
Terus mengikuti, Al… menuju ke dalam kelas.
Berjalan dengan santai terus menerus, tak perlu memperhatikan sekitar. Walau sebenarnya, kami berdua terus saja dilihat oleh orang-orang di lorong.
Yaah, walau kebanyakan dari mereka hanya menatap kearah Al, bukan kearah ku.
Tapi tak apa, karena itu aku sedikit menjaga jarak dengannya. Hingga Al menyadari akan hal ini.
“Kenapa jauh banget?”
Aku menjawab dengan tenang.
“Tidak juga, aku akan lebih nyaman di jarak ini!”
Al diam saja sesaat.
“Huft, baiklah… Lakukan sesukamu!”
Dia mengalihkan kembali pandangan yang sebelumnya menatap kearah ku, kembali fokus ke Jalan.
Tak lama kemudian, kami berdua akhirnya sampai ke ruangan yang ia bilang kalau ini adalah kelas kami.
“Disini?”
“Ehm, disini… ayo!”
Dia mengangguk dan mengajak aku masuk kedalam. Ia langsung saja membukanya, tanpa mengetuknya… Yah, itu biasa, sih. Kalau aku juga akan melakukan hal yang sama.
“Yaa, halo…!”
Al hanya mengucapkan hal itu untuk menyapa murid-murid yang sudah sampai terlebih dahulu. Namun, mereka semua membalasnya dengan.
“Halo… Aldian! Selamat pagi!”
“Selamat pagi!”
"Aldian, Selamat pagi!”
“Yo, Aldian… Selamat pagi!”
Begitu, kira-kiranya… kebanyakan yang menjawab sapaan itu adalah perempuan. Fansnya dia…
Aku melihat dengan jelas disini, apa ada kursi yang kosong? Susunan kelas ini cukup menarik, konsepnya menurun seperti tangga… jadi, walaupun aku duduk dibelakang, akan tetap terlihat oleh guru dari depan.
Karena ragu untuk menduduki kursi, aku bertanya kepada Al.
”Al, apa kau tahu bagian yang kosong dimana?”
“Duduki saja yang kau mau! Disini tak memakai sistem seperti itu!”
“Ohh, begitukah?”
Dia merespon dengan mengangguk. Kalau begini, sudah pasti, yang ku incar adalah… paling belakang itu!
“Baiklah kalau begitu, aku duluan!”
Dengan segera, aku pergi… naik menuju meja kedua paling atas, di bagian pojok kanan. Dan tentunya, menghadap jendela. Itu adalah posisi paling ideal bagiku.
Aku bisa nyaman dan berkonsentrasi disini. sementara itu, Al menduduki posisi kedua dari depan, meja tengah.
Yaah, dia itu nampaknya seorang murid rajin, biarkan saja.
Selain itu, Orang-orang sepertinya sedang berbicara tentang diriku saat ini. Mereka sedang menduga-duga tentang siapa gerangan diriku. Dari yang kudengar dari Al semalam, katanya rumor aku akan pindah kesini memang sudah diketahui banyak orang sejak lama.
Setidaknya sejak aku diresmikan sebagai Stage 7. Mulai ada seseorang yang menduga, akankah aku pindah ke ACJ nantinya.
Yaa, lupakan hal itu… karena waktu yang masih ada cukup lama, jadi sebaiknya…
Aku menghiraukan itu, dan diam saja…
Hingga waktu berlalu, menit demi menit terus berlanjut. Hingga saat ini, jam tangan ku menunjukkan pukul 07:10.
Seharusnya, ini sudah mulai sekarang! setelah beberapa menit kemudian… salah seorang murid memberitahukan, kalau guru sedang menuju kesini.
Karena itulah, seluruh murid langsung memasuki kelas. Dan ada seseorang, duduk di sebelahku. Seorang laki-laki biasa…
Aku hanya sedikit menganggukkan kepala untuk menyapanya, dia pun membalas dengan melakukan hal yang sama pula.
Hingga, seorang guru perempuan datang dan masuk. Tunggu, aku kenal perempuan ini…
__ADS_1
Dia itu, Alika bukan…?
Setelah merapikan buku yang ia bawa di meja. Ia melihat ke seluruh murid, dan fokus kepadaku, aku mengerti apa yang ia inginkan… kemudian ia mengumumkan sesuatu.
“Ehmm… Murid-murid sekalian, sebelum memulai kegiatan hari ini. Saya akan mengumumkan murid baru terlebih dahulu!”
Dan setelahnya, banyak murid yang membicarakan dan menghubungkan antara diriku dengan murid baru itu.
Yaah, memang aku murid baru itu…
“Silahkan ke depan… perkenalkan diri kepada teman-temanmu!”
Bu guru itu mempersilahkan ku untuk memperkenalkan diri.
Yaa, tentu saja aku langsung maju setelah mendengar itu. Menuju ketempat yang sama dengan guru itu. Tapi… setelah di dekatnya, ia agak berbeda dengan Alika, ya…?
Dia terlihat lebih tua dan bermartabat. Apa dia ini ibunya? Entahlah, sekarang adalah waktunya memperkenalkan diri.
“Ya, silahkan…!”
“Baik…”
Kemudian, aku kembali menghadap kearah seluruh murid kelas ini, seluruh orang yang akan ku sebut sebagai teman sekelas ku nantinya.
Aku agak diam beberapa saat, memandangi wajah-wajah teman sekelas ku. Aku melihat berbagai macam wajah baru di hidupku, melihat Al yang memasang senyuman menyebalkan… rasanya ingin ku jitak kepalanya.
Aku juga melihat, wajah Sylphy yang sedang menatap kearah ku. Rupanya benar, kami sekelas…
Dia segera tersenyum menyadari aku menatap kearahnya. Karena itu membuatku salah tingkah… aku mengalihkan pandanganku lagi.
“Ada apa?”
Tanya guru ini, karena aku belum memperkenalkan diri sedari tadi.
“Ah, tidak… bukan apa-apa!”
Karena sudah diperingatkan, aku segera memperkenalkan diri. Aku bingung harus mulai dari mana…
"Aaahh, Namaku Saidhan! Saidhan M. Ardhiyasa! Umur 15 tahun, sebelumnya tinggal di Jorioh, mulai sekarang aku adalah teman sekelas kalian! Tolong batuannya!”
Setelah nya, aku sedikit membungkuk, dan kembali seperti semula. Dan kembali menatap ke seluruh teman sekelas ku. Hingga pengelihatan ku menangkap, gadis itu! Gadis yang memberikanku bunga es tadi.
Sementara itu, ia terlihat sedang tersenyum kearah ku, dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Anak itu… dia sekelas denganku rupanya!
“Baiklah, apa ada yang ingin bertanya?”
Situasi menjadi senyap sementara… tak ada yang berbicara. Aku harus bernafas lega, tidak ada yang bertanya sesuatu…
“Baiklah, kalau tida-“
“Bu guru, aku mau bertanya!”
Disaat itu pula, ucapan guru disela oleh seseorang, dan dia adalah Charla! Ya, ampun orang ini…
“Oh, silahkan…”
Membiarkan Charla bertanya… ahh, aku tak bisa membayangkan apa yang ia tanyakan. Walaupun kami baru bertemu sekali saja.
Akan tetapi, perasaanku memang mengatakan kalau dia akan memberikan pertanyaan yang bodoh.
“Kamu Stage berapa?”
Ahh… kenapa? Dari semua kemungkinan pertanyaan bodoh yang akan dia lontarkan, kenapa harus yang ini! argh…!
“Ahh, k-kalau soal itu!”
Aku sedikit mengirimkan kode meminta pertolongan kepada Al. Namun, dia… dia… hanya diam saja tak merespon soal ini.
“Ayo… berapa, berapa…?”
Cih… sepertinya tak ada cara untuk lolos dari situasi ini, ya. Tak ada pilihan lain, aku harus jujur saja!
“Yaah, kalau soal itu! Seperti yang mungkin kalian kira… aku Stage 7 mantan Unknown class!”
Tentu saja, kejujuran… dengan sedikit rendah diri.
Dan karena itu, seisi kelas menadi agak ribut karena pernyataan ku barusan.
__ADS_1
Mereka mungkin tak menyangka, kalau aku benar-benar akan masuk ke Akademi ini, dan masuk ke kelas ini.
Karena sedikit ribut, Bu Guru menghentikan ini…
“Oke, cukup disini! Baiklah Saidhan, silahkan duduk kembali!”
Setelah dipersilahkan, aku segera kembali ke tempat duduk ku sebelumnya.
“Baiklah semuanya, pelajaran dimulai…!”
Dan setelah aku duduk kembali ketempat duduk ku, beberapa orang masih menatap kearah ku. Namun begitu… aku harus fokus!
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa… jam istirahat telah tiba. Selama jam pelajaran berlangsung, aku agak terkejut dengan ini…. materinya benar-benar berbeda dari sekolahku sebelumnya.
Materi yang di ajarkan benar-benar di tingkat yang berbeda. Mungkin ini faktor kurikulum yang berbeda? Tapi, yah…
Sudahlah, di saat istirahat ini… yang paling penting adalah segera pergi, kalau tidak…
Bisa-bisa aku akan dikerubungi! Ya, itu hanyalah pemikiran ku yang sedikit terlalu percaya diri.
Tapi kalau dilihat-lihat, sedari tadi aku menjadi pusat perhatian… jadi hal itu bukalah mustahil. Tapi berkemungkinan terjadi…
Jadi, segera pergi dari sini adalah pilihan yang bagus.
Namun, hal ini sangat terlambat. Disaat aku baru bangun hanya beberapa cm dari kursi ku, sekumpulan teman-teman sekelas datang mengerubungi ku.
Aku menjadi sangat terdesak karena hal itu.
Mereka terus saja melontarkan banyak sekali pertanyaan kepadaku. Saking banyaknya aku jadi bingung harus menjawab yang mana.
“Ah… tunggu, tunggu! Pelan-pelan… bertanya nya satu-satu!”
Aku segera memperingatkan mereka, hingga akhirnya mereka menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya, walau tetap gaduh sekali.
“Hey, Saidhan! Apa kamu benar-benar si Stage 7 yang terbaru itu?”
Sudah kuduga…
“Ya… SRC yang menetapkannya! Sekarang aku salah satu dari 9 Esper Stage 7! Mungkin…”
Lalu setelah menjawab, datang lagi pertanyaan dari orang-orang ini.
“Tadi kamu kesini bersama Aldian bukan? Apa kalian saling mengenal?”
“Ya, begitulah…! Kami sudah kenal dari kecil!”
“Teman masa kecil, begitu?”
“Yaa, begitu…!”
Setelahnya, pertanyaan demi pertanyaan terus mendatangi ku… hingga aku sendiri pusing dibuatnya.
Al bahkan tidak mau melepaskan ku dari situasi ini, bagaimana ini?
Disaat itulah… sebuah suara perempuan datang membantuku.
“Teman-teman tunggu!”
Seketika, seluruh orang ini berhenti dan menoleh ke asal suara itu. Suara ini berasal dari… Charla!
“Charla!”
Ucap salah seorang, ternyata memang benar… namanya itu benar-benar Charla.
Dia duduk dengan sedikit bergaya, dan kemudian tersenyum kearah kami. Setelahnya, ia bangkit dan menuju kearah ku.
“Aku tahu, kalian punya banyak pertanyaan dan sesuatu yang ingin kalian ketahui dari Saidhan ini… tapi sepertinya, dia sudah sangat kelelahan, tuh!”
Charla menunjuk kearah ku, yang terlihat dalam keadaan sedikit tidak baik-baik saja.
“Tenangkan diri kalian! Jangan membuat temanku kerepotan lebih dari ini!”
Di akhir perkataan Charla, terdapat sedikit nada mengintimidasi disitu, dan juga… ia sedikit membocorkan auranya keluar.
Karena takut, beberapa orang yang tadinya mengerubungi ku mulai pergi. Dan begitulah, ia telah membantuku untuk keluar dari situasi ini.
Aku menatap kearah Charla tak percaya, disitu terbesit didalam pikiranku.
Siapa dia?
__ADS_1