
Bang Jul kembali melompat dan bersiap untuk kembali melayangkan tendangannya. Itu mungkin senjata utama baginya…
Tapi, rasanya ini jauh lebih lambat dari yang sebelumnya… Ternyata perkataannya sebelumnya itu benar…
Dan dengan ini, aku bisa menahannya dengan mudah.
Setelahnya, aku membentuk posisi siaga menghadapi tendangan itu, bersiap untuk menahannya dan memberikan sebuah serangan balasan.
Namun, yang terjadi justru sangat tak terduga… memanfaatkan kelengahan di sisi lain dan fokus ku untuk menghentikan tendangannya, Bang Jul justru mendarat di samping kananku.
Dari awal ternyata ia memang tak ingin untuk menendang langsung di depanku. Tapi, ia mengincar sisi lain yang terbuka lebar akibat kelengahan…
“A-aapa…!?”
“Heh, sisimu terbuka sekali!!”
Setelahnya, dia segera melancarkan pukulan yang tepat mengenai pipi kananku.
Pukulannya sangatlah keras, aku seketika terhempas karenanya…
Dan terulang kembali… Spatial Delay kembali dengan cekatan melindungi tubuhku, hingga bisa meminimalisir Damage sebelum secara sempurna mengenai ku.
Dan tentu saja, Bang Jul menyadari tentang hal itu… dia segera kembali bergerak menuju ke arahku yang masih dalam keadaan posisi setengah terlentang.
“Cih…!”
Aku harus segera menghindari ini, kalau tidak bisa berakibat fatal! Bisa-bisa aku menjadi samsak nya nanti…
Karena Damage yang sudah terminimalisir, aku masih mampu untuk melakukan pergerakan yang cepat. Merespon serangan-serangan cepat yang dilancarkan Bang Jul.
Aku mendorong tubuhku kesamping, dan menghindar dari pukulan yang akan dilakukannya. Alhasil, pukulannya membentur tanah dan menciptakan suara yang cukup keras.
Itu pasti sakit sekali…
Memanfaatkan itu, aku sedikit membalik arah ke Bang Jul, dan sekuat tenaga menendangnya dengan kedua kaki, kali ini ia sedikit tergoyah dan kehilangan keseimbangan.
Dan kembali, aku bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Sebuah pukulan yang diperkuat dengan energy ku dengan sempurna mampu mengenai pipi dari Bang Jul…
Dia sedikit mundur beberapa langkah setelah terkena pukulan itu dan terdiam beberapa saat.
Dan setelah itu, dia kembali menatapku dengan tersenyum… terlihat kalau ada luka lebam di pipinya, dari hidungnya juga terlihat mengalir darah yang cukup banyak.
Dia mengusap darah itu, senyumannya sama sekali tak hilang… kemudian ia tertawa dengan cukup keras.
“Bagus sekali! Kau bisa melukaiku sampai seperti ini!”
Setelahnya ia kembali bergerak ke arahku…
Orang ini benar-benar… staminanya kuat sekali!
Dengan sekejap kami berhadapan kembali, yaa… beruntung persiapanku sekarang cukup matang. Daan membuatku bisa menghadapinya dengan penuh.
Bang Jul melepaskan pukulan dan tendangan yang silih berganti, menyulitkan ku untuk bergerak dengan leluasa.
Karena kurangnya pengalaman di sebuah perkelahian, membuatku sedikit kesulitan menentukan pola pergerakan. Ini seharusnya tak perlu terlalu diseriusi…
Disisi lain… Bang Jul terlihat sangat ahli di sini. Ini membuktikan, seberapa seringnya ia terlibat dalam perkelahian, atau bahkan tawuran antar Geng Motor di seluruh Kota ini.
Selain itu, tak seperti kebiasaan orang yang sulu sering membully ku. Bang Jul terlihat seperti seorang professional, dia tak sama sekali asal-asalan dalam melancarkan pukulan dan tendangan. Itu semua teratur dalam ritme dan pola yang terorganisir.
Dan membuat lawan-lawannya menjadi terlalu fokus bertahan dari pada melakukan inisiatif membalas. Ini mungkin setara atau bahkan melebihi seorang atlet profesional.
Tak salah lagi… dia ini sudah terlatih dan tahan banting!
Dan salah satu orang itu, ialah diriku sendiri. Aku sedikit beruntung karena Spatial Delay dan intuisi tajam yang kumiliki, aku bisa terhindar dari pukulan ataupun serangan yang bisa berakibat fatal.
Namun tetap saja… aku sama sekali tak bisa menghindari kelihaiannya. Secara definisi mungkin aku ini sudah bisa dibilang sebagai samsak Bang Jul.
Dia terus melancarkan pukulan maupun tendangan, walau sebagian besar bisa kuhindari dengan tipis, aku masih sangat bergantung pada Spatial Delay…
Namun, jika ini terus berlanjut… aku akan mencapai batas ku dan kehabisan energy, dan kemudian jatuh pingsan.
Dan itu berarti kekalahan ku… Yaah, aku pribadi tak terlalu mempermasalahkan kalah atau menang. Yang menyebalkan nanti adalah Rei… dia pasti akan mengingat ini untuk waktu yang lama!
Dan itu akan jadi sangat ‘Annoying!’ kau tahu…
__ADS_1
Jadi sebisa mungkin, aku ingin menang… setidaknya seri saja boleh.
Karena kesabaran ku, celah dari Bang Jul akhirnya terlihat. Aku segera melancarkan serangan balasan menggunakan celah itu, namun saying… Bang Jul bisa menghindarinya dengan sangat baik. Dia mundur beberapa langkah.
“Hahahah, bagus… bagus sekali! Ini baru menyenangkan! Kau juga merasa begitu, bukan??”
Aku diam untuk sementara, dan memasang tatapan yang malas.
“Yaah tidak juga… dari awal aku tidak terlalu suka ini!”
Bang Jul terlihat agak terkejut mendengar responku.
“Ahh, lupakan saja! Mungkin sudah saatnya kita bertarung dengan sepenuh kekuatan!”
“Selain itu, pelindungmu itu benar-benar menyebalkan!”
Ahh, kalau dipikir-pikir dia masih belum menggunakan kemampuannya… aku harus berhati-hati dengan ini.
Dia merentangkan tangannya, dan sebuah energy muncul melapisi tangannya. Pusaran udara bermain-main dibawah tangannya. Dan setelahnya, ia menaruh tangannya ketanah.
Aku merasakan sebuah bahaya akan terjadi.
“Itu…!”
Dan sebuah pusaran udara muncul dan bergerak sejajar dan hingga muncul tepat dibawah ku. Alhasil, aku terhempas ke udara.
“Aero Hand, kah?”
Jarak dari tanah memang tak terlalu tinggi, tapi aku sungguh kesulitan untuk mengatur pergerakan. Berbeda denganku, Bang Jul segera bergerak melompat sedikit lebih tinggi dari posisiku saat ini.
Tentu dibantu dengan kekuatannya. Sekarang aku mengerti, inilah kenapa dari awal lompatannya sangat tinggi. Dia menggunakan dorongan udara rupanya…
Dan setelah itu, dia mengarahkan telapak tangannya ke arahku. Walau tak terlalu terlihat, aku bisa sedikit mendapati kumpulan udara yang berfokus pada satu titik. Dan akhirnya, udara itu melontarkan sebuah tekanan yang cukup kuat dan mendorongku kebawah.
Walau aku bisa mendarat dengan cukup baik, tetap saja benturan dengan tanah sedikit membebaniku.
“Khekhh!!”
Melihatku, Bang Jul mendorong dirinya dan berencana untuk melancarkan pukulan.
Aku berusaha memusatkan energy, dan mencoba untuk menggunakannya…
Disisi lain, melihatku menyiapkan suatu hal, Bang Jul mengurungkan niatnya untuk melancarkan pukulan, ia menggantinya dengan serangan yang sama seperti sebelumnya. Namun, kali ini nampaknya akan jauh lebih kuat…
“Terima ini…!”
Dia kemudian melancarkan sebuah serangan dengan berskala tinggi. Dan aku sendiri masih konsentrasi akan pemusatan energy… Hingga pada akhirnya!
“Limitless…! Jebak lah angin itu kedalam peluasan ruang tanpa batas!”
Infinite Spatial Delay! Berhasil di gunakan…
Serangan Bang Jul sudah secara sempurna masuk kedalam ruang delay tanpa batas. Rapuh… adalah hal yang bisa dilihat dengan itu.
Dia terlihat sangat terkejut melihat ini.
Memanfaatkan kelengahannya, aku dengan segenap Energy Limitless yang masih kuat ku tahan akan ku lepaskan.
“Giliran ku…!”
Lontaran energy segera mengarah kepada Bang Jul. dan di saat itu… ia melihatnya! Dia orang yang melihat seberapa dalam energy dari Nothingness ini.
Ketiadaan, Kekosongan menyelimuti lontaran energy ini.
Dan mengakibatkan, Bang Jul yang pingsan seketika…
Pertarungan ini aku yang menang!
Bang Jul tergeletak tak sadarkan diri. Sementara aku harus terduduk kelelahan…
“Aku terlalu boros Energy, ya…!’
Sebuah suara Tepukan tangan muncul, itu berasal dari Rei…
“Hmm, hebat sekali! Itu tadi sangat menghibur, Sai!”
__ADS_1
Dia berjalan mendekat ke arahku.
“Haah, kau bisanya menganggap itu hiburan?”
Dia merespon dengan mengangkat bahunya, dan mengulurkan tangannya. Ia ingin membantuku berdiri. Yaa, setidaknya aku akan menerima uluran itu.
“Jadi dia akan kita apakan?”
“kita tunggu dia sadar!”
Dan begitu, aku dan Rei menunggu Bang Jul sadar dari pingsannya. Tak terasa, waktu sudah berjalan selama 20 menit. Ia akhirnya sadar…
“Yaa, sadar juga akhirnya!”
Dia segera menoleh menatapku.
“Apa yang terjadi?”
“Kau pingsan!”
Dia diam sesaat, berusaha mengingat kejadian-kejadian tang terjadi tadi. Hingga, ia kembali merentangkan tubuhnya.
“Jadi begitu, ya…! Ini kekalahan telak ku!”
Aku tak menjawab, begitupula dengan Rei.
“Kalau boleh tahu, kenapa orang sepertimu harus masuk kedalam dunia geng dan berandal seperti sekarang?”
Aku coba bertanya, dia kemudian bangkit dari posisi tidurnya.
“Apa maksudmu?”
“Yaa, aku hanya mengira kau dengan kemampuan beladiri seperti ini seharusnya bisa memanfaatkan itu dengan baik… mungkin kau bisa menjadi atlet dengan bakat mu itu…!”
Dia terdiam, dan kemudian menatap kearah langit malam.
“Aku sangat menikmati sebuah perkelahian!”
Ehh…!?
“Kau tahu sendiri bukan!? Dunia yang sekarang hanya menilai kekuatan seseorang dari kemampuan khusus mereka, dan aku sangat membenci hal itu!”
“Kekuatan yang sebenarnya itu bukan hanya ditentukan oleh kemampuan khusus saja, tetapi kekuatan mental dan diri seseorang!”
“Itulah prinsip yang membuatku terjun kedalam dunia Geng motor yang rawan melakukan tawuran! Yaa, aku sendiri tahu ini hal yang tidak benar, tapi…”
“Hanya ini caraku mengekspresikan keinginanku yang sebenarnya!”
Sepertinya… Bang Jul ini benar-benar berbeda dari perkiraan ku… Orang kuat yang memiliki pola berpikir yang sama denganku… itu bagus sekali!
Dia kemudian berdiri dan menunduk 90 derajat ke arahku.
“Saidhan… alasanku menantang mu sebenarnya, bukan untuk membuktikan bahwa aku yang terkuat!”
“Ehh?”
Tentu ini sangat mengejutkan..! tiba-tiba ia mengatakan kalau tujuan dari tantangannya bukan untuk pembuktian apapun.
“Lalu untuk apa?”
“Di Geng kami, ada peraturan kalau Ketua Divisi tidak boleh kalah dalam pertarungan yang ia kobarkan terlebih dahulu… jika kalah, ia harus turun dan jabatannya digantikan dengan yang baru…!”
“Aku memanfaatkan itu, untuk bisa turun dan keluar dari Geng ku yang sekarang…!”
“Tapi, kenapa? Bukankah kau bilang sendiri kalau itu caramu mengekspresikan keinginanmu?”
“Itu benar, tetapi… Di bawah pemimpin yang baru, aku merasa kalau hal itu sudah melenceng…!”
Dan tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari banyak orang.
“Pemimpin yang kau maksudkan itu… aku bukan, Jul?”
Suara yang terdengar tak asing di telinga Bang Jul. seketika, ia menjadi merinding karenanya…
Dia menoleh ke asal suara itu.
__ADS_1
“Ketua…!? Kenapa kau disini?”