Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 67: Kembali kehidupan semula


__ADS_3

Tooru-san dan Sua-san, mereka berdua terlihat agak tercengang. Tidak tahu mengapa, tapi mungkin karena kata-kataku tadi.


Tooru-san tersenyum setelahnya, melihat diriku yang ogah-ogahan sebelumnya, berubah menjadi orang yang sangat peduli akan masalah Magician ini sekarang.


Itu adalah sesuatu yang bagus, mungkin aku bisa membanggakan hal itu.


Masih dengan senyumannya, Tooru-san berkata...


“Saidhan-kun, kau... kau benar-benar sudah menemukan hal dan alasan yang pantas untuk dilindungi, ya!?”


Tooru-san masih saja mengingat perkataan itu, bahkan sebelumnya juga ia mengutip hal itu.


Sebuah kata-kata yang ku ucapkan saat ketika aku hanya ingin terlihat keren disaat-saat seperti itu.


Perkataan itu...


“Setidaknya sampai aku menemukan alasan pasti untuk bertambah kuat!”


Hanya dengan hal seperti itu, seseorang seperti Tooru Shinyaku mengingatnya dengan jelas.


Itu sedikit membuatku merasa malu...


Aku berbalik badan, membelakangi mereka mungkin karena rasa malu itu...


“Sudahlah, tak perlu seperti itu, segala!”


Ucapku untuk menyangkalnya...


Tooru-san terlihat senang akan hal itu, tapi Sua-san... dia hanya diam, karena tak tahu. Dirinya tidak ada disitu saat aku mengatakan hal itu...


“Ouh, benarkah? Tapi... yang kukatakan tadi adalah kenyataan bukan?”


“Ya, mungkin benar begitu...”


“... Aku memiliki sebuah prinsip soal semua orang yang berkonstribusi dalam hidupku!”


“Kau bisa menanggap kalau kehidupanku itu bagaikan kereta yang bergerak dengan cepat! Para penumpang adalah keluarga, teman, dan orang-orang yang berkontribusi adalah hidupku! Aku tidak ingin menghentikan laju kereta ini hanya untuk menunggu seseorang yang bahkan mungkin tak memiliki tiket untuk masuk sama sekali...!”


Aku mengungkapkan tentang prinsip ku, kepada Tooru-san. Karena, jika aku tidak menjawabnya tadi... dia pasti akan terus menerus bertanya.


“Hanya seperti itu saja...”


Ucapku menjawabnya...


Tooru-san terlihat tersenyum sekilas mendengar itu. Mungkin sangat berbeda dengan pemikirannya. Tapi, aku mengatakan yang sejujurnya...


“Yaah, kurasa kau cukup dingin juga! Tapi, tidak apa-apa! Kau memiliki prinsip yang cukup bagus...”


Ucap Tooru-san memuji itu, kemudian...


“Jadi, bagaimana denganku? Apa kau termasuk kedalam penumpang yang memiliki tiket?”


Dia mencoba untuk bertanya, untuk sekedar bergurau kelihatannya.


“Entahlah...! aku kurang yakin... kau mungkin saja seorang penyusup yang datang begitu saja tanpa memiliki tiket sama sekali!”


Aku menjawabnya, seketika... ia terlihat terkejut dan masam.


“Eeeh, kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan Sua?”


“Tentu saja dia memiliki tiketnya, Sua-san datang dengan perantara! Sedangkan kau Tooru-san, kau datang begitu saja didalam kereta ini...”


“Eeeh, itu tidak adil!”


Dan begitulah, Sua-san hanya memandang kearah kami saja, tak lepas dnegan senyumannya itu, terpampang jelas diwajahnya...

__ADS_1


“Tooru-chan, kau benar-benar tertarik pada


Sai-chan, ya...”


...----------------...


Waktu berjalan, aku berpisah dengan Tooru-san dan Sua-san. mereka akan langsung segera pergi kembali menuju Tokyo, lebih tepatnya menuju Laboratorium dari SRC.


Mereka akan menemui langsung koneksi mereka di Eropa sana. Dan SRC dapat memudahkannya dalam menghubungi banyak orang, sekaligus melaporkan segala kejadian yang terjadi disini.


Sedangkan aku dalam perjalanan untuk kembali ke Akademi ku. Kembali ke tempatku tinggal sekarang.


Setelah beberapa hari ku tinggalkan, dimulai sejak demam, berlatih, dan insiden ini. Aku lupa sudah berapa lama aku meninggalkannya.


Apa itu sudah seminggu, ya...


Hari ini sudah malam, langit sudah gelap sepenuhnya... karena obrolan tadi aku berpisah dengan teman-teman untuk ikut dengan Tooru-san.


Berjalan ditengah jalanan yang sepi, jujur ini sedikit membuatku merinding. Yang kulakukan sedari tadi adalah menoleh kekanan dan kekiri, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


“Haah, ya ampun...! kuharap aku bisa segera menuju tempat yang sedikit ramai saja!”


Gumam ku pelan, menanggapi suasana seperti ini. Dan juga disini cukup dingin...


Untuk sesaat, aku berhenti melangkah. Karena merasa kalau seseorang sedang memanggil-manggil namaku.


“Kak Saidhan...!”


“Haah...?”


Tubuhku mulai gemetaran, suara itu pelan dan secara tiba-tiba masuk ke pendengaran ku. Rasanya sungguh mendebarkan...


Suara itu juga terus berulang dan semakin kuat. Aku diam membeku terus menatap kearah sekeliling hingga... suatu hal terasa memegangi pundak ku .


Spontan. Aku teriak karena terkejut...


“Oi, oi... Sai! Kenapa kau...!”


Dia langsung memegang ku lagi, ternyata yang memegang pundak ku adalah Al. Itu hampir membuat jantungku lepas.


“Haah, Al! Huuhhfft... Jangan mengagetkan aku seperti itu!”


Ucapku kepada Al yang berdiri dihadapan ku. Ia terlihat sedikit memasang raut wajah sedikit ingin tertawa. Mungkin karena dirinya melihat bagaimana ekspresi yang ku pasang sebelumnya.


“Ahh, ya... Maafkan aku!”


Wajahnya itu terasa menyebalkan bagiku.


Disampingnya itu, terdapat Kisa... ia menatapku sembari menggandeng tangan Al.


Apa yang mereka lakukan ditempat seperti ini...


“Kakak, tadi kenapa?”


Tanya Kisa... menanggapi teriakan keterkejutan ku sebelumnya.


“Tidak, tidak apa-apa! Aku hanya sedikit terkejut tadi, tiba-tiba Al menyentuh pundak ku. Itu saja...”


Aku menjawabnya dengan pelan, dan juga tersenyum.


Merespon jawabanku tadi, Al mengucapkan sesuatu...


“Sedikit...?”


Al kembali mengatakan sesuatu yang tidak penting, dan juga sedikit menyipit.

__ADS_1


“Kau diam saja, Al...!”


“Tentu saja...”


Dia langsung menjawabnya, aku menghela nafas pelan. Kisa juga nampaknya sudah terlihat sangat stabil. Aku senang sekali melihatnya...


“Ngomong-ngomong, sedang apa kalian ditempat seperti ini? Dimana yang lainnya...?”


Tanyaku, sembari melihat sekeliling pula. Jika saja semuanya ada tak jauh dari sini. Tak lama kemudian, Al menjawab itu...


“Mereka sudah kembali terlebih dahulu! Hanya saja, Kisa bersikeras untuk menunggu, dan pulang bersamamu!”


Jawaban Al sedikit membuatku terkejut.


“Ooh, benarkah?”


Kisa membalas dengan tersenyum...


“Awalnya, Sylphy yang mau menemaninya menunggumu! Tapi aku melarangnya... rasanya tidak baik membuat dua orang perempuan menunggu di tempat seperti ini! Jadi aku menggantikannya!”


Lanjut Al menjelaskan...


“Jadi begitu, ya...! Kalau begitu maaf, tadi itu urusan yang cukup penting!”


Kisa diam sejenak, tak lama kemudian dia mengangguk pelan menanggapinya.


“Kalau begitu, mari kira pulang bersama-sama!”


Aku mengulurkan tanganku, kearah Kisa. Dia langsung saja menanggapi itu.


“Ya, tentu saja...”


Aku tersenyum melihat ini. Rasanya senang sekali bisa melihat Kisa tersenyum dan kembali bersemangat.


Semuanya sudah selesai sekarang. Ini saatnya untuk beristirahat. Kisa dan Heavenly Eye’s sudah aman sekarang.


Al ikut tersenyum melihat itu...


“Baiklah, ayo kita pulang!”


Tak perlu menunggu lama lagi... Aku, Kisa, dan Al yang mengikuti dari belakang... langsung saja berjalan. Untuk pulang kembali ke Asrama ACJ.


Perjalanan itu terasa santai, waktu perlahan berjalan begitu saja. Kami akhirnya sudah sampai didepan ACJ.


Angkutan umum yang kami tumpangi tadi sudah tak terlalu ramai, mungkin karena jam pulang kerja sudah berlalu cukup lama.


Didepan dalam aula asrama, terdapat Sylphy yang sedari tadi menunggu kami semua.


“Sylphy...? dia masih menunggu ternyata...”


Gumam ku pelan, melihat Sylphy yang masih duduk di sofa ruang aula.


“Oy, Sylphy... menunggu lama?”


Sylphy menoleh, ia langsung segera berdiri setelah melihat kami dan kemudian langsung berjalan menuju kami.


“Tidak juga, kok! Aku baru saja kesini...”


Yaah... jika dilihat-lihat. pakaian yang ia pakai sekarang berbeda dari yang tadi. Itu berarti, ia sudah sempat mandi sebelumnya.


Sementara Sylphy berada disini... Fano, Charla dan Charlotte sudah berada dikamar mereka masing-masing. Mereka sudah beristirahat.


Begitupula dengan kami, setelah mengobrol sebentar. Kisa kembali kepada Sylphy... sedangkan aku dan Al kembali kekamar kami masing-masing.


Aku membuka pintu kamar asramaku, melihat kedalamnya. Ini memang terlihat rapi, hanya saja...

__ADS_1


“Ughh, berdebu sekali...”


Yaah, ini dia... Selamat datang kedalam kehidupan normal lagi, Saidhan!


__ADS_2