
Setelah menyadari menyadari kalau dompet yang kubawa hilang dari kantung ku. Bagaimana ini? di sana adalah tempatku menaruh seluruh uang untuk bulan ini! karena aku belum sempat berbenah dengan urusan keuangan.
Selain itu, kartu pelajar yang ku dapatkan beberapa waktu yang lalu ada di sana…
Sungguh bagaimana ini? Aku tak tahu lagi…? kalau begini, aku harus mengejar dan mencarinya sampai dapat…! Antara menelusuri jalan dan mencari anak perempuan tadi.
Aku sedikit merasa tak enak kepada Sylphy… namun ini adalah perioritas utama!
“Sylpy! Kau duluan saja, aku akan pergi…!”
Ucapku dengan sedikit teriak kepada Sylphy… dia agak kaget mendengar itu.
“Eh…? Ada masalah apa?!”
Balasnya dengan sedikit teriak pula...
“Dompet ku hilang! Aku harus mencarinya dulu!”
Aku mengatakan itu dengan sedikit menoleh kebelakang, dam tentunya dengan suara yang kencang. Walau sebenarnya aku khawatir di dengar oleh banyak orang, tapi sepertinya didengar oleh banyak orang juga ada keuntungannya.
Siapa tahu ada seorang yang baik hati dan datang kepadaku, kemudian ia berkata…
‘Permisi Nak, apa ini dompetmu? Tadi aku menemukannya di sana!’
Ucap seseorang yang baik hati dengan nada lembut.
‘Ah, benar!! terima kasih tuan!!’
Ucapku untuk berterima kasih…
Andai semudah itu, dan juga… itu berlalu kalau dompetku itu jatuh, kalau dicuri itu sudah beda pembahasannya.
Sementara itu, Sylphy terlihat ingin memanggilku lagi, namun keburu aku sudah hilang ditelan kerumunan.
“Sa-!”
Dia menghela nafasnya…
‘Padahal ia bisa memintaku untuk membantu mencarinya!’
Batin Sylphy…
“Apa perlu aku kejar dia?”
Lanjutnya, namun kali ini ia mengucapkannya secara langsung.
“Aku kejar saja, lah!”
Segera setelah itu, Sylphy langsung bergerak untuk menyusul ku.
Sementara itu, disisi ku… aku sedang menelusuri lagi jalan yang sebelumnya aku lalui.
Namun, aku tetap saja tak menemukan jejak dari dompetku itu. Apa sudah di kutip orang kah?
Itu bagus sih! Tetapi… tetap saja itu tak bisa terlalu di andalkan. Aku masih tak terlalu percaya keajaiban bisa datang begitu mudanya… walaupun belakangan ini, hidupku penuh dengan keajaiban!
Aku belum menyerah, mencoba untuk menelusuri jalan ini sekali lagi. Dan di tengah-tengahnya… aku melihatnya lagi, anak perempuan yang sebelumnya menabrak ku. Aku masih mengingat dengan jelas seperti apa penampilannya itu. Yang pasti, ia terlihat agak kumuh!
Selain itu, dia… dia terlihat sedang memegangi dompetku dan menghitung isinya! Sudah kuduga ia adalah orang yang mencurinya! Tabrakan seperti tadi memang merupakan cara yang sudah biasa dilakukan.
Segera setelah menyadarinya, aku mencoba untuk mendekatinya secara diam-diam! Mumpung ia sedang berhenti karena menghitung uang ku.
Namun, walau aku sudah bergerak dengan lambat dan sulit diketahui. Dan dengan seluruh keramaian yang ada disekitar sini. Ia masih bisa menyadari kehadiranku, ia menoleh kearah ku dengan wajah agak panik. Disini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena sebelumnya ia hanya menunduk…
Segera setelah ia menyadari keberadaan ku. Ia langsung saja lari, selain itu… ia cukup cepat juga.
“Oi! Itu dompetku Kembalikan!!”
Aku langsung saja reflek mengejarnya dengan kecepatan penuh.
“Oi… kau! Cepat kembalikan!”
Ucapku kembali mencoba untuk meneriaki anak perempuan itu untuk segera menyerahkan kembali dompet itu kepada pemilik aslinya yaitu aku sendiri.
Walaupun aku sadar kalau itu merupakan hal yang sia-sia. Mana ada seorang mencuri mengembalikan barang curiannya kepada pemiliknya, hanya karena ia diteriaki oleh pemilik aslinya, tak ada bukan?
Kalaupun begitu, untuk apa mereka mencuri? Bukankah diluar ana banyak pekerjaan yang baik?
__ADS_1
Aku terus berlari mengejarnya… namun, Karena tubuhnya yang lumayan kecil, ia bisa dengan mudah menyelinap dan menyalip orang-orang di tengah keramaian jalan ini… sementara itu diriku…
“Maaf!”
“Permisi!”
“Ah, maaf kan aku, maafkan aku!”
Tentu saja dengan tubuh remaja yang sudah seukuran dengan tubuh orang dewasa! Selain itu, aku ini bisa dibilang cukup tinggi bagi anak seusiaku.
Dan dengan itu semua, aku menjadi sedikit diperlambat. Ini menyebalkan menurutku…
Karena ini pula, aku menjadi mulai kehilangan jejaknya untuk sekali lagi! Sial sekali…
Ini sangat berbalikan… dimana aku semakin melambat, ia semakin melaju. Menyadari kalau aku semakin melambat karena keramaian, ia langsung saja sedikit mengerem dan kemudian berbelok, namun untuk saat ini aku masih sempat bisa melihatnya berbelok.
Namun, setelah aku sudah sampai dibelokkan itu… ia sudah jauh dan berbelok lagi… ini karena jalan setelah belokan tadi tidak terlalu panjang dan setelahnya terdapat pertigaan, ia segera belok ke kanan.
Dengan begitu… ia sudah hilang dari pandanganku. Tetap mengejarnya juga akan sia-sia! Karena tak ada jaminan ia melambat atau tidak berbelok lagi setelahnya.
Ini benar-benar sudah diluar batas kendaliku lagi. ini sudah berakhir….
Di saat aku sudah mulai kehilangan harapan, rupanya keajaiban muncul. Padahal sebelumnya aku tak percaya kalau keajaiban akan datang semudah itu.
Belokan ini… aku mengenalnya! Beberapa hari yang lalu aku pernah kesini bersama dengan Al…
Iya benar! dan kalau tidak salah, ia memberitahuku tentang jalan pintas agar cepat menuju ke daerah tempat banyak toko menjual kerajinan dan barang-barang kehidupan sehari-hari dengan harga yang cukup murah, itu merupakan toko langganan Al…!
Kalau tak salah, jalan pintas itu sejalan dengan arah yang si anak kecil itu lalui. Dengan begini, kesempatan untuk mendapatkan kembali dompetku masih ada!
Setelah itu, aku segera melalui jalan pintas itu.
Walaupun jalannya cukup sempit… namun disini tak banyak orang yang melaluinya.
Jadi, aku tak bergerak selambat sebelumnya. Walaupun tetap saja tak bisa menandingi kecepatan lariku ketika di lahan kosong.
Sebenarnya, ada satu hal yang sedikit membuatku bingung. Walaupun tubuh anak itu cukup kecil, seharusnya… ia masih tetap saja bisa menabrak satu atau dua orang.
Namun, ia sama sekali tak melakukan itu. Ia benar-benar bergerak dengan bebas, seakan-akan sudah mengetahui apa yang berada di depannya dan apa yang akan menantinya.
Seperti sebelumnya, ketika Ia berlari dibelakang seorang pria besar, seharusnya jika ia melewati kiri maupun kanan, ia hampir dipastikan menabrak seseorang yang berjalan dari arah yang berlawanan untuk sebelah kiri, dan orang yang sedang menelfon di sebelah kanan.
Dia memperlambat, tidak… bahkan hampir berhenti total saat itu. Seperti tak takut kalau aku menangkapnya dan seperti tahu kalau aku masih terpaut jarak yang cukup jauh, dan akan sempat jika ia memperlambat lajunya.
Ia melakukan itu tanpa menengok sama sekali.
Pandangannya masih lurus ke depan… apa ini merupakan bagian dari Sihirnya?
Kalau iya, itu akan benar-benar merepotkan.
Saat ini sudah sekitar 65% dari total perjalanan, aku memutuskan untuk kembali ke jalur utama lebih dahulu. Guna mencari keberadaan anak perempuan itu.
Setelah sudah kembali ke jalan utama. Aku sempat diam untuk sesaat, menatap ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan dari anak perempuan yang mencuri dompetku ini.
Dan akhirnya, aku menemukannya! Ia saat ini sedang berhenti dan membungkuk di sebuah belokan ke arah gang sempit. Ia terlihat membungkuk karena lelah dengan satu tangan memegangi dinding untuk pegangan, dan tangan yang sebelah memegang dompetku
“Itu dia!”
Aku kembali berjalan kearahnya, dengan pelan dan sulit diketahui. Walau sebenarnya, aku masih ragu kalau ini akan berhasil atau tidak… mengingat kalau ia mungkin saja tahu dengan menggunakan kemampuan sihirnya.
Namun, aku akan tetap mencoba, jika saja ia tetap menyadari. Aku yakin akan masih bisa ditangani. Toh, ia terlihat sangat kelelahan sekarang.
Di saat akku sudah dekat di belakangnya, ia masih belum sadar! Dengan begini, adalah kesempatanku…
Dengan cepat, aku memegangi dan memeluknya dari belakang… dan kemudian membawanya untuk masuk lebih jauh ke dalam gang kecil ini.
Aku tak mau memarahinya didepan umum, bisa-bisa orang salah paham kalau aku menindas seorang anak perempuan yang tak berdaya.
Dan sebenarnya, jika ada yang melihat aku membawanya ke gang kecil ini. Maka kesalahpahaman yang lebih besar akan terjadi. Mereka akan mengira aku adalah seorang LoliCon.
Tentu saja itu akan gawat, terlebih lagi aku masih memakai seragam Akademi. Akan memalukan jika aku dikira seorang LoliCon menggunakan seragam ACJ, sekalipun itu merupakan sebuah kesalahpahaman.
Aku segera mendudukkannya di tanah dan merebut kembali dompetku. Sementara itu, ia terlihat menunduk takut.
Aku menghela nafasku pelan, dan mencoba menanyakan motif anak kecil sepertinya mencuri…
“Kenapa kau mencuri?”
__ADS_1
Anak ini diam saja tak menjawab. Untuk saat ini aku harus bersabar… jujur saja, aku masih marah karena ia mencuri dompetku. Namun disini, aku harus tampil dewasa.
Aku akan mencoba untuk menanyakannya sekali lagi.
“Kenapa kau mencuri?”
Dia masih diam tak menjawab, tak lama kemudian aku mendengar suaranya menangis. Guna menenangkannya aku berjongkok dan mengelus kepalanya dengan lembut. Karena itu, Ia mulai mengangkat wajahnya dan menatapku.
Aku melihat wajahnya sekali lagi, warna matanya unik sekali! Warnanya terlihat berwarna biru seperti langit, dan memiliki corak pudar sebagai hiasannya.
Mengesampingkan hal itu, aku kembali menanyakannya.
“Kenapa kau mencuri?”
“Maafkan aku!”
Dia membalas, aku sedikit kembali menghela nafas. Dan kemudian, aku bangkit… karena ia sudah meminta maaf, lebih baik aku menyudahi ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara bunyi perut anak ini. jadi begitu, aku tahu sekarang… alasan ia mencuri, sepertinya!
“Apa kau lapar?”
Setelah aku mengatakan itu, ia segera memegangi perutnya dan menggelengkan kepalanya dengan wajah agak memerah malu.
Namun, setelah ia begitu, suara perut keroncongannya kembali terdengar. Bahkan, ini lebih kencang suaranya daripada sebelumnya.
Karena itulah, ia semakin memerah karena malu. Melihat tingkah lakunya, aku tak tahan untuk tak tertawa.
“Hahahah! Jadi begitu… kau lapar rupanya!”
Kemudian, aku berbalik dan berjalan… ditengahnya aku menoleh kearahnya dan berkata.
“Ayo, ikuti aku! Akan ku traktir kau makanan!”
Ucapku yang membuatnya bangkit, namun tak bergerak.
“Apa kakak yakin?”
Ucapnya pelan… aku berhenti melangkah karenanya dan kembali menghadap kearah nya.
"Ya, aku yakin!"
Ucapku membalas...
“Aku baru saja mencuri dompet kakak! Dan sekarang kakak ingin mentraktirku? Apa kau yakin, kak?”
Aku tersenyum mendengar ucapannya barusan… itu memang reaksi wajar ya! Mengingat seorang pencuri yang menerima kebaikan dari orang yang baru saja ia curi barangnya.
"Tak apa-apa! Bukankah sebelumnya kau sudah meminta maaf? Disitu masalah kita berdua selesai!"
Ternyata mash banyak orang baik diluar sana, itulah yang ia pikirkan.
"Akan tetapi..."
Sebenarnya… aku melepaskannya karenanya masih anak-anak! Selain itu ia terlihat kumuh, jadi aku memutuskan untuk memaafkannya.
“Tak ada yang perlu kau pikirkan! Aku sudah memaafkan mu! Selain itu, aku memang sedang ingin mencari makan sebelumnya!”
Ucapku pelan…
“Selain itu, aku sepertinya mengerti alasanmu mencuri! Jadi tak perlu dipikirkan lagi, ayo!”
Ajak ku dengan merentangkan sebelah tanganku… melihatnya, anak itu tersenyum senang dan mengangguk. Kemudian, ia datang ke padaku.
Kami berdua kemudian berjalan pergi menuju Restoran untuk membeli makan. Dan juga, aku menanyakan namanya.
“Oh, ya… siapa namamu?”
Tanyaku kepadanya.
“Kisa… namaku Kisa!”
"Hanya Kisa?"
Ucapku bertanya, ia merespon dengan mengangguk.
“Kisa, ya…? Kalau begitu salam kenal Kisa! Namaku Saidhan!”
__ADS_1
Ucapku memperkenalkan diri.
“Ehm, salam kenal juga! Kak Saidhan!”