
Melewati perjalanan yang cukup panjang, tak terasa kami sudah sampa di Jepang. Langsung saja kami pun segera turun dan mulai pergi ke Labolatorium.
“Sudah sampai kah…”
Pak Ari terlihat sedikit meregangkan tubuhnya.
Yaa, dia memang tertidur selama perjalanan kami.
“Jadi, kemana kita akan jalan-jalan sekarang…?!”
Waahh, kami sepemikiran…
*Bug!
“Kita datang kesini bukan untuk bermain-main!”
Pak Tri langsung saja membenarkan tujuan Pak Ari yang sedikit melenceng.
“Ayolah! Jalan-jalan di kota sedikit boleh kan? Lagipula kita ini kan belum makan! Benarkan Sai?”
DIa menanyaiku…
“Ahhh, yaa…”
Sementara itu, Pak Tri hanya merespon dengan memegangi dagunya. Kalau dipikir-pikir, memang benar kalau kami belum makan sejak naik pesawat.
“Baiklah, Ayo kita mampir ke kota dan membeli makanan…!”
Pak Ari tersenyum kerena mendengar itu.
“Ayoo!!”
Setelah itu, kami segera pergi ke kota dan membeli makanan, seperti yang di rencanakan. Kami pergi ke sebuah Restoran lokal di sini.
Karena merasa asing dengan makanan di Jepang, aku hanya membeli semangkuk Ramen, begitu pun dengan Pak Tri. Sedangkan Pak Ari, ia membeli berbagai macam makanan yang tak aku ketahui namanya apa.
Pak Ari terlihat makan dengan leluasa, karena ini, Pak Tri langsung memperingatinya.
Setelah selesai makan kami, tidak… lebih tepatnya Pak Ari menjadi kebablasan. Bukannya langsung menuju Labolatorium, dia justru malah mengelilingi kota.
Hal ini karena, di tengah acara makan-makan kami, Pak Tri di telepon. Dan karena itu pula, ia langsung pergi meninggalkan kami. Padahal dia belum menghabiskan makanannya.
Dan karena itu lah, Pak Ari menjadi tak terkendali. Dia bahkan mengajakku sekalian, sudah hampir 2 jam kami berkeliling kota ini. Kami banyak mengunjungi banyak tempat yang mengelilingi menarik.
Padahal ini sudah terlambat dari jadwal yang seharusnya, walau begitu aku tak berhak memperingatinya. Toh, aku juga sangat menikmati ini…
Aku tak bisa berbohong soal ini, aku sangat antusias setiap kami mendatangi tempat-tempat yang menarik, seperti pusat perbelanjaan atau yang lainnya.
Tapi setidaknya, mungkin aku akan menanyakannya.
“Ahhh, Pak Ari, apa tak masalah kalau kita terus begini? Kurasa kita sudah melampaui jadwal yang sudah di tetapkan…!”
Pak Ari berhenti sesaat karena pertanyaan ku.
“Ayolah, Saidhan! Apa kau tak berasa ini menyenangkan?”
Eh?
“Ahh, yaa… ini memang menyenangkan! Tapi…”
Dia merangkul ku secara tiba-tiba.
“Kalau begitu tak apa- kan? Kau sendiri juga bersenang-senang bukan…?”
Ahh, orang ini, tidak baik sama sekali, sangat tidak baik…
Aku hanya bisa terdiam akibat melihat tingkah laku Pak Ari saat ini. Benar-benar tak disangka, padahal usianya itu sudah menginjak 29 tahun.
Apa masa kecilnya kurang bahagia, ya?
Dia bahkan belum menikah… Tunggu, apa karena sifatnya itu ia belum menikah?
Entahlah, aku tak terlalu ingin mengetahui urusan pribadi Pak Ari. Akan tetapi, huhh… aku jadi mengerti kenapa Pak Tri jadi rekannya, kau pasti kesulitan ya, Pak Tri. Walau sebenarnya dia itu bisa menjadi pria yang dapat diandalkan di saat tertentu.
Sekarang, Pak Ari mengajak ku pergi lagi. yah, aku tak bisa menolaknya. Malahan, aku tak ingin menolaknya.
Aku sudah terlanjur menganggap ini sebagai liburan.
Namun, itu tak berlangsung lama, secara tiba-tiba muncul sebuah mobil yang tiba-tiba berbalik arah dan mengarah ke kami berdua.
Orang-orang setempat terkejut akibat aksi yang di lakukan oleh si pengemudi mobil itu.
Setelah itu, keluarlah seseorang dari mobil itu. Dan ternyata, orang itu ialah Pak Tri!
“Pak Tri!?”
Pak Tri saat ini terlihat memasang ekspresi yang terlihat kesal. Sementara itu yang bisa dilakukan Pak Ari hanyalah bersembunyi di balik punggungku, dia terlihat sangat ketakutan.
“Aah, Hey… Pak Ari! Kau baik-baik saja?”
Dia hanya diam sementara dan berdegik ngeri.
“Tidak, aku sedang tidak baik-baik saja!”
“Eh kenapa?”
“Hahahaha, Saidhan… kau tak tahu sebagaimana menyeramkan nya Tri saat sedang marah!”
Ahh, jadi begitu ya…
“Ari!! kemari”
“Ah, ya…!?”
Pak Ari langsung saja keluar dari tempat persembunyiannya di belakang punggungku. Hanya dengan sekali suruhan, Pak Tri… kau hebat.
“Sekarang sudah jam berapa?”
“Ah, itu…!”
“Seharusnya yang kita lakukan sekarang adalah…?”
“Aa, yaah… Te-he!”
Ugh…
Pak Tri langsung saja memukulnya, dan dari suaranya itu cukup keras.
“Ahh, ya ampun kau ini!”
Ucap Pak Tri sembari mengusap-usap rambutnya, lalu dia melirik ke arah ku.
“Kau juga Saidhan, Jangan malah ikut keasikan seperti ini!”
“Ahh, maaf! Aku tidak bisa menahan hasrat ku untuk berlibur!”
Dia hanya menghela nafasnya.
__ADS_1
“Sekali lagi, maaf!”
“Sudahlah tak perlu di pikirkan! Ayo kita pergi sekarang!”
Dia mengajakku masuk ke mobil.
“Baik!”
Kami segera pergi meninggalkan tempat ini, dan menuju Labolatorium sekarang.
Setelah melewati beberapa menit, kami akhirnya sampai dan segera turun dari mobil.
Dan setelah aku melihat salah satu Labolatorium utama milik SRC, aku menjadi terbelalak.
Gede banget! Tempat ini, bahkan mall di daerah tempat tinggal ku saja kalah dengan seberapa besarnya tempat ini.
Berapa luasnya tempat ini? 1 hektar? 2 hektar? Apa tempat sebesar ini hanya di pakai untuk penelitian Stage?
“Ayo masuk!”
Ucapan Pak Tri membuyarkan khayalanku.
“Ahh, baik!”
Kesimpulan yang ku dapatkan saat ini, walau tempat ini terlihat sangat besar dari luar, tapi ternyata dalamnya tak sebesar perkiraan ku.
Dan justru, lorong semua isinya!? Ini labolatorium apa labirin, sih?
“Apa benar lewat sini?”
Setidaknya ku tanyakan dulu.
“Ya, ruangan mu untuk melakukan Test ada di depan sana!”
Aku kembali menatap ke depan, ternyata benar! Terdapat sebuah pintu yang ukurannya cukup besar.
Saat di buka ternyata hanya ruangan biasa yang tak terlalu besar. Namun, terdapat beberapa orang yang memakai pakaian layaknya seorang ilmuwan dan satu orang yang memakai pakaian kasual biasa.
Setelah menyadari datangnya kami, orang yang tak memakai baju ilmuwan itu datang mendekati kami. Siapa dia sebenarnya? apa dia bagian tim penguji saat ini? Tapi dilihat dari perawakannya dia tak terlalu terlihat tua, mungkin hanya berjarak beberapa tahun dariku.
“Ahh, halo kalian semua! Akhirnya kalian datang!”
Dia menyapa kami.
Eh, bahasa yang ia pakai barusan! Bahasa Indonesia?!
Tapi, kenapa? Dilihat pun juga tahu, dia ini orang jepang!
“Ooo, Tooru! Lama tak jumpa…”
Jadi dia kenalannya Pak Ari toh, pantas saja
“Ari-san! Apa kabar!?”
“Aku baik-baik saja! Kau sendiri bagaimana?”
“Apa aku pernah dalam keadaan tidak baik?”
Ucapnya dengan sedikit candaan.
“Ah, benar juga ya!”
Mereka berdua tertawa bersama-sama.
“Jadi, kau datang untuk melihat?”
Ah, orang ini… padahal dia sendiri yang bilang kepadaku kalau jangan terlalu memberitakan ini kepada orang lain. Tapi dia sendiri justru memberitahukannya.
“Jadi, di mana dia?”
“Ahh, ini Saidhan!”
Pak Ari menunjuk ke arahku. Dan si orang Jepang ini menghampiri ku.
“Jadi kau Saidhan ya! Salam kenal aku…”
Saat baru mau memperkenalkan dirinya, tiba-tiba Pak Tri memegang bahunya untuk menghentikannya.
“Tri?”
“Tooru, ini sudah waktunya Test Stage! Perkenalannya
nanti saja!”
“Ahh, kau benar…!”
Dia menurut! Huh, Pak Tri memang hebat… aku benar-benar respect padamu.
“Saidhan!”
“Ah, baik!”
Dengan mengikuti arahan yang diberikan, aku mulai memasuki sebuah ruangan lagi. kali ini, ruangannya cukup luas dan ruangan yang sebelumnya terdapat di dinding atas ruangan ini. Aku bisa tahu karena adanya sebuah kaca besar di sana.
Benar-benar seperti ruangan untuk melakukan uji coba!... eh, tunggu, uji coba? Aku di sini untuk melakukan Test Stage, kenapa jadi ini? Seingat ku Test Stage tak perlu sampai memakai ruangan sebesar ini.
Selain itu, terdapat sebuah benda besar bewarna putih di sini. Apa itu? Sepertinya itu dari logam…
Setidaknya untuk memastikan, aku tanyakan saja lah.
sepertinya ada satu buah ventilasi di dekat kaca itu, jadi kemungkinan suaraku akan terdengar.
“Permisi…! Sebenarnya kenapa aku di masukkan ke ruangan seperti ini? Bukankah aku akan melakukan Test Stage? Lalu benda apa itu?”
Tanyaku sedikit berteriak.
Pada awalnya, tak ada jawaban dari situ, sepertinya pihak di sana sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
“Emmhh?”
Akhirnya pihak sana memberi respon. Dan Pak Tri yang berbicara melalui microphone.
“Ahh, maaf Saidhan, di sini kita akan melakukan Test Stage! Persiapan sudah hampir selesai, tunggu lah sebentar…”
Aku sedikit bingung dengan itu.
“Tapi, bukannya Test Stage tak perlu sampai di ruangan seperti ini, ya? Aku hanya perlu melakukan uji coba seperti Test pengendalian atau semacamnya kan?”
Seingat ku begitulah normalnya Test Stage.
“Yaaa, kami memang ingin begitu juga, tapi dikarenakan sebelumnya kau adalah seorang Unknown class tanpa Stage. Sangat sulit untuk melihat perkembangan dan pencapaian mu untuk memenuhi kriteria Stage 7!”
“Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menempatkan mu dalam situasi pertarungan intensif secara langsung!”
Kali ini si Tooru yang berbicara.
Akan tetapi…
__ADS_1
“Menempatkan ku dalam situasi pertarungan intensif?”
“Ya, kamu di haruskan untuk melawan sebuah Android terbaru yang merupakan replika dari kemampuan khusus, buatan Labolatorium ini!”
“Android? Jangan-jangan…”
Merasa ada yang janggal, aku segera menatap kembali kearah benda itu. Dam secara tiba-tiba, bagian depan benda itu terbuka dan menampilkan sebuah robot humanoid yang ukurannya cukup besar.
“Benar, dia adalah lawan mu saat ini!”
Aku terus menatapnya, tingginya mungkin sekitar 2 meter lebih, selain itu ia juga memancarkan energy yang cukup kuat. Ah sial, mana mungkin aku bisa menang ini.
“Hahahaha Pak, kamu bercanda kan? Mana mungkin aku bisa melawan robot itu!?”
Pak Tri sedikit lama dalam merespon. Ada apa ini, jangan-jangan?
“Maaf Saidhan, ini adalah kenyataan, kalahkan lah robot itu! Dan kami akan lebih mudah dalam mengkalkulasi tingkatan Stage mu…!”
Ah, tidak…
“Apa sudah siap?”
“Semua sistem, oke!”
“Baiklah, Test akan dimulai dalam 1…”
“T-tu-tunggu dulu, Pak Tri! Aku…”
“…2…”
“Tolong tunggu dulu!”
“…3! Test dimulai!!”
Terdapat bunyi khusus yang terdengar dari ruangan itu, dan di saat itulah, Robot ini mulai bergerak.
“Saidhan, berjuanglah!!"
ujar Tooru-san.
Ahh, tamatlah ini..
Beberapa saat kemudian, mata si Robot mulai bercahaya dan kemudian mengeluarkan sebuah bola leser yang langsung saja di tembakkan ke arahku.
“Aaaa!”
Aku menghindarinya secara reflek.
*Duarr!
Terjadi sebuah ledakan akibat serangan leser itu. Dan seketika, ubin ruangan ini yang sebelumnya bewarna putih berubah warna menjadi hitam.
“Yang benar saja!”
Robot itu terlihat sudah mulai bersiap untuk menyerang kembali. Bahkan kali ini terlihat lebih besar, untungnya aku masih sempat menghindar di saat-saat terakhir.
*Duarr!!
Dan benar saja, suara dan dampak ledakan kali in sedikit lebih kuat dan besar.
“Anuu, Pak! Bukankah Difficult nya terlalu susah!?”
“Bukankah Tri sudah bilang, Robot ini ialah replika yang menggunakan DNA dan kemampuan dari salah satu Stage 7 loh!”
Kali ini Pak Ari yang berbicara.
“Dia tak bilang!!!”
Teriak ku.
“Eh, benarkah!?”
“Kalau begini, mustahil aku akan menang!”
"Tenang saja, walaupun dari DNA Stage 7, ini fragmen nya! mungkin setara dengan Stage 5"
"Tetap saja tak mungkin!!"
“Coba, saja! Kau juga diperbolehkan mengambil beberapa senjata pembantu yang ada di dinding sana!”
Setelah mendengar itu aku segera mencari senjata pembantu yang dimaksud dan mendapati sebuah kotak yang ada di pojok ruangan ini. Aku segera mendekatinya dengan susah payah akibat badai serangan yang dilancarkan Robot itu.
Beberapa kali, laser yang ditembakkan hampir mengenai ku.
Ah, sial!...
Aku melihat sisi kotak tersebut, dan di dalamnya hanya terdapat beberapa bilah pisau kecil.
“Bukannya ini cuma pisau lempar biasa?!”
Biarlah, yang terpenting aku ada sedikit senjata untuk memberikan perlawanan. Dan setelah aku mengambil beberapa pisau ini, si robot berhenti menembakkan laser.
“Apa yang…”
Dia kemudian mengangkat tangan kirinya dan dari telapak tangannya, keluar laser dengan ukuran yang lebih kecil namun sedikit lebih cepat.
Walaupun begitu aku masih bisa menghindarinya walau sedikit telat. Akan tetapi karena merasakan bahaya, aku terus melihat ke arah laser barusan. Dan benar saja…
Laser tersebut kembali kebentuk awal di titik tertentu dan kemudian kembali lagi terlempar kearah ku. Seakan-akan ia memantul.
“Apa…?!”
Di posisi ini, tak mungkin menghindarinya! Bagaimana ini?
Dan di saat itulah aku dengan reflek mengerakkan tangan kananku yang sedari tadi memegangi pisau bergerak dan mengarahkan pisau itu selaras dengan laser itu.
Dan hasilnya, laser itu secara sempurna terpotong dan menghilang. Aku sedikit terkejut dengan ini.
“Pisau ini, bisa memotongnya!”
Melihat kesempatan untuk mengakhiri ini dengan cepat, segera bergerak ke arah robot itu.
Namun, di tengah-tengahnya aku terpikirkan kalau itu akan sia-sia, karena hanya akan membawaku ke situasi yang sama, mungkin lebih berat lagi, karena kemampuan khusus ku yang ingin di nilai tak kunjung keluar.
Gerakan ku oleng karena itu. Dan di saat itu dari robot tersebut terdengar sebuah suara.
[Warning, Hand to Combat mode. Activated!]
Dan setelah itu, tangan Robot itu dengan gesit mampu mendorong tangan kanan ku. Hal ini membuatku menjadi melepaskan pisau itu.
“Apa?”
Dengan cepat, Robot itu bisa memasang kuda-kudanya kembali.
“Robot ini…”
Tangannya seperti sudah siap untuk melancarkan pukulan Robot.
__ADS_1
“…Canggih sekali!!”