
Saat ini, sudah 3 hari semenjak hari itu, hari dimana aku memutuskan untuk menerima undangan dari ACJ.
Setelah menyelesaikan seluruh hal yang di perlukan untuk mengurus seluruh proses perpindahan.
Sekaranglah, hari dimana aku pergi… meninggalkan rumah untuk menetap di asrama yang sudah dipersiapkan di sana.
Dengan seluruh barang yang ku perlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari di Ibu Kota.
Dan sekarang, sekarang… aku sudah berada di depan stasiun MRT. Jarak dari Jorioh menuju Jakarta adalah sekitar 55 km, sebenarnya aku ingin memakai Bus. Tetapi, Orang Tuaku mau bagaimanapun ingin aku menggunakan kereta MRT.
Aku tak tahu mengapa, tetapi yaah… aku tak bisa melawan mereka. Hanya ikuti saja, itu akan lebih baik.
Saat ini, aku sedang berpisah dengan keluarga ku, ini perpisahan sementara. Mereka juga tak terlihat berat untuk melepaskan ku untuk pergi dan, bisakah dibilang merantau? Yaah, itu pokonya… Tapi yang pasti, tinggal sendiri di Jakarta.
Lagipula, mereka pasti tahu kalau aku akan baik-baik saja hidup sendirian jauh dari orang tua. Walaupun terlihat begitu, aku ini memiliki sifat yang cukup dewasa, walaupun terkadang aku agak ceroboh.
“Jadi, apa ada suatu yang kau butuhkan lagi, Saidhan?”
Tanya ayahku, sekali lagi ia mengingatkan barang-barang yang diperlukan.
“Tidak!”
“Baguslah kalau begitu!”
Sementara itu, Ibuku justru terus memperhatikan kearah barang bawaan ku.
“Apa kamu yakin? Barang bawaanmu itu saja?”
Aku menatap kearah 1 buah koper atau tas besar yang ada di sampingku.
“Ahh, ini… tidak apa-apa! Kebutuhanku tak terlalu banyak…!”
“Begitu…? Baiklah kalau begitu!”
Yaah, paling barang bawaan ku hanyalah barang-barang yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari saja, dan tentu saja paket volume penuh dari Manga dan Novel favoritku, hanya sebagai hiburan di sana.
Apalagi, aku punya kenalan yang bisa dipercaya di sana! Kedua orang tuaku sendiri memang sudah sangat percaya kepadanya.
Yah, ini hanyalah perpisahan singkat. Setelahnya, Ayah dan Ibu segera pamit untuk kembali ke rumah.
“Baiklah, semuanya sudah siap bukan? Kalau begitu Ayah pulang dulu!”
“Yaa, hati-hati di jalan!”
Aku menyalami kedua orang tua ku, dan menatap kepergian mereka. Sembari berjalan, ibuku melambaikan tangannya. Aku segera membalasnya…
Aku tak bergerak dari tempat sampai aku kehilangan bayangan kedua orang tua ku. Setelah menghilang, aku langsung saja…
“Baiklah, saatnya…!”
Saat baru saja ingin menuju kereta. Aku mendengar suara seseorang memangil namaku.
“Sai…!”
Suara ini, aku mengenalnya… tak salah lagi, dia ini adalah Rei!
Aku segera menoleh ke asal suara, dan benar saja, pandanganku menemukan keberadaan Rei yang saat ini sedang menyenderkan badannya ke sebuah pilar.
“Rei? Apa yang kau lakukan di sini?”
Dia tak menjawab, namun berjalan kearah ku. Dan saat sudah berada di hadapanku, ia justru menjitak kepalaku.
*Bletak!
“Aww, apa yang kau lakukan, oi!?”
“Tidak, aku hanya ingin sebuah ‘Chop’ sebelum kau pergi!”
Dia mengatakan itu dengan santai sembari sedikit menggoyangkan tangannya.
“Dasar anak sialan!”
Aku segera membalas jitakan nya, kali ini aku membalasnya lebih kencang dari yang ia lakukan kepadaku
*Bletak!
Saking kencang nya, jitakan itu… suara yang dihasilkannya terdengar cukup keras, Rei juga sedikit sempoyongan kebelakang.
“A-adu-du-duh! A-apa apaan ini, oy!”
“Tidak, aku hanya ingin sebuah ‘Chop’ sebelum aku pergi!”
Aku mengucapkannya dengan meniru apa yang ia ucapkan sebelumnya. Mendengar itu, Ia menjadi tertawa.
“Hahahah!”
“Haahh… akhirnya, kau bisa memutuskannya, ya…!”
“Ya begitulah…!”
Dia mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan denganku. Tentu saja aku menjawabnya…
__ADS_1
“Semoga beruntung kawan, terima kasih atas bantuan mu selama ini!”
Ia memasang senyuman, aku melihatnya, entah mengapa… sedikit ingin tertawa.
“Yaah, kan ku terima rasa terima kasihmu itu, tetapi… rasanya aku yang seharusnya mengucapkan ‘Semoga beruntung!’ begitu…”
Rei terlihat tersinggung karena itu.
“Apa maksudmu dengan itu, hah!?”
Sebelum menjawab, aku sedikit tertawa…
“Haha, bukan apa-apa kok!”
“Hah, sudahlah! Yang pasti, kita akan berpisah sementara sekarang! setidaknya aku sudah mengucapkan terima kasih dan minta maaf!”
“Ya, ya… aku menerima semua itu! Tenang saja, yang pasti… semoga beruntung juga untuk mu, mulai sekarang, aku tidak akan bisa membantumu dalam masalahmu, loh! Cepatlah biasakan dirimu!”
Yah, aku berniat sedikit menyindirnya disini, namun nampaknya ia merasa tantang persoalan ini.
“Aku tahu…!”
Dengan ini, aku bisa pergi… dengan tenang!
Setelahnya, aku sedikit menepuk bahunya… dan kemudian membalikkan badan dan pergi.
“Baiklah… sampai jumpa lagi! Rei!”
“Ehm, sampai jumpa lagi, Sai…!”
Kami saling melambaikan tangan, setelahnya, aku sedikit mendengar suara dan menduga kalau itu berasal dari Rei. Aku mencoba menoleh untuk memastikannya, dan ternyata ia sudah tak ada di sana.
Dasar anak itu, pasti dia langsung bergerak dengan kecepatan maksimal. Ah, sudahlah… saat ini waktunya pergi.
Setelah itu, tanpa ada penundaan lagi, aku segera masuk ke kereta. Dan mencari tempat duduk.
Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1 jam. Selama itu, aku hanya diam dan sedikit bermain Smartphone milikku, dan melihat beberapa koleksi Manga yang kubawa.
Tak terasa,waktu terus berlalu. Aku akhirnya sampai juga, kereta berhenti aku segera menyiapkan barang-barang dan segera keluar dan turun di stasiun.
“Waah, ini dia…!”
Setelah keluar, aku segera menghirup udara, bau udara dari Ibu Kota Negara yang tercinta ini tercium dengan jelas olehku.
“Jakarta!”
Aahh, tidak… aku jadi seperti orang desa yang baru saja merantau ke Ibu Kota.
Aku sedikit melihat ke GPS di Smartphone ku. Aku sudah menerima alamat Akademi sebenarnya, tapi yaah… setidaknya aku akan menggunakan GPS jaga-jaga jikalau aku tersesat.
Saat sedang sibuk dengan ini, aku kembali lagi dikejutkan dengan sebuah suara yang memanggilku, dan kali ini juga, aku mengenali suara ini.
“Sai…”
Aku segera mencari sumber suara itu, dan ternyata ia sudah berada di belakangku. Dia menepuk bahuku…
“Yaah, aku disini!”
Aku berbalik ke belakang, dan mendapati Al yang datang kesini…
“Al…? Lama tak berjumpa…! Yaah, tapi tak lama-ama banget, sih!”
“Ini bahkan belum 1 bulan, loh! Sai… kau sudah pindah sekolah saja!”
“Hahahah, benar juga, ya…!”
“Aku sudah mendengarnya, Sai! Tak ku sangka kau langsung saja naik ke Stage 7! Pati merepotkan, ya…?”
Aku menatapnya sebentar, setelahnya aku sedikit memasang raut wajah malas mengingatnya.
“Yaa, begitulah!”
Mengingat tentang kejadian-kejadian yang terjadi di sekitaran hari-hari itu, mengingatnya saja sudah membuatku merasa lelah.
Setelahnya, aku menanyakan ada apa gerangan ia ada disini.
“Jadi, kenapa kau di sini?”
“Bukan apa-apa, aku hanya khawatir kau tersesat!”
“Yaah, bukankah sudah kubilang tak perlu melakukannya…!”
Dia mengangkat bahunya.
“Tidak apa-apa, aku juga sekalian pergi ke suatu tempat sebelumnya!!”
“Begitu, ya?”
“Kalau begitu, ayo! Akan ku tunjukan jalannya!”
Dia kemudian langsung saja pergi, dan aku hanya mengikutinya dari belakang. Aku mencoba bertanya berapa jarak yang harus ditempuh dari sini, sampai ke ACJ.
__ADS_1
“Kira-kira berapa jaraknya? Ke ACJ…?”
Dia hanya merespon kecil, dan kemudian berkata…
“Tidak terlalu jauh!”
Aku hanya mengangguk kecil mendengarnya, kami berjalan dengan santai… menikmati pemandangan kota besar, yang tentunya benar-benar sangat berbeda dengan pemandangan kota di Jorioh.
Dan beberapa menit kemudian, kami sampai ke sebuah tempat yang terlihat seperti Gerbang masuk besar.
Karena sebelumnya aku sama sekali tak pernah ke sini, dan yang kulihat dari internet kebanyakan adalah bagian dalam, aku tak terlalu memerhatikan tampilan luarnya.
Aku jadi tak tahu kalau ini adalah gerbang masuk ke Akademi Citra Jakarta. Sekolah Elit no.1 di Indonesia…
“Al, tempat apa ini?”
Dia menoleh kearah ku.
“Tempat apa…? Ini itu gerbang masuk AC kau tahu!?”
Aku menatapnya… gerbang sebesar ini?
“Ehhh, yang benar saja!? Ini… gerbang masuk nya!?”
Dia menatapku heran, kemudian ia menunjuk kearah belakang kami. Aku mengikuti arah yang ia tunjukkan.
Ia menunjuk kearah sebuah monument yang ada di seberang Gerbang ini. dan disitulah aku baru mengenalinya. Itu adalah monument khas ACJ, ia berada di depan ACJ…
“Ahhh, kau benar!”
Aku sedikit terpukau melihat monument itu, monument itu terlihat sangat bagus. Namun, aku kembali mengalihkan pandangan kearah Al.
“Ya ampun… beruntung aku datang menjemputmu!”
Dia terlihat sedang memegangi kepalanya, ia mungkin keheranan mendengar kalau aku datang kesini tanpa tahu apa-apa.
“Mau bagaimana lagi, tentu saja aku tak tau, kalau gerbang masuknya saja sudah sebesar ini! Sudah seperti Universitas kau tahu!!”
“Sai, Akademi ku, tidak… akademi kita ini memang di kelas yang sama dengan Universitas kelas atas!”
“Ah benar juga… kalau dipikir-pikir!”
“Sudahlah, ayo kita masuk!”
Kami berdua segera memasuki daerah Akademi saat ini, dalam perjalanan aku terus saja memandangi daerah perkarangan taman yang dimiliki ACJ. Ini sangatlah bagus dan indah.
Kemudian, aku memikirkan apa yang harus dilakukan setelah sampai kesini, karena sedikit kebingungan aku mencoba untuk meminta pendapat Al.
“Al, menurutmu apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?”
Setelah mendengar itu, ia juga mulai memikirkannya.
“Benar juga, ya… apa yang harus di lakukan!?”
Selagi memikirkan, kami akhirnya memasuki sebuah lorong dan kemudian, terlihatlah… wujud sebenarnya dari Akademi Citra Jakarta.
Banyak sekali bangunan yang kulihat, bahkan terdapat beberapa arena dan lapangan yang luas. Benar-benar sekelas dengan Universitas Top, aku mengetahuinya karena aku pernah memasuki Universitas Kakakku. Dimana Universitasnya merupakan salah satu yang terbaik di sini.
Dan, kalau kulihat-lihat… cukup banyak murid-murid yang masih beraktivitas menggunakan seragam akademi ini. Dan kalau dilihat-lihat, Al juga mengenakan seragam Akademi ini… hanya saja, ia tak menggunakan Blazer nya.
Dia hanya menggunakan kemeja dan celana panjang bewarna hitam.
Selain itu, selama kami menyusuri koridor, banyak sekali anak-anak perempuan yang menatap kearah kami. Tidak, mereka mungkin menatap kearah Al.
Menyadari hal ini, aku segera merangkulnya.
“Heeyy… Al!”
“Apa…!?”
“Kau ini… nampaknya populer banget, ya!”
Al terdiam sesaat mendengar perkataan ku, ia kemudian menghela nafas cukup panjang. Dan kemudian berkata.
“Yaa, seperti yang kau lihat!”
Dia mengucapkannya dengan santai. Aku tahu dia tak bermaksud untuk pamer, akan tetapi…
“Tetap saja bikin iri…!”
Aku sedikit melakukan ini dan itu, terhitung salam perpisahan maka akan terjadi selama beberapa hari saja, sih!
Karena merasa tak nyaman, ia segera memberontak bahkan sampai menaikkan suhu disekitarnya, namun sayang… itu sudah tak mempan padaku lagi, Al…
“Hentikan…! Tadi kau bilang tantang hal yang dilakukan pertama kali bukan! Kenapa kau tak pergi ke asrama dan mengecek kamarmu!?”
“Ah benar, juga…! Tapi, asrama dimana?”
“Ikuti aku!”
Setelahnya, aku segera mengikuti Al yang sedang menuju ke daerah Asrama putra yang disediakan oleh pihak Akademi, aku tak sabar… seperti apa bentuknya, ya…!
__ADS_1