
Gagal melindungi…
Ini benar-benar berada di benak para anggota Klub Penelitian Sejarah Dunia. Mereka gagal melindungi seorang anak bernama Kisa.
Untuk apa julukan yang mereka dapat selama ini, itu yang mereka pikirkan. Hanya melindungi satu orang anak perempuan saja tidak bisa. Mereka berlima, tak bisa mempercayai itu semua.
Saat ini, mereka berada diruang klub. Sedang dalam situasi yang sedikit canggung, mereka benar-benar terlihat suram setelah gagal.
Untuk membuka obrolan, Charla yang sama sekali tidak mengerti situasi, karena dia terputus koneksi saat kejadian berlangsung. Dia mulai bertanya….
“Jadi, apa benar Kisa sudah diculik…?”
Dan itu hanya dibalas dengan anggukan oleh Sylphy, diikuti oleh Al dan Charlotte. Fano sendiri juga diam saja, ia memang tidak ada disaat kejadian, tapi dia cukup mengerti situasi ini secara geris besar.
“Jadi… apa Saidhan sudah tahu soal hal ini!?”
Lanjut Charla…
“Ya, dia belum tahu...! tapi cepat atau lambat, dia pasti aka tahu!”
Ucap Fano menjawab pertanyaa tadi…
“Mau bagaimanapun, yang memberi tahu situasi secara garis besar kepadaku dan Aldian!”
Lanjutnya…
“Jadi begitukah…”
Charla yang mengatakannya…
Sementara itu, Sylphy memasang muka yang sangat kaget setelah mendengar ucapan Fano itu. Kemudian, ia memandangi Fano.
Fano tentunya menyadari itu karena merasa tidak nyaman, ia bertanya kepada Sylphy…
“Sylphy… ada apa?”
“Tadi kau bilang, Kau dan Aldian tahu situasiya dari Saidhan?”
Tanya Sylphy…
“Ahh, ehm…! Benar sekali! Ya kan Aldian?”
Ucap Fano yang kemudian menatap kearah Al…. Al juga merespon itu dengan anggukan.
“Bisakah kau menjelaskan itu secara rincinya?”
Kemudian, Fano dan Al langsung saja menceritakan segala rincian yang mereka bicarakan kemarin bersama dengan Saidhan. dan juga beberapa tambahan.
“Disaat seperti ini, Rute Pertama seharusnya sudah dimulai! Bagaimana caraku menangani problem seperti ini?”
Gumam Saidhan pelan tanpa ia sadari.
‘Kuharap Kisa baik-baik saja! Apa yang dikatakan Artosh sejalan dengan realitas saat ini!’
Batinnya melanjutkan itu…
Sementara itu, Fano dan Al juga ada disitu, walau ucapan Saidhan tadi pelan. Mereka bisa mendengarnya dengan jelas.
“Apa yang kau katakan, Sai?”
Ucap Al karena ucapan Sai tadi agak aneh…
“Ahh, tidak…! Aku hanya melantur tadi, hehehe!”
Sai mengatakan itu sembari tertawa kecil dan menggosok rambut dengan tangannya. Untuk menutupi *********** karena mengucapkan hal itu tanpa sadar…
Kemudian, Sai menghentikan aksinya itu… kemudian ia kembali memasang ekpresi yang serius sekali lagi…
“Al, Fano…! Saat ini, aku sedang khawatir dengan keadaan Kisa! Orang-orang yang mengejar Kisa sepertinya sudah mulai bergerak!”
Sai mengucapkannya dengan nada yang tentunya serius…
Al dan Fano menampilkan reaksi yang cukup bagus, walau begitu… mereka berdua masih terlihat sangat tenang. Mengingat kalau saat ini, siapa yang sedang bersama dengannya.
“Tenang saja, Saidhan! Sylphy ada bersamanya… lagipula, dia juga ditemani oleh Charla dan Charlotte! Pasti situasinya akan terkendali!”
Ucap Fano…
Setelah itu, Sai terlihat menghela nafasnya pelan… ya, dia masih khawatir. Kali ini, yang mereka lawan bukanlah Magician biasa! Mereka semua adalah para pencari Artifak sihir…
Kemungkinan besarnya, yang Magician yang mengejar wadah Heavenly Eye’s adalah salah satu yang terkuat dikumpulan mereka.
“Yaa, kalau soal itu, aku juga tahu! Tapi, tetap saja… kalian ingat bukan? Apa yang kukatakan waktu itu! Yang mengejar Kisa pasti pemilik Artifak sihir tingkat tinggi!”
Ucap Saidhan mengatakan keraguannya…
“Kenapa kau bisa seyakin itu!”
“Kau tentunya tahu bukan? Seberapa berharganya Heavenly Eye’s?”
“…”
“Baiklah… kalau begitu, aku akan memeriksa mereka!”
...----------------...
“Seperti itulah ceritanya! Saidhan menyuruh Aldian untuk pergi mencari kalian untuk membantu! Dan tentunya, dia menurutinya…”
Setelahnya, Sylphy sedikit membelakkan matanya… ia juga menutupi mulutnya dengan satu tangan. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“A-ada masalah dengan itu, Sylphy…?”
Kali ini, Charla yang bertanya…
“Tidak… bukan apa-apa!”
Balas Sylphy…
Ya. Itu hanyalah yang dia ucapkan oleh mulutnya. Berbeda dengan yang ada dipikirannya. Ia masih memikirkan, darimana Saidhan mengetahui semua itu.
Dirinya sendiri tak menyadari kalau All See Eye’s milik Kisa itu berpotensi tinggi sebagai wadah dari Heavenly Eye’s
‘Saidhan M. Ardhiyasa… siapa sebenarnya dirimu?’
__ADS_1
Itulah yang dipikirkan oleh Sylphy…
“Jadi bagaimana langkah kita selanjutnya? Apa giliran kita yang bergerak?”
Ucap Fano dengan wajah serius…
Itu dibalas dengan serius pula oleh yang lainnya. Seketika, suasana menjadi bangkit lagi. mereka semua memancarkan keinginan kalau mereka semua harus bisa menyelamatkan Kisa.
Dengan tangan mereka ini…
“Tentu saja, kita harus bergerak! Kita jalankan operasi penyelamatan Kisa! Karena kita adalah yang terkuat!”
Ucapan Sylphy dengan mata dan suara yang tegas dan percaya diri, direspon dengan senyuman dan keoptimisan dari yang lainnya.
Itu benar… mereka tidak boleh terus bersedih dan bermuram saja. Mereka harus bangkit, ini adalah pelajaran untuk mereka. Pelajaran yang menuntun diri mereka untuk menjadi semakin kuat lagi.
Akan tetapi…
“Tapi… aku merasa kalau kita tidak bisa melibatkan Saidhan dalam operasi ini!”
Ucap Sylphy ditengah-tengah suasana kebangkitan mereka itu…
Ini membuat suasananya menjadi kembali datar lagi.
“Kenapa begitu…?”
Ucap Al, dia memakai suara yang tinggi.
“…”
Sylphy terdiam untuk sementara, dia juga agak menundukkan kepalanya. Kemudian, tak lama setelah itu… ia menegakkan kepalanya dan menatap kearah Al.
“Kau sendiri tahu bukan… dia itu baru saja sembuh! Aku tak ingin membuatnya banyak melakukan pergerakan, biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Selain itu…”
Ucap Sylphy dengan sedikit menggantung diakhir nya…
“Selain itu…?”
Al mencoba mengulang kata-kata Sylphy. Sylphy haya diam saja, tak menjawab. Kemudian…
“Tidak lupakan saja! Itu bukan hal penting!”
Sylphy mencoba untuk mengesampingkan hal itu… Al hanya menatapnya dengan sedikit pandangan curiga… dia kemudian menghela nafas pelan.
“Haa, baiklah kalau itu alasanmu, aku juga setuju! Yang lain bagaimana?”
Balas Al…
“Boleh saja…! Dia baru sembuh soalnya!”
“Hmm, aku setuju! Aku tak ingin membuat orang yang baru saja sembuh dari sakitnya untuk membantu menyelesaikan satu masalah yang berawal dariku juga!”
Ucap Charla dan Charlotte menyetujui hal itu! Begitu pula dengan Fano, ia mengangguk untuk menyetujui…
“Baiklah dengan begitu sudah diputuskan!”
Dan begitulah… Rencana ini dibuat dan disetujui oleh yang lainnya. Dan pencanaan itu memakan waktu yang cukup lama…
...----------------...
Saat ini, Al dan Fano sedang berada di dalam ruangan ku yang sepertinya, mereka datang bukan untuk sekedar menjenguk.
Mereka berdua datang dengan membawa sebuah kabar yang kurang mengenakan, mengingat ini kalau adalah hari dimana aku bisa pulang setelah seminggu penuh dirawat.
Tapi, mau bagaimanapun Al merasa. Kalau sebagai teman, aku ini berhak dan harus tahu soal situasi ini.
Meskipun ini adalah berita yang buruk sekalipun. Dan walau dia sendiri juga setuju dengan usulan itu. Fano juga nampaknya setuju dengan itu… dia ingin aku mengetahui hal ini.
Tentunya, mereka berdua sendiri juga tahu soal ini… selain itu, Sylphy juga bilang tidak terlalu ingin membuatku untuk ikut serta dalam rencana itu. Charla dan Charlotte juga setuju dengan itu.
Oleh karena itu, hanya mereka berdua saja yang mendatangiku untuk memberi tahu situasinya…
“Jadi, gagal ya…! Mereka bisa mengambil Kisa!”
Gumam ku pelan…
Aku tidak akan menangis di situasi ini. Aku paham akan hal ini, aku sudah mempersiapkan kemungkinannya.
Tapi, tak pernah kusangka akan menjadi seperti ini.
“Maafkan aku! Padahal aku sudah datang untuk membantu.”
Ucap Al…
“Jangan salahkan dirimu seperti itu! Ini bukanlah salah siapapun!”
Ucapku menenangkannya…
Ya, kalau bicara soal kesalahan… tidak akan yang benar-benar disalahkan atas hal ini.
“Ya benar sekali, jangan terlalu menyalahkan dirimu! Aku sendiri yang tahu situasinya juga bahkan tidak bisa berbuat apa-apa!”
Ucap Fano menambahkan…
Terjadi keheningan sesaat karena itu…
“Tapi yang lebih penting! Sekarang… kami semua akan bersiap untuk bergerak dan melakukan operasi penyelamatan Kisa!”
Ucapan itu tak terlalu membuatku kaget… mereka pastinya sudah mempersiapkan rencana untuk bergerak. Karena pastinya, mereka adalah yang terkuat.
“Benarkah?”
Ucapku untuk mengkonfirmasi… dibalas dengan anggukan oleh Al dan Fano.
“Baiklah… kalau begi-”
“Tunggu!”
Disaat aku belum menyelesaikan kata-kataku, Al memotong itu…
“Aku tahu kau juga berniat membantu! Tapi, kami sebenarnya tidak ingin membuatmu ikut serta dalam operasi ini!”
Al mengucapkannya dengan wajah datarnya seperti dahulu.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“…”
Dia tak menjawab itu, Fano juga begitu. Emosiku mulai naik dengan begini. Aku bangkit dan menuju Al, kemudian menarik kerahnya.
“Hei, apa maksudnya itu…!”
“Kau ini baru saja sembuh, Sai! Apa kau ingin membawa dirimu kedalam situasi pertarungan yang berat!?”
Dia mengatakan itu sembari melepaskan pegangan tanganku terhadap kerahnya.
“Haa…?”
“Sai… aku akui kau ini sekarang sudah cukup kuat! Kau ini salah satu Stage 7! Tapi, mental dan kemampuanmu dalam bertarung masih nol! Kau tidak akan siap dengan ini!”
“Kalau tidak dicoba tidak akan tahu bukan?”
Aku mengatakannaya dengan lantang, namun dia langsung menjawabnya…
“Tidak, aku suda tahu! Kau pernah bilang kalau kau sendiri tidak paham dengan kemampuan milikmu sendiri! Apa kau pikir dengan begitu, kau bisa bertahan!? Lawan yang akan kita hadapi ini berbeda Sai!!”
Al mengatakan itu dengan lantang juga…
“Kenapa demikian? Kau tahu soal lawan?”
Dia kemudian menunduk setelah mendengar ucapan ku.
“Ya…! Kemarin, aku mendengarnya…! Orang yang menculik Kisa mengatakan nama RIO!”
“RIO? Siapa dia, aku tak mengenalnya!”
Ya, itu adalah reaksiku, berbeda jauh denan reaksi Fano.
“Aldian, kau tadi bilang RIO? Yang itu…!?”
Fano terlihat agak terkejut mendengar nama itu… ia bahkan berdiri dari duduknya.
“Ya… kemungkinan, Sylphy juga menyadari hal ini! oleh karena itu, dia tidak ingin membawa Sai!”
Fano kemudian duduk kembali, tapi raut wajahnya tidak berubah…
“Siapa sebenarnya RIO?”
Ucapku bertanya, memang aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi, aku tak tahu… mungkin RIO yang berbeda.
“RIO! Itu nama yang disematkan padanya, atau lebih tepatnya inisialnya! Tidak ada yang tahu soal nama aslinya! Dia itu adalah Shaman terburuk sepanjang sejarah Indonesia!”
Fano yang menjawabnya…
“Dia adalah manusia yang bengis, yang terobsesi terhadap segala jenis Sihir dan Jiwa Manusia! Bahkan, dia tak ragu untuk menjadikan manusia sebagai objek uji cobanya! Orang itu adalah Penyihir Buronan tingkat Nasional, tidak… mungkin tingkat Internasional!”
Ucap Fano melanjutkan penjelasannya…
“Intinya… dia adalah seorang Shaman yang kuat dan berbahaya, dia pasti memiliki banyak Artifak sihir kuat! Lawan kita kali ini kemungkinan adalah orang kepercayaannya. Dengan orang seperti itu, apakah kau yakin bisa melawannya?”
Aku hanya bisa diam saja karena itu… apakah di lubuk hatiku yang paling dalam, apa aku takut?
“Sai, aku mengerti perasaanmu! Sebagaimana nya kau ingin melindungi anak itu! Tapi, kami melakukan ini juga demi dirimu!”
Ahh, tidak… aku mulai hanyut lagi…
Aku hanya bisa diam saja karena itu… aku…
"Aku akan pergi menenangkan diri dahulu!”
‘Aku melarikan diri…!’
Segera setelahnya, aku langsung saja pergi dan menuju keluar. Meninggalkan Al dan Fano didalam ruangan ini.
Mereka menatap kepergian lu…
“Aldian…”
“Tidak apa-apa! Ini adalah yang terbaik…!”
Berjalan keluar… sendirian... malam yang terasa dingin ini…
Aku memutuskan untuk duduk di taman belakang Rumah sakit. Sendirian… daerah ini cukup jarang ada aktivitas di jam-jam seperti ini.
Duduk di kursi dan menatap kearah langit malam, bintang cukup banyak… padahal aku di kota besar saat ini!
Mencoba untuk memikirkan ini lagi. Hanya membuat kepalaku semakin pusing.
Aku jadi ingat apa yang dikatakan Artosh waktu itu…
Kedepannya, Mata itu akan menuntunku pada kejadian besar nantinya…
“Hahaha, bukannya hal yang kau bilang ini terlalu berat, ya…! Artosh!”
Air mata, satu tetes air mata mengalir di pipiku.
“Ayolah… katakan sesuatu! Beri aku jawabannya, ARTOSH!!”
Teriakan kepasrahan ku. Percaya terhadap sosok yang menyebut dirinya sebagai Celestial dan kutemui di mimpiku.
“Ya, ampun… kok situasi jadi runyam begini sih…!?”
Suara datang, dari orang yang tak asing di telingaku.
Suara ini… bukannya…?
Segera aku kembali tegak dan melihat sekeliling, terdapat satu orang pria tinggi sedang berada di bangku yang berbalik arahnya denganku.
Aku segera menatap kearah belakang…
“Kau…!”
Ya benar… orang ini, yang datang ketika aku kesulitan. Walau dia baru saja kutemui saat di Jepang.
“Tooru-san…!!??”
Ya benar… salah satu Esper Stage 7. Yang dijuluki sebagai yang paling kuat! Dia yang mengendalikan seluruh materi di dunia. Tooru Shinyaku!
__ADS_1
“Yaa, Saidhan-ku! Lama Tak berjumpa!”