
Setelah pencarian kemarin, aku kembali ke asrama lagi.
Setelah mendapatkan duplikat kunci dari Alika, aku memutuskan untuk segera membereskan kamarku.
Setelah kulihat, dalamnya cukup berdebu, selain itu… barang-barangnya pun juga agak berantakan. Ya ampun, pemilik sebelumnya itu siapa sih? Bagaimana bisa ia meninggalkan kamar di kondisi seperti ini, Haahh…
Yaah, dengan sedikit terpaksa aku harus membersihkannya. Ini wajib, sih….
Tapi karena itu, aku menghabiskan waktu cukup banyak… sekitar 1 setengah jam. Setengah jam untuk membersihkan, dan sekitar 1 jam untuk merapikan, mendesain, dan menata barang-barang yang akan ku gunakan untuk keberlangsungan hidupku di sini.
Aku tak meminta Al untuk membantu, tidak… lebih tepatnya ia sedang tak bisa membantu, untuk saat ini.
Disaat aku baru saja ingin mulai dengan membersihkan, ia mendapatkan sebuah telepon. Dan setelahnya, ia memberi tahu kalau ia memiliki urusan mendadak dan harus pergi ke suatu tempat.
Saat aku bertanya mengenai hal itu, ia hanya mengatakan
"Bukan apa-apa, tidak terlalu penting, kok...! kapan-kapan kau akan kuberi tahu!"
Entah apa yang ia lakukan, tapi dia terlihat sangat tergesa-gesa saat pergi. Apa ada sesuatu…?
Sudahlah, kalaupun ada sesuatu yang terjadi padanya, aku yakin ia baik-baik saja. Karena dia itu kuat sekali. Ehm, ehm…
Aku menatap kearah Jam dinding. Saat ini waktu sudah menunjuk sekitar pukul 15:05. Ini sudah lumayan sore…
Yang perlu dilakukan saat ini adalah, istirahat!
Ya, benar! Harus istirahat… lagipula, tak ada yang bisa dilakukan. Al sedang keluar, padahal berjalan-jalan di sore hari itu mungkin menyenangkan, ya…
Tapi, mungkin aku bisa tersesat… apa yang haru dilakukan? Apa nekat saja? Atau lebih baik aku tinggal di sini saja, sampai Al kembali?
Hmm… mungkin, lebih baik, aku…
Ya, benar… nekat saja!
Demi mengatasi kebosanan, walau sedikit letih. Dengan hanya dilandasi dengan kenekatan. Aku mencoba untuk, pergi keluar kamar asrama, dan menaklukan seisi Akademi!
Yang ku tahu, Akademi ini memiliki luas sekita hampir 100 hektar, atau lebih luas lagi. aku tak yakin dengan hal itu. Tapi yang pasti, ini sangat luas.
Bangunan yang ada disini juga sangat bagus, sedikit bergaya klasik dengan sentuhan modern. Kau tahu maksudku?
Dan juga, masih banyak sekali murid-murid yang beraktivitas di sekitaran sini. Entah apa yang mereka lakukan, tetapi sepertinya… aku cukup menarik perhatian mereka. Alasannya adalah aku tampil cukup mencolok.
Yaah, itu hal yang wajar, toh… aku saat ini sedang tak mengenakan seragam. Seragamku masih tersimpan di lemari yang akan digunakan besok.
Selain itu, faktor warna rambutku mungkin juga berpengaruh, Rambut putih itu tak wajar bagi orang Asia tenggara memilikinya. Yah, selain orag yang mengidap Albino.
Dan tentu saja aku bukan orang yang mengidap albino, lagipula kulit ku masih sedikit bewarna, tidak pucat sama sekali.
Selain itu, aku tak memiliki masalah saat berada di bawah sinar matahari. Karena pada dasarnya, seseorang dengan rambut/kulit putih atau cerah cenderung memiliki sel pigmen yang lebih sedikit daripada orang dengan rambut/kulit yang lebih gelap.
Sel pigmen sendiri befungsi untuk melindung tubuh dari paparan sinar ultraviolet.
Sedangkan Kulitku, masih berada di batas normal. Walau teman-temanku mengakui kalau aku cukup putih.
Sebenarnya, dulu aku juga memiliki warna rambut yang hitam normal, namun… pada saat aku berumur 4 tahun, muncul tanda-tanda pemutihan pada rambutku.
Saat rambut puth sudah mulai menyebar hingga 30% dari keseluruhan rambutku, Orang tuaku segera membawaku menuju dokter. Guna mencari tahu apa yang terjadi pada anak mereka.
Dan yang dikatakan dokter adalah sel-sel pigmen yang ada di sebagian rambutku mengalami mutasi. Penyebabnya masih belum diketahui.
Tapi kami tak mengambil pusing tentang hal ini. toh… tak ada dampak buruk yang disebabkan oleh hal ini pada anggota tubuhku. Dan juga ini tak mempengaruhi bagian tubuhku yang lain.
__ADS_1
Ini oke saja… Keluargaku pun memutuskan untuk tak mengobati ini lebih lanjut lagi.
Oke kesampingkan soal itu, setelah beberapa menit aku berjalan, aku melihat berbagai macam tempat, bukti kalau Akademi ini memiliki fasilitas yang super baik.
Mulai dari Lapangan outdoor besar, dan beberapa lapangan indoor, yang mungkin digunakan untuk olahraga tertentu. Seperti basket, voli dan lain-lain. Terdapat juga kolam renang besar dan juga lab untuk melakukan penelitian.
Selain hal itu, terdapat taman besar yang megah dan asri. Ini bagus sekali… Ada juga aula mirip panggung yang mungkin dipakai saat ada pentas seni atau semacamnya.
Yang terakhir, terdapat sebuah arena yang mungkin digunakan murid-murid untuk melatih dan meningkatkan Kemampuan Khusus milik mereka.
Karena ini terlalu asyik dengan acara berkeliling dan melihat-lihat ini, aku jadi tersesat.
“Ahh, sudah kuduga…!”
Yaa, ini wajar… aku sendiri sudah bersiap-siap jika saja hal ini terjadi. Tapi, yaah… aku agak kebingungan
sekarang ini.
“Kalau tak salah, jalanku tadi kesini…”
Dengan mengandalkan intuisi dan daya ingat ku. Aku mencoba menelusuri jalan yang aku ingat.
Mencoba, dan terus mencoba… walau tak tahu dimana jalannya. Untuk sementara, aku akan mengandalkan daya ingat ku terlebih dahulu mungkin. Jika benar-benar tak bisa, baru aku akan mencoba bertanya.
Yaah, tenang saja… pasti aku bisa melakukan ini. Tidak apa-apa, teruslah berpikir positif… walau sudah seperti itu, tetap saja aku tak bisa menemukan jalan kembali ke Asrama.
Justru semakin ke Taman belakang Akademi, di sini lebih sepi daripada sebelumnya.
Walaupun begitu, sebenarnya tempat ini terlihat cukup nyaman bagiku… benar, nyaman sekali. Tak bising, asri, suasana damai, dan masih memiliki pencahayaan yang cukup.
Selain itu, terdapat danau buatan kecil disini, warna airnya juga cukup jernih… bagus sekali.
Aku mencoba untuk mendekati itu, dan ternya…
Seorang perempuan, sedang diam diri menatap kearah danau buatan ini dengan hikmad. Wajahnya terlihat sangat damai dengan rambut terurai oleh angin yang bergerak mengeliling dirinya.
Aku tahu siapa dia ini, karena beberapa waktu yang lalu, kami berdua bertemu. Namanya adalah Sylphy, dia merupakan orang yang ada di Stage 6, sama seperti Al. jadi tak perlu diragukan lagi, dia ini kuat sekali.
Kalau tak salah, kemampuannya adalah Sihir Angin. Dia ini seorang Sorcerer, berbeda dengan Al yang merupakan seorang Shaman. Kalau aku masuknya apa, ya…? Masih Misterius…
Sampai saat ini, nampaknya ia masih belum menyadari keberadaan ku, karena diriku yang melihat dibalik sebuah semak yang menghalangi, dan ia terlalu fokus dengan kegiatannya.
Karena ini adalah kesempatan, aku mencoba untuk maju dan bertanya kepadanya. Dalam langkah pertamaku, kakiku menginjak sebuah ranting kecil.
Ini menimbulkan suara, yang menyadarkan Sylphy atas kehadiranku saat ini. karena rasa waspada nya yang tinggi, ia dengan reflek melancarkan sebuah tekanan angin ke asal suara tersebut, yang tak lain adalah diriku sendiri.
*Wuusshh!
“Siapa di sana?!”
Tekanan angin yang dia lancarkan ini cukup kuat… imbasnya, semak-semak yang ada didekat ku. Hingga menampakan ku yang masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya.
Sebenarnya, Angin tadi tidak mengenai ku, Spatial Delay berhasil menghalanginya. Tapi tetap saja, hal itu sangat mengejutkan bagiku.
Bagaimana tidak, sebuah angin yang kuat tiba-tiba menghembus kearah mu. Jika tanpa Spatial Delay, mungin saja aku sudah terpental kebelakang.
Sylphy melihat kearah ku, dia sedikit membelakkan matanya.
“Kamu ini…”
Aku mengangkat kedua tanganku.
__ADS_1
“Y-yaah…!”
Dia kembali ke pose biasa, dan sedikit berjalan mendekat.
“Kamu itu… temannya Aldian, Saidhan? iya bukan?”
Ah, dia mengingatku, yaah, hal itu pastilah, ya… lagipula aku cukup mudah dikenali.
Aku merespon dengan mengangguk.
“Ehm, ya…! Kalau kau Sylphy bukan?”
“Ya, apa yang kamu lakukan disini?”
“Soal itu… aku hanya berkeliling dan akhirnya tersesat…!”
Dia menatapku sesaat, kemudian.
“Sendiri? Bukannya tadi kamu bersama Aldian?
“Memang sebelumnya kami bersama, tapi kami kembali ke asrama karena suatu alasan! Setelah itu, dia bilang kalau ada urusan mendadak dan pergi! Karena bosan aku memutuskan untuk berkeliling sendirian!”
Setelah mendengar itu, ia terlihat sedikit terkejut.
“Aldian ada urusan mendadak?”
Ucap Sylphy, sementara aku merespon dengan mengangguk.
Setelahnya, ia merogoh kantungnya dan mengambil Smartphone miliknya. dan disaat itu, ia sedikit menyerngit melihat beberapa pesan dan Miss Call yang masuk ke Smartphonenya.
Sylphy menghela nafas pelan dan berkata dengan suara yang amat kecil.
“Haah, dasar aku ini…”
Karena tak terlalu terdengar, aku menanyainya kembali.
“Ada apa?”
Dia segera menggelengkan kepala dan berkata.
“Tidak ada apa-apa!"
"Apa kau tahu soal urusan Al?"
Aku mencoba bertanya padanya, melihat dari reaksi nya, ia mungkin tahu sesuatu
"Begitulah! Selain itu, apa ada yang bisa ku bantu?”
Ahh, benar! aku ingin meminta bantuannya.
“Seperti yang kubilang barusan, aku sedikit tersesat!’
Walaupun sebenarnya banyak, sih!
“Bisakah kau menunjukkan jalan kembali ke asrama?”
Sylphy dia sesaat, tak menjawab, kemudian.
“Baiklah ikuti aku, kebetulan aku juga baru mau kembali!”
Setelah itu ia segera membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat ini. Karena mendapatkan persetujuan darinya, aku mengikuti dari belakang.
__ADS_1