Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 20: Yang terjadi setelah itu


__ADS_3

Setelah mengalami malam yang cukup panjang… aku akhirnya bisa kembali ke rumah.


Setelah berpisah dari anggota Geng dan Rei, aku berjalan sendirian. Menuju ke rumahku sendiri.


Sembari di jalan, aku sedikit memikirkan seluruh kejadian yang terjadi dalam kurun waktu beberapa jam kebelakang.


Banyak sekali kejadian yang diluar perkiraan ku. Seperti tantangan dari seorang berandal, masalah internal sebuah Geng motor terkenal, hingga terjadinya sebuah bentrokan dari 2 kubu.


Walau pada akhirnya, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka secara damai dan menggunakan kepala. Yaah, itu jauh lebih baik. Dan justru, kenapa dari awal tak pakai cara ini?


Dengan begitu kan tak perlu ada yang namanya kekerasan terjadi, benar bukan? Ah, itu sudah pasti…


Ahh, sudahlah… yang sudah berlalu biarlah berlalu! Saat ini yang terpenting ialah, aku sudah mendapatkan penyelesaian yang baik untuk masalahku.


Setelah secara entah mengapa aku sama sekali tak bisa menentukan keputusan yang terbaik untuk masalah undangan itu, akhirnya sekarang aku sudah bisa menemukannya.


Seakan-akan beban yang menimpaku, dan membuatku sama sekali tak bisa menentukan pilihan hilang begitu saja.


Yaa, ini tak lepas dari apa yang sudah terjadi… keteguhan dan harga diri seorang berandalan yang entah mengapa membuatku sangat termotivasi karenanya.


Saat ini aku seharusnya sudah bisa menetapkan pilihanku.


Yaah, soal tu mungkin bisa di kesampingkan nanti. Yang paling penting adalah aku bisa selamat tanpa terluka. Setelah berpartisipasi kedalam sebuah bentrokan yang terjadi.


Syukurlah daerah sekitar situ tak terlalu ramai. Sehingga tak ada orang yang terganggu dan tak ada polisi yang datang, jika tidak… bisa di pastikan kalau kami semua berkemungkinan akan bermalam di kantor polisi atas kasus Tawuran antar pelajar.


Dan tentu saja, itu akan mencoreng nama baikku, keluargaku, sekolah, dan bahkan nama dari seorang yang sudah mencapai Stage 7.


Itu gawat bukan?


Aku kemudian menatap kearah langit malam, bintang da bulan bersinar cukup terang malam ini. Cukup indah dan Aestetik jika dilihat.


Dan begitu, aku melanjutkan perjalanan ku menuju rumah ku, tempat ku bisa bersantai dengan tenang dan nyaman. Beristirahat yang cukup…


Hingga pada akhirnya aku sampai di depan halaman rumahku, dan karena. Yaah, karena aku pergi cukup malam, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23:20.


Itu berarti, sudah lebih dari 3 jam sejak aku pergi dari rumah. Dan tentu saja, sudah sewajarnya ibuku menjadi marah karena itu.


Dengan mencoba untuk sebisa meminimalisir suara yang ditimbulkan. Yaah, walau itu sudah dilakukan dengan sepenuh tenaga.


Tetap saja, insting seorang Ibu tak bisa di ragukan lagi… Ibuku memergoki ku.


“Saidhan! dari mana saja kamu?”


Ahh, ini dia..! interogasi dari Ibuku sendiri.


“I-ibu…! Belum tidur?”


Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, walau sudah tahu itu pasti tak akan berhasil.


“Dari mana saja kamu!!”


Ibuku justru menaikan nada yang ia pakai. Aku tak suka ini, sejak dulu aku adalah tipe anak yang sama sekali tak bisa melawan orang tua. Membentak ataupun di bentak orang tua saja bisa membuatku terpikirkan tentang hal itu bahkan sampai beberapa hari kedepannya.


Itulah mengapa, selama hidupku aku selalu mencoba hal yang terbaik jika itu berkaitan tentang hidupku sendiri.


“Ya-yaah, i-itu kan…! Sudah ku bilang sebelumnya bukan? Aku pergi ke kedai kopi bersama Rei!”


“Lalu..? kenapa sampai lama?”


“Sudah biasa bukan? Kalau nongkrong itu menghabiskan waktu yang lama?”


“Apa ada hal yang terjadi setelahnya!?”


“G-gak ada kok!”


“Kamu berantem, ya..!?”


Ehh, kok bisa tahu? A-apa yang terjadi…!


“T-tidak! Tidak mungkin bukan? Aku kok berkelahi…?”

__ADS_1


Ibu menatap keseluruhan bagian penampilanku saat ini.


“Jangan berbohong! Coba lihat dirimu yang sekarang ini!”


“…”


Aku menatap kebawa, mencoba melihat bagaimana penampilanku yang sekarang. Ahh, benar juga! Aku berantakan sekali sekarang!! ini pasti karena pertarungan dengan Bang Jul…


“Ahh, ini… hahahaha!”


“Aduhh!!”


Ibu menjewer telingaku… dan karena itu, aku harus mendapatkan sebuah ceramah yang berlangsung sekitar 20 menit.


Hingga pada akhirnya, aku dilepasnya dan bisa kembali ke kamar. Setelah sampai di kamar, aku segera merebahkan diri di kasurku, ini cukup melelahkan kau tahu…


Dan begitulah bagaimana hari yang penuh dengan kejadian yang tak terduga, berakhir dengan begitu saja. Bersiap menuju hari yang berikutnya…


...----------------...


Pagi hari yang cerah, karena tidur cukup larut malam, aku menjadi berangkat tidak sepagi biasanya. Aku berangkat di jam yang normal. Sekarang adalah pukul 06:30. Aku sudah ada di gerbang sekolah.


Sekolah sudah cukup ramai. Hari ini juga adalah hari dimana aku akan memberikan keputusanku. Perihal soal undangan dari ACJ.


Yeah, pasti…


Bagiku, ini pagi yang cukup normal… sepertinya seluruh gosip sudah mulai mereda. Syukurlah kalau begitu, ini akan menjadi hari yang cukup santai.


Di tengah perjalanan menuju kelas, muncul suara seseorang memanggilku.


“Saidhan!”


Aku menoleh ke asal suara itu. Dan ternyata, yang memanggilku adalah Bang Jul.


“Bang Jul…? ada apa!?”


“Ada yang ingin ku bicarakan! Bisa ikut aku?”


“Ehm, tentu…”


Dia membawaku ke daerah yang cukup sepi, untuk apa? Apa jangan-jangan…


Beberapa saat kemudian ia sedikit menunduk.


“Sekali lagi, ku ucapkan terima kasih atas kejadian kemarin, kalau bukan karena mu dan Reinhard, aku tak tahu lagi harus apa…?”


Oh, mau berterima kasih, toh rupanya… ya ampun aku ini, selalu saja negatif thinking…


“Ahh, yaa… tidak perlu khawatir! Aku juga sedikit terbantu karena mu!”


Aku berusaha untuk menghentikannya dari aksi menunduk nya. Dia kemudian menatapku karena agak kebingungan dengan ucapanku barusan.


“Membantu? Aku sama sekali tak ingat melakukan sesuatu yang bisa membantumu!”


“Yaah, sebenarnya kemarin aku mendapatkan undangan untuk masuk sebagai murid di ACJ! Dan entah mengapa aku kebingungan karenanya!”


Aku menggaruk kepalaku walau tak gatal. Dia sendiri memasang raut wajah terkejut


“Ehh, kau di undang ke ACJ?”


Aku merespon dengan mengangguk saja…


“Itu bagus bukan? Lalu kenapa kau kebingungan..?”


Yahh, sudah kuduga… orang normal akan aneh dengan hal itu.


“Yaah… aku sendiri juga tak tahu, kenapa bisa kebingungan seperti itu, tapi karena melihat keteguhan hatimu kemarin malam, entah mengapa perasaan bimbang itu sudah menghilang… terima kasih!”


Aku mengulurkan tangan, mencoba mengajaknya berjabat tangan… dia menjawab ajakan jabatan tangan tersebut dengan tersenyum.


“Senang bisa membantu, mu…!”

__ADS_1


“Oh, ya! Berbicara soal itu, aku sedikit penasaran… apa yang terjadi dengan gengmu? Bagaimana ceritanya ia bisa berubah!?”


Bang Jul terdiam sesaat, ia terlihat memasang ekspresi yang… sulit di jelaskan.


“Apa kau keberatan menceritakannya?”


Aku coba mengkonfirmasi jikalau pertanyaan ku barusan sedikit mengganggunya.


Dia merespon dengan menggeleng.


“Ehmm, tidak juga!”


“Yaah kau tau… aku dan kakak dari Rudi, Huda bersama dengan Badar, Dava, dan Arda adalah pendiri dari Great Crimson…”


Wah, kembali lagi fakta yang cukup mengejutkan… Bang Jul ternyata salah satu pendirinya!


“Lalu? Apa yang terjadi…?”


“Pada awalnya, G.C hanyalah kelompok motor biasa… kami semua sering sekali melakukan traveling dulu… hingga akhirnya, geng kami sedikit demi sedikit mendapatkan banyak anggota baru… hingga seperti sekarang!”


“Dulu, Rudi adalah anak yang baik, hingga suatu hari, terjadi sebuah insiden yang tak mengenakan… Ketua kami, Huda haru kehilangan nyawanya…! Dan di situlah, Rudi mulai memperlihatkan tanda-tanda perubahan..!”


“…”


“Dia menjadi orang yang terkesan dingin, ia menjadi tak peduli akan sekitarnya… hingga situasi mulai memanas ketika Rudi secara tiba-tiba mengambil alih pimpinan, dengan atas nama Huda…! Tentu saja dengan itu, kami sama sekali tak bisa menolaknya!”


“Dan disitu, G.C mulai berubah! Jika dulu, anggota G.C yang tertangkap menyikat perempuan, memalak orang tua, dan sebagainya akan dihukum… namun di era kepemimpinan Rudi, semua itu di hilangkan…!”


“Jadi begitu, ya…!”


“Yaa, dan karena itu, situasi mulai berubah! G.C mulai terkenal atas tindakan berandalan yang dilakukannya, kami menjadi sering melakukan Tawuran karena itu…”


“Yaah, tentu saja itu berbanding terbalik dengan prinsipku… yaah, dan disitulah aku mencoba memulai reformasi!”


“Dan sepertinya kau berhasil, ya..!”


“Ya, begitulah…! Karena kejadian kemarin, Rudi mulai mempertimbangkannya dan sadar kalau ini bukanlah yang di inginkan oleh Huda…!”


“Baguslah kalau begitu…!”


“Ya,,, benar!”


Tak terasa, kami sudah mengobrol cukup lama, bel berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai…


“Kalau begitu, Bang Jul… aku pergi ke kelas dulu…!”


Dia merespon dengan mengangguk.


“Ya… sebelum itu, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal!”


“Selamat tinggal?”


“Benar, bukannya kau bilang akan pergi ke ACJ?”


“Eh… soal itu, yaah, belum tentu juga!”


“Kenapa begitu?”


“Yaa, tidak juga sih..!”


Dia tersenyum mendengarnya.


“Kalau begitu, selamat tinggal Saidhan… sampai berjumpa lagi! senang mengenalmu walau hanya sementara..!”


Dia mengulurkan tangannya dengan senyuman. Dan dengan senang hati, aku menerimanya…


“Yaa… senang bertemu denganmu juga!”


Setelah itu, kami berpisah untuk menuju ke kelas masing-masing. Setelah beru saja melepas semua beban dan pertanyaan yang ada di benakku, aku pergi…


Sebelum itu, aku akan ke sana…! Keruang Kepala Sekolah, keyakinan ini… harus di laksanakan!

__ADS_1


Berjalan beberapa menit kemudian, aku akhirnya sampai ke depan pintu dari Ruangan Kepala Sekolah. Menatap pintu besar ini, aku….


“Baiklah… ini dia!”


__ADS_2