
Bentrokan sudah tak terelakan lagi… Dan aku sendiri, entah mengapa ingin membantu…
Yaah, ini bisa dibilang balas budi, kan? Hmm, entahlah… lupakan saja.
Rudi, dia sepertinya tidak akan turun tangan. Dia hanya memperhatikan seluruh pertarungan ini dari pinggiran.
Walaupun begitu… 30 vs 10 itu cukup merepotkan juga. Bahkan dengan bantuanku dan Rei… Karena kekurangan Energy, aku sama sekali tak bisa bertarung secara efektif.
Dari yang Bang Jul bilang, 30 orang ini merupakan Sepuh dari geng mereka. Jadi tak diheran kan mereka merupakan sekelompok berandalan yang sudah terbiasa menghadapi situasi Tawuran antar Geng. Terutama 3 orang itu…
Rudi memang tak ikut bertarung, tetapi 3 orang dari 4 pilar selain Bang Jul sangat merepotkan. Mereka bisa menghabisi anak buah Bang Jul dengan mudah.
Pertarungan ini memang berat sebelah… Bang Jul saat ini sedang menghadapi 7 orang sekaligus. Beberapa anak buah Bang Jul sudah tumbang. Mereka tak bisa membendung.
Jika menyampingkan Rudi yang hanya menonton saja. Maka bisa dibilang… Bang Jul menghadapi 9 orang, begitupula dengan Rei. 7 anak buah Bang Jul menghadapi 4 Pilar selain Bang Jul. sementara aku menghadapi sisanya.
Dengan skema itu, mungkin peluang kami menang akan terbuka lebar. Tapi, yaah… pasti tak bisa berjalan sesuai keinginan dan rencana ku. Karena ini…
Ini adalah keroyokan!
“Rei…!”
“Aku tahu!”
Dengan sedikit menggunakan Akselerasi, ia bergerak sembari mencoba memberikan pukulan-pukulannya.
“Hebat, dia langsung bisa menghadapi 9 orang…!”
“9 orang itu masih sedikit tahu…!”
Setelah melihat kemapuan Rei, nampaknya mereka mulai menyadari siapa Reinhard itu. Yaa… mau bagaimanapun, Rei itu sangat terkenal disini.
“Dia itu Reinhard!”
“Reinhard yang itu..?”
“Kalau begini, kita juga harus menggunakan kemampuan khusus!”
Mereka semua segan mendengar nama Reinhard.
“Yaah, nama ku Reinhard! Aku membantu atas keinginan temanku! Karena aku sudah susah-susah turun tangan, setidaknya hiburlah aku sedikit saja!”
Rei mengatakan itu dengan senyuman yang terlihat kejam.
Oi oi… Rei, kok jadi kamu yang terlihat selayaknya berandalan.
Aku menatapnya, ia terlihat sengaja menebarkan terror agar lawan-lawannya merasa tertekan.
Sementara itu… secara tiba-tiba, sebuah ledakan energy datang ke arahku. Beruntung aku bisa menghindarinya.
Aku sedikit terlempar, dan bertemu dengan Bang Jul… saat ini kami sedang saling bertolak belakang dengan punggung kami menempel.
“Yaa, bang..!”
Kami di kepung beberapa orang.
“Kau baik-baik saja? masih bisa bertarung..?”
“Yaah, bisa mungkin…!”
Orang-orang yang mengepung kamu segera bergerak menyerang kami, namun… Yaah, dengan mudah, aku dan Bang Jul bisa mengatasinya.
“Baguslah kalau begitu! Bisakah kau meminta temanmu itu untuk melawan Dava?”
“Dava?”
“Yang pirang panjang itu!”
Mendengar itu, aku menoleh ke arah orang yang dimaksud, dia saat ini sedang menjadikan salah seorang anak buah Bang Jul sebagai samsak tinju.
Dia kah…!?
“Yaah, mungkin bisa saja…!”
“Bagus, kalau begitu tolong, ya…! Setelah itu bisakah kau menangani sisanya?”
Aku merespon dengan mengangguk.
“Terima kasih!”
Yaah, menyuruh Rei menghadapi salah seorang 4 Pilar memang pilihan yang tepat.
__ADS_1
Melihat di sekitar, Rudi sudah kehilangan sebagian besar anak buahnya, jika ku lihat… pihak kami masih ada 6 orang yang nampaknya bisa berkelahi, termaksud aku, Rei dan Bang Jul. Tak ku sangka, anak buah Bang Jul cukup hebat juga… mereka bisa bertarung dengan baik, walau sebelumnya sudah di pukuli.
Sementara itu, pihak Rudi sudah kehilangan sekitar 20 orang. Mereka sudah tak bisa berkelahi lagi. Nanya tersisa 13 orang termaksud Rudi dan Anggota 3 Pilar itu.
Dari yang kulihat, sepertinya berandalan ini tak terlalu ingin menggunakan kemampuan Khususnya… mereka hanya menggunakannya ketika berhadapan denganku atau Rei, sesekali ketika berhadapan dengan Bang Jul.
Ketika dengan yang lainnya, mereka bertarung hanya menggunakan kekuatan fisik saja. Apa ini yang disebut sebagai harga diri seorang berandalan. Aku jadi merasa tak enak melihatnya…
Setelah itu, datang seseorang yang segera menyerang ku saat sedang lengah. Namun dengan cekatan, Bang Jul menahannya.
“Hoohh!”
“Badar!”
Bang Jul segera melempar orang yang dipanggilnya sebagai Badar. Dia juga merupakan salah satu 4 Pilar.
“Minggir kau, Zulfa! Targetku adalah orang yang di sana!”
Dia menunjuk kearah ku.
“Sayang sekali… lawan mu yang sekarang adalah aku!”
Dia terlihat memasang senyum sombong.
“Hoo, baiklah! Akan ku buktikan perbedaan kekuatan kita!”
Yaah, ini adalah harga diri seorang berandalan, tak salah lagi…
“Apa yang kau lakukan! Cepatlah! Jika begini, Dava akan menghabisi yang lainnya!”
“Ahhh...!”
Aku segera pergi menuju Rei, tapi tanpa kusadari, si Badar sudah ada di dekatku dan bersiap dengan tangan yang di selimuti aliran listrik. Dia segera mengayunkan tangannya ke arahku.
Karena terlalu terkejut, aku lambat dalam bereaksi menghadapinya, ini akan menjadi serangan telak.
Dan kembali lagi, Bang Jul kembali menyelamatkanku.
Dia menepis serangan itu di bagan hasta nya. Dan tangannya yang satu lagi bersiap untuk melancarkan serangan.
Bang Jul melontarkan pusaran angin dengan daya dorongan yang kuat dari telapak tangannya. Dan tentu saja, Badar secara telak terkena serangan itu, ia terlempar.
“Cepat!”
Aku berlari menuju Rei, ia masih berurusan dengan beberapa anggota Rudi.
“Rei!”
“Hmmm? Kenapa!”
“Bang Jul ingin kau mengurus Dava, yang pirang panjang itu!”
Aku menunjukannya, ia menoleh ke arah yang ku tunjuk. Dava terlihat meladeni seorang anak buah Bang Jul yang terlihat agak memaksakan dirinya. Ia sudah bonyok namun masih nekat menantang salah satu dari 4 Pilar.
Oleh karena itu, dia hanya menghindari pukulan yang dilancarkan oleh lawannya.
“Oke… akan kulakukan!”
“Sisanya serahkan padaku!”
Rei segera bergerak ke arah Dava, menyadari pergerakan Rei, Dava menjadi agak lengah, ia terganggu dengan lawannya yang sekarang dan membuatnya terkena tendangan dari Rei.
“Baik, biar aku akan melawannya sekarang! kau istirahatlah.. kala bisa!”
Dia terlihat tersenyum dan kemudian jatuh pingsan.
“Reinhard! Esper Stage 5, kemampuannya adalah Akselerasi diri dan transfer. Itu akan sangat merepotkan! Akan ku hadapi dengan sepenuh tenaga!”
“Kalau begitu, terima kasih!”
Sementara itu, aku harus membereskan sisa-sisa lawan. Dan menemukan 5 oran yang tersisa sedang menjadikan 2 anak buah Bang Jul. dan aku segera menghentikannya.
Dengan menggunakan seluruh energy yang tersisa, aku segera menghajar salah seorang dari mereka dengan hanya menggunakan satu pukulan.
“Yaa kalian semua! Apa kabar!?”
“Khekh, Saidhan!”
“Jadi dia Stage 7 terbaru itu, ya?”
“Tpi entah mengapa dia tak terlalu…”
__ADS_1
Ya, benar! Aku terlalu lemah untuk seorang Stage 7 bukan?
Tanpa aba-aba, aku berusaha mengalahkan mereka semua dengan cepat… tak perlu ada masalah yang lainnya. Setelah itu, salah seorang dari 4 Pilar datang…
“Ya..! jadi kau Saidhan, ya! Namaku Arda!”
“Saidhan..”
Orang ini, dia tak bergerak sama sekali… dia sama sekali tak mengambil inisiatif menyerang, dia hanya diam dan mengamati. Setelahnya aku mengalihkan pandangan ke arah Rudi yang kebetulan saat sedang memandangi ku. Dia terlihat memasang ekspresi dingin. Beberapa kemudian, dia berteriak.
“Arda! Badar! Dava!”
Mendengar teriakan Rudi, mereka berdua memutuskan untuk mundur.
Suasana mejadi sedikit sunyi karena itu, mereka bertiga sama sekali tak berani untuk mengatakan apapun. Jika dilihat dari berbagai aspek, bisa dibilang Rudi mengalami kekalahan atas Bang Jul, secara telak.
Yang tersisa hanya Rudi dan 3 anggot 4 Pilar.
Sementara di pihak kami yang tersisa hanya aku, Rei dan Bang Jul. 4 vs 3 yaah… tak buruk.
“Ini sudah berakhir! Rudi!”
Rudi diam tak merespon. Karenanya, Bang Jul mencoba untuk mendekatinya…
Dia berjalan dengan santai kearah Rudi, tanpa mengkhawatirkan apapun. Melihat Bang Jul, Rudi mulai bergerak, mereka saling mendekati sekarang ,3 orang itu sama sekali tidak ingin menghentikan Rudi.
Hingga pada akhirnya, mereka kembali dalam keadaan berhadap-hadapan.
Jika dilihat-lihat, Bang Jul sama sekali tak di untungkan. Dia sudah melewati banyak pertarungan, sedangkan Rudi, ia hanya memerhatikan dari pinggir saja. Jika mereka bertarung, sudah sewajarnya Rudi adalah yang menang.
Untuk mengetes, Rudi kembali melancarkan kembali tendangan yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini ia melancarkan ya dari samping.
Dan kali ini, Bang Jul bisa menahannya dengan sangat baik.
Melihat ketangkasan Bang Jul yang tak terlalu berkurang, Rudi mangajukan usulan.
“Ayo Duel, Zulfa! Kita selesaikan ini sekarang!”
“Itu yang ku inginkan!”
Setelah mengatakan itu, tanpa basa-basi, mereka berdua saling memukul satu sama lain. Dan ini tersu berlanjut. Aku dan Rei hanya menonton nya.
Mereka sama-sama saling menunjukkan sebuah pertarungan yang hebat. Walau bisa dengan jelas dilihat, kalau Rudi lebih di unggulkan. Akan tetapi, daya juang Bang Jul sangat hebat ia terus bisa bertahan.
Di tengah-tengah itu, Rudi berkata.
“Apa tujuanmu hah! Sampai sebegitu nya berjuang! Apa untungnya!?”
Rudi menendang Bang Jul, namun masih bisa di tahan. ia agak mundur beberapa langkah kebelakang.
“Tak perlu ada alasan yang pasti bagiku untuk memperjuangkan prinsip ku!”
“Memangnya apa bagusnya itu! Prinsip bodoh mu membuatmu sampai babak belur seperti itu!”
“Pada akhirnya, itu hanyalah seseorang yang termakan oleh omong kosong! Pada akhirnya juga kau akan menemui yang mananya fase jatuh! Dan di saat itu jangan berharap pemikiran bodoh itu bisa jadi alasan
untuk melarikan diri!”
Rudi kembali menyerang Bang Jul, dan kali ini secara telak mengenai Bang Jul.
Dia sekarang terkapar di tanah. Apa ini kekalahan Bang Jul?
“Tidak! Aku mencintai G.C! aku bersama dengan kakakmu saat ini baru pertama kali dibuat! Apakah aneh jika aku melawan ketika kau datang dan seenaknya mengambil alih kepemimpinan! Dan merusak nama baik G.C yang sudah di besarkan oleh Kakakmu, aku dan teman seperjuangan kami!?”
Bang Jul bangkit, ia mendekati Rudi yang terlihat sedikit terintimidasi.
“Yang termakan oleh omong kosong adalah kau Rudi! Huda tak pernah menginginkan ini! kau harus menerimanya! Rudi!!”
Dengan sisa kekuatannya, Bang Jul melancarkan pukulan terakhir ke pada Rudi, ia sama sekali tak bisa menghindar. Secara telak mengenai dagu Rudi.
Aku bisa mendengarnya, pukulan itu sangatlah kuat. Karena itu, Rudi sudah kalah!
Rudi tak bangkit, ia menatap ke langit malam tak berkata sepatah kata apapun. Di sisi lain, Bang Jul yang sudah sangat kelelahan, ia segera terkapar.
“Ini dia…!”
Kemenangan...
Aku melihatnya... Yaah, sejak awal kami berdua memang tidak terlalu mengerti akar utama dari masalah ini, yang kulakukan hanyalah ikut bertarung. Yang menyelesaikannya adalah mereka sendiri.
Jadi kami hanya diam saja melihat mereka, yang akhirnya mencapai kata damai.
__ADS_1
Bisa dibilang… ini adalah kemenangan kami, ya!
“Memang benar! Harga diri seorang berandalan memang hebat, ya!”