Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 12: Kembali Pulang


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, saat ini waktu menunjukkan pukul 09:00 pagi, penerbang kami akan berangkat beberapa menit lagi.


Aku, Pak Ari dan Pak Tri sudah berada di Bandara Tokyo saat ini. Mengucapkan selamat tinggal dengan Tooru-san.


Setelah mengarungi 2 hari yang sungguh tak bisa di ucapkan dengan kata-kata… Banyak hal yang sudah terjadi selama aku di Tokyo. Sudah saatnya aku kembali pulang ke rumah ku, ke kampung halaman ku yang tercinta, Indonesia.


Sedikit mendramatisir keadaan boleh, ya… Lagi pula, Tooru-san sedang melakukannya saat ini.


Dia saat ini sedang menangis dan memeluk tubuhku. Ini sedikit, errr… menjijikan kurasa.


“Huuwaaaa! Saidhan-kun, hati-hati dijalan! Jangan sampai mabuk udara, ya…!”


Pak Tri juga berpikiran yang sama denganku, namun disisi lain, Pak Ari justru memperberat keadaan.


“Huuwaaa! Tenang saja Tooru… biar ku pastikan dia pulang dengan selamat.”


Ucap Pak Ari sembari ikut-ikutan memeluk ku. Sementara itu, aku hanya bisa member isyarat meminta bantuan kepada Pak Tri.


Namun dia hanya merespon dengan menggeleng kepala dan tersenyum.


Hah, sungguh menyiksa batin… di peluk dua orang aneh dan menjadi pusat perhatian… sungguh, sungguh, memalukan!


“Ah, Sudahlah Pak, Tooru-san! Aku pasti baik-baik saja kok!”


Ucapku guna menenangkan mereka berdua. Namun rupanya ini belum cukup. Dan akhirnya, Pak Tri turun tangan.


“Hentikan Ari, Tooru! Ini merepotkan Saidhan!”


Ujar Pak Tri sembari menarik kerah mereka berdua menjauh dariku. Akhirnya bisa bernafas lega…


“Haaahh!”


Mereka berdua Nampak masih saja seperti biasa… aku tersenyum secara tak sadar karenanya.


Sudahlah itu tak penting, penerbangan kami akan di mulai 10 menit lagi. lebih baik kami sudah stay di pesawat.


“Ayo… sudah tinggal 10 menit lagi!”


Ajak Pak Tri.


“Ah baiklah, baiklah!”


Pak Ari menyaut sembari mengusap air matanya… orang ini nangis beneran, toh.


Kami mulai berjalan dan mengucapkan salam perpisahan, namun…


“Tunggu, Ari-san, Tri-san… bisakah kalian duluan? Ada yang ingin ku bicarakan empat mata dengan Saidhan-kun!”


Ucap Tooru-san dengan ekspresi yang menunjukan keseriusan.


Pak Ari dan Pak Tri sedikit saling menatap satu sama lain sesaat. Kemudian mereka mengangguk.


“Ehm, boleh saja! Asal jangan lama-lama…”


Ujar Pak Tri.


“Kami duluan dulu, jaga dirimu Tooru!”


Pak Ari mengucapkan selamat tinggal dan melambai.


“Hmm, tentu saja!”


Lalu, dia menatap ke arahku. Aku sedikit bingung merespon nya.


“Ada apa?”


Aku coba bertanya.


“Saidhan-kun… tentunya kau ingat bukan kejadian dua hari lalu?”


Aku merespon dengan mengangguk.


“Ini memang merupakan statement kasar tanpa bukti-bukti yang kuat, namun firasat ku mengatakan itu adalah kebenaran…”


Dia tiba-tiba mengatakan topik yang berat secara tiba-tiba.


“Apanya yang benar? Bukti apa…”

__ADS_1


“Ini soal Magician itu… Pihak kami sudah menyelidikinya! Dan belum menemukan koneksi pelaku dengan Parlemen sihir…”


Eh? Orang itu… bukan suruhan dari Parlemen Sihir? Apa maksudnya itu?


“… akan tetapi, kami menemukan sedikit Koneksi dengan seseorang Shaman dari Negara asal mu, Indonesia!”


Aku sedikit tersentak karena itu.


“D-dia dari Indonesia?”


Dia mengangguk dan berkata…


“Ya, salah satu buktinya adalah Artifak Sihir itu sendiri! Jejak historis mengatakan kalau benda itu merupakan salah satu bagian dari Candi Prambanan!”


“Eh, benda itu? Bagian dari Prambanan?”


“Menurut cerita rakyat setempat, Bandung Bondowoso memanggil pasukan Jin guna membuat seribu candi untuk Roro Jonggrang bukan?”


Aku mengangguk.


“Ehm, ya… aku pernah mendengarnya!”


“Dikatakan, kalau Artifak itu adalah alat yang digunakannya untuk memanggil pasukan Jin itu!”


Tentu saja hal yang dikatakan Tooru-san membuatku sangat terkejut bukan main.


“Alat itu? Benarkah…”


“Iya, setelah kami meneliti, nampaknya Artifak itu memiliki kemampuan yang berhubungan dengan jiwa! Itulah sebabnya orang itu memilki kekuatan energy sihir yang besar, jiwa nya diperkuat dengan itu!”


Aku hanya bisa terdiam tak bisa menjawab.


“Oleh karena itu… aku memohon kepadamu! Tolong jadilah kuat! Para Magician sudah lama memulai pergerakan yang mencurigakan! Dengan kejadian ini juga menimbulkan spekulasi dan kemungkinan para Magician tipe kuno akan mengganggu hidupmu…”


“Aku tak ingin itu terjadi… jadi tolong, teruslah bertambah kuat!”


Tooru-san menunduk 90 derajat memohon… sementara diriku, masih diam tak merespon.


Esper dan Magician, ya… Hahaha, sungguh permasalahan yang merepotkan. Inilah salah satu alasan mengapa aku sejak dulu kurang menyukai mereka.


“Melihat bagaimana kerasnya rivalitas Esper dan Magician, Sains dan Sihir… aku tak pernah menginginkan hal seperti ini! Itulah mengapa mungkin, aku belum tentu bisa memenuhi permohonan mu!"


"Untuk saat ini… aku tak berencana untuk bertambah kuat, secara pasti!”


Tooru-san mengangkat kepalanya menatapku, pandangannya Nampak sedikit kecewa dengan jawabanku.


Aku berbalik menuju pesawat karena jadwal penerbangan sebentar lagi. ditengah-tengah itu aku sedikit menghentikan langkahku.


“Setidaknya sampai aku menemukan alasan pasti untuk bertambah kuat!”


Perkataan itu, menggerakkan hati Tooru-san untuk tidak berhenti berharap.


“Sampai saat itu tunggulah aku di sana… Suatu saat kita pasti akan ada di medan yang sama, Tooru-san!”


“Tentu saja, akan kutunggu sampai kapanpun, bertarung di medan yang sama denganmu Saidhan-kun!”


Kami tersenyum dan melambaikan salam perpisahan untuk sementara, walau firasat ku mengatakan kalau perpisahan ini tak akan berlangsung lama!


“Menjadi kuat, ya…”


Mungkin aku harus memikirkan baik-baik tentang hal ini. Jika Magician tipe kuno benar-benar akan melakukan hal-hal yang mengancam kedamaian, apa reaksi ku, ya?


“Haha, aku jadi bingung, aku ini orang yang apatis atau naif, yaa?”


“Saidhan! buruan kemari! Sudah waktunya!”


Teriakan dari Pak Ari membuyarkan lamunanku. Ini sudah waktunya pesawat kami berangkat…


“Ahh, iya!”


Aku segera bergegas menuju pintu pesawat, di sana salah satu Pramugari dan Pak Ari sudah menunggu.


“Lama banget…”


“Tolong tiketnya…”


“ini…”

__ADS_1


Setelah memberikan tiket pesawat, aku segera memasuki pesawat bersama Pak Ari.


“Tadi kalian bicara tentang apa?”


Pak Ari menanyakan tentang pembicaraan tadi, mungkin karena cukup lama ia menjadi penasaran. Apa aku harus memberitahunya?


“Tidak, bukanlah hal yang terlalu penting…!”


Dia hanya mengatakan ‘oh’ saja, tumben sekali… Melihat dari bagaimana sifatnya, ku pikir dia akan memaksakan pertanyaannya sampai aku memberitahunya. Ternyata Pak Ari bisa tenang juga, walau situasi yang biasa saja.


Karena tak ada hal yang perlu di bicarakan, aku segera menuju kursi ku dan langsung duduk. Masih memikirkan tentang apa yang harus dilakukan nantinya.. yaa, itu tunda saja nanti.


Saat ini, sudah 3 hari semenjak kepulangan ku dari melakukan Test Stage di Jepang. Kepulangan ku membawa sedikit keributan untuk keluargaku.


Entah mengapa, Ibuku menangis karena aku memiliki kemampuan khusus sekarang. Namun ia juga sedikit sedih ‘karena melihat diriku yang kecil sudah besar dan bisa terbang bebas’ itulah yang ia ucapkan.


Ayah juga begitu, ia nampak senang dan terkejut, senang karena aku akhirnya memiliki kemampuan khusus, terkejut kerena aku adalah seorang Stage 7 saat ini.


Tak mau ikut ketinggalan, Kakak ku, Violet segera menelpon rumah setelah ia mendengar berita kepulangan ku. Ia banyak mengoceh tentang berbagai hal di telepon.


Untuk kasusnya, aku sedikit senang karena aku ada di Stage yang lebih tinggi dari pada dirinya, dia mungkin sedikit kehilangan keberanian untuk menyuruh-nyuruh diriku saat ia sedang bersantai di rumah.


Aku sudah punya senjata yang ampuh melawannya.


Begitupun dengan keluargaku, masyarakat sekitar juga ikut heboh dan kaget dengan berita yang beredar, tentang seorang anak baru SMA dari Indonesia menjadi Stage 7 ke-9.


Saat ini, tagar #newstage7 sedang trending di berbagai sosial media, di seluruh belahan dunia. Mereka penasaran tentang bentuk dan kemampuan orang itu, karena SRC hanya mengumumkan nama saja, ia tak memberikan contoh foto-ku di berita yang mereka muat.


Jujur, aku senang akan hal itu, akan tatapi… hal ini tak berlaku di negaraku sendiri. Mungkin, orang-orang yang kenal denganku akan menyadari hal ini… namun bagaimana dengan orang yang kenal denganku? Entahlah, aku sendiri tak tahu.


Beredar sebuah foto orang yang diduga sebagai si Stage 7 di sosial media, dan sialnya, foto itu benar-benar fotoku. Sungguh sial sekali… aku masih tak tahu tentang siapa orang yang menyebarkan fotoku tanpa izin.


Bahkan alamat rumahku juga tersebar, dan alhasil… rumahku diserbu oleh media massa. Untungnya saja, aku memiliki skill menyelinap yang hebat. Tapi, darimana aku mendapatkan skill seperti itu, ya? Entahlah…


Tetap saja aku kesal sekali dengan orang yang tek bertanggung jawab itu. Ini melanggar hak privasi seseorang.


Ah sudahlah… lupakan tentang hal itu.


Saat ini, aku ada di sebuah bukit kecil di pinggir kota bersama dengan Rei. Setelah pulang sekolah, aku mengajaknya kesini. Untuk latihan penguasaan dan sedikit refreshing.


Tentu saja seisi sekolah sudah mengetahui tentang hal yang sebenarnya dari seorang Stage 7 terbaru ini. Dan karena itu, aku banyak ditimpa hal-hal merepotkan, seperti kakak kelas yang mendadak mendekatiku. Orang-orang bodoh yang justru mengajak bertarung, hanya untuk membuktikan dirinya adalah yang terkuat.


Bodoh sekali, doktrin Stage adaah segalanya benar-benar sudah mereka resapi hingga ke akarnya.


Sungguh kasihan sekali… ya, sudahlah aku pun tak terlalu memperdulikan hal itu. Aku bisa menghindar dengan bantuan dari Rei.


Saat ini, aku mengajaknya ke bukit di pinggir kota hanya untuk membantuku latihan kecil. Walau bagaimanapun, aku tak bisa untuk menghiraukan peringatan dari Tooru-san.


Yah, setidaknya aku akan sedikit memperlancar kendaliku dalam menggunakan kemampuan ini.


“Sudah siap?”


“Siap!”


Kami sedang berdiri berhadapan dalam jarak 4 meter, dengan pepohonan rindang di sekeliling kami. Rei menunduk dan mengambil beberapa batu yang tergeletak di tanah.


“Oke, aku mulai, nih… Acceleration!”


Mengaktifkan akselerasi miliknya, Rei segera bergerak dengan cepat ke dahan pohon, ke tanah dan berulang kembali. Sampai-sampai sosoknya mulai menjadi samar karena kecepatan miliknya.


“Mulailah!”


Menyerukan tandanya, sebuah batu terlempar dengan cepat ke arah samping kiri ku. Aku memejamkan mata menunggu intuisi bahaya.


“Di sana!”


Intuisi cepat datang dari sebelah kiri, batu yang dilemparkan berhenti tepat sekitar 10 cm dari tubuhku.


“Hoh, boleh juga! Kalau begitu, bagaimana kita naikkan levelnya, bagaimana?!”


Rei mengatakan itu disela-sela pergerakannya tanpa berhenti.


“Siapa takut!”


Tantangan darinya ku terima. Ini akan sedikit menarik.


“Oke… akan ku mulai!"

__ADS_1


__ADS_2