Whiteocean: The Testament Limitless

Whiteocean: The Testament Limitless
Chap 23: Kamar Asrama


__ADS_3

Setelah baru saja sampai, aku cukup terpukau dengan lingkungan Akademi ini…


Walaupun berada di tengah-tengah Kota Metropolitan sebesar ini, Akademi ini masih memiliki pemandangan yang bisa dibilang cukup asri untuk sebuah tempat yang berada di Kota ini.


Memikirkan hal yang apa yang pertama kali harus dilakukan setelah melangkahkan Kaki di Akademi ini. Entahlah aku cukup bingung mengenai itu…


Dan disitulah, Sahabatku Al menyarankan untuk merapikan dan melihat-lihat kamar di Asrama terlebih dahulu.


Yah, kalau dipikir-pikir itu ide yang bagus, selain itu… Hari ini adalah hari minggu. Jadi aku mulai resmi dan aktif sebagai siswa akademi ini.


Jadi, melihat-lihat kamar asrama adalah hal yang baik.


Setelah itu, Al mulai berjalan menuju Asrama, karena tak tahu jalannya, aku hanya mengikutinya… dan disitu aku teringat oleh sesuatu.


“Oh, ya… Al, memangnya kau tahu aku di kamar yang mana?”


Dia sedikit memperlambat jalannya, lalu sedikit menoleh ke arahku.


“Memangnya kau sendiri tak tahu?”


“Tidak…!”


Aku mengucapkan nya sembari menggelengkan kepala.


Dia terlihat seperti berpikir… lalu kemudian berkata…


“Apa di formulir tidak dicantumkan?”


“Memangnya disitu ada?”


“Entahlah, coba saja lihat!”


Setelah itu, aku mencoba mengambil amplop yang berisi Formulir yang diberikan Kepala sekolahku yang sebelumnya. Ini cukup memakan waktu, karena aku menaruh itu di tempat yang paling aman didalam Tasku.


Beberapa saat kemudian, aku mendapatkannya.


“Ini dia…!”


Kemudian, aku memberikannya pada Al.


“Kenapa kau memberikannya kepadaku?”


“Kau mungkin tahu lebih rincinya dimana…!”


Dia terlihat memasang raut wajah terkejut mendengar hal itu dariku. Aku sendiri kebingungan karena tatapannya.


“Kau…!”


“Aku apa?”


“Kau… apa yang terjadi padamu selama beberapa waktu kebelakang!?”


Aku agak bingung mendengar itu...


“Tidak ada apa-apa! Memangnya kenapa?”


Dia kemudian kembali memasang ekspresi biasa dan menerima amplop yang ku berikan, dan kemudian membaca formulir nya.


“Tidak, bukan apa-apa! Hanya saja… kau nampak jadi mirip seperti Rei!”


Ahh, memangnya aku seperti itu?


“Tidak-tidak! Bagaimana mungin kau menyamai ku dengan nya! Kita tak mirip! Yaah, walau kuakui aku sedikit tertular olehnya!”


Al tak menjawab, ia masih fokus membaca keseluruhan dari formulir itu.


Dan kemudian… ia Nampak menemukannya.


“Ini dia! ehm… jadi kau di kamar, S-10…!”


“S-10...!?”


Kemudian, Al melipat kembali formulir itu dan memasukannya kembali kedalam amplop dan mengembalikannya kepadaku.


“Kebetulan! letak kamarmu disebelah kamarku!”


“Eh, benarkah!?”


“Ya, aku di kamar S-09…!”


“Ohh!! Kebetulan sekali!”


“Ayo!”


Setelah mengetahui detail kamarku, kami kembali berjalan menuju Asrama.


“Tetapi… Penomoran kamarnya cukup unik juga, ya!”


Aku menyampaikan pendapatku tentang sistem penomoran kamar asrama yang ada di ACJ.


“Ya, begitulah… ACJ membagi kamar menjadi 4 bagian… S, A, B, Dan C! setiap tu setidaknya berisi kurang lebih 50-100 kamar!”


“Eh, jadi begitu…! Lalu kenapa kita ada di S?”


“Karena kita murid jalur Undangan! Kita diberikan fasilitas kamar yang terbaik! Namun jika prestasi kita menurun, kita akan turun ke A atau B…”


“Hoo… menarik juga…! Jadi bisa dibilang mirip seperti sistem seleksi, ya..! jika kita dapat peningkatan, maka Kamar kita akan dipindah ke bagian yang lebih bagus lagi!?”


”Ya… mungkin seperti itu!”


Tak ku sangka ACJ memiliki sistem seperti itu…! Aku jadi penasaran bagaimana fasilitas yang diberikan di seri S.


Setelah berjalan selama beberapa menit, kami akhirnya sampai ke tempat tujuan.


Kami berdua saat ini berdiri di depan sebuah bangunan besar bertingkat, tang jika dilihat-lihat... tak terlalu mirip dengan struktur bangunan Asrama yang biasa kulihat.

__ADS_1


Bentuknya lebih mirip dengan bangunan perkantoran, atau mungkin hotel… yang pasti, ini adalah Asrama tingkat Elite… di sebuah Akademi Elite.


Tanpa basa-basi, aku dan Al memasuki asrama ini. selama itu, aku terus memperhatikan bagaimana desain interior dari asrama ini, bagiku… ini cukup bagus dan simpel. Perfect…!


“Wah, desain di dalam, bagus juga!”


Kami terus berjalan, lorong demi lorong telah dilewati. Hingga ada akhirnya, kami memasuki ke sebuah bagian dalam yang cukup luas… dan akhirnya sampai juga ke tempat tujuan kami.


“Ini, kamarmu! S-10… disebelahnya itu kamarku…! Kalau dipikir-pikir… S-10 ini memang tak ada yang menempati, ya..! aku tak pernah melihat penghuninya…”


Aku menatapnya beberapa saat, pintu ini memiliki ukuran yang cukup besar… namun jika dinilai secara keseluruhan… ini cukup biasa bagiku. Omong-omong soal pintu, aku tak memiliki kuncinya!


“He, Al…! omong-omong, apa kau punya kunci kamar ini?”


“Eh, Kunci kamar ini sudah modern… kau bisa memakai kartu pelajar mu!”


Kartu pelajar, ya… aku ini…


“Tak punya!”


“Apa?”


“Aku tak punya itu…!”


“Haah, benarkah…?”


“Benar…!”


Dia menatapku dalam diamnya dan itu, entah mengapa membuatku merasa dia agak berubah… dia sudah tak sepasif dulu lagi.


“Ya ampun…! Kau ini sebenarnya beneran pindah tau apa, sih?”


“Ya bagaimana lagi! undangannya saja datang mendadak!”


Al hanya menghela nafas pelan, ia juga memegangi dahinya dengan tangan kanannya.


“Haah, tidak ada pilihan lagi… sementara itu, taruh saja barang-barang mu ke kamarku! Aku akan meminta kunci manual kamarmu nanti ke pengurus asrama…”


“Kalau begitu terima kasih!”


Al kemudian merogoh kantung kemejanya, dan mengambil sebuah dompet. Lalu mengambil kartu pelajarnya yang ia letakan di situ.


Kemudian, ia menempelkannya ke sebuah alat yang ada di gagang pintunya. Dan membuka pintu kamarnya.


“Masuklah!”


Setelah dipersilahkan untuk masuk, aku mengikutinya dari belakang. Dan kemudian sedikit terpukau dengan interior dan fasilitas yang diberikan kamar seri S.


Bagian dalamnya cukup luas, mungkin ini berukuran 5x6 meter. Cukup luas… terdapat juga kamar mandi dengan bak mandi disini.


Selain itu, fasilitas yang diberikan juga sangat baik. Mulai dari ranjang berukuran sedang. Sebuah televisi, lemari pakaian, Rak-rak yang sudah ia isi dengan berbagai macam buku. Dan sebuah meja kursi sederhana. Ini cukup mewah…


Ini cukup sesuai dengan ekspektasi ku. Baik dari segi desain interior dan fasilitas.


“Ehh, bagus juga kamar ini…!”


“Taruh saja barang mu di situ!”


Dia menunjuk kearah sudut ruangan, aku langsung menuruti arahannya. Dan kemudian duduk di kursi.


Aku masih menatap sekitar, hanya untuk referensi untuk bagaimana aku menata kamarku nantinya.


Aku mendapati Al juga menyimpan Manga di rak bukunya. Dan juga… ini Volume terbaru! Di Jorioh belum ada yang menjualnya! Dan dia bisa mendapatkannya…?


“Al… dari mana kau dapatkan ini!?”


“Tentu saja dengan pre-order!”


Dia terlihat memasang eskpresi menyombongkan diri. Aku sedikit menatapnya…


Menyadari tatapanku, ia mulai sedikit tak nyaman.


"Ada apa?"


“Kau… juga sedikit berubah, ya…!?”


Dia menanggap itu…


“Benarkah?”


“Ya… kau sudah tak sepasif dulu! Dan entah mengapa kau kehilangan aura kalem!”


“Jadi begitu…!?”


Al hanya bisa terdiam, mungkin ia juga sedikit merasa akan hal itu. Beberapa saat kemudian, ia memasang senyuman.


“Yaahh, semenjak datang kesini aku mendapatkan cukup banyak teman…! Dan masing-masing dari mereka memiliki karakter yang cukup unik! Entah mengapa aku sudah terbiasa dengan itu, bahkan mungkin sedikit ketularan sifat mereka!”


Dia memasang raut wajah yang cukup terlihat senang dengan itu… yah, kalau soal memiliki banyak teman. Dia itu pastinya akan menjadi kakak popular. Walaupun dia masih tahu pertama.


Karena Akademi ini juga ada murid SMP, jadi mungkin taka apa-apa kalau aku menyebutnya sebagai kakak popular.


Sama seperti julukannya saat SMP.


Saat kami semua masih SMP, Al memiliki sebuah banyak sekai penggemar yang mengagumi dirinya, mayoritas dari mereka kemudian menciptakan FanClub yang bahkan berada langsung di bawah OSIS.


Simpelnya mereka adalah FansClub berkedok OSIS. Dan mayoritas anggotanya adalah perempuan, bahkan beberapa guru juga pernah bergabung ke dalam FansClub ini.


Bagiku pribadi, keberadaan FansClub ini sangatlah membantu diriku di masa itu. Karena diriku saat itu hanyalah seorang Unknown class yang lemah, dan menjadi sasaran bully, FansClub Al sering sekali menolongku.


Karena mereka tahu kalau aku adalah sahabat baik Al. dan mereka berusaha menghindarkan segala hal yang bisa membuat Al menjadi marah.


Dan menyingkirkan orang-orang yang membully ku adalah kebiasaan dari mereka. Dan tentunya, pelaku pembully juga tak memiliki keberanian yang cukup untuk melawan OSIS.


Itu sangat membantu.

__ADS_1


Yah, cukup sampai disini untuk bagian mengingat masa lalu. Sekarang, adalah waktunya…


“Hey, Al…!”


Aku memanggilnya yang sedang asik memainkan Smartphone miliknya.


“Ehm…, ada apa?”


“Apa kau sudah hafal daerah Akademi ini?”


“Apa…?”


“Yaah, aku hanya ingin tahu kau sudah hafal seluruh bagian sini atau tidak?”


“Yaah, bisa dibilang… lumayanlah!”


Aku diam sesaat, kemudian aku bangkit dari dudukku dan menaruh kembali Manga yang ku pegang di rak bukunya.


“Kalau begitu…! Ayo temani aku berkeliling!”


“Baiklah… ayo!”


Setelahnya, Kami berdua segera keluar dari kamar dan berniat untuk sedikit berkeliling daerah Akademi ini. Al menjadi pemandunya…


Saat sudah diluar, salah satu pintu kamar yang ada di sebrang kami berbunyi dan terbuka. Aku menatapnya, dan dari situlah muncul seorang gadis yang cantik dari sana.


Aku terpukau sekaligus terkejut melihat itu… karena ku kira disini adalah asrama laki-laki. Namun ternyata, ada seorang perempuan yang menempati kamar seri S disini… benar-benar tak disangka.


Kami berdua sempat beradu tatapan sesaat. Dia adalah seorang gadis yang cukup tinggi, rambutnya bewarna hijau gelap. Dengan warna mata yang mirip dengan rambutnya. Entah mengapa… aku terasa seperti nostalgia melihatnya.


Setelah itu, ia mengalihkan pandangan kearah Al yang sedang mengunci pintu kamarnya. Dia kemudian berkata…


“Oh, Aldian… Selamat siang!”


Al mengalihkan pandangannya ke suara gadis itu.


“Sylphy!? Selamat Siang! Kau beneran pindah kesini, toh?!”


Dia hanya menanggapinya dengan mengangguk, kemudian, ia kembali menatap kearah ku, dan tentu saja hal itu membuatku agak gugup.


“Jadi, dia ini…?”


Dia melirik kearah ku, Al yang menyadari akan hal itu segera memperkenalkan ku.


“Ahh, dia ini teman yang sudah ku ceritakan waktu itu! Namanya Saidhan!”


Dia memperkenalkan ku sembari sedikit menepuk punggungku beberapa kali.


“H-halo…! N-namaku Saidhan! Saidhan M. Ardiyasha! Mulai sekarang aku akan tinggal di kamar no. S-10! Salam kenal, ya…!”


Ia nampak sedikit terkejut mendengar namaku, kemudian ia sedikit mendekat kearah ku dan mengamati ku. Tentu saja itu sedikit membuatku tak nyaman.


“Aaah…!”


“Eehh, jadi kau, ya…! Stage 7 terbaru itu?”


Wah, dia orang yang update info, ya…!


“Ya, begitulah!”


Dia sedikit menjauh lagi… dan mengulurkan tangannya.


“Namaku Sylphy, Sylphy Hartiningrat! Salam kenal…!”


Aku segera menjawab ajakan jabat tangannya. Setelah itu, Al menanyakan tentang tujuannya.


“Kau mau kemana? Rapi sekali kelihatannya!”


Ucap Al sedikit berbasa-basi.


“Aku ada urusan diluar… kalau kalian?”


“Aku berniat mengajak Sai, berkeliling…!”


Dia merespon dengan mengangguk.


“Kalau begitu, aku duluan, ya…!”


Setelah mengucapkan itu, Sylphy segera pergi meninggalkan aku dan Al.


“Siapa dia?”


“Teman sekelas dan satu ekskul denganku!”


“Jadi begitu…!?”


Kemudian, aku mencoba untuk menggoda nya.


“Jadi… apa dia fansmu?”


Al hanya menatapku dengan pandangan sedikit kesal.


“Tentu saja bukan! Asal kau tahu, dia itu murid Elite tahu! Dia juga stage 6 sama sepertiku!!”


Aku agak kaget mendengarnya.


“Benarkah?”


Al merespon dengan mengangguk. Setelah itu, ia juga mulai berjalan meninggalkanku. Aku segera mengejarnya…


“Jadi? Dari mana kita mulai berkeliling!”


Tanya Al kepadaku. Aku merespon dengan…


“Hal itu kuserahkan kepadamu, pemandu ku!”

__ADS_1


Dengan begitu, acara keliling kami dimulai… mari kita lihat seberapa luasnya akademi ini…!


__ADS_2