Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 47: Kemenangan Haki


__ADS_3

Suhu disini berubah drastis, yang tadinya sangat rendah menjadi sangat tinggi. Panas melanda, ini sudah pasti… perbuatan orang itu bukan.


Haki tentunya menyadari hal ini. ia juga sebenarnya cukup baik dalam semampunya sensor, walaupun tak sebaik Sylphy. Jadi ia bisa mendeteksi bahaya yang mendekat dengan cukup cepat.


Tapi, karena saat ini dirinya sedang menggunakan artifak sihir ini. kemampuan sensornya menjadi terbatas, bahkan mungkin ia sedang tidak bisa memakainya.


Kalaupun bisa, maka jangkauan sensornya akan sangat minim dan lambat reaksinya. Hal seperti itu tidak akan bisa mengimbangi orang yang ia duga sedang menuju kesini.


Oleh karena itu, yang bisa Haki lakukan sekarang ini adalah langsung memasang aura dari Artifak sihirnya keseluruh tubuhnya dan Kisa.


Dia menengok keseluruh arah yang berpotensi. Hingga, ia merasakannya… Sylphy dan Charlotte juga.


“Energi sihir ini…”


Gumam Sylphy pelan…


“Yaa, tak salah lagi!”


Balas Charlotte…


“Situasi benar-benar sering sekali berubah-ubah, ya… Kita dipermainkan oleh takdir!”


Lanjut Charlotte...


Haki juga tentunya mendengar hal itu… dan itu, bisa dikatakan sangat benar sekali. Mereka semua saat ini sedang dipermainkan oleh takdir.


Kemenangan, sama sekali tidak bisa dipertegas lebih dari 5 menit sekalipun. Keadaan terus saja berubah-ubah.


Kemudian, ia menatap kearah langit. Dalam kurang dari sedetik, turun sebuah kumpulan api dari atas.


Haki hampir saja terlambat beraksi, ia masih bisa sedikit bergerak, hanya dalam jarak sekitar 5 cm saja dirinya bisa terselamatkan. Hasilnya, api itu justru menabrak tanah.


Haki melompat menghindar dengan membawa Kisa tentunya.


*Bruaghh!


Api itu mulai memadam, menampilkan seorang remaja laki-laki yang diidentifikasi sebagai Al, teman satu klub dari Sylphy dan Charlotte.


Salah satu orang yang terkuat, Al...


“Aldian…!”


“Kamu datang, ya… lambat banget tahu!”


Ucap Sylphy dan Charlotte yang masih dalam jeratan tangan-tangan ini.


“Yaa, maaf! Tadi bobot pembicaraan kami agak berat! Dengan begitu, setidaknya aku mengetahui situasi secara garis besarnya!”


Ucap Al, ia kemudian berbalik dan melihat kearah mereka berdua. Dia memasang ekspresi yang, lebih baik jika tidak dideskripsikan.


“… Kalian, nampaknya menyedihkan banget!”


Gumam Al secara tidak sadar, ia langsung saja menutup mulutnya seketika karena sudah memancing mereka berdua.


‘Ops!’


Sylphy dan Charlotte tidak membalas dengan itu, mereka hanya mengeluarkan hawa permusuhan kepada Al.


Haki sedikit tersenyum walaupun ia tahu kalau ini sangat berbahaya… ia bisa saja langsung saja kalah jika tadi telat menghindar. Panas yang ditimbulkan api itu berada diluar perkiraannya. Memang, serangan bisa dihentikan dengan aura yang berasal dari Artifak ini.


Tapi, dampak panas yang dikeluarkan akan sangat berbahaya baginya, itulah alasan mengapa dirinya langsung pergi dari jangkauan Al.


“Hahaha, lagi-lagi salah satu dari kalian datang! Kali ini bahkan Wonder Kid Aldian! Mau sampai kapan kalian menghalangi jalan Tuan RIO!!”


Ucap Haki dengan akhiran membentak dengan keras…


Disisi lain, Al seakan-akan mengenal orang yang disebutkan oleh Haki barusan…


‘RIO? Entah mengapa, aku seperti tahu nama itu!’


Batin Aldian…


“Kalian semua ini hanyalah seorang Magician sampah yang mau berada dibawah pengaruh Esper! Mau dihitung dalam system Stage, jangan bercanda! Orang-orang seperti kalian yang dianggap sebagai yang terkuat hanyalah omong kosong belaka!”

__ADS_1


Akhirnya, Haki mengungkapkan seluruh apa yang ada didalam lubuk pikirannya. Selama ini, dia hanya memasang senyuman licik dan wajah yang seakan-akan kalau dia tak memperdulikan banyak hal.


Saat ini, dia menuangkan seluruh kekesalannya saat ini. Setelah Al datang untuk membantu.


Al hanya diam saja, ia sama sekali tak merespon, hingga kemudian… ia melangkah maju.


“Ooh, begitu ya…!”


Disaat langkah kedua, ia menghilang. Dirinya hanya menyisakan jejak api ya ng ada di bekas tempat Al berdiri sebelumnya.


Ini menimbulkan kepanikan dari Haki, Ia segera memperkuat lagi aura yang diberikan Artifak sihir.ia sama sekali tak menghilangkannya tadi, selama ini ia mengecilkannya.


Tentunya, ia tahu kalau saat ini dirinya sedang melawan seorang yang sangat kuat. Dia adalah Al, seorang pengguna sihir api, itu adalah salah satu musuh alami dari penyihir angin. Mungkin, jika penyihir angin itu berada dilevel yang sama dengan penyihir api atau diatasnya. Hal ini bukanlah masalah yang terlalu besar.


Tapi, yang dirinya lawan adalah Wonder Kid Al, dia adalah orang yang bisa menguasai teknik terkuat keluarganya yang dikatakan menghilang selama 100 tahun.


Tiba-tiba, sebuah api besar muncul didepan Haki. Api itu memang tak mengenai Haki, tapi dia bisa merasakan panas itu. Karena itulah, Haki segera mundur ia juga sempat menyerang api itu. Siapa tau kalau Al ada didalamnya.


Ternyata, itu hanyalah sebatas api biasa. Serangan yang dilancarkan oleh Haki lewat begitu saja.


“Haa…”


Disisi lain, itu memang strategi Al, dirinya saat ini sudah berada dibelakang Haki, dan bersiap dengan serangannya. Haki mulai menyadari keberadaan dari Aldian, ia menatap kearah belakang.


“Tapi maaf ya, sebabnya aku tak pernah tertarik menjadi yang terkuat!’


“Bara ke 3 : Semburan lava panas!”


Aldian mendorong tangannya, ia mengeluarkan Api yang terlihat seakan-akan kalau itu cair dan mirip seperti lava.


Karena terlambat bereaksi, dirinya hanya menyilang kan tangan didepan wajahnya guna melindungi diri. Selain itu, ia juga memusatkan dan mengatur auranya di bagian depan.


Haki membentuk sebuah perisai besar untuk melindungi dirinya. Hasilnya, sihir api yang dilancarkan oleh Al berbelok arahnya. Terciptanya sebuah refleksi di daerah depan Haki.


Ini membuat Al sedikit kaget… apinya bisa direfleksikan dengan mudah.


Sementara itu, dua buah tangan putih terlihat memanjang dan bergerak untuk menggapai Al. Ini adalah tangan yang sama dengan yang menjerat Sylphy dan Charlotte.


Warna dari tangan itu masih sama seperti sebelumnya, sama sekali tidak ada identifikasi dari luka bakar yang berarti.


‘Seperti dugaan ku, tangan itu memanglah sebuah proyeksi dari sihir miliknya!’


Batin Al melihat itu…


Karena itulah, Al langsung saja bergerak maju. Ia berusaha untuk mencoba melancarkan serangan kepada penggunanya.


Dia bergerak dengan meliuk mencoba untuk menghindari serangan dari tangan-tangan itu.


Gerakannya semakin cepat dan gesit, ini membuat Al sedikit kesulitan. Haki benar-benar mengevaluasi apa yang dilihatnya untuk penambal jika ada kekurangan.


Tentu saja, saat ini Haki sedang dalam posisi membawa Kisa yang pingsan. Jika bertarung dalam jarak dekat, itu akan sangat merugikan baginya. Oleh


Karena itu, ia mengalihkan semuanya kepada sihir tangan dari fragmen jiwa yang keluar dari cincin artifak sihir ini.


Al juga sempat beberapa kali mencoba menyerang dari jarak jauh. Yaa, tentunya ia tahu kalau itu percuma.


Tangan-tangan itu sangat gesit, Haki seperti menggerakkannya berdasarkan pikirannya. Atau memang seperti itu cara kerjanya.


Tapi yang pasti, Al tak dibiarkan bergerak dengan bebas. Selain itu, ia membentuk pertahanan yang kokoh dan sulit untuk ditembus.


Hingga, saat ini Al berada di posisi yang tak menguntungkan, ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Haki langsung saja mengambil kesempatan itu.


Ia menambah jumlah tangan-tangan itu, dan langsung menyerang didepan Al.


“Haa…”


‘Kena kau!’


Ia berpikir kalau ini kemenangannya, namun ia tak sadar… ia sama sekali tak menyadarinya. Tindakannya untuk menambah jumlah tangan itu, akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri…


*Jedug!


Secara tiba-tiba… Haki merasakan sesuatu berdetak didalam tubuhnya. Itu seperti tempat dimana tempat tubuhnya menyimpan energy sihir.

__ADS_1


Haki, sudah kehabisan energy sihir…


“Khekh…!?”


Seketika, cahaya yang dikeluarkan cincin itu menghilang. Diikuti dengan tangan-tangan yang sudah mulai menjerat Al.


“Ini… menghilang? Tidakh, dia hanya sudah kehabisan energy sihir!”


Ucap Al menduga itu…


Sementara itu, Haki sedang dalam keadaan bertekuk lutut. Ia kelihatan menjadi kelelahan dan melemah.


‘Sial…! Hanya segini kah batas ku?‘


Al kemudian berdiri dan menatap kearah Haki.


“Hoo, jadi benar kau sudah sampai batas mu!”


Haki menatap balik Al..


‘Cih… bahaya kalau begini, bisa-bisa rencana kali ini gagal! Aku harus kabur bagaimanapun caranya!’


Batin Haki…


Disaat memikirkan cara nya, ia merasakan kalau koneksinya kembali terhubung, dengan begitu…


Al berjalan mendekat, Haki terlihat menunduk… disaat sudah dalam jangkauan 1 meter, Haki menunjukkan wajahnya yang tersenyum.


Sontak Al menjadi waspada kerena itu.


“Dios, Mala! Sekarang saatnya!”


Segera setelah Haki mengatakan itu, sebuah kilatan listrik muncul dan segera menyambar Al.


Namun, Al masih sempat membuat pelindung dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kilatan listrik itu…


Sekarang, terlihat dua orang berada dibelakang Haki…


“Maaf membuatmu menunggu! Tuan Haki!”


Ucap mereka berdua secara bersamaan.


“Ayo…!”


Instruksi singkat dari Haki langsung mereka berdua pahami. Mala mengangkat Kisa, dan Dios membantu Haki. Al tentunya sudah menyadari hal yang akan terjadi seterusnya…


Ini akan buruk sekali…


“Jangan-jangan…!”


Segera, Al langsung saja melesat dan menuju kearah mereka semua. Disisi lain, Haki memasang senyumannya kembali.


“Aku yang menang, wahai murid-murid ACJ!”


Ucap Haki singkat…


“Kisa…!”


Kilatan listrik kecil muncul disekitar mereka, dibarengi dengan aura sihir. Perlahan, cahaya mulai menyelimuti mereka semua. Dalam satu detik kilat menyambar dan seperti menghilangkan jejak mereka.


Kilatan ini juga memberikan dampak yaitu sebuah ledakan kecil.


Al bisa menghindarinya, saat ia melihat kembali… mereka sudah tidak ada disitu. Al menjadi panik. Ia bergegas untuk kembali ke tempat Sylphy dan Charlotte. Efek pertarungan tadi membuat mereka sedikit menjauh dari daerah itu.


Sampai disana, Sylphy dan Charlotte terlihat sudah bebas dari jeratan tangan-tangan tadi. Melihat Al, mereka segera menghampirinya.


“Aldian…!!”


“Dimana Kisa?”


Tanya mereka berdua… Al hanya diam tak menjawab. Ini adalah kekalahannya…


“Maafkan aku!”

__ADS_1


__ADS_2