
Haki, seorang Magician misterius… ia merupakan bagian dari perkumpulan Magician tipe Kuno, yang sangat tergila-gila dengan Sihir-sihir, dan Artifak kuno. Mereka juga sedang bergerak di Indonesia, mengumpulkan berbagai macam mantra dan artifak sihir.
Saat ini, ia sedang menjalankan misi… yang tujuannya adalah mencangkok dan mengambil Mata Sihir Legendaris, Heavenly Eye’s!
Tuannya, yaitu RIO menginginkan mata itu… untuk saat ini, segala hal tentang RIO masihlah misteri, dari mana ia berasal, bagaimana penampilannya, apa saja kemampuannya, dan apa tujuan dibalik pengumpulan Artifak Sihir yang sedang gencar ia dan para bawahannya lakukan saat ini… semua masih menjadi misteri!
Tentu saja, ini berlaku juga untuk Haki… pada awalnya, demi mendapatkan Heavenly Eye’s, RIO mengirim seluruh bawahan terbaiknya, mereka adalah Haki, Renra, dan John…!
RIO mempercayakan mereka untuk dengan cara apapun, mendapatkan Heavenly Eye’s. Ini ada bukti seberapa berharganya Heavenly Eye’s bagi RIO.
Heavenly Eye’s adalah sebuah Mata Sihir Legendaris yang konon katanya hanya bisa dimiliki 1:1.000.000 orang, dan terjadi dalam 1.000 tahun sekali.
Dengan bukti jejak historis minim dan kelangkaan itu, Heavenly Eye’s terkadang masih dikatakan sebagai cerita dongeng belaka. Kemampuan mata ini sangatlah dahsyat, ia bisa melihat segala yang ada di dalam Alam Semesta. Baik itu secara Fisik, Magic, maupun Spiritual…
Semua tak akan pernah luput dalam pandangan Heavenly Eye’s, namun… ada satu cara untuk bisa mendapatkannya tanpa harus menunggu selama 1.000 tahun, yaitu dengan pencangkokan Energi sihir dalam jumlah besar, kepada oran yang memiliki All See Eye, versi lebih rendah dari Heavenly Eye’s.
Itu adalah yang sedang dilakukan oleh Haki dan yang lainnya. Namun, di tengah-tengah percobaan ini berlangsung, Wadah melarikan diri…
Wadah itu tak lain dan tak bukan merupakan Kisa…
Karena itulah, saat ini… mereka sedang mencari Wadah itu… dan ditengah-tengah itu pula, Haki meminta izin untuk pertanggung jawab sepenuhnya atas misi ini. dan karena itulah…
Haki berada di gedung yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Ia sudah memutuskan untuk melanjutkan pencangkokkan di sini, dan segera menangkap Kisa.
Ia sudah ditemani oleh dua orang anak buahnya…
“Tuan Haki… apa sudah saatnya kita mulai sekarang?”
Ucap salah satu bawahan Haki bernama Dios, yang ada di sampingnya merupakan rekannya bernama Mala.
Sementara itu, Haki masih saja diam dan melihat kearah kota yang ramai. Ia kemudian melihat kearah jam tangannya dan berkata…
“Benar juga, ya…! Mungkin udah saatnya kita melakukan pergerakan aktif!”
“Yaa..”
“Lalu, bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian? Untuk saat ini, dimana posisi ia berada!?”
“Yaa, untuk saat ini penyelidikan kami berjalan lancar…!
Seperti sebelumnya, ia masih tinggal di ACJ!”
Kali ini, Mala yang menjawabnya… karena tugas Mala adalah memata-matai Wadah Heavenly Eye’s, Kisa.
“Cih…! Masihkah?”
Ya benar… ini adalah satu-satunya alasan Haki untuk sementara ini tidak melakukan pergerakan berarti, selain pengumpulan informasi dan tindakan mata-mata.
Haki bukanlah orang bodoh yang berani menerobos masuk ke ACJ, yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan Stage tinggi… Apalagi, berita tentang di Stage 7 terbaru masuk ke ACJ… tentu saja ia tak berani melakukan hal itu…
“Akan tetapi…! Sebenarnya, akhir-akhir ini ia sering berada diluar Akademi… biasanya, ia pergi ke rumah sakit, setelah itu ia pergi ke berbagai tempat!”
“Benarkah?”
“Ya… tetapi, masalahnya adalah, ia bersama dengan salah satu murid ACJ yang Stage 6, Sylphy Hartiningrat!”
“Anak itukah…? Jadi ini alasan kalian berdua tidak berani melakukan penyerangan!?”
“Ya… maafkan kami!”
Haki kembali menatap kearah pemandangan kota…
‘Jadi begitu, ya…! Untuk saat ini aku mengerti situasinya… seharusnya, aku mungkin masih bisa mengatasi anak itu! Tapi bawahan ku ini tentunya tak bisa!’
“Baiklah, sudah diputuskan… Dios, Mala! Bersiaplah… kita akan pergi ke sana!”
“Baik… akan kami persiapkan semuanya!”
__ADS_1
Ucap Dios dan Mala bersamaan, mereka segera pergi setelah itu… meninggalkan Haki sendirian…
“Baiklah… semuanya akan dimulai! Tunggulah kami, Heavenly Eye’s!”
......................
Saat ini, sudah satu minggu semenjak hari dimana Saidhan, yaitu diriku sendiri, dibawa di rumah sakit, dari laporan yang diberikan… kondisiku saat ini sudah mulai membaik. Aku sudah siuman sehari setelah dilarikan ke rumah sakit.
Kondisiku sudah stabil sekarang, oleh karena itu… seharusnya aku sudah bisa pulang. Namun, dokter menyarankan agar tetap tinggal demi penyembuhannya dirinya sendiri.
Saat ini, aku sedang duduk di ranjang rumah sakit, sembari membaca Manga, di sampingnya, terdapat satu buah piring dan apel yang sudah di kupas di atasnya.
“Haa, aku jadi bosan…!”
Ya, benar sekali… ini sudah beberapa kalinya, aku bahkan tidak ingat soal itu… tapi yang pasti, ini sudah kesekian kalinya aku membacanya. Selain itu, Smartphone ku juga masih ada di rumah, pernah sekali aku meminta untuk mengambilnya… tapi mereka menolak.
Mereka bilang, aku harus fokus dalam penyembuhan diri terlebih dahulu… padahal, kejadian itu terjadi kemarin, dimana kondisiku sudah sangat baik, tidak seperti 2 hari pertamaku disini.
Ya, benar… teman-temanku sering berkunjung, biasanya saat sudah selesai sekolah. Ini berlangsung setiap kari dalam satu minggu belakangan…
Nampaknya, mereka semua benar-benar peduli dan khawatir kepadaku… aku jadi sedikit terharu karena itu…
Dan tentu saja, kedua orang tuaku tahu tentang hal ini, hanya saja… aku melarang mereka untuk kesini, tentu saja… ini perlu usaha yang ekstra, karena jika mereka berdua kesini. Terutama ibuku, aku tak tahu lagi harus bagaimana…
Sebagai gantinya, mereka menyuruh kakakku untuk kesini, yaa… harus kuakui ini lebih baik!
Aku menutup Manga yang ku baca, dan melihat keluar jendela… langit yang biru. Dan mengingat kembali… segala yang ada di mimpi hari itu! Ditengah-tengah ini… terdengar suara ketokan pintu. Sepertinya, teman-teman sudah datang.
“Ya… masuk saja!”
Ucapku merespon hal itu… dan kemudian, pintu terbuka menampakkan wajah seluruh teman-teman dari Klub Penelitian Sejarah Dunia dan juga Kisa.
“Yaa… bagaimana kabarmu, Sai?”
Ucap Al bertanya mengenai keadaanku saat ini.
Aku mengucapkan itu sembari melakukan beberapa pose, hinga teman-temanku memperingati ku.
“Oi, oi…! jangan terlalu banyak bergerak begitu! Kamu baru saja sembuh…!”
Ucap Charla mengingatkan…
“Tidak, aku sudah cukup lama! Seharunya, aku sudah boleh pulang dari kemarin, tetapi dokter menyarankan untuk disini dahulu!”
Ucapku menjelaskannya…
“Hee, jadi kira-kira kau kapan bisa pulang!?”
Tanya Sylphy…
“Mungkin sore ini, mungkin juga besok…!”
Setelah aku mengucapkan itu, Kisa datang menghampiriku…
‘’Kakak sudah benar-benar sembuh?”
Aku tersenyum melihat ini, kemudian sedikit mengelus-elus kepalanya…
“Yaa, tenang saja! Aku sudah 100% sehat dan ceria kok!”
Ucapku untuk menenangkan Kisa, ia tersenyum karena melihatku sudah sehat sekarang…
“Tapi, padahal dianya sendiri masih lemes!”
Ucap Fano dan sedikit mendorongku… karena aku masih cukup lemas, aku bisa terhempas dengan mudah karenanya…
“Aaa!”
__ADS_1
Dan begitulah… teman-teman semua menjadi sedikit tertawa karena itu, kami semua menghabiskan waktu ini untuk sekedar mengobrol bersama.
Sylphy dan Charlotte juga sedikit membantuku untuk materi-materi yang kutinggalkan karena sakit ini. Sementara, Charla mengupas dan memotong lagi sebuah apel… sedangkan Al dan Fano… mereka justru menonton TV yang ada di dinding. Dasar mereka ini, ya ampun…
Hingga, tak terasa waktu terus berlalu… saat ini teman-temanku sudah berpamitan untuk pulang.
“Baiklah, Saidhan…! sampai nanti, lekas sembuh!”
Ucap teman-teman secara bersamaan…
“Aku ini sudah sembuh, loh!”
Sementara, para perempuan sudah keluar dan pergi semua. Saat ini, Al masih berada di depan pintu ruangan ini. Fano masihlah juga ada didalam karena Al menghalangi pintunya.
“Al…!?”
Ucapku pelan…
“Oi, Aldian…! Ada apa?”
Al masih saja diam, kemudian… ia berbalik dan mendekat kearah ku lagi.
“Sai… aku tahu, kau sedang sakit! Tapi, perasaan penasaran ini sudah tak bisa ku tahan lagi! selain itu, kau nampaknya sudah baikan hari ini, maka biarkan aku bertanya suatu hal!”
Al mengatakan itu dengan pandangan yang sangat serius, bahkan Fabi juga terkejut mendengarnya…
Aku sudah mengerti garis besar, apa hal yang ingin dia tanyakan… jadi disini, aku memutuskan untuk tersenyum…
“Yaa, kebetulan sekali! Aku juga punya sesuatu yang harus ku bicarakan padamu, Al! Fano juga kalau masih mau mendengarkan, boleh saja!”
Ucapku setelah melihat Fano yang masih melihat kearah kami dengan penasaran.
“Baiklah…!”
Balas Fano, ia kemudian menutup pintu lagi, karena dia mengerti… Pembicaraan kami akan sangat berbobot.
“Sebenarnya…”
......................
Saat ini, Sylphy sedang berada di sebuah taman yang tak terlalu jauh dengan rumah sakit, karena ia baru saja menjenguk Saidhan yang nampaknya sudah baik-baik saja!
Ia juga bersama dengan Kisa dan Charlotte… ini dikarenakan Charla tiba-tiba ditelpon oleh orang tua mereka dan segera pergi.
ini membuat Charlotte memutuskan ikut dengan Sylphy dan Kisa untuk sekedar jalan-jalan, daripada melihat orang tua mereka marah!
Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman. Beberapa menit kemudian, Charlotte bangun dari duduknya…
“Kalau begitu, akan ku belikan dahulu!”
Mereka ingin meminum yang serasi! Jadi, Charlotte yang kalam main gunting-batu, kertas. Charlotte harus membelikan Kisa dan Sylphy minuman.
“Baiklah, aku pergi dulu!!”
Ucap Charlotte…
“Ya, hati-hati dijalan!”
Charlotte pergi membeli sesuatu, Sylphy dan Kisa saling mengobrol…
Secara tiba-tiba… Sylphy merasakan Energi yang kuat bergerak menuju mereka berdua, hingga… ia harus terpaksa membawa Kisa untuk menyingkir.
Hingga, munculah orang yang menyerang mereka berdua…
“Yaa… akan tertolong kalau kau ingin mengembalikan Anak itu…. Sylphy!”
Ucap seseorang…
__ADS_1
“Kau…!?”