
Beberapa menit sebelum itu…
Haki, saat ini dia sedang berada didepan para Magician yang ia kumpulkan… mereka semua adalah penganut Sekte kuno. Mereka sangat menjunjung tinggi sihir-sihir.
Dan juga, mereka semua juga adalah pengikut dari RIO.
Haki sedikit menghela nafasnya…
Ia berada di sebuah tempat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Para Magician itu juga melihat dan menatap Haki dengan pandangan yang hormat.
Haki adalah penyihir super kuat. Ia bisa setara dengan Sylphy Hartiningrat dengan mengandalkan pengalaman bertarungnya.
Mereka yang ada disini meyakini hal itu…
Untuk itulah, mereka berada disini… berusaha melakukan yang terbaik dalam rencana Heavenly Eye’s ini. Karena, lawan yang akan dihadapi sangatlah kuat. Mereka tentunya adalah Murid-murid ACJ, anggota klub Penelitian Sejarah Dunia.
Penerangan mereka semua bisa terjadi kapan saja… oleh karena itu, Haki mengumpulkan mereka semua, disini… utuk membantu melidunygi Proses Evolusi dari Heavenly Eye’s dan mengambilnya.
Haki ada didepan…
“Halo… semuanya! bagaimana kabar kalian sekarang? kuharap kalian baik-baik saja…!”
Ucap Haki, hanya sekedar untuk berbasa-basi saja. Untuk pembukaan…
“Ya… seperti yang kalian tahu, sebentar lagi... Proses Evolusi dari Heavenly Eye’s akan dimulai! Sebuah arahan yang dipercayakan Tuan RIO kepadaku…!”
“Dan alasan aku memanggil kalian semua kesini, tak lain dan tak bukan adalah karena kemungkinan serangan para Murid-murid dari ACJ!”
“Kebanyakan dari mereka adalah kumpulan Magician-magician bodoh yang tunduk pada Sistem Stage milik para Esper… menyedihkan sekali!”
Ucapan Pidato singkat dari Haki ini, juga demi mendapatkan hati dan kepercayaan dari para Magician ini. Walau sebenarnya, ia tak perlu melakukan itu…
Semua disini menghormati dirinya, mereka mengidolakan dan menghormati RIO sebagai sesama Magician. Oleh karena itu… orang kepercayaan dari RIO seperti Haki, mereka semua akan menghormatinya juga. Dan atas alasan itu, para Magician ini akan mengikuti rencana ini… Jumlah mereka diperkirakan hampir sebanyak 50 orang.
Di antara mereka, terdapat 3 orang yang setara dengan Dios maupun Mala. Hanya mereka bertiga lah yang secara langsung dimintai Haki untuk membantu.
Hanya ada beberapa orang saja yang bekerja langsung dibawah RIO. 3 orang ini salah satunya… mereka sama seperti Haki, John, dan Renra.
Walau dari kekuatan, Mereka bertiga tak setara dengan Haki, dan hanya setara dengan Dios dan Mala. Dios dan Mala sendiri lebih memilih bekerja dibawah Haki, karena hutang budi dimasa lalu.
Oke, kembali ke pidato singkat dari Haki, ia sudah mememberikan beberapa patah kata.
“Oleh karena itulah, aku ingin kalian membantuku untuk memperlancar rencana ini! dan mengalahkan semua Magician yang tunduk pada system Stage itu!”
“Dan kemudian… kita akan kembali ke Raja kita!!”
Setelah pengucapan kata Raja itu, membuat seluruh
Magician yang ada disini naik semangat. Lonjakan yang mereka dapatkan hanya dengan kata raja mereka…
Seluruh Magician, terutama pemegang sekte Kono sangat menantikan Raja Sihir. Dan di Era ini, keinginan mereka semua terwujud.
Seorang Raja yang menuntun mereka semua kembali kedalam Masa Kejayaan mereka semua lagi…
“Hooohh!”
“Yaaahhh!”
Teriakan sorak semangat dari Magician ini menggelegar keseluruh ruangan ini. Suara yang seharusnya bisa terdengar sampai keluar.
“Raja Sihir…! Raja Sihir…! Raja Sihir…! Raja Sihir!”
Teriakan-teriakan pujaan semua Magician, menunjukkan seberapa besar keinginan mereka dan pujaan mereka terhadap Raja.
Melihat itu, Haki memasang senyumannya…
Perasaan adrenalin ini… tak bisa ia tahan.
“Aku pasti akan menang!”
Ucapan Haki yang memakai suara yang agak pelan. Nyaris tak terdengar ditengah suara gema dari para Magician ini…
Dibelakangnya, terdapat seseorang… ia adalah saah satu orang yang bekerja dibawah RIO juga.
Haki berbalik, ia menatap kearah orang ini.
“Yaa, Tuan Haki…! Itu tadi adalah pidato yang sempurna!”
Ucap orang itu, ia adalah seorang laki-laki yang tak terlalu tinggi. Terlihat biasa saja, ia adalah seorang penyihir pedang.
Ia bisa memanggil dan memanipulasi pedang, ia juga ahli pedang yang cukup terkenal dimasa lalu.
Karena kekuatan Sihirnya yang unik, RIO tertarik dengannya dan ingin membawanya sebagai rekan. Dan ia dengan senang hati menurutinya…
“Kau pikir juga begitu? Hahaha, kita memang satu frekuensi ya, Fatah?”
Namanya adalah Fatah, dia orang asli Sunda…
“Ya, kira-kira seperti itulah! Tak ku sangka, kau juga cukup baik dalam berpidato!”
“Sudah biasa bukan? Lagipula, rencana ini untuk Tuan RIO… mau tak mau, aku harus bisa melakukannya!”
Mereka berdua hanya sedikit bercanda…
Menanggapi suasana yang seperti ini. Mereka tak menyadarinya, sebenarnya sedari tadi sudah ada tatapan permusuhan mengarah kepada mereka berdua.
__ADS_1
Tatapan itu tentunya berasal dari para murid-murid dari ACJ.
Mereka berusaha untuk melakukan serangan secara diam-diam.
Dari Blind Spot Haki, di tempat yang cukup tersembunyi. Di sana, terdapat dua orang yang bersembunyi.
Dua orang itu tentunya adalah Murid-murid ACJ. Karena ruangan ini dekat dengan pintu masuk gedung. Maka, kedua orang itu adalah Sylphy dan Fano.
Mereka hanya melihat pidato dari Haki setengah saja…
“Kalian mendengarnya? Bagaimana menurut kalian…?”
Ucap Fano, yang dari tadi merekam itu dan membagikannya ke teman-temannya.
“Ya, gimana menurutku… err, entahlah aku tak ingin merespon hal itu.”
Jawab seseorang, yang dari suaranya itu adalah Charla. Karena mereka saat ini terpisah dengan banyak tembok menghalangi... suara yang diberikan menjadi putus-putus.
“Aku tak mendengarnya…!”
Kali ini, sepertinya itu datang dari Al.
“Lalu, bagaimana situasi di sana?”
Lanjut Al…
“Tidak ada apa-apa, tapi… orang yang waktu itu terlihat mengobrol dengan salah satu Magician. Dan juga, kekuatannya lumayan…”
“Begitu, ya…! Kalau begitu kalian perhatikan saja! Aku akan segera kesana!”
“Ahh, baiklah…!”
Karena prioritas mereka saat ini adalah menyelamatkan Kisa. Mereka semua ingin sebisa mungkin menghindari pertarungan.
Mereka akan bertarung, jika memang situasi yang mengharuskan sebuah pertarungan.
Kembali kepada Haki dan Fatah…
Haki sebenarnya memang menyadari tatapan dari Sylphy dan Fano. Tapi, ia memutuskan untuk menghiraukannya. Ia berfikir tatapan itu mungkin saja berasal dari salah satu Magician di sana.
Tapi, ia tak menutup kemungkinan berasal dari murid-murid ACJ yang ingin merebut Kisa. Karenanya, Haki tetap waspada.
Ia masih tak jauh dari posisi sebelumnya…
“Jadi, bagaimana dengan Mala?”
“Dia masih menyiapkan semuanya! Add Crystal sudah siap kembali menampung Energy sihir! Dan juga, wadahnya sedang berada di keadaan yang cukup baik sekarang…!”
Ucap Fatah menjelaskan situasi sekarang. Mendengar kabar baik itu, Haki memasang senyumannya.
“Kalau begitu, ayo kita ketempat nya!”
Haki dan Fatah bergerak pergi meninggalkan tempat itu, tentunya Sylphy dan Fano mengikuti mereka berdua.
Dengan ini, Haki menjadi yakin… kalau yang mengikuti mereka adalah musuh.
“Kau menyadarinya?”
Tanya Haki kepada Fatah.
“Ya, mereka berjumlah 2 orang…!Apa ini yang kau bilang tadi? Murid-murid dari ACJ?”
“Sepertinya begitu…”
“Kalau begitu, akan kuserang mereka…”
Fatah sedikit memusatkan energy sihirnya...
Pada dasarnya, sihir pedang miliknya termaksud kedalam sihir pemanggilan, bukan sihir penciptaan. Karena itulah, ia memiliki sebuah Storage yang menyimpan seluruh informasi tentang pedang-pedang yang sudah ia kumpulkan.
Fatah memlosisikan tangannya diagonal. Membuka telapak tangan, memunculkan sebuah pedang berukuran sedang.
“Ini dia!”
Pedang yang dialiri energy sihir ini bisa menembus baja yang tebal yang melindungi Sylphy dan Fano.
Mereka berdua sontak segera pergi dari tempat persembunyian mereka. Karena, posisi yang Fatah incar adalah penyangga dari besi atap.
Kalau tak segera pergi maka mereka akan jatuh.
“Hoou, jadi mereka berdua itu, ya…!?”
Gumam Fatah melihat Sylphy dan Fano yang sudah berada di lantai yang sama dengan yang ia pijak.
“Kalian datang cukup terlambat, loh!”
Kali ini, Haki yang mengatakannya…
2v2 itu bukanlah pertarungan yang berat sebelah. Masing-masing juga memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing di situasi ini.
Dan juga, dilihat dari situasi yang sekarang… Pertarungan nampaknya sebuah keharusan bagi mereka semua.
“Dimana kau sembunyikan Kisa…!”
Ucap Sylphy dangan nada mengintimidasi, sebuah tatapan mata yang tajam juga ia pasang. Walau semua itu, tak cukup untuk membuat gentar dua musuh didepannya.
__ADS_1
“Kau pikir kami akan memberi tahu mu?”
Balas Haki…
Mendengar jawaban itu, Sylphy bangkit dan berdiri. Menatap ke depan dengan tatapan yang lebih tajam dari yang tadi…
“Oh, begitu? Dengan begini… tak ada pilihan lain selain bertarung!”
Bersamaan dengan kata-kata itu, Aura Sihir merembes keluar dari Sylphy. Ia sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.
Fano hanya diam melihat gelagat Sylphy yang seperti itu. Karena itu, justru akan sangat membantu.
Aura sihir itu benar-benar kuat dan menekan. Sedikit tersisip hawa membunuh dibalik itu. Haki dan Fatah jelas merasakannya…
Fatah memanggil pedang-pedangnya di udara. Ia akan mencoba melakukan tes untuk mengukur kekuatan Sylphy saat ini.
Fatah merentangkan tangannya. Pedang-pedang itu bergerak kearah Sylphy dan Fano dengan cepat. Namun, belum ada 30 cm didekat mereka, pedang-pedang itu berhenti dan justru berputar…
Menandakan terdapat pusaran angin besar sebagai Barier pelindung bagi Sylphy.
Melihat hal itu, ia langsung memanggil dua buah pedang besarnya. Itu salah-satu pedang terkuatnya. Lawannya sekarang ini bukan main-main…
Ia harus serius…
“Haki, kita tak bisa menang disini…! apa yang harus dilakukan!?”
“Aah, benar sekali! Keadaanku yang begini tak cukup menahannya! Tapi…”
“Apa kau punya satu ide?”
“Ya…! Untuk sementara, alihkan nya dan lindungi aku!”
Itulah yag mereka berdua bicarakan.
Fatah langsung memasang posisi siaga. Sementara itu, Haki terlihat ingin menggunakan sebuah mantra sihir.
Sylphy memperhatikan mereka… disitulah ia langsung saja sadar. Haki berniat mengeluarkan manta sihir yang kuat.
“Gawat!”
Sylphy langsung bergerak setelah itu, menimbulkan keterkejutan dari Fano.
“Sylphy…?”
Pergerakan dengan cepat, ditangannya terdapat bola pusaran angin yang kuat. Ia berniat untuk meyerang Haki dengan itu. Namun, Fatah bisa bereaksi dan menyerang balik atas kecepatan Sylphy…
“Haah!?”
“Tak akan kubiarkan!”
Fatah bergerak dengan pedangnya… Ia memang hanya memasang pose bertahan. Namun, dalam posisi pedang Fatah. Itu bisa menimbulkan luka bagi Sylphy…
Karena itulah, Sylphy langsung membenturkan pusaran bola anginnya dengan pedang Fatah.
Bola angin itu meledak… menciptakan tekanan angin besar. Sylphy melompat kembali kesisi Fano.
“Fano! Jangan biarkan orang itu menyelesaikan sihirnya!”
Meerima arahan dari Sylphy, Fano mengangkat kedua tangannya. Menciptakan sebuah bola cahaya sebesar bola tenis dari energinya.
Kemudian, ia menembakan nya…
Laser kali ini berbeda dari yang sebelumnya… yang tadi, ia hanya memanfaatkan pembiasan cahaya. Kali ini, adalah laser yang ia buat langsung dari energinya.
Soal kekuatan, tentu saja… yang kali ini ribuan kali lebih efektif.
Namun, tetap saja itu tak berguna dihadapan pedang Fatah ini.
Laser itu bisa dipantulkan dengan mudah….
“Cih…!”
Fatah masih dalam senyumannya, seperti sebelumnya. Disisi lain, Haki nampaknya sudah siap dengan mantra sihirnya sekarang.
“Cukup disitu, Fatah…!”
Teriakan Haki, menghentikan Fatah yang baru saja ingin menyerang…
“Akhirnya…!”
Gumamnya menanggapi itu…
“Sylphy Hartingingrat! Kalau kau memang benar ingin menyelamatkan Kisa! Maka datanglah kepada diriku!”
Ucapan Haki dengan tangannya yang menampakkan sebuah pola lingkaran sihir yang asing dimata Sylphy.
Apa jangan-jangan… itu adalah…
“Sihir Kuno; Sihir penciptaan : Labirynth Create!"
Lingkaran sihir ini bersinar…
Energy sihir menyelimuti seluruh gedung ini, sampai tak tersisa… semuanya terlapisi dengan penuh. Pergerakan bangunan mulai terdeteksi.
“Ahh, sial!”
__ADS_1