
***Aku tak tahu berapa jam dalam sehari aku memikirkanmu,
Aku menghibur diriku sendiri saat aku merindukanmu.
Dan hari pun perlahan terus berlalu.
Saat aku melihatmu, aku masih merasa resah.
Aku takut lamanya waktu akan semakin menyirnakan diriku dalam ingatanmu.
Aku melukismu di tengah hatiku,
Aku takut jika suatu hari aku tlah tua dan melupakan wajahmu.
Aku ingin tahu apakah air mata yang menetes akan membuatmu sedih,
Dan aku pun melukis dengan senyummu di atas air mataku.***
💝💝💝💝
Seperginya Lian, Bryan bergegas menemui Syila. Datang dalam keadaan basah kuyup Bryan sangat khawatir dengan keadaan Adiknya itu.
"Tok tok tok...Dek" Panggilnya di depan pintu kamar Syila. Pria berkaos hitam itu bersandar di depan pintu kamar Syila menunggu sang Adik membuka pintu, rasa takut kehilangan mendesaknya untuk segera mewanti wanti Syila agar menjaga jarak dengan Lian si pria dingin nan songong itu.
"Bentar Kak, mandi dulu ya". Seru Syila yang nampaknya telah berada di kamar mandi.
Bryan pun mengurungkan niatnya, baru terlintas di kepalanya tentang perjanjian dirinya dan Lian, bahwa dirinya akan memberi kesempatan kepada Lian untuk mendekati Syila dari awal lagi, tanpa mengungkit dan mengingatkan tentang masa lalu mereka.
"Kakak tunggu di ruang tamu ya". Akhirnya hanya kata kata itu yang dapat dia ucapkan.
"Iya Kak!!". Gadis itu kembali berseru. Samar samar terdengar gemericik air dari dalam sana, Bryan pun melangkahkan kaki menuruni tangga menuju ruang tamu.
Tak perlu waktu lama Syila sudah menyusul Bryan ke ruang tamu. Di sana ada Nazmi dan Bella yang tengah asik menonton televisi.Rambutnya masih tergelung handuk dengan anakan rambut yang berhamburan di tepian keningnya.
"Gimana ceritanya bisa ketemu sama Lian Dek??". Belum sempat Syila duduk di sofa Bryan sudah lebih dulu mengajukan pertanyaan kepadanya. Padahal dia sudah tahu betul bagaimana kejadian itu terjadi.
"Tadi ketemu di jalan pas Syila kehujanan lagi dorong motor Kak". Sahutnya meletakan bungkusan wedang jahe yang tadi Lian belikan dan berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk.
Bungkusan itu menyita perhatian Bryan, spontan dia membukanya dan mengeluarkan isinya.
"Dapet dari mana Dek??, wah abis hujan begini minum yang anget anget enak nih, bagi Kakak ya". Pintanya sumringah. Belom tau aja kan dia asal muasal tu wedang 😅
Syila memanyunkan bibir bawahnya kepada Bryan "No!!, Kakak jahat nggak nerima panggilan telpo Syila".
"Ponsel Kakak ketinggalan di ruang rapat Dek, lagian udah ada Lian kan yang bantuin kamu". Ucapnya berlagak santai, padahal dia panik luar biasa mengetahui Syila sempat hujan hujanan.
"Jangan ngambek dong, bagi Kakak wedangnya ya". Bujuknya lagi.
"Kakak tau kok Syila sengaja beli ni wedang biar bagi sama Kakak kan" Lanjut Bryan percaya diri. Dia tau bukan hanya dirinya yang sangat menyayangi Syila, gadis itu juga sangat perhatian dan sangat sayang kepadanya.
"Dih ge-er deh, orang Lian kok yang beliin"
Bryan: 😐😐😐😐😐
Mendengar nama Lian seketika selera Bryan anjok kedasar bumi. Dia hanya menelan salivanya dan menjauhkan pemberian Lian itu darinya.
"Karena Syila Adek yang baik hati jadi kali ini Kak Bryan Syila maafin. Nih Syila mau kok bagi ni wedang sama Kak Bryan, Syila bukain dulu ya".
"Eh lupa, tadi Kakak pengen ngopi Dek". Dia berkelit. Pada dasarnya Lian baik sih, tapi songong banget. Bryan males banget memakan wedang pemberian tu cowok, takut ketularan songongnya. Lagian tenggorokannya nggak akan bisa menelan tu minuman, jauh di dasar hati dia masih nggak bisa menerima kehadiran Lian di antara mereka.
"Bagi Bella aja Kak, mau dong". Rengek Bella sembari menadahkan kedua tangan.
"His...barang seiprit di mintain juga". Tukas Nazmi menyinyir Bella.
Kedua bola mata Bella melotot kepada Nazmi "Diem Kak Nazmi!!!, Nyolot Bella tabok lho". Ancam gadis manis itu.
"Bwekkkkk!! Bella suka minta minta". Bukannya diam seperti apa yang di pinta Bella, Nazmi malah makin semangat mengejek Bella dengan menjulurkan lidahnya.
"Isshhh!!, Kak Bryan!!".
"Udah udah!!, kamu juga sih wedang nggak enak begitu di mauin juga". Lah...si Bryan malah menghina pemberian Lian, emang dia udah ngerasain tu minuman?? seenaknya menilai makanan sebelum benar benar mencicipinya.
Syila kembali melirik Bryan namun kali ini dengan tatapan aneh"Tadi katanya mau, lagian sejak kapan Kak Bryan menghina makanan??". Bisik hatinya.
💝💝💝💝
"Orang bilang jika sepasang kekasih berciuman di titik teratas bianglala maka pasangan itu akan berbahagia sepanjang hidup mereka".
"Itu cuman legenda yang kamu ciptakan sendiri".
"Bagaimana kalau kita gunakan waktu seumur hidup kita untuk membuktikan legenda itu". Ucap pria yang sangat buram di pandangan ku.
"Modus mau nyosor kan kamu!!, udah kebaca kali". Balasku berkelit.
Jemarinya membelai wajah ku dengan lembut.
"Jika demi bersamamu mengharuskan aku hidup dalam dunia dongeng itu, maka aku akan tinggal di dalam dongeng bersamamu untuk selamanya".
__ADS_1
"Akh...siapa pria ini??aku sangat dekat dengannya tapi wajahnya nggak bisa aku lihat??"
"Lho...kok menjauh!!, pria itu menjauh dan semakin menjauh".
.....
Keringat dingin terlihat membasahi kening Syila yang terhengal hengal dalam tidur.
Terdengar sayu dia merintih seperti orang kesakitan dan menangis pilu.
Jam menunjukan pukul 2 dinihari. Bryan terbangun mendengar suara rintihan di kamar depan, kamar Syila.
Meski dengan langkah lunglai Bryan harus memeriksa apa yang sedang terjadi "Tok tok..." Suara ketukan pintu.
"Syila...,Syila...".
Tak ada jawaban, hanya suara rintihan dan tangisan yang semakin jelas terdengar dari dalam sana.
Bryan membuka pintu dan mendapati Syila meringkuk dalam selimut dengan derai air mata. Kedua matanya tertutup rapat dengan mulut tergigit dalam isak tangis.
"Syila!!," Tepuknya pada pipi sang adik.
Gadis itu seakan kehilangan kesadaran.
"Tolong jangan pergi!!, aku salah, aku memang salah!!". Pekik Syila dalam tangis pilu, tangannya mencengkeram piyama Bryan dengan sangat erat.
Bryan mengguncang tubuh Syila hingga gadis itu tersadar dan membuka mata.
"Hosh...Hosh...!" Nafasnya terdengar berat. Tangannya gemetar menutupi wajah dan kembali terisak.
"Kamu kenapa dek??".Tanya Bryan lembut.
"Aku mimpi buruk Kak, aku bersama pria menaiki bianglala". Ujarnya sembari bangun dari tidur nya.
"Entah kenapa berakhir dengan kepergiannya, dan itu karena kesalahanku".
"Makanya kalo mau tidur baca doa dulu". Belai Bryan lembut di pucuk kepala gadis itu. Di usapnya genangan air mata yang masih membentuk anakan sungai di kedua pipi Syila, di tepuknya pundak Syila dan membenamkannya kedalam pelukan.
"Kak Bryan, apa Kak Bryan akan meninggalkanku suatu hari nanti??". Tanyanya sembari mereda tangisan.
"Ya enggak lah Syila, sampai kapan pun kita nggak akan terpisahkan, Kakak janji". Ucapnya meyakinkan sang Adik. Ada kesungguhan dalam kata katanya, apapun yang terjadi Syila akan tetap menjadi adiknya. Selamanya akan bersamanya, tekad nya nggak kalah kuat dengan Lian yang juga berjuang mendapatkan Kaila kembali.
Bryan merasakan Syila membalas pelukannya, dengan erat dia melingkarkan kedua tangannya di pundak pria yang dia yakini adalah Kakak kandungnya.
Perlahan Bryan berhasil menenangkan Syila, dia merebahkan tubuh sang Adik dan menarik selimut hingga hampir menutupi seluruh tubuh Syila. Gadis itu akhirnya dapat kembali memejamkan mata dan tertidur lelap.
Pagi yang cerah menyapa sang bumi yang sempat tersiram hujan, semilir angin sejuk mengiringi siulan burung burung gereja yang asik berterbangan dari dahan ke dahan.
Tak kalah riuhnya dengan nyanyian burung burung di luar sana, suara alarm juga terdengar riuh di kediaman Lian. Entah terlalu lelah untuk bangun atau memang sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurnya Lian tak bergeming sedikit pun.
"Jam 6 lewat 5 menit". Ujar alarm otomatis.
Lian masih tak bergeming.
Tak berapa lama alarm kembali berdering "Jam 6 lewat 10 menit".
Barulah nampak tanda tanda kehidupan di kamar Lian, pria itu dengan sangat berat melangkah ke kamar mandi dengan mata memicing dan rambut yang berantakan.
"Hoammmmm!" Ujarnya menguap dengan tangan menutupi mulutnya.
Seperti biasa setelah bangun tidur dia bergegas mandi dan bersiap berangkat bekerja, tanpa sarapan tentunya.
Kedai Arin masih menjadi tempat favorite Lian untuk sarapan. Bahkan meja yang tepat menghadap ke toko bunga di seberang sana sudah Lian pesan dari hari sebelumnya.
Aura seorang pemimpin nampak terpancar dari wajahnya ketika melangkah ke dalam kedai, aroma mint yang sudah menjadi ciri khasnya tercium semerbak di dalam kedai.
"Set dah bang, wangi bener. Parfumenya di semprot apa di mandiin?" Tanya pelayan
"Roti krimnya 1". Lian tak menghiraukan pertanyaan pelayan itu.
"Dueileh bang, dingin banget. Kurang kasih sayang ya bang". Celoteh si pelayan lagi.
"Plak!!" Arin anak pemilik kedai menggeplak tengkuk si pelayan yang bernama Fay itu.
"Kerja tuh pake tangan, bukan pake mulut". Sentak Arin.
"Galak bener kamu Rin, pantesan masih jomblo". Sahut Fay memegangi tengkuknya.
"Beh mau di geprek kamu??". Arin sudah siap hendak menggeprek kepala Fay lagi.
"Ayam kali di geprek, lama lama kerja di sini bisa geger otak aku!" Gerutu Fay" Nih pesanan babang kulkas, heran deh udah beberapa kali ketemu kok nggak mau ngerumpi bareng gitu" Mulutnya terlihat komat kamit sembari menyerahkan pesanan Lian kepada Arin. Kayanya kesel banget dia sama sikap songong Lian. Arin juga, doyan banget menggeplak tengkuk Fay, kalo dia salah urat gimana? kalo dia tetiba sakit jiwa gimana?? Akh Fay terus meringis memegangi tengkuknya dan bersandar di sofa yang kosong.
"Maafkan kelancangan pegawai kami Pak, sebentar lagi pesanannya saya anter. Silahkan tunggu di meja yang anda mau Pak". Sikap Arin terhadap Lian berbanding 180 derajat dengan sikapnya kepada Fay. Lian meninggalkan counter tanpa berkata apa apa baik kepada Arin apalagi Fay, namun dia sempat menyunggingkan senyum licik kepada Fay ketika melewati sofa yang sedang Fay duduki.
"Oh lord!!!, sumpah ni pelanggan nyebelin binggo !!" Pekik Fay kembali ke dalam counter menyusul Febby yang menemani Ayah Arin memanggang roti.
Senyum Lian berubah menjadi tawa kecil" Bocah, jadi inget aku jaman jahiliah dulu".
__ADS_1
Setelah ribut menceritakan insiden geplakan Arin di tengkuknya Fay mendapat tugas mengantarkan pesanan Lian.
"Aduh om!! kan Fay udah cerita tadi gimana sikap tu pelanggan, nyebelin banget om, please biar Febby aja yang nganterin!!". Pintanya dengan tangan memohon.
"Tuh lihat Febby lagi bantuin wanita tercantik saya menabur biji wijen di atas roti, lagian kamu juga sih udah tau tu pelanggan nggak ramah malah kepo nanyain parfumenya segala". Tukas Ayah Arin terkekeh geli, Sang istri yang di bilang wanita tercantik tersipu malu dengan sikap manis suaminya.
"Arin..." Lirik Fay pada Nona muda di kedai itu.
"Bweeeeekkk, dia kan pesannya sama kamu".
Fay mengusap wajahnya kasar, mimpi apa dia semalam sepagi ini berhadapan dengan para umat manusia terunik dan rese abis modelan Lian dan Arin.
Jadilah dengan langkah terseret Fay mengantarkan pesanan Lian ke meja di pojokan, meja yang tepat menghadap toko bunga Charllote.
Lian nampak tersenyum melihat gadis kesayangannya di seberang sana. Hari ini Kaila mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan bawahan celana jeans berwarna senada.
"Seleranya nggak berubah, dia masih penggemar warna biru muda". Gumamnya memandangi Kaila dengan tangan menopang dagu.
"Sret, ini bang pesanannya". Ujar Fay datar. Males banget dia berlama lama berhadapan dengan Lian, setelah meletakan pesanan di meja dia berniat segera kabur dari meja itu.
"Terimakasih, maaf kalo saya bikin kamu kesel".
Hal yang nggak di duga Fay terjadi, Lian meminta maaf kepadanya. Ujung matanya melirik Lian sekilas, kedua mata tajam itu tengah memandanginya dengan seksama.
"Oh...nggak papa kok bang, saya juga minta maaf sok akrab sama abang". Tingkahnya benar benar mengingatkan Lian akan dirinya di masa lalu, cengengesan dan ceria.
"Kamu sedang sibuk??".
"Enggak sih bang, baru abang doang kan pelanggan yang datang". Sahut Fay.
"Temenin saya ngobrol ya". Pinta Lian mempersilahkan Fay duduk.
Bujubuset!! ada angin apa yang membawa Lian meminta di temenin ngobrol, apa dia udah mulai bosan setiap hari sarapan sendirian??.
Fay langsung meletakan nampan di meja dan duduk manis di depan Lian. Wajahnya terlihat sedang memamerkan senyum tercakep nya.
"Saya perhatikan kamu orangnya selalu happy ya".
"Yoi dong bang, saya terlahir tanpa kesedihan dan kesengsaraan". Sahutnya berbangga diri.
"Jangan takabur!!, kamu udah pernah berhadapan dengan cinta belom??" Tanya Lian masih berfokus kepada kaila yang mulai menyirami bunga bunga kecil di depan toko bunga.
Fay memutar kedua bola matanya jengah"Hah!!, cinta yang maha benar, cinta yang maha egois, cinta yang maha ini dan ono, saya udah muak bang sama yang begituan".
Lian terkesima dengan jawaban mengejutkan Fay, seorang bocah ingusan yang pecicilan bagi Lian. Itu bagi Lian yah, nyatanya Fay juga pernah terluka karena cinta lho.
"Punya pengalaman pahit karena cinta??" Tetiba Lian jadi kepo sama ni bocah.
"Ya iyalah bang, saya kan cakep badai tuh, wajar lah kalo saya pernah di buat pusing karena cinta,waktu SMA kemaren saya jadi rebutan para cewek lho bang, tapi hati kecil saya udah terlahir untuk mencintai satu perempuan saja". Ujarnya mulai bercerita.
"Iya deh kamu doang yang paling cakep di alam semesta ini,Terus..." Ucap Lian santai, perhatiannya sedang terbagi dua sekarang. Separo mikirin Kaila di seberang sana separo kepoin Fay di seberang sini.
"Nah abang emang bermata brilian, tau banget menilai ketampanan seorang Fay Radian". Ujarnya berbangga diri.
"Hmm...terus". Ujar Lian lagi.
Fay pun bercerita panjang lebar di hadapan Lian dari dia naksir anak bangsawan, mencintainya dengan sepenuh hati, ngejagainnya selama 3 tahun di masa SMA hingga berakhir dengan ngebantuin tu cewek buat berbahagia dengan lelaki idamannya, tentu saja lelaki itu bukanlah dirinya.
"Pffhhh!!, jadi kamu di tolak??" Lian hampir saja menyemburkan kopinya ketika Fay selesai bercerita.
"Bukan di tolak bang___" Fay berkilah.
"Hahaha...oke deh, suka suka kamu deh".
"Seneng banget dengerin cerita menyedihkan saya bang, lah si abang nggak berniat nyeritain perihal percintaan abang??" Fay balas kepo.
"Hm....awalnya sulit sih, terus setelah perjuangan panjang akhirnya ngerasain juga manisnya cinta".
"Tapi sekarang dewi cinta mulai mempermainkan saya lagi". Lanjutnya menyeruput kopi terakhirnya.
"Waduh!!, jadi sekarang di abang galau nih??"
"Nggak juga sih, ya sudah lah saya berangkat ngantor dulu. Terimakasih udah nemenin saya sarapan". Lian menepuk pundak Fay dan beranjak pergi.
"Hati hati ye bang!!" Seru Fay memandangi kepergiannya.
"👋👋"Lian melambay tanpa berbalik menatap Fay.
To be continued...
15 September 2020.
Happy reading, jangan lupa like vote dan komen 😆.
Salam anak Borneo.
NB: Ingin tau cerita awal Kaila dan Lian?? baca novel "Fate of our love" Author Liss. 😊
__ADS_1