita segera pergi dari sini! Sebelum ada yang menangkap basah kita!”
Ucapku kepada Sylphy…
Dia mengangguk mengerti, setelah itu… kami berdua segera meninggalkan Gudang bekas yang baru saja menjadi semakin rusak ini. lebih tepatnya menjadi lebih rusak karena campur tangan kami, sih…!
Tapi tidak apa-apa, karena kami melakukan itu untuk melindungi warga sekitar dari bahaya Mahluk-mahluk sihir seperti tadi. Sekarang kami bisa pulang dengan santai…
Tak terasa, saat ini sudah pukul 17:00. Ini sudah sangat sore, ini sudah menjelang senja… ternyata hal yang kami lakukan cukup memakan banyak waktu, ya…?
Dan tiba-tiba aku mengingat sesuatu! Kristal itu…!?
“Apa kau sudah membawanya? Sampel dari Kristal tadi?”
Tanya ku kepada Sylphy…
“Tentu saja! Ini…”
Ucapnya sembari menunjukkan satu batang kristal yang dililit oleh sapu tangan putih, ia kemudian memasukannya ke dalam tas samping. Awalnya aku biasa saja dengan hal itu, tapi kemudian aku sadar…
“Eh…? Sejak kapan kau membawa tas itu?”
Ucapku kaget, karena setahu ku, aku sama sekali tak melihatnya membawa sebuah tas kesini.
“Sejak awal! Kau tak sadar?”
Ucapnya membalas.
Aku menggeleng tanda bahwa aku tak sadar kalau ia membawa Tas.
“Ya… kalau dipikir-pikir, aku memang memakainya di belakang sebelumnya! Dan saat kita ingin masuk ke dalam, aku menaruhnya di samping pintu, di tempat yang aman!”
Aku agak tercengang mendengarnya, di berani sekali menaruhnya di samping pintu, padahal yang kulihat tas ini merupakan tas mewah yang sudah pasti harganya sangat mahal.
Dengan statusnya sebagai keturunan ningrat, tak diragukan lagi kalau keluarganya ini merupakan orang yang berada.
“Ah… jadi begitu, ya?”
Hanya itu respon yang bisa aku berikan kepadanya. Ia juga terlihat memasang senyuman manis.
Setelah itu, kami berdua melanjutkan perjalanan.dotengah-tengahnya kami berbincang-bincang banyak hal, seperti kejadian tadi, dan bagaimana tanggapanku atas kejadian hari ini.
Lalu, bagaimana pergerakan yang akan kami, Klub Penelitian Sejarah Dunia bergerak mengawasi para Magician tipe Kuno.
Dan tiba-tiba, Sylphy mengusulkan sesuatu…
“Benar juga! Karena disini dekat dengan pusat perbelanjaan, bagaimana kalau kita ke sana?”
“Eh? Sekarang??”
Ucapku…
“Tentu saja sekarang! Mau kapan lagi memangnya?”
Balasnya…
“Apa kau yakin?”
Ucapku untuk memastikan ini sekali lagi…
“Tentu saja! Ayo…!”
Dengan cepat, ia segera menarik tanganku dengan kuat… bahkan aku sendiri sama sekali tidak bisa melawan. Apa lebih tepatnya aku tak berani untuk melawan?
Entahlah, tapi yang pasti… ia terlihat sangat antusias untuk pergi jalan-jalan dan belanja.
Dan akhirnya, kami berdua sampai ke tempat ini, pusat perbelanjaan di daerah ini. Bagiku, ini sangatlah besar! Karena pusat perbelanjaan di Jorioh sama sekali tak bisa dibandingkan dengan ini.
Ibukota Negara memang beda, ya…
__ADS_1
Sementara itu, Sylphy juga nampaknya terkesan… banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang yang mungkin bagi para perempuan menarik.
Tapi bagiku sekarang ini… tidak ada! Mungkin sebenarnya ada, tapi…
Yaah, kau tahu bukan? Itu mungkin tidak baik bag keuanganku saat ini. Mungkin aku akan menemaninya saja dan mencari makanan saja.
Dengan begitu, Sylphy dan aku mulai menjelajahi pusat perbelanjaan ini… kami sudah banyak melihat barang-barang menarik seperti baju, alat-alat, kebutuhan sehari-hari, dan masih banyak lagi…
Selain itu, ugh… sial! Manga yang dijual di toko buku disini benar-benar sangat lengkap dan banyak jenisnya, ini berbeda jauh seperti saat waktu aku di Jorioh.
Butuh banyak waktu pencarian dan banyak dana untuk melengkapi satu buah set Manga… tapi disini, disaat aku tidak memiliki niat untuk membelinya dan juga sudah mengikrarkan untuk hidup irit..
Justru malah menemukannya disini…
Ah… sial! Bagaimana ini? aku sangat menginginkan nya, tapi… haahh, sudahlah! Sepertinya aku haru menahan diri sampai saatnya telah tiba…
Tapi, intip dikit boleh bukan…?
Aku mencoba untuk membuka dan membaca salah satu Volume Manga yang ingin ku baca… jujur saja, aku ini adalah tipe orang yang tak terlalu masalah dengan spoiler.
Karena pada dasarnya, Reinhard temanku itu adalah Tukang Spoiler. Jadi aku sudah terbiasa dengan hal yang namanya Spoiler…
Disaat aku baru saja ingin memulai membaca, suara Sylphy datang dan memanggilku.
“Saidhan! dimana kau? Sudah waktunya mencari makanan!”
Ucapnya dengan volume suara yang agak tinggi karena sedang mencari ku.
Ahh, benar kami belum makan sama sekali!
Setelah itu, aku menutup Manga dan mengembalikannya pada raknya seperti semula.
Sampai jumpa, Manga! Suatu saat aku pasti akan kembali lagi! di saat aku sudah memiliki banyak uang! Awal bulan contohnya…
“Haah… baiklah aku datang!”
Dengan cepat, aku keluar dari toko buku, dan Sylphy sudah menunggu didepan.
“Ayo pergi!”
Setelahnya, ia segera pergi… namun aku tak langsung pergi, aku masih menatap kedalam toko buku ini. hingga Syphy kembali memanggilku lagi.
“Saidhan!”
“Ah.. ya!”
Panggilannya telah membuyarkan lamunanku, dengan segera aku berjalan kearahnya. Dan di saat yang bersamaan, seorang Anak perempuan menabrak ku.
*Bruak!
“Ah… maaf!”
Ucapnya, dia memakai sebuah jaket yang menutupi kepalanya, jadi aku tak terlalu bisa melihat seperti apa wajahnya.
“Ehm, tidak apa-apa!”
Dia segera berlalu… sebenarnya, aku agak aneh melihat anak itu. Ia terlihat agak kumuh… yaah, karena ini bukanlah tempat seperti Mall, jadi mungkin saja ada yang seperti itu!
Setelahnya, aku kembali berjalan menuju Sylphy yang menunggu di depan sebuah Restoran makanan keluarga. Baunya sangat enak sekali…
Huuu... waktunya makan-makan!
Di saat yang bersamaan, aku merogoh kantung blazer ku mencari keberadaan Dompet milikku. Namun… tidak ada!
Seketika, aku menjadi panik… aku segera mencoba mengecek seluruh kantung yang ada di baju dan celana ku. Dan hasilnya adalah… tetap saja tidak ada!
Aneh sekali… aku ingat sekali kalau aku membawa dompet…
Lalu, aku teringat ketika bertubrukan dengan seorang anak kecil…
“Apa jangan-jangan!”
Mengingat akan hal itu, aku segera menoleh kearah belakang. Namun, percuma saja! Terlalu banyak orang disini!
Sekarang… apa yang harus kulakukan?
__ADS_1