
*Bruagghh...! Duarr...!
Suara dentuman yang menghilangkan efek sihir suara dari Hira. Suara itu tercita akibat kemampuan perlindung milik Fano. Self-Destruct Barier, sebuah pelindung yang diciptakan Fano menggunakan kemampuannya.
Memakai prinsip yang mirip pembiasan, dengan energi miliknya... Fano menciptakan sebuah proyeksi energi berbentuk cahaya datar.
Itu bukanlah cahaya biasa. Mungkin akan lebih tepat jika dikatakan sebagai Perusak Atom, cahaya ini merangsang gelombang dan pertikal sebagai bentuk sifat asli dari elektron.
Secara ‘ambigu’ sebuah elektron yang dikontrol dan ketika bersentuhan dengan objek lain, terutama sesama gelombang... elektron-elektron itu akan bereaksi balik dengan meledakkan dirinya sendiri.
Itu adalah apa yang barusan terjadi disaat Gelombang sihir suara dari Hira. Gelombang itu yang merangsang gelombang dan partikel cahaya dari Self-Destruct Barier.
Menimbulkan ledakan besar, yang berdampak bagi Hira, bahkan Fano sendiri...
Akan tetapi, tubuh Fano sudah diselimuti Energi tebal sebelum mengaktifkan itu. Oleh karenanya, dambak ledakan ini tak terlalu menimbulkan luka dan kerusakan pada tubuh Fano.
Berbeda dengan Hira, dirinya memang berhasil melompat mundur sebelum ledakan itu besar. Itu semua karena kepekaannya terhadap bunyi yang sangat tinggi.
Tapi, tetap saja... kecepatan reaksinya sama sekali tak cukup cepat untuk menghadapi kecepatan ledakan ini.
Alhasil, ia tetap terkena terkena dampaknya, dan mengalami beberapa luka bakar kecil...
“Argghh...!”
Suara erangan dari Hira menanggapi rasa sakit ini.
“B-beraninya kau...! beraninya kau melukaiku...!”
Ungkapan kekesalan dari Hira atas Fano...
Sementara Fano sendiri, ia masih bisa berdiri walau sedikit terompang-amping... ini cukup melelahkan. Ia tak terlalu terbiasa bertarung seperti ini. Karena biasanya, ia hanya bertugas sebagai biro informasi saja.
“Haah... haah... haaah!”
Dengan sedikit terengah-engah, Fano menatap Hira yang masih saja mengeluh kesakitan. Padahal, itu bukanlah luka yang terlalu berat.
Fano saat ini sama sekali tak beristirahat sekarang ini... ia masih mengobservasi keadaan saat ini. Menilai seberapa banyak peluang untuknya meraih kemenangan. Dan Fano tersenyum karena seberapa besarnya kemungkinannya untuk menang.
‘Frekuensi suara yang dia keluarkan dari sihirnya nampaknya memiliki batas, sekitar mendekati 15.000 Hz, aku masih bisa menahan itu! Dan juga, walau kecepatan reaksinya terbantu oleh pendengarannya... ia masih belum bisa bereaksi dengan baik melawan kecepatan ku!’
Sebuah kesimpulan yang diambil oleh Fano selama pertarungan tadi. Memang kemampuan analisis dari Fano, orang yang dikatakan sebagai yang paling jenius di Akademi Citra Jakarta.
‘Aku bisa menang dengan ini...!’
Fano masih dalam keadaan yang sama dengan yang tadi... sementara itu, Hira sudah kembali bangkit saat ini. Menatap kearah Fano dengan tatapan yang tajam.
“Haah...”
Fano menghela nafasnya dengan pelan, sebelum akhirnya... ia berjalan menuju Hira. Sosok tenang Fano ini, menciptakan sebuah preasure jika terlalu lama menatapnya.
“Jadi, Hira... apa kau ingin kita selesikan semuanya sekarang?”
Sebuah pertanyaan yang dilayangkan oeh Fano, nada yang sangat percaya diri bisa terdengar dari kata-kata itu...
Sementara Hira sendiri... dirinya hanya memandang Fano sahaja.
“Haah, bisanya kau berlagak sok kuat disituasi seperti ini!”
Balas Hira mencoba untuk memprofokasi Fano...
“Tak perlu berlaga sekalipun, aku ini sebenarnya memang sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai orang kuat! Kau sendiri bagaimana...?”
Fano bereaksi atas profokasi itu, dan akhirnya... Hira yang justru terprofokasi oleh kata-kata dari Fano. Pada dasarnya, Hira ini memang mudah sekali terpancing emosinya...
“Kalau begitu, mari kita buktikan... soapa yang jauh lebih kuat!?”
“Baiklah...!”
Fano membalas dengan nada santai ala dirinya, karena saat ini waktu sangat penting. Ia akan berusaha untuk mengakhiri ini dalam satu serangan...!”
Sementara itu, Hira mengeluarkan aura sihir yang amat kuat. Memenuhi seluruh ruangan ini, bunyi bising tedengar sangat luas...
Akan tetapi, itu tak berpengaruh bagi Fano. Sejauh ini, semuanya sesuai prediksinya.
__ADS_1
Fano hanya memusatkan energi di satu jarinya saja. Menciptakan sebuah lenca yang merupakan visualisasi dari energinya.
Ditangan Fano, terdapat sebuah benda mirip cermin kaca dengan bentuk lingkaran sempurna. Fano sudah puas dengan ini...
Sementara Hira akan memakai Sihir yang besar sekarang. Fano hanya menggunakan sedikit energi darinya untuk menciptakan lensa pendukung.
Hal ini, membuat Hira yang merasa unggul tertawa...
“Hahahah...! kau mau melawanku hanya dengan lensa sekecil itu? Apa kau mau sombong sampai akhir hayat mu, haah?”
Sebuah kata-kata penghinaan terhadap Fano, ia sendiri tak memikirkan hal itu. Dirinya sendiri adalah orang yang paling memahami kemampuan miliknya...
“Yaah, aku tak bermaksud seperti itu! Memang ini terlihat sederhana, tapi kalau kena bisa bahaya, loh...!”
Sebuah balasan yang tenang dari Fano, ia kemudian melempar cermin kaca itu keatas... menunggu waktu yang tepat.
“Haa, dasar kau orang yang sombong dan Bodoh...!”
Teriakan dari Hira, ia semakin memperuat aura sihirnya... Hira menciprakan sebuah lingkaran sihir berukuran sedang didepan kedua tangannya.
“Kau tahu, sejak awal... petarungan ini bisa ditentukan siapa pemenangnya!”
Sebuah kata-kata dari Fano yang sedikit menghentikan aksi Hira.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Maksudku, aku ini adalah seorang Esper yang menggunakan cahaya sebagai sumber kekuatan! Kau ini adalah seorang Magician yang menggunakan Sihir Suara!”
“Kau sendiri tahu bukan... suara atau bunyi lambat dihadapan cahaya!”
Sebuah perkataan yang profokatif, Hira mendengar itu sangat terpancing. Ini yang di inginkan oleh Fano.
“Jangan sombong kau...!"
"Sihir Besar : Sonic Impact!”
Lingkaran sihir itu langsung mengeluarkan sebuah gelombang sonik yang kuat, sungguh sangat kuat. Akan tetapi, Fano justru tersenyum akan hal itu.
“Serangan ku kali ini, kecepatannya bisa 1,5 kali lebih cepat dari kecepatan cahaya loh...!”
Diproyeksikan dengan lensa kecil itu, menembus cermin kaca dan membersar menjadi kilatan cahaya.
Dengan sempurna membuat Hira tak bisa bereaksi
sama sekali menghadapinya. Ini benar-benar sebuah kecepatan yang melebihi kecepaan cahaya itu sendiri.
Sinar itu menembus semuanya, gelombang sonik itu menghilang seketika.pertarungan kali ini, dimenangkan oleh Fano.
Hira terbaring pingsan,serangan tadi tak membunuhnya... Fano sendiri menahan itu. Ia tak ingin membunuh siapapun, ia belum memiliki mental yang kuat untuk hal itu.
“Aku sidah memenangkan ini...! saatnya melanjutkan ini semua.”
Kemudian, tanpa kelelahan sedikitpun... Fano segera bergegas melanjutkan tujuan utamanya. Yaitu, mencari dan menyelamatkan Kisa.
...----------------...
Disisi lain...
Semua murid-murid ACJ sudah menjalankan ini semua dengan cukup baik. Memang, ada beberapa orang yang menghalangi mereka. Tapi, dengan kekuatan dan tekad mereka yang kuat, mereka semua bisa dengan mudah menghentikannya...
Saat ini, sedang berada disisi Aldian...
Dirinya berjalan dengan sangat tenang dan penuh kewaspadaan. Diantara yang lain, mungkin Aldian adalah yang paling sering didahang lawan. Tapi, itu semua bukan apa-apa baginya...
Tak lama kemudian, dia akhirnya sampai keruangan besar itu. Sama seperti yang lainnya, ini adalah ruangan berukuran luas dan berbentuk lingkaran.
Dari pertama kali Aldian melangkah di ruangan ini, ia sudah memiliki firasat yang cukup buruk. Melihat keseluruh ruangan ini dengan seksama...
Mata Aldian mendapati seseorang lelaki yang sedang duduk dan nampak menunggu sesuatu. Lelaki itu kemudian menatap kearah Aldian dan kemudian tersenyum...
Ia bangkt dari duduknya.
“Aku sudah lelah menunggu...! Jadi, kau ini seorang murid dari ACJ bukan?”
__ADS_1
Orang ini, langsung menanyakan intinya... dia terlihat sungguh mencurigakan. Hanya dengan sekali menatapnya, Aldian sudah langsung memutuskan dirinya sebagai musuh.
“Siapa kau...!?”
Orang itu terus menatap kearah Aldian, tak lama kemudian... dirinya terlihat tersenyum.
“Aku tahu siapa dirimu, kau ini Aldian Ressha Han! Seorag penggna sihir Api!”
Aldian tak terkejut atas hal ini, seseorang yang mengetahui dirinya siapa bukanlah hal yang mengejutkan lagi baginya.
Sementara itu, lelaki ini kembali memasang senyuman penuh kesombongannya itu. Dia tertawa...
“Hahahah, sepertinya aku sedang beruntung bertemu dengan mu!”
“Apa maksudnya itu?”
“Maksudku adalah ini!”
Lelaki itu mengangkat tangannya, ia menciptakan sebuah pusaran air kecil yang langsung saja menuju kearah Aldian. Tentu saja, Aldian bisa menghindar dengan sangat mudah.
“Ini...!?”
Yang membuat Aldian sedikit terkejut bukanlah serangan itu, tapi, bentuk serangan itu. Ya, itu adalah air kelemahan dari api.
“Benar sekali...! aku adalah Penyihir Air, Hari!”
Perkenalan dari lelaki yang bernama Hari itu...
“Sihir Apimu tak berdaya melawan Sihir Air milikku!”
Sementara Hari tertawa karena merasa melawan musuh yang lemah dihadapannya. Aldian sama sekali tak bereaksi apapun...
Aldian menghela nafasnya...
“Haah, Jadi kau berfikir bisa menang dengan mudah, ya...!? sungguh bodoh sekali!”
Kata-kata penghinaan yang dilontarkan oleh Aldian, terdengar oleh Hari dan membuanya merasa kesal.
“Apa yang kau bilang!?”
“Kuakui, dalam jumlah dan volume yang sama... Api memang lemah terhadap Air! Tetapi, jika kau memandang rendah lawanmu karena hal seperti itu...! kau ini sangat bodoh...!”
Kembali, Hari merasa sangat kesal dengan itu. Dirinya benar-benar diremehkan oleh Aldian...
“Haa, jangan rmehkan aku! Pada kenyataannya kau memang tak bisa apa-apa di hadapanku!”
“Kalau begitu buktikanlah...!”
Sebuah kalimat tantangan dari Aldian, kekesalan Hari sudah lepas... ia langsung menggunakan sihir tingkat tinggi miliknya.
Pusaran air terlihat berputar disekitar dirinya.
“Sihir Besar : Tsunami!”
Lingkaran sihir tercipta dibelakang Hari. Mengeluarkan tumpahan air dalam jumlah besar. Menuju kearah Aldian yang masih diam saja.
“Sudah kuduga, kau bukanlah terlalu kuat...!”
Ucapan Aldian yang sungguh pelan... ia merentangkan tangannya ke depan.
“Tehnik Gerak Bara Api, Gerakan ke-3...”
Aldian mengepalkan tangannya dengan sebuah Api besar berkobar dilenganya itu.
“... Ombak Api!”
Lontaran Api yang sungguh panas tercipta dan menyapu gelombang air itu. Seketika, Hari shock melihat bagaimana jumlah api yang sangat besar dan panas itu.
“Tak mungkin...! itu tak mungkin...!?”
“Kau ini bukanlah tandingan ku...!”
Ombak api bersekala besar menghanguskan seluruh air dari Hari. Mebuanya merasakan efek panas dari itu semua.
__ADS_1
“Aaahhhaaa! Panas, panas sekali...”
Tak lama kemudian, ia jatuh tak berdaya dihadapan seorang Flare Master, Aldian Ressha Han. Seorang yang dikatakan paling kuat diantara Stage 6 di ACJ, Wonder Kid. Air dalam jumlah dan kemampuan sebesar ini.. bukanlah masalah baginya.