
Aku Saidhan M. Ardhiyasa, dan sekarang aku sedang dalam kondisi seperti sekarang.
Bersih-bersih malam... itu adalah kegiatan yang sedang kulakukan. Memang, aku telah cukup lama pergi tak menempati kamar ini. Tapi tak kusangka akan seperti ini, ini terlalu berdebu untuk ruangan yang baru ditinggal selama kurang lebih seminggu.
Aku sudah menghabiskan sekitar 20 menit untuk membersihkan tempat ini. Semuanya demi kenyamanan ku dalam melakukan suatu perkara yang penting.
Apalagi kalau bukan untuk tidur...
Aku menghela nafas... menatap kesekitaran kamar asramaku ini.
“Haah...! baiklah, sekarang sudah terlihat sangat bagus!
Aku mengangguk-angguk melihat semuanya, merasa puas dengan ini.
“Rapi dan bersih...!”
Setelah semua ini, aku langsung menyelesaikannya dengan cepat. Dan kemudian dilanjutkan dengan mandi yang segar dimalam ini.
Dalam bak mandi yang sudah ku isi dengan air hangat ini, aku berendam dengan sangat nikmat.
Mencoba merenung kembali, perihal yang disampaikan oleh Tooru-san kepadaku.
“Apakah benar mereka punya hubungan dengan Parlemen Sihir?”
Itu adalah hal yang paling ingin ku ketahui, sekaligus yang paling aku takuti. Bahkan jika semuanya mengenai Raja Sihir.
Kalau diingat-ingat aku pernah melihat Raja Sihir itu secara langsung... sekitar 4 tahun yang lalu. Ketika ada suatu acara di Senayan.
Sosoknya yang tinggi dan terlihat karismatik, aku sangat kagum padanya...
Akan sangat mengejutkan jika dia memiliki hubungan dengan para Magician Sekte Kuno itu.
Akan tetapi, sebagai Raja Sihir itu adalah hal yang biasa baginya... Justru seharusnya, dia mendukungnya.
Aku mendongakkan kepalaku, menatap kearah langit-langit kamar mandi ini. Mencoba untuk berfikir positif untuk saat ini...
“Haah, semakin dipikirkan akan membuatku semakin pusing! Untuk hari ini kita sudahi saja untuk hari ini...”
Perlahan bangkit dari bak mandi ku saat ini... Aku memang tidak terlalu menyukai menghabiskan waktu didalam bak mandi.
Fokus ku sekarang untuk membersihkan tubuh, ya... berendam tadi hanyalah relaksasi ku saja.
Aku akan tetap menggosok tubuhku.
Kegiatan ini tak memakan waktu yang lama, mungkin sekitar lebih dari 5 menit.
Setelah selesai, aku segera memakai kembali baju, selainitu masih banyak hal yang ingin ku kerjakan, tetapi aku baru ingat akan suatu hal...
Yaitu aku belum makan sama sekali, bahkan sejak siang tadi...
“Ahh, aku lapar sekali...”
Akan tetapi, apakah aku masih memiliki makanan instan yang tersisa... Mari kita lihat sekarang. Aku berjalan keluar kamar mandi, menuju kearah lemari kecil yang berada didekat rak buku.
Itu adalah furnitur yang ditambahan sedikit, untuk menaruh makanan atau minuman instan jika saja aku lapar ketika malam.
__ADS_1
Biasanya, anak-anak di asrama, mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka di Kantin Akademi, karena kantin masih buka hingga malam. Akan tetapi, mereka akan tutup pada jam 20:00.
Karena itulah, aku mempersiapkan makanan dan minuman instan jika saja aku kelaparan disaat sudah melebihi jam tersebut.
Aku membuka lemari kecil itu, dan didalamnya kosong...
Aku lupa, kalau persediaan ku sudah habis sejak sebelum aku sakit, dan belum sempat aku ini ulang.
Ini gawat... memang, sekarang belum terlalu larut, dan kemungkinan kantin baru akan bersiap untuk tutup. Tapi, hanya saja perasaan malas menggerogoti jiwa ragaku.
Ini menyebalkan sekali... disaat aku sedang lapar, persediaan ku sedang habis.
Yang kulakukan kemudian hanyalah duduk mematung, mungkin karena efek dari lapar ini. Hingga, suara bel membuyarkan kegiatanku.
*Ding Dong!
“Haah, siapa yang datang di jam seperti ini!?”
Ucapku sedikit mengeluh, dengan sedikit perasaan malas aku berdiri dan menuju kearah pintu. Sebelum membuka, aku mengecek siapa yang ada diluar, dan ternyata itu adalah Al.
“Al...!? kenapa dia kesini di jam-jam sekarang?”
Tak pakai waktu lama, aku langsung membukakan pintu untuknya. Sekarang ini, Al sedang membawa sebungkus kantong plastik hitam ditangan kanannya.
“Yo...”
“Eh, Al... ada apa?”
Dia menyerahkan kantong plastik hitam itu kepadaku.
Tanyaku sembari menerimanya...
“Yaah, aku baru saja kembali dari makan malam di kantin, dan disitu aku berpikir mungkin kau belum makan! Jadi aku sekalian membelikannya...”
Balasnya agak datar... aku mengeluarkan isi dari kantong plastik itu, dan ternyata isinya adalah sebungkus nasi goreng.
“Woah, kebetulan sekali...! aku memang belum makan, dan persediaan ku sedang habis! Terima kasih, Al...!”
Dia sedikit menghela nafas pelan...
“Sudah kuduga itu benar terjadi...! baiklah, kalau begitu aku kembali dulu! Dan kau bisa mengganti itu dengan mentraktirku besok!”
Setelah mengatakan itu, Al langsung berbelok dan membuka pintu kamar sebelah, aku hanya merespon dengan mengangguk dan sepenggal kata...
“Ehm, baiklah...!”
Melihat dia sudah masuk kembali kedalam kamar asramanya, aku menutup pintu kamarku. Kembali kemeja untuk menyantap makanan yang sudah dibelikan Al itu...
Aku menyantapnya dengan lahap, beruntung aku memiliki sahabat yang sangat baik seperti Aldian. Dengan sedikit didampingi oleh musik favoritku, aku bisa makan malam dengan tenang.
Karena selepas makan, kurang baik jika langsung tidur. Aku hanya melakukan sedikit peregangan kecil guna mengisi waktu, sekaligus melakukan relaksasi.
Setelah beberapa menit berlalu, aku memposisikan badanku terlentang di atas kasur.
Walau sudah melakukan berbagai relaksasi tadi, itu tak cukup untuk membuatku lepas dari perasaan lelah ini. jadi, aku memutuskan untuk langsung tidur. Tak lupa, sebelumnya aku sudah mematikan lampu kamar ini.
__ADS_1
Memejamkan mataku...
“Huufftt...! besok aku masuk akademi lagi, jangan sampai terlambat!”
“Jangan sampai aku bolos lagi...”
Aku mengatakan hal itu kepada diriku sendiri, supaya ada sedikit motivasi untuk besok.
“Baiklah, selamat tidur untuk diriku sendiri...”
Menggunakan sedikit cara yang diajarkan oleh ayahku, tentang bagaimana caranya agar diri kita bisa dengan cepat tertidur.
Aku sering menggunakan cara itu, dan tentu saja itu berhasil dengan baik.
Tak lama kemudian, hanya kisaran beberapa menit kemudian, aku sudah secara penuh tertidur.
Namun, tak seperti yang ku harapkan. Wajah tidurku terlihat sedikit memasang ekspresi yang muram. Sekarang ini, aku sedang dalam mimpi seperti biasa, yaitu bukanlah sebuah mimpi biasa. Sedikit merasakan kejang-kejang di seluruh tubuh, aku membuka kedua mataku. Aku kembali ditarik kedalam sebuah intern dimension.
“Haahh...”
Ini adalah pengelihatan dari Limitless...
Ruang kosong, yang tidak terdapat apapun disini. Dimensi kecil yang bisa dibilang sebagai celah dimensi. Tempat sistem dunia beroperasi, sekaligus menjadi tempat sang penggerak sistem itu tinggal...
“Blue Altar!?”
Sensasi disini, aku mengenalnya. Secra teknis aku sudah pernah ada disini sebelumnya. Disaat aku, untuk pertama kalinya bertemu dengan sosok Celestial.
Aku sedikit mengangkat tanganku, menghadap kearah depan seakan-akan menggapai sesuatu. Walau, bukan itu tujuan sebenarnya.
“Aku tidak bisa merasakannya, koridor jiwa kami...!?”
Masih menatap sebelah tanganku, dan dengan perlahan mengepalkan nya.
Disaat itu juga, dari tanganku yang dikepalkan itu, muncul sebuah kilauan cahaya biru yang menerpa mataku.
“Egghh...!?”
Sebuah gelombang kejutan kembali menghujam tubuhku. Sontak, kedua kakiku tak cukup kuat untuk menopang berdirinya tubuhku. Aku jatuh dan bertekuk lutut, menatap kearah depan.
Dimensi kecil ini, secara perlahan tapi pasti mulau berubah. Aku tak tahu, ini adalah sebuah kenyataan atau hanya sebuah ilusi. Karena tubuhku masih dalam pengaruh gelombang kejutan aku tidak bisa mengeceknya.
Lama kelamaan, gelumbang kejut ini mulai berangsur-angsur berkurang. Hingga, aku mendapatkan kembali kekuatan untuk berdiri kembali.
Aku menatap kearah depan kembali, tempat ini berbeda dari yang sebelumnya, bahkan juga berbeda dari yang dahulu.
Tak seperti sebelumnya, yang hanyalah sebuah kekosongan yang tiada batasnya. Ruangan ini sekarang sudah terlihat benar-benar seperti sebuah ruangan disuatu tempat pada umumnya. Walaupun, kuakui desai interiornya cukup unink dan bergaya kearah Futuristik.
Didalam ruangan itu, aku berhadap-hadapan dengan dia, suatu eksistensi Kosmik yang ada di dunia ini.
“Yaa, Protagonis! Pertama-tama, aku ucapkan selamat kepadamu, karena telah menyelesaikan event pertama dari Testament Limitless! Aku tahu, kau tidak akan pernah mengecewakanku!”
“Artosh...!”
Adalah nama dari seseorang yang ada di hadapanku saat ini.
__ADS_1