
Stage 7, Itu adalah tingkat tertinggi dalam sistem Stage. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan mampu secara efektif memiliki kemampuan melawan satu Negara, menghancurkan sebuah pulau besar, dan bertarung melawan lebih dari 100 orang pengguna kemampuan khusus.
Kebanyakan dari orang yang menggunakan sistem Stage adalah seorang Esper, walau ada beberapa Magician yang menggunakannya juga.
Mereka semua berada dalam perhitungan dan penelitian Stage Research Community, atau lebih dikenal dengan SRC. Mereka adalah sebuah organisasi yang menaungi penelitian tentang seluk beluk Kemampuan Khusus milik manusia, mereka juga menemukan sistem Stage yang mengukur keahlian, kekuatan, dan kendali seseorang atas kemampuan miliknya.
Saat ini, SRC memiliki 3 labolatorium utama, yaitu di Tokyo, Jepang. Florida, Amerika Serikat. Dan di Munchen, Jerman.
Di dunia ini, hanya ada 8 orang yang mampu mencapai Stage 7. Walaupun begitu, mungkin masih banyak Magician di luar sana yang bisa di sandingkan dengan Esper Stage 7, seperti Magic King dan para orang kepercayaannya.
Normalnya para Stage 7 kemampuannya cukup berimbang. Namun, ada 2 orang dari ke-8 orang tersebut, yang dikatakan mampu melawan seluruh Militer Dunia sendirian.
Mereka adalah bukti kengerian dari umat manusia.
Dan sekarang, di sini... Dua sosok yang mengatakan bahwa dirinya merupakan anggota dari SRC mengakui kalau aku memiliki potensi Stage 7.
Apa kau ingin tahu apa aku terkejut? Tentu saja, aku sangatlah terkejut.
Tumbuh sebagai manusia dari Unknown class yang tak mengenal apa itu kemampuan Khusus. Dan sekarang, aku di sebut sebagai berpotensi Stage 7.
Walau berpotensi itu artinya belum pasti. Tetap saja, ini sangat mengejutkan, hanya orang-orang dari Stage 5 atau 6 yang kebanyakan di katakan sebagai berpotensi.
Dan aku hanyalah seorang dari Unknown class. Walau begitu, aku harus bisa menangani situasi dengan tenang.
“Maaf, bisakah kau mengulangi perkataan mu sebelumnya…!?”
Ucapku untuk memastikannya sekali lagi.
“Kami bisa melihat potensi untuk Stage 7 pada dirimu!”
Pak Tri mengulang kata-katanya.
Aku mengangkat tanganku. Dan mengarahkannya kearah mereka berdua seakan-akan menyuruh mereka berhenti. Sementara tanganku yang satunya sedang memijit pelipis.
“Tunggu sebentar! Biarkan aku otak ku mencerna ini semua terlebih dahulu!”
“Ahh, tentu saja! Pasti situasi ini sangat membingungkan bagimu kan..!?”
Eh..? reaksinya tak seperti yang kubayangkan.
“Tapi, ini masih hanyalah pendapat dari rekan kerjaku ini..”
Pak Ari melanjutkan perkataannya sembari menunjuk kearah Pak Tri.
“… Hal ini bisa jadi salah, namun bisa juga benar!”
“Kalau boleh tahu… apa ada alasan tertentu, mengapa anda menganggap ku sebagai berpotensi Stage 7??”
Tanyaku.
“Tentu, saja! Kalau mau jelas, Pak Tri tolong kasih tahu dia…”
“Aku..?”
Ucapnya sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja, bukannya ini adalah argumen mu!”
“Baiklah, baiklah akan ku jelaskan! Seperti yang ku tanyakan sebelumnya… kau menjawab bahwa serangan tersebut berada di dunia yang berbeda dari kita semua. Dari situlah aku mengambil keputusan kalau kau berpotensi Stage 7, tidak... justru aku sangat yakin kau itu benar-benar Stage 7!”
Aku hanya menyimaknya.
“Kau tahu, kemampuanmu ini berkaitan dengan ruang!"
"Ruang?!"
"Yaa, memang ada beberapa Esper atau Magician yang juga menggunakan konsep ruang, seperti teleporter, bahkan Raja Sihir saat ini, tipe sihirnya berkaitan dengan ruang…”
“… Namun, untuk kasus mu ini sedikit berbeda. Mereka yang ku sebutkan barusan hanyalah menggunakan konsep ruang... mungkin juga memengaruhi ruang tersebut! Sedangkan kau secara langsung mempengaruhi ruang tersebut dalam skala besar!”
"Aku, mempengaruhi ruang dalam skala besar?”
“Ya… Contohnya serangan yang tadi itu! Menurutku, sebenarnya serangan itu mengalami infinite delay, dimana kemampuanmu bisa membuatmu melebarkan ruang di sekitar tubuhmu hingga ke tahap hampir tidak terbatas! Oleh karena itu, serangan Kira mustahil untuk sampai padamu.”
“Jadi begitu…”
Kalau begitu, aku semakin mengerti perihal mimpi yang kulihat tadi. Ketiadaan dan Ketidak terbatasan, yaah… Ruang Kosong, Void Dimension.
“Yaa, kembali lagi hal tadi itu hanyalah sebatas argumenku untuk menyebut mu sebagai berpotensi Stage 7, kita bisa tahu hasilnya setelah melakukan Test”
“Jadi, begitu yaa… kalau begitu kapan kita akan melakukannya?”
Mereka berdua saling menatap mendengar ucapan ku barusan.
“Maaf, untuk sekarang, Negara kita belum mencukupi dalam melakukan Test Stage 7! Lagipula target kami hanyalah Stage 6…”
“Jadi, dimana…?”
Pak Ari tersenyum mendengar ini.
“Tentu saja, kita akan pergi ke salah satu Laboratorium utama SRC, di Tokyo, Jepang!”
Aku terkejut mendengarnya.
__ADS_1
“Kita akan pergi ke Jepang…!?”
Pak Ari tersenyum karena itu.
“Tentu saja, ya…”
...----------------...
Sekarang ini sudah 2 hari setelah kejadian di penerimaan murid baru, sekarang sudah memasuki pelajaran seperti biasa. Selama waktu inilah, beredar berbagai macam rumor dan gossip. Bahkan salah satu gosip yang beredar mengatakan bahwa aku ada di stage 7.
Seharusnya, hal ini hanya boleh diketahui setelah adanya pengumuman resmi. Karena kalau tidak, maka kehebohan bisa saja terjadi.
Bukan hanya di daerah sini saja, bahkan mungkin seluruh dunia bisa heboh. Dengan kedatangan Stage 7 baru, tentu saja hal itu bisa terjadi.
Stage 7 memiliki kemungkinan akan dimusuhi seluruh dunia yang cukup tinggi. Dan tentu saja, ini akan merepotkan bagi diriku pribadi.
Di saat-saat seperti ini, aku hanya bisa merundung di kelas.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan benda dingin berada di ats kepalaku. Aku mengangkat kepala ku dan melihat siapa gerangan dia.
“Yaa…!”
Dia adalah Rei, orang yang paling ku kesali saat ini.
Aku kembali menaruh kepala dimeja.
“Bukankah sudah kubilang, aku masih kesal padamu…!”
“Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu! Ini, kuberikan padamu!”
Dia menyodorkan kaleng minuman ringan dingin kepadaku, dan tentu karena diriku yang masih marah pada si bodoh ini langsung saja… menerimanya, dengan senang hati.
Membuka minuman kaleng ini dan meminumnya. Kemudian aku menatap langit biru, secara kebetulan aku duduk di kursi pojok yang dekat dengan jendela.
“Omong-omong, kau akan pergi ke jepang kan? Pak Ari yang memberitahu ku…”
Aku sedikit mengalihkan pandanganku kearah Rei.
“Begitulah, kami akan berangkat seminggu lagi, mungkin lebih…”
Aku meresponnya.
Dia hanya menatapku dengan pandangan sedikit terkejut.
“Lama juga, ya…”
“Ya, begitulah… kau tau sendiri kan, menghubungi Labolatorium utama itu bukanlah perkara mudah, cukup lama waktu yang di butuhkan!!”
Dia hanya merespon dengan mengangguk dan kemudian berkata.
Dia mengucapkannya dengan memasang ekspresi yang terlihat lugu. Bahkan aku sendiri merasa geram karenanya.
Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan tajam.
"Eh, apa-apaan tatapan mu itu, eh? Menyakitkan tahu!”
Aku hanya mendesis pelan.
“Tidak, bukan apa-apa…”
Suasana hening sesaat. Karena tak nyaman dengan situasi ini, Rei mengatakan…
“Jadi, apa kau punya rencana setelah sampai ke sana..?”
Aku hanya merespon dengan menggeleng dan berkata.
“Tidak ada yang khusus…”
Secara tiba-tiba, Rei berdiri dari duduknya dan langsung sedikit menggebrak meja, dia menatapku dengan pandangan serius.
Banyak barang-barang ku yang ada di meja jatuh. Dan tentu saja, dia menjadi pusat perhatian di kelas ini.
Beberapa murid perempuan, mulai membicarakan tentang kami.
Aku merasa tak nyaman dengan suasana ini, mulai menanyakan Rei dengan sedikit berbisik.
“Ada apa..?”
Dia akhirnya sadar dan mulai duduk kembali.
“Ah, maaf… aku hanya sedikit terkejut saja!”
Ucapnya sembari meminum minuman nya lagi. Aku menatapnya dengan agak bertanya.
“Apa maksudnya…?”
Dia hanya melirik sedikit kearah ku.
Dia menaruh minumannya di meja kembali dan menghela nafas.
“Oh, Saidhan temanku…!”
Rei mengatakan itu dengan tangannya yang sudah menyentuh pundak ku.
__ADS_1
“Walaupun kau pergi ke sana hanya untuk melakukan Test, tapi tetap saja loh! Kau pergi ke Jepang! Tanah impian para Otaku! Setidaknya ada mungkin waktu senggang seharian setelah setelah melakukan Test…”
Aku terdiam karena ini.
Ahhh, benar juga ya…, kenapa aku tidak terpikir hal ini?
Rei menatapku dengan senyumannya yang menyebalkan itu.
“Hehehe, benarkan, benarkan?”
Dia sedikit menyikut dadaku berkali-kali. Karena sebal, aku langsung saja menjauhkannya dengan mendorong kepalanya.
"Jadi kau mau kemana..?”
“Entahlah… Menurutmu, aku lebih baik kemana?”
Aku menanyakan hal ini, sekedar untuk memancingnya. dan benar saja, dari matanya terlihat seakan-akan mengeluarkan cahaya.
Dan setelah itu dia mulai mengoceh tentang segala yang menarik tentang Japan. Yaah, dia ini memang otaku akut…
Dan tentu saja, kami kembali menjadi pusat perhatian. Tidak, lebih tepatnya Rei lah yang menjadi pusat perhatian sekarang.
Semua orang sangat terkejut melihat sifat asli dari seorang Reinhard. Ternyata dia adalah seorang otaku akut.
Hahaha, kan sudah kubilang, jangan terlalu berharap banyak terhadap orang ini…
...----------------...
Sekarang adalah waktunya aku berangkat menuju salah satu dari 3 labolatorium utama yang dimiliki oleh SRC, yang berada di Tokyo, Japan
Dan sekarang ini, aku sudah berada di dalam pesawat saat ini.
Dengan sebuah Headphone di kepala, segelas kopi untuk menemani membaca sebuah majalah yang ada di pinggir kursi. Ini benar-benar nyaman, rasanya benar-benar nyaman, sangat nyaman…
Dan tiba-tiba, seseorang pria dewasa datang dan duduk di samping ku. Dia itu Pak Ari.
“Bagaimana? Apa kau sudah siap?”
Aku menghela nafas sekejap dan tersenyum.
“Tentu saja…”
Tentu saja aku sangatlah siap, setelah kemarin mendengar ocehan panjang Rei, aku menjadi sedikit tertarik.
Aku sedikit mencarinya di internet dan langsung menemukan hal-hal yang sangat menarik. Karena hal ini, aku langsung saja melupakan tujuan utama dari perjalanan ini, yaitu untuk melakukan Test Stage dengan full teknologi yang di sediakan di sana.
Karena di iming-imingi dengan liburan, aku telah sepenuhnya melupakan hal itu.
Sungguh, terlalu…
Yak, abaikan semua itu. Setiap orang juga pasti akan memiliki pemikiran yang sama jika dia ingin pergi keluar negri. Ya, kan?
Tentu saja, itu juga berlaku untuk ku.
Aku menoleh ke samping, dan… Pak Ari sudah terlelap sekarang.
“…”
Cepat sekali tidurnya orang ini…
Maa, biarkan saja lah, mungkin dia lelah bekerja. Dari yang kudengar, Pak Ari lah yang terus berusaha menghubungi Labolatorium utama.
Dan kudengar juga, ia langsung pergi ke sana untuk meminta izin dan menyiapkan keperluan yang ada untuk Test Stage. Dan kemudian ia kembali ke Indonesia untuk menjemput ku.
Huhuhuhu, Pak Ari, kau sungguh membuatku terharu… Aku sangat mengerti bagaimana perjuanganmu itu. Tenang saja, aku tidaklah seperti si bodoh itu yang justru tidak hadir setelah perjuangan yang kau lakukan.
Setelah itu aku menyadari satu hal…
“Dimana Pak Tri?”
Aku sedikit melihat kearah tempat duduk di samping Pak Ari, dan tempat itu sudah di isi oleh orang lain.
“Apa dia tak ikut, ya?”
Dan secara tiba-tiba, sebuah buu memukul pelan kepala ku dari belakang.
“Aku disini!”
Aku melihat ke kursi belakang dan ternyata, Pak Tri ada di sana.
“Eh, Pak Tri…!?”
Dia hanya kembali membaca majalah yang tadi ia gunakan untuk memukul kepalaku.
“Tenang saja, aku juga akan ikut! Tak mungkin aku melewatkan kesempatan langka seperti ini…”
Eh, kesempatan langka apa itu?
“Tapi, kenapa kau tak duduk di sini?”
“Bukan apa-apa, hanya aku tak nyaman di dekat Ari...”
Dia merespon dengan sedikit tak semangat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, awak pesawat memberitahu kalau pesawat akan segera lepas landas. Aku langsung kembali duduk dengan benar dan sedikit menarik nafas.
“Ayo kita pergi…”