
Tunggu dulu…
Aku? Di undang untuk pindah ke ACJ…? Begitu, ya… begitu, ya… Ini terlalu tiba-tiba, oii!!
Dan juga kenapa memberitahukannya sekarang? Di saat jam pelajaran masih berlangsung!
Ah, sudahlah… Kembali ke topik awal.Sekali lagi aku memandangi dan membaca surat ini sekali lagi. Kalau dilihat dari manapun, ini memanglah surat undangan!
Bolehkah aku menerima ini? Tapi, tadi Kepala Sekolah bilang kalau ini adalah arahan dari pemerintah.
Jadi aku harus menerimanya, kah? Yaah… memangnya dari awal ada opsi menolak kah? Mungkin kalau aku menolak undangan ini, aku akan di cap bodoh. Hampir seluruh murid di Indonesia ingin sekali bisa masuk dan menuntut ilmu di ACJ.
Bagaimanapun, ACJ menempati peringkat tertinggi sebagai Akademi terfavorit di Indonesia. Fasilitas dan Kurikulum yang diberikan memang sangat bagus. Bahkan ada kebebasan bagi sebuah Ekskul untuk pergi melakukan penelitian bidang utama mereka, bahkan sampai ke luar Negri sekalipun.
Namun, sayangnya… aku ini tipe orang yang tak terlalu suka suatu hal yang terlalu mewah. Yaa, walaupun ada sisi baik jika aku menerima undangan itu.
Tapi tetap saja…
“Jadi bagaimana tanggapan mu, Saidhan?”
Kepala sekolah menanyakan tanggapan ku tentang ini. ‘Ya’ atau ‘Tidak’… mana yang akan ku pilih.
“Tolong berikan saya waktu untuk berpikir dulu…!”
Kepala sekolah menatap ke arah Pak Ari, dia hanya menanggapinya dengan santai. Setelah itu, ia tersenyum…
“Baiklah, akan saya berikan kamu waktu maksimal 2 hari untuk memikirkannya!”
“Terima kasih…”
“Tentukan lah pilihan yang serius dan terbaik untukmu! Karena ini bisa saja benar-benar memengaruhi kehidupanmu seterusnya…”
Ucap Kepala Sekolah menasehati, aku hanya merespon dengan mengangguk dan berkata…
“Ehmm, baiklah…”
Dan setelah itu aku kembali ke kelas… Cukup banyak teman sekelas yang bertanya, ‘Apa yang terjadi?’
Yaa, untuk sementara ini, aku merahasiakan soal undangan itu. Dan karenanya, aku sama sekali tak bisa focus dalam pelajaran. Seharian aku memikirkan tentang ini.
Masuk ke ACJ bukanlah keinginanku, sebelumnya aku bisa saja lulus ujian dan masuk ke sana, Al juga mengakui itu soal kemampuan Akademik ku bisa lulus Ujian Masuk ACJ.
Tapi aku selalu menolak untuk ikut serta, sebelumnya memang ada alasan dibalik itu… Alasannya tentu saja menghindari pembullyan dan menghentikan ketergantungan terhadap Al.
Tapi dengan diriku yang sekarang? Tentu saja alasan itu sudah tak ada lagi… Jika aku yang sekarang masuk ke ACJ, mungkin saja justru akan di kagumi, oleh orang
yang berpikiran luas saja sih…
Tetapi, tetap saja… aku merasa tidak enak karena itu. Diriku sendiri jiga bingung, entah dari masa asalnya perasaan ini. Ini Aneh bukan?
Yang harusnya kulakukan tadi harusnya adalah menerimanya dengan gembira. Akan tetapi, aku justru minta waktu untuk memikirkannya… apa yang sebenarnya ku lakukan tadi?
Ahh, sudahlah… yang harus dilakukan adalah pulang ke rumah dan memikirkannya secara baik-baik. Ah, mungkin aku akan memberitahu ibu tentang hal ini, apa tidak ya?
Mungkin jangan dulu... itu bisa membuatnya heboh nanti.
Setelah sampai ke rumah, aku segera mengunci diri dikamar guna mendapatkan ketenangan untuk memikirkannya dengan baik.
Yaaah, walaupun sudah mendapatkan ketenangan sekalipun, aku masih belum bisa memutuskan apa yang harus di ambil, kenapa sebenarnya.
Ahh, aku butuh teman mengobrol… Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 20:00. Mungkin aku akan menghubungi Rei...
Di sebuah kedai kopi yang biasa ku kunjungi. Aku duduk sendirian ditemani dengan secangkir kopi yang baru saja ku pesan.
Saat ini, aku sedang menunggu kedatangan Rei… Beberapa menit yang lalu, saat aku baru sampai di Kedai ini.
Hingga pada akhirnya, setelah 20 menit menunggu, dia datang… memang rumahnya tak terlalu jauh dari sini.
“Yaa Sai, Maaf menunggu!”
Ucapnya, aku hanya merespon dengan mengangguk dan mempersilahkannya untuk duduk.
Dia duduk mengikuti arahan ku dan kemudian memesan kopi, aku tak langsung membicarakan perihal undangan itu. Karena, dia justru membicarakan tentang hal lain. Alhasil, pembicaraan soal undangan ACJ menjadi tertunda.
Hingga pada akhirnya, kopi yang dipesannya sudah datang… dan setelah kopi itu datang dia berhenti mengoceh.
Rei mengambil cangkir dan meniup kopinya yang masih panas itu kemudian menyeruput nya…
Aku hanya memandangi acara minum kopinya. Setelah selesai dai berkata.
“Jadi, kenapa kau memanggilku kesini? Apa ada yang kau ingin bicarakan?”
Baru bertanya sekarang kau, oii!!
__ADS_1
Haaah, sudahlah…
Aku merespon pertanyaannya tadi dengan mengangguk dan berkata.
“Hmm, benar… ada yang ingin ku bicarakan!”
“Hooo, tumben sekali! Tentang apa?”
Rei kemudian kembali menyeruput kopi miliknya. kemudian, aku baru menceritakannya tentang undangan dar ACJ.
“Yaah, bagaimana aku mengatakannya, ya… tapi intinya, aku mendapatkan surat undangan dan rekomendasi dari ACJ!”
Dia berhenti sesaat dan mengangguk dengan mata terpejam, kemudian dia kembali ke kegiatan sebelumnya.
Aku sendiri cukup terkejut dengan reaksinya yang tak seperti ekspetasi ku sebelumnya, dia cukup tenang saat ini. Namun, setelah beberapa saat, dia nampaknya baru connect dengan apa yang ku bicarakan.
Alhasil, ia terbatuk-batuk karena sedang menyeruput kopi.
“Uhuk…! Uhuk…! Uhuk…! Apa..? kau, mendapatkan undangan dari ACJ? Serius…?”
Rei mengucapkan itu dengan volume suara yang tinggi, sehingga orang lain yang ada di kedai kopi ini mendengarnya, dan alhasil kami menjadi pusat perhatian.
Aku menatapnya dengan pandangan malas!.
“Hey, jangan keras-keras begitu! Banyak orang disini… mengganggu tau!”
Setelah;ah mendengar peringatan dariku, Rei segera kembali ke posisi duduk awal dan mengelap mulutnya dengan tisu yang sudah disediakan.
“Kau mendapatkan undangan dari ACJ…!?”
Aku mengangguk kembali.
“Ya, itu benar…”
“Bukankah itu kabar baik? Kalau begitu ku ucapkan selamat! Kepadamu!”
Dia menyentuh bahuku, dan menggoyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Karena merasa tak nyaman, aku segera menyingkirkan tangannya dari bahuku
“Hentikan!”
Rei menyingkirkan tangannya, dan tersenyum bodoh…
“Hahahah, jadi karena ini adalah berita besar, mari kita adakan pesta perayaan!”
Dia mengucapkan itu dengan semangat dan mengangkat cangkir kopinya ke atas!”
“T-tunggu! Bukan itu yang ku maksud sebenarnya…!”
Rei menghentikan kegiatannya itu setelah mendengarkan
ucapanku barusan. Dia menghela nafasnya…
“Jadi, apa tujuan sebenarnya?”
“Ah begini… aku sebenarnya, agak bingung!”
“Bingung?”
Rei mengulangi perkataan ku, dia menatapku dengan pandangan penuh pertanyaan... dimana letak kebingungannya?
“Yaah, kau tahu? Aku bingung harus memilih untuk menerimanya atau tidak…”
Setelah mendengar hal itu, Rei tak bereaksi untuk beberapa saat. Dan setelahnya, ia bangkit dari duduknya dan memukul pelan meja.
*Buakk!
Ini mengejutkan, dia bahkan tak mengucapkan sepatah kata apapun. Orang yang disekitar juga agak terkejut karena itu… dia kembali menjadi pusat perhatian
“A-apa? Ada apa?”
“Ikut aku keluar! Kita bicarakan sembari jalan-jalan!”
Setelah mengatakan itu, Rei langsung menuju bartender dan segera membayar untuk kopi nya barusan. Karenanya, aku terpaksa mengikutinya, hingga akhirnya kami berjalan-jalan diluar.
Rei berjalan cukup cepat, aku agak kewalahan mengikutinya. Hingga akhirnya…
“Ada apa, sih? Tiba-tiba saja mengajak jalan diluar…?”
Rei berhenti sesaat, dia kemudian menoleh kepada ku.
“Jadi, katakan maksud sebenarnya kau memanggilku?! Jangan main-main!!”
Aku berhenti di sebelahnya.
__ADS_1
“Sudah kubilang, aku kebingungan untuk menolaknya atau menerimanya!”
Beberapa saat setelah aku mengucapkan itu, Rei segera menjitak kepalaku dengan cukup keras.
*Buaghh!
Akibatnya, aku maju beberapa langkah kedepan dan memegangi kepalaku di bagian belakang.
“Aww… oi! Sakit tau!! Apa maksudmu barusan?!”
Aku segera memarahinya.
“Tentu saja, karena kau ini bodoh!”
Dia membalas dengan nada yang tinggi juga.
“Haah?”
“Kau bodoh, hal seperti itu saja kau permasalahkan!”
“Apa yang kau bicarakan, apa kebingungan ku ini sebegitu tidak wajar…!?”
“Yaa, itu tidak wajar! Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”
“Haaa?”
“Coba kau pikir! Sudah ratusan orang gagal untuk bisa masuk ke ACJ, dan kau? Kau bahkan justru seperti ini… apa kau ingin 2 kali menyia-nyiakan kesempatan? Apa yang ada di kepalamu sekarang!?”
“Kau, tidak paham!”
“Ada apa? Coba kau sebutkan kepadaku masalahnya! Lagian pasti kau sendiri tak tahu masalah itu sendiri bukan?”
Aku terdiam, itu memang benar… apa yang sedang ada di kepalaku sekarang ini? Apa yang salah… ini adalah apa?
“Soal itu..”
“Aaaah, sial! Aku memanggilmu kesini untuk meringankan beban ini! Bukan memperberat nya!”
“Hah, beban apa nya! Kau ini aneh sekali…!”
Situasi menjadi agak canggung setelahnya… kami saling menghadap kearah berlawanan. Aku tak sangka akan menjadi seperti ini…
Dan setelah itu, terdengar suara langkah kaki, ia berjalan menuju arah kami. Dan nampaklah sebuah bayangan dari depanku.
Bayangan orang semakin besar dan semakin jelas. Hingga akhirnya cahaya yang cukup menampakkan wajah sebenarnya, dia itu…
“Yaa, tak ku sangka kita bertemu disini!”
Dia itu orang yang tadi pagi itu, kalau tak salah teman-temannya memanggilnya Bang Jul.
“Kau..!”
Aku tentu terkejut melihatnya, dari segala kemungkinan mengapa aku harus secara kebetulan bertemu dengannya, sih!?
Mendengar suara seseorang, Rei segera berbalik… dia memasang wajah terkejut juga melihat Bang Jul, setelah itu dia segera mendekat dan membisikan sesuatu ke belakang telingaku.
“Sai, dia itu yang tadi menantang mu bukan?”
Bisik Rei, aku merespon dengan mengangguk mengiyakan.
“Ehmm, benar… tak ku sangka akan bertemu dengannya disini!”
“Keberuntungan mu buruk sekali!”
Ahh, dia ini…
“Y-yaaa, B-bang Jul? ada apa kok disini?”
Aku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Dia kemudian berjalan mendekat ke arahku, hingga jarak antara kami berdua kurang dari 1 meter.
“Bukan karena apa-apa… aku hanya berjalan-jalan saja sekitar sini!”
Ahh, ini dia… terkadang kebetulan memang mengerikan,ya…
Akan tetapi, kalau dilihat-lihat lagi dia ini memang sangat tinggi, ya..
Kalau dilihat saja tentu akan jelas… dia jauh lebih tinggi dariku juga Rei, bahkan ia ini mungkin lebih tinggi dari Tooru-san. Entah mengapa aku mengingat tentangnya saat ini…
Jika menjadikan diriku sebagai tolak ukur, tinggi orang ini sekitar 180 cm keatas. Itu sangatlah tinggi. Rata-rata orang sini adala 160 cm keatas. Bahkan sebenarnya, aku ini bisa dibilang cukup tinggi, tinggi ku adalah 171 cm.
kesampingkan soal itu… dia ini, apa yang akan dilakukannya?
__ADS_1
“Jadi… mari kita selesaikan masalah yang tertunda tadi, disekolah!”
Ahhh! Ternyata benarkan…!!