
[Disintegration : Noir]
Aku melepaskan seluruh energi Nothingness yang tersisa. Mengangkat sebelah tanganku sedikit keatas, dengan yang sebelahnya sedikit menutupi bagian muka ku.
Sebuah kandungan bewarna gradasi hitam dan Biru tua muncul diatas jari-jari ini.
Itulah yang disebut sebagai Disintegrasi.
Sebuah energi yang bersifat melepaskan dan memisahkan. Proyeksi yang menggunakan kemampuan untuk memisahkan zat-zat penyusun suatu benda secara fundamental.
Bahkan sebuah energi sihir sekalipun memiliki zat atau partikel penyusunnya. Seluruh Energi sihir alam di dunia ini sebenarnya adalah golongan dari Dark Matter.
Namun hanya sedikit lebih kompleks dan mampu dilihat bahkan dengan mata telanjang sekalipun.
Energi sihir juga adalah penengah antara Ada dan Tiada. Atau jalan menuju Void Room...
Karena itulah, energi sihir yang dipancarkan oleh ketidak stabilan dari Kisa ini. Akibat dari ledakan sihir Heavenly Eye’s.
Dimana kondisi ini, bisa saja menjadi penghubung... Karena Energi Nothingness milikku berpotensi sinkronisasi dengan energi dari Heavenly Eye’s yang melihat segalanya yang ada.
Energi itu melesat, menusuk kepada pusaran sihir besar dari Heavenly Eye’s. Aku memejamkan mataku... mencoba merasakannya.
Ruangan putih yang seperti retak... di sana terdapat seseorang gadis kecil yang menghadap kearah yang berlawanan dengan arah pandanganku.
Disitu aku sadar, keberadaan diriku sudah memasuki Imaginary Space dari Kisa. Tanpa pikir panjang aku memanggilnya.
“Oi...! Kisa... Kisa...!”
Entah suaraku bisa didengar olehnya atau tidak. Karena, hanya kesadaran ku saja yang seharusnya ada disini. Tapi, aku pernah ada di keadaan seperti ini waktu itu, disaat aku bertemu dengan Artosh.
Dan hasilnya, itu bisa didengar... begitu juga dengan kali ini.
Kisa nampaknya mendengar suaraku, dari gelagat yang ia tunjukkan. Ia mulai menoleh kekanan dan kekiri. Mencoba mencari dimana asal suaraku.
Hingga, dia menatap kearah sini... aku tak tahu apa yang dia lihat. karena saat ini, aku merasa kalau masih tak berbentuk.
Akan tetapi, setelah dia menatap kearah sini, ia sama sekali tak bergerak lagi. Ia fokus kesatu arah. Aku tak tahu apa, tetapi... matanya terlihat meneteskan sebuah air mata.
Raut wajahnya yang sebelumnya sedikit suram kembali dalam senyumannya... Senyuman yang entah mengapa cukup kuridukan itu, senyuman tulus dari anak perempuan ini...
“Kakak..!”
Ucapnya lirih, terdengar cukup rendah bagiku. Dia mulai berjalan pelan... yang lama-kelamaan berubah menjadi lari.
Sementara diriku, aku sudah mulai merasakan sebuah gerakan. Perlahan tapi pasti, imajinasi Kisa mewujudkan tubuh fisikku.
Merentangkan tanganku ke depan... berusaha saling menggapai satu sama lain.
“Kisa...”
Ia melompat pelan, jatuh kedalam pelukanku...
Setelah beberapa hari kebelakang... aku kembali menggapainya lagi.
“Akhirnya, aku bisa menemukanmu lagi, Kisa!”
“Kau baik-baik saja?”
Dia tak menjawab, kepalanya masih menyandar di kepalaku. Itu terasa sangat dingin, Kisa terasa sangat dingin disaat aku sentuh.
“Kisa, ada apa?”
“Aku kira, kita tidak dapat bertemu lagi...!”
Kisa akhirnya membalas pertanyaan ku itu. Jelas sekali bahwa pernyataan yang ia berikan bermakna dalam sekali. Aku sedikit tak bisa mengerti hal itu...
“Ahh, hal seperti itu tidak mungkin kok! Kau masih bisa bertemu denganku, dan juga dengan yang lainnya!”
Yang kulakukan sekarang adalah mencoba untuk menghiburnya, membuatnya bangkit kembali dan memberinya semangat.
Untuk saat ini, hanya itulah yang Kisa butuhkan. Untuk mengobati trauma mentalnya itu. Dia harus bisa bangkit kembali.
“Tidak, bukan itu...! kupikir, dunia kita sudah berbeda lagi! Realitas kita sudah terpisah...”
Kisa membalasnya, aku harus memutar otak untuk dapat mencerna arti kata-kata itu. Tapi disini adalah titik terang...
‘Dunia yang berbeda? Apa ini yang dimaksud Artosh dengan perbedaan Dimensionalitas.
Untuk sekarang, aku agak paham dengan ini semua.
“Ya, saat ini kau bisa memanggilku sebagai mahluk tak beraturan yang hadir dimana-mana! Di seluruh dunia, di seluruh dimensi! Aku ingin kau menyebutku begitu...”
Aku mengucapkan itu dengan senyuman, perlahan Kisa mulau mengangkat kepalanya. Melihat kearah ku dengan mendongak...
“Dan mahluk yang beraturan ini tidak akan membiarkan seorang gadis sendirian di dunia yang berbeda! Aku pasti akan menemukanmu dan membawamu pulang!”
“Apakah itu benar...!?”
Kisa kembali membalasnya, aku dengan tenang segera menjawab itu.
“Ya tentu saja, kenapa tidak...!?”
Dia kembali menunduk, dengan segala keraguan yang masih membesut didalam hatinya.
“Apa semuanya tidak akan menolakku lagi?”
“Rasanya tidak pernah ada yang menolakmu!”
“Apa realitas kita bisa bersatu?”
“Kalau tidak bisa, aku akan rubah realitas itu!”
Semuanya sudah mulai teratur lagi, aku bisa merasakan ketegangan energi sihir yang ada di dunia asli. Dengan kata lain, aku merasakannya melalui tubuh asliku.
“Kisa ini sudah saatnya kita kembali...!”
Aku mengatakan hal itu, Kisa nampaknya masih saja ragu.
“Tapi...”
“Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja! Surgamu, pasti akan mengabulkan permintaanmu itu!”
Ya, aku mengingatnya... Kisa yang sekarang, adalah
seorang Neo Genesis. Itu adalah sebabnya dia meragukan keberadaannya bersama denganku sekarang.
“Apa hal yang paling kau inginkan... Kisa?”
“Terus bersama...”
Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Kisa, aku dapat merasakannya sebuah energi besar sedang bergerak dengan mantap. Berputar dan berputar...
Sungguh energi yang bahkan melebihi pancaran dari Heavenly Eye’s sekalipun.
“Wahai surgaku! Jika ada hal yang bisa kau kabulkan untukku adalah! Biarkan aku terus bersama dengannya! Dengan Kak Saidhan, dengan Kak Sylphy, dan dengan
yang lainnya!”
__ADS_1
“Hanya itu yang aku inginkan...”
Kisa akhirnya meneriakkannya dengan lantang... tentang keinginan terbesarnya.
Seketika, terciptalah lubang besar diatas langit. Aku tau itu, tidak akan berdampak buruk sama sekali.
Itu adalah bentuk dari Heaven's One yang sedang Kisa gunakan. Ya, itu benar sekali Kisa...
“Ya... tentu saja, kita semua sudah kembali bersama!”
Aku yakin akan hal itu, sudah tidak ada yang bisa mengganggu mu, Kisa! Kau sudah aman...
Itu semua adalah hal yang nyata, pancaran dari
keberhasilan Kisa, sebagai Heaven’s One. Itu sudah selesai, kami berdua melayang terbang dan berputar. Menuju lubang besar dari Heaven's One...
Sementara itu....
Di suatu tempat yang tak jauh dari lokasi mereka sekarang...
Haki sebenarnya sama sekali belum terlalu menjauh dari lokasi sebelumnya. Ia hanya keluar dari tempat itu agar memudahkannya untuk melarikan diri.
Haki saat ini sedang berada di udara, melihat pancaran cahaya yang berasal dari tempat persembunyian nya sebelumnya. Sebuah energi yang besar terasa dari situ... untuk sesaat ia berpikir beruntung kalau dia bisa melarikan diri dari situ.
Tapi, disisi yang lain ia merasakan rasa kesal yang amat sangat besar karena tak bisa menyelesaikan tugas dari R.I.O
Yaah, mungkin R.I.O akan memakluminya, karena saingannya adalah murid-murid ACJ yang terlampau kuatnya.
“Untuk kali ini saja... aku akan mengalah!”
“Tapi selanjutnya... lihat saja!”
Sebuah rasa optimis setidaknya masih ada didalam pemikiran Haki setelah kekalahan ini. Tapi nampaknya... rasa optimis itu tak akan bertahan terlalu lama.
Karena...
“Sayang sekali, itu tak mungkin!”
Suara dari seseorang yang berada tak jauh dari Haki. Seharusnya itu tak mungkin... karena ia sedang ada diketinggian setidaknya 100 meter diatas permukaan tanah.
Sosok Tooru Shinyaku sudah berada didepannya. Terbang menggunakan sayap-sayap yang berstruktur ribuan partikel manjadi satu.
Aura yang menyeramkan bisa dirasakan oleh Haki. Sebuah aura yang membuatnya mengerti atas rasa dari kekalahan telak dan keputusasaan.
“Kau... tak mungkin!”
Ucap Haki kalang kabut, dibalas dengan senyuman dari Tooru-san.
Dengan buru-buru... Haki merapal sihirnya, ia membuat angin mendorong agar Tooru-san segera menjauh darinya.
“Haaah!!”
Tapi, dorongan angin itu sama sekali tak berimbas kepada Tooru-san. Sayap-sayap Partikel itu ia gunakan untuk menepis dorongan dari angin yang dilancarkan oleh Haki.
“Serangan murahan seperti itu sama sekali tidak mempan untukku! Sayang sekali...”
Tatapan yang diberikan oleh Tooru Shinyaku saat ini adalah, sebuah tatapan yang membuat Haki merinding seketika.
Tooru-san dengan cepat mengangkat tangannya, memberikan telunjuknya beberapa centimeter didepan wajah Haki. Dengan pandangan yang masih sama dengan sebelumnya.
Setetes keringat meluncur turun di wajah Haki. Terlihat wajah penuh adrenalin dimuka Haki saat ini. Dan kemudian...
*Duarr!
Sebuah ledakan reaksi kecil tercipta pada ujung jari telunjuk dari Tooru-san itu. Tentu saja, efek ledakan kecil itu tak berpengaruh kepada dirinya sendiri. Ia menargetkan kepada Haki. Namun sayangnya...
Haki tidak ada di sana, tak jauh dari tempat itu terlihat Haki yang sedang bergerak dengan cepat. Kabur meninggalkan Tooru-san dengan Air Boost yang ia gunakan dikakinya.
“Aku sudah menyelesaikan bagian ku, sisanya kuserahkan kepadamu, Sua!”
Sementara disisi Haki, ia masih bergerak cepat. Sama sekali tidak menyentuh tanah sedikitpun. Karena itu akan mengurangi kecepatannya.
Ia sungguh panik, tak pernah disangka kalau seorang yang sangat kuat, bahkan hampir setingkat dengan Rajanya.
‘Sungguh tak bisa dipercaya, Tooru Shinyaku...! Mengapa kau ada di sana!?’
Batin Haki, disela-sela itu ia sempat menoleh kebelakang. Melihat jika saja Tooru mengikutinya.
“Ini sudah cukup jauh kurasa, dan juga dia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mengejar! Apa yang sebenarnya ia rencanakan?”
Haki masih terus bergerak dengan cepat... hingga, ia merasakan hawa keberadaan seseorang dibelakangnya.
“Hah...!?”
Haki berbalik, melihat sesosok bayangan seseorang yang sedang terjun dari atas menuju dirinya. Ia bisa merasakan tegangan listrik yang kuat dari orang itu. Sungguh jelas sekali ia berbahaya.
“Cih datang lagi pengganggu, kah!?”
Disaat Haki ingin melancarkan serangan terlebih dahulu... ia merasakan sesuatu yang seakan berubah dari dalam tubuhnya...
*Dug!
“Aa-“
Haki mencoba untuk merasakan seluruh tubuhnya, tapi ia merasa mati rasa. Seakan-akan terdapat sesuatu yang menghentikan aliran peredaran darahnya.
‘Apa yang...!?’
Batin Haki... mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya itu. Dan seketika, ia mengingat tentang Tooru Shinyaku.
“Jadi ini tujuannya, kah?”
Lanjut Haki, kali ini ia meneriakkannya secara langsung.
Bayangan seseorang itu sudah semakin jelas. Ia adalah seorang wanita, Haki merasakan setrum listrik yang semakin kuat diiringi dengan semakin dekatnya wanita itu.
“Hyaah...!”
Wanita itu adalah Hiwa Sua, seorang Stage 7 sama seperti Tooru Shinyaku. Ia muncul didepan Haki dengan tangan yang penuh dengan kilatan listrik.
“Sial...!”
Setrum listrik yang sungguh besar, Haki kembali merasakan rasa sakit itu dengan kuat. Setelah menerima itu, ia terlempar keatas.
Sua turun kebawah dan menatap keatas...
“Ini adalah Eksekusi...!”
Ucap Sua...
Ia mengangkat sebelah tangannya keatas, dengan pose jari sebagai Pistol. Mengarahkannya kearah Haki jatuh...
“Bum...!”
Pada awalnya, Sua hanya memfokuskan energi listrik nya di ujung jarinya. Di bantu dengan seluruh cadangan listrik yang ada di seluruh kota.
Ia melepaskan sebuah tembakan meriam Railgun yang kuat sekali...
__ADS_1
Sementara Haki yang sudah tak bisa kabur lagi hanya bisa pasrah, dengan seluruh makian dan kekesalannya yang menumpuk dihatinya..
“Sialan kalian...! Boneka Ilmuwan!”
*Duarr!
Tembakan Railgun itu menuju keatas, menciptakan ledakan yang cukup besar terjadi di langit. Dampaknya, seluruh listrik di kota harus padam untuk beberapa hari kedepan karena hal ini...
Sedangkan disisi Tooru, dia sedang terbang dengan kecepatan santai menuju posisi Sua. Melihat pancaran listrik yang menggelegar itu... Tooru sudah mengetahuinya.
“Sudah selesai, ya...!”
‘Sua memang hebat sekali...! Tapi,ledakan listrik yang diberikan bisa sebesar itu... apa tidak berlebihan!?’
Lanjut Tooru melihat pancaran itu... didalam pikirannya. Semuanya melihat itu. Event kebangkitan Heavenly Eye’s, sudah selesai...
Sementara itu... disisi lain..
“Haki gagal, katamu? Apa itu benar...?”
Seorang lelaki yang sedang duduk dan membaca bukunya berbicara seperti itu... dibelakangnya, terlihat dua orang yang sedang berlutut kepadanya. Lelaki itu membelakangi dua orang yang nampaknya adalah bawahannya.
“Itu benar sekali... Tuan!”
Balas salah seorang lelaki kepada tuannya, setelah diidentifikasi. Kedua orang itu adalah Renra dan Jhon.
Dua orang yang harusnya berada di misi yang sama dengan Haki dalam perebutan Heavenly Eye’s.
Dengan begitu, berarti dari segala kemungkinan yang ada. Seorang laki-laki ini adalah dalang dari semua masalah yang ada selama ini.
Seseorang yang berusaha mengumpulkan segala jenis Artifak sihir langka dan super kuat. Guna menutupi dunia dengan zona sihir besar.
Sang Soul Magician, penyihir jiwa... R.I.O
Dan seorang sepertinya, hanya diam saja setelah mendengar informasi yang disampaikan oleh bawahannya itu.
Ia menutup bukunya segera, menimbulkan suara yang terdengar cukup keras jika didengar dari dekat.
“Begitu, ya...! itu sangat disayang sekali...!”
Ucap RIO dengan sedikit menundukkan kepalanya.
“Benar sekali, sungguh disayangkan! Padahal dengan Heavenly Eye’s kita bisa-“
Sebelum Renra menyelesaikan ucapannya, RIO tiba-tiba memotong pembicaraannya itu.
"Tidak...!”
“Eh?”
“Tidak, bukan itu yang ku maksud! Yang ku maksudkan bukan tentang Heavenly Eye’s!”
“Tapi, Haki lah yang ku maksudkan!”
Ucap RIO... tentunya hal itu membuat Renra bahkan John yang sedari tadi diam saja ikut terkejut dengan pernyataan itu.
“Kenapa Tuan? Dia itu hanyalah seorang yang gagal, anda tak perlu memikirkannya!”
Balas Renra...
“Jika saja anda memiliki Heavenly Eye’s... anda pasti bisa menemukan banyak Artifak sihir yang langka! Dengan begitu akan mempercepat rencana kita semua!”
Balas Renra lagi, ia nampaknya masih bingung tentang
alasan mengapa RIO justru lebih memikirkan Haki yang tertangkap daripada mereka yang gagal mendapatkan Heavenly Eye’s.
RIO memejamkan matanya untuk sesaat...
“Jadi, menurutmu begitu, ya...?”
“Ah, maafkan saya, saya bukan bermaksud untuk seperti itu...“
Renra langsung meminta maaf, sekiranya kalau ia sudah mengucapkan hal yang berlebihan di hadapan RIO.
Sementara itu, RIO langsung membalasnya.
“Tidak, itu tidak apa-apa...! lagipula semua yang kau ucapkan itu memang benar adanya!”
“Jika aja aku memiliki Heavenly Eye’s semuanya akan menjadi lebih mudah!”
Ucap RIO... itu dibalas anggukan oleh Renra dan John.
“Tapi, jujur saja...! dari awal, aku ini tidak terlalu berharap pada Heavenly Eye’s!”
Lanjut RIO, sontak membuat Renra terkejut. Pasalnya, RIO sendiri yang memerintahkan mereka bertiga untuk mendapatkan Heavenly Eye’s.
“Kenapa, tuan?”
“Kau tahu, Heavenly Eye’s itu adalah mata para Dewa... dimana mewariskannya itu mustahil! Tapi yang ku baca dibuku, Memiliki Heavenly Eye’s memungkinkan jika kita mengambilnya dari hasil Evolusi! Tapi itu semua hanyalah kemungkinan...bisa berhasil ataupun gagal.”
“Aku belum memberitahukannya kepada kalian, tapi aku sudah memberitahukannya kepada Haki! Itu mungkin salah satu alasan ia berani bertindak sendiri, meskipun ia yang paling lemah diantara kalian...”
Ucapan dari RIO tadi itu, kembali mengingatkan Renra dan John soal Hak. Semua rencana yang telah ia siapkan itu semuanya berlandaskan kata kemungkinkan...
“Dia itu, kenapa melakukan hal seperti itu..!? tak seperti dia yang biasanya.”
Gumam Renra, wajar saja ia bingung atas tindakan dari Haki. Karena mengingat sifatnya yang licik dan penuh perhitungan... tak mungkin ia mau melakukan hal yang besar dan berbahaya hanya dengan landasan
‘Kemungkinan’.
“Entahlah, siapa yang tahu...”
Jawab RIO...
“Kalau begitu, Tuan... Apa anda ingin saya dan John mengambilnya?”
Ucap Renra menawarkan, karena masih ada kemungkinan. Ia ingin sekali mencoba merebut Heavenly Eye’s yang gagal didapatkan oleh Haki sekalipun. Itu cukup menantang baginya...
“Sebaiknya tidak perlu...! Saat ini, kita sudah kehilangan Haki sebagai daya tarung... aku tak mau mengambil keputusan yang gila dan mempertaruhkan kalian untuk sekarang...”
Balas RIO, dia saat ini benar-benar memikirkan tenang seluruh bawahannya. Sebagai daya tarung, seluruh bawahannya sangatlah membantunya untuk sama-sama meraih seluruh tujuan mereka.
“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Untuk sekarang, tentu saja... kita akan fokus ke tujuan kita selanjutnya...!”
RIO bangkit dari tempat duduknya, kemudian maju beberapa langkah ke depan.
“Yang menjadi tujuan kita selanjutnya, sesuatu yang tersembunyi di Semarang! Itu adalah tujuan kita selanjutnya...”
...........................
....................
...........
.......
__ADS_1
...Go To Semarang Incident...
...The First Event Completed...