Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 21: Tentang Kepindahan


__ADS_3

Saat ini, aku memutuskan untuk langsung menemui Kepala Sekolah. Padahal, seharusnya jam sekarang itu sudah masuk ke jam pelajaran pertama.


Tapi, yaah… beberapa menit sebelum berangkat sekolah, aku mendapatkan pesan dari pihak sana untuk menemui Kepala Sekolah di ruangannya.


Yaah, karena obrolan dengan Bang Jul sebelumnya cukup menghabiskan banyak waktu, aku jadi tak sempat. Yaa, lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Haaahhh… ini dia! saatnya masuk…!


*Tok-tok


“Permisi…?!”


Mencoba untuk mengecek ruangan ini, ada orang atau tidak… Beberapa saat kemudian , muncul jawaban dari dalam.


“Yaa, masuklah…!”


Setelah mendapatkan izin, aku segera masuk ke dalam. Pak Kepala Sekolah saat ini sedang duduk di kursinya.


“Silahkan duduk saja…!”


Setelah dipersilahkan untuk duduk, aku segera menuju dan segera duduk di sofa. Kemudian, Kepala Sekolah juga ikut duduk di sofa yang ada di sebrang. Kami berhadap-hadapan sekarang.


“Cukup lama juga, ya…!”


Sudah kuduga ia akan membahasnya…


“Yaah, tadi ada beberapa hal… maafkan saya!”


Aku sedikit menunduk, Kepala Sekolah terlihat sedang menyeduh dua cangkir Teh, dan salah satunya ia sodorkan kepadaku.


“Ahh, tak perlu repot-repot, Pak!”


“Tidak apa-apa, aku juga lagi ingin ngeteh… silahkan!”


“Terima kasih..!”


Dia menyeruput tehnya, aku pun begitu… Setelahnya kami memulai pembicaraan yang sebenarnya.


“Jadi, bagaimana? Apa kau mau menerimanya? ACJ juga sepertinya serius sekali… mereka sudah berulang kali mengirimi kami E-mail!”


Aku agak terkejut dengan itu, tak ku sangka…


“Eh, benarkah? Kalau begitu maaf sudah merepotkan?”


Dia menggelengkan kepalannya, menandakan kalau ia tak terlalu mempermasalahkannya.


“Apa…? Kau tak perlu memikirkannya!”


Aku terdiam beberapa saat, melihat ke arah pantulan dari tehku. Pak Kepala Sekolah juga nampaknya melanjutkan acara minum tehnya.


“Jadi, bagaimana…?”


Aku mengalihkan pandangan ke arah Kepala Sekolah.


“Kalau begitu…”


Aku sedikit menjedanya, yaah… sekalian untuk memikirkan ulang ini secara cepat.


“Akan ku terima dengan senang hati…!”


Ehm, ini adalah pilihan yang paling baik… jika dilihat dari segala bidang, akan banyak hal positif yang bisa ku dapatkan jika menerima undangan ini.


Tentu saja, ini adalah pilihan yang wajar, siapa pun akan langsung menyetujuinya. Ya… biarlah tak ada yang perlu di khawatirkan.


Aku menatap Kepala Sekolah. Ia memasang senyuman dan kemudian meregangkan tubuhnya…


“Haaah, pasti di terima, ya…!”


Ehm?


"Ya, biarlah… aku tak ada hak untuk melarang mu! Semuanya juga demi kebaikan dirimu sendiri!”


“Kalau begitu… selamat, ya..! Saidhan!”


Dia mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan. Yaa, aku tentu saja menjawabnya. Tidak sopan kalau tidak…


“Terim kasih!”


“Akan tetapi… kenapa perlu memikirkannya sih? Aku masih penasaran alasannya!?”


Dia menanyakannya.


“Yah, kalau soal itu… aku juga bingung! Pada saat itu aku benar-benar sama sekali tak bisa memutuskan, seakan-akan ada yang mengganjal…!”


“Hoooh…”


“Tapi sekarang sudah tidak apa-apa! Aku juga sudah bisa memutuskannya.”


“Baiklah, kalau begitu… ini!”


Kepala sekolah memberikanku sebuah formulir.

__ADS_1


“Ini…?”


“Ini Formulirnya, di situ juga ada detail yang hal yang diperlukan!”


“Ohh, jadi begitu!”


Dan begitulah, aku bisa memutuskan pilihannya dan ini memakan waktu kurang lebih 25 menit, aku segera pergi kembali ke kelasku sendiri. Dan nampaknya, guru masih ada di sana.


Masuk atau tidak…. Ehmm, tapi terlambat ke ruang Kepala Sekolah itu adalah salahku, tapi… yaa, biarlah agak terlambat karena habis dari ruang kepala sekolah merupakan alasan yang cukup bagus… baiklah yosh…!


Aku kemudian sedikit mencoba untuk mengetuk pintu…


*Tok-tok


“Permisi…!”


Beberapa murid di kelas mengalihkan pandangan kearah ku, begitupula dengan guru yang sedang duduk di mejanya.


“Siapa…!?”


Guru tersebut berdiri dan kemudian pergi menuju kearah ku.


“Kamu, Saidhan kan!?”


“Maaf pak, saya agak telat…!”


“Kenapa telat? Habis dari mana saja?”


“Dari ruang kepala sekolah…!”


Guru tersebut diam sementara waktu, ia memperhatikanku dengan sangat teliti. Dari atas kebawah, dari bawah keatas. Lalu, dia mengatakan…


“Ruang Kepala Sekolah!


“Beneran kok, pak… sebelumnya saya di suruh menghadap ke sana, pagi hari ini! jadi saya langsung ke sana tanpa menaruh tas terlebih dahulu!”


Aku berusaha untuk meyakinkannya. Namun, Pak guru ini terlihat masih menaruh perasaan curiga, curiga kalau aku benar-benar datang terlambat, tapi banyak alasan.


“Untuk apa ke sana?”


“Untuk melanjutkan persoalan yang kemarin!”


“Kemarin?”


Ah, benar! Guru ini, dia berbeda dengan yang sebelumnya… kali ini seorang pria yang lebih muda. Guru baru kemungkinan.


“Kemarin, dia di panggil ke ruangan Kepala Sekolah, pak!”


Guru tersebut hanya ber’oh’ ria.


“Ada masalah apa…?”


Pak Guru, menanyakan hal ini ke perempuan yang menjawab tadi. Namun, ia justru sedikit merumpi dengan teman sebangkunya. Sepertinya ia tak tahu jawabannya. Yaah, memang benar… aku sama sekali tak memberitahu apa-apa soal waktu itu.


Saat teman-teman sekelas bertanya, yang ku lakukan ialah menghindar dan terus menghindari pertanyaan seperti itu. Yaah, jika aku memberi tahunya akan terjadi sebuah keributan, mungkin!


“Tidak tahu, pak! Dia tidak mau menjawab kalau ditanyakan!’


Ugh, sial… dengan begini Pak guru pasti menjadi penasaran!


“Baiklah, ada masalah apa, Saidhan? Sampai kamu di panggil ke ruang kepala sekolah! Jangan-jangan kamu kena kasus ya!!?”


“T-tidak… kok…”


Ah, aku jadi mengingat kejadian semalam… ya ampun, semoga tidak ada saksi, semoga tidak ada saksi…


Pak Guru menghela nafas.


“Jadi, ada masalah apa…?”


Masih penasaran ,kah… kalau begini, tak ada pilihan lain, aku harus… menyerahkan itu!


Kemudian, aku mengambil sebuah amplop putih yang sebelumnya sudah ku taruh di dalam tasku. Dan menyerahkannya ke guru tersebut.


“Ini…?”


Dia bertanya, tapi aku tak menjawab… aku hanya mempersilahkannya untuk melihatnya. Dia kemudian membuka isi amplop itu dan membaca isinya.


Selagi, Pak Guru membaca seluruh teman sekelas ku menjadi cukup ribut, mempertanyakan surat apa yang di baca. Bahkan, pendengaran ku menangkap beberapa orang sedang membicarakan tentang surat D.O dari sekolah.


Yah, itu hampir mirip, tapi tetao saja tak benar…


Sementara itu, Pak guru memasang ekspresi wajah yang sangat terkejut membaca surat ini, dia berulang kali terlihat menatap ke arahku, dan kemudian menatap surat ini secara bergantian.


“S-saidhan! ini kan…?”


Aku hanya merespon dengan mengangguk.


“Ya, benar…!”


Pak Guru menjadi sedikit histeris… hal ini membuat seluruh teman sekelas ku menjadi semakin penasaran dengan hal ini.

__ADS_1


Dan keributan pun semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar tak nyaman dengan situasi ini. Ayolah cepatlah ini selesai!


“Waahh, bukankah ini bagus sekali!? Selamat Saidhan!”


Dia segera menggenggam tanganku.


“Ah, yeah… terima kasih…!?”


"Woaah… tak disangka kau akan mendapatkan ini!"


Pak Guru terlihat turut bergembira karena hal ini, sebenarnya aku juga sudah menduga hal ini, tapi… yaah, tak ku sangka akan seheboh ini!


“Eh, ada apa, Pak? Mendapatkan apa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Saidhan!?”


Salah seorang laki-laki menyaut pembicaraan kami… mereka benar-benar terpancing dengan obrolan kami.


Untuk mengamankan situasi, aku dengan cepat…


“Ahh, buka apa-apa kok! Bukanlah suatu hal yang penting! Hahah…”


“Jangan bohong, Saidhan!!”


“Ya… sesuatu yang berhubungan denganmu itu selalu membawa kejutan, tahu!”


Beberapa orang menyerukan pendapatnya, tetapi… apa maksudnya dengan yang kedua itu…? Aku sendiri juga tak ingin membawa kejutan, tahu!


Yah, jika sudah begini memang wajar tidak ada yang percaya denganku… Apa lagi, Pak Guru sendiri, tadi juga agak terbawa suasana. Dan berulang kali memberikanku ucapan selamat…


Jika kubilang kalau bukan hal yang penting pasti tak ada yang percaya. Benar-benar bagaimana ini…


Dan secara tiba-tiba… Pak guru menepuk pundak ku dengan lembut. Ia terlihat memasang senyuman dan sebuah raut wajah yang jika dilihat-lihat, sangat dapat di percaya. Memberikanku sebuah harapan, yang aku sendiri tak mengetahuinya untu apa.


“Saidhan…”


Ya… apakah anda ada solusi untuk situasi ini?


“Menyembunyikan kabar bagus pada temanmu itu adalah tindakan yang tidak baik loh…!”


Khekh… itukah!?


“Kalau kau punya kabar yang bagus, ceria lah, dan kemudian berbagilah! Itu baru tindakan yang benar!”


Haah… ini dia, sudahlah ku sudah tak terlalu peduli lagi!


“Lakukan saja semaunya…!”


Aku menyerah dengan situasi, yaah, lagi pula hanya begini tak ada yang marah dan menimbulkan masalah bukan?


Setelah mendengar jawaban dariku, Pak guru merangkul ku dan sedikit membawaku di ke depan papan.


Kemudian…


“Kalian semua, teman kalian ini, yang baru saja naik menjadi Stage 7 kembali mendapatkan kabar bagus lagi! penasaran?”


Pak guru, kau sengaja memancing mereka, kan?


“Penasaran banget...!!”


Teman-teman sekelas ku secara serentak mengucapkannya. Mereka juga terlihat semangat menunggu kebenaran pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku…


“Jawabannya adalah, teman kalian, Saidhan ini mendapatkan undangan dari ACJ untuk bergabung ke program pelatihan yang bekerja sama dengan SRC!!”


Terjadi situasi hening sesaat, nampaknya para teman sekelas ku kurang connect dengan ini.


Ya ampun, payah sekali…!


“Jadi..?”


Salah seorang mencoba untuk mendapatkan sedikit kejelasan.


“Dengan kata lain, Saidhan akan pindah ke ACJ! Dengan jalur Undangan akademi!!”


“Wooaaahhh!”


Seketika suasana kelas menjadi ribut karena itu, bakan beberapa anak laki-laki maju ke depan kelas dan melakukan beberapa ini dan itu kepadaku…


Ugh, ini merepotkan!


Dan tiba-tiba, salah seorang teman sekelas ku menyerukan sesuatu.


“Yosh, dengan begini, mari kita adakan pesta untuk merayakan ini!”


“Yaa!”


Mereka semua langsung setuju begitu saja…?


Ahh, biarlah… lagipula, ini tak buruk juga… dan begitulah, hari-hari terakhirku sebagai murid dari SMA Dharma Wangsa pun berakhir.


Sebelum itu, ada orang yang mungkin haru ku kirimi kabar, yaa… bagaimana ya, mungkin… seperti ini saja.


[Hei, Al… yaah, bagaimana harus menjelaskannya, tapi mungkin, kita akan satu sekolahan lagi!]

__ADS_1


__ADS_2