
***Jika dunia ini memudar aku akan selalu berada di sisimu.
Teguh dalam diam berjuang melawan ribuan kata.
Jika segala sesuatu di dunia ini hancur berantakan,
Akan ku gunakan benang kasih sayang untuk menjahit semuanya kembali.
Bersamamu melihat matahari terbit dan bulan terbenam.
Bersamamu melihat lautan biru tua bergelombang berubah ubah.
Bersamamu setiap kata kan menjadi bait puisi berisi kenangan.
Bersamamu menulis kembali cerita kita.
Karena kau begitu memahamiku,
Kau di takdirkan untuk selamanya menjadi kekasih hatiku***
💗💗💗💗
Setelah melalui perdebatan kecil perihal alas kaki, akhirnya Syila dan Lian kini berada di kapal wisata yang di sewa Lian hanya untuk dirinya dan Syila.
Sembari bersandar di pagar pengaman kapal Syila nampak bertelanjang kaki memandangi tepian sungai yang membelah wilayah itu.
"Hey...sini makan siang dulu"Ajak Lian menepuk kursi kosong di sampingnya.
Tangan gadis itu menjulur kepadanya,Lian pun mendekati Syila dan memapahnya untuk duduk bersamanya.
"Betah banget panas panas an, nggak takut item Non??"Setelah mempersilahkan Syila duduk Lian sibuk menata makan siangnya bersama Syila.
Gadis itu tak menghiraukan ucapan Lian, dia fokus menatap dan mengikut gerak gerik Lian"Li..apa di kehidupan lampau kamu adalah seorang pelayan??"
"Eh??"Kata kata itu membuat Lian terperangah. Pandangannya teralih dari menu makan siang mereka dan terfokus pada wajah manis kaila dengan helai rambut terbelai angin.
"Maksudku...kamu melayaniku dengan sangat baik hari ini, menggendongku dari panti sampai ke kapal ini. Dan sekarang kamu bahkan melayani waktu makan siang ku"
"Pelayan???kaya nya enggak deh,aku yakin di kehidupan masa lalu aku adalah seorang pangeran" Lian mulai menyombongkan diri.
"Wajah tampan kaya gini mana cocok jadi pelayan La, tapi...kalo jadi pelayan pribadi kamu aku sih oke oke aja"Lanjutnya dengan senyuman. Akh...nongol lagi kan dimple nya, apa karena lesung pipi kembar ini tanpa sadar Syila setuju untuk menghabiskan waktu bersamanya.
"Nih apa sekalian mau di suapain makan siangnya Nona Syila"
Syila tertawa geli, entah kenapa pria di hadapannya ini selalu bisa membuat Syila tertawa. Padahal baru juga kemarin malam Syila merasa kecewa terhadapnya namun sekarang dia malah berada di kapal ini berduaan saja dengannya.
"Jadi begini cara kamu memperlakukan cewek??lantas...kenapa Kaila pergi dari kamu Li??"
"Oh Lord!!!, mulut jahat!!mulut jahat!!" Batin Syila menjerit. Bagaimana bisa kata kata itu lolos dengan lancar dari mulutnya.
Lian nampak menelan saliva dengan bibir tergigit.
"Aku...membuat kesalahan fatal" Senyum terpaksa menghiasi wajah tampan itu.
"Maaf Li, duh aku kok jadi nggak ber etika begini sih, Maaf banget Li" Cicit Syila merasa nggak enak hati dengan Lian.
"Nggak papa La, penyebab dia meninggalkan ku...karena aku nggak benar benar percaya dengan kata kata nya, aku menuduhnya, aku memojokannya" Ucapnya lirih. Penjelasan Lian terasa tak asing baginya. Namun Syila mengabaikan perasaan tak asing itu.
Hanya saja lengan gadis itu seakan bergerak sendiri, dia memegang wajah sedih Lian. Merengkuh wajah Lian dengan kedua tangannya"Gila!!!, apa yang aku lakukan!!!" Lagi...batin Syila menjerit.
Lian cukup terkejut dengan sikap Syila, sudah lama dia tak merasakan tangan kecil ini menyentuh wajahnya. Bolehkah dia menikmatinya sebentar???
"La...."Matanya menatap lurus ke dalam mata Syila.
Sekali lagi Tuhan menguji kesabarannya, senyum gadis itu mengembang begitu manis di hadapan Lian.
"Ya Tuhan..."Pekik hati kecil Lian.
"Sini...aku peluk"Di luar dugaan Syila membentangkan kedua tangannya kepada Lian.
"Gara gara pertanyaan ku kamu jadi sedih kaya gini, sini aku peluk. Anggap aja aku Kaila mu hari ini, jangan sedih lagi ya Li".
Tanpa pikir panjang Lian langsung berpindah ke hadapan Syila dan memeluk gadis itu erat erat. Tak terbayang betapa berat kerinduan yang tlah lama dia pendam.
Mati mati an dia menahan diri agar tak lepas kendali setiap kali bertemu Syila, dan kali ini gadis itu merentangkan kedua tangan kepadanya"Aku kangen La, kangen banget"
Ada rasa pedih di hati Syila, entah kenapa bulir air mata tiba tiba jatuh dari kedua matanya. Dia merasakan ketulusan cinta Lian, tapi...."Aku adalah Syila yang mengaku Kaila" Bisik hati kecilnya.
"Aku Syila...yang dia anggap Kaila" Batinnya lagi.
Hangat, ya..pelukan itu sangat hangat. Aroma khas yang sering muncul di indra penciumannya, ini kah aroma khas Lian.
"Bahkan di kehidupan kedua ketiga bahkan ke empat aku akan tetap memilihmu menjadi kekasihku"
"Akh!!!"Syila terpekik, keapalanya sakit.
Sekelebat bayangan Lian berbincang bersamanya seakan menghantam jiwa"Suer La, aku akan selamanya bersamamu!!"
"Hah..."Syila melepaskan pelukan Lian, dia merunduk memegangi kepalanya.
"La..., kamu kenapa La??"
"Maaf Li...aku salah, tapi bagaimana___"
"hick...hick..."Syila memekik menutupi wajahnya. Kedua tangannya berpindah menutupi kedua telinga seakan enggan mendengar ocehan dirinya dan Lian di masa lalu.
Bayangan dirinya bertengkar dengan Lian kembali terlintas"Bagaimana perasaan kamu kalo aku yang menyampaikan kabar perselingkuhan Papah kamu??"
Kedua mata Syila membulat lebar dengan genangan air mata.Kilasan masa lalu tiba tiba terus bermunculan di dalam otak nya.
"Lian..."Ucapnya dengan wajah tegang.
"Ya...aku Lian, kamu nggak papa La??kepala kamu kenapa??" Lian nampak panik. Berkali kali dia mengelus kepala Syila mencoba menenangkan gadis itu.
Tangan Syila menarik kerah baju Lian hingga pria itu lebih mendekat kepadanya.
Matanya terlihat menyimpan kesedihan"Maaf Li, aku melupakanmu. Maaf aku terlambat mengingatmu"
Mata Lian mengerjap coba memahami kata kata Syila.
"Syila..."
Terus meracau Syila menepuk dadanya keras"Aku Kaila, aku Kaila mu Lian"Ucapnya dalam tangis.
"Kamu Syila, maaf aku terhanyut menganggap mu Kaila" Ibu jari Lian menepis air mata yang terus menggenangi kedua pipi Syila.
Gadis itu menggeleng, dia memegang erat jemari Lian di pipinya.
"Aku Kaila, aku mengingatnya Lian"Raung Syila terdengar begitu Pilu.
"Aku Kaila Li...aku Kaila!!!"
Lian terpaku dalam diam. Dia sadar kembali??apa kali ini hanya sesaat lagi??
__ADS_1
"Li____"
Bruk!!, Tanpa sempat berkata kata Syila tlah pingsan tak berdaya. Sakit di kepalanya mengalahkan kesadarannya, Lian yang panik segera memerintah nahkoda kapal untuk menepi.
💖💖💖💖
12:05 Di perusahaan Brander.
Bryan berkali kali mengirim pesan kepada Lian"Kucrut!katanya mau makan siang bareng"Tatapnya lurus pada ponsel yang masih tak menerima balasan.
Lelah menunggu dia memutuskan untuk menelpon Lian. Raut kekesalan kembali menguasai wajahnya, gelar tukang PHP kali ini dia sematkan kepada Lian. Dia yang bikin janji dia yang mengingkari.
"Lian lucknat!!" Gerutu Bryan kesal. Sembari mendengus dia melangkah ke area kantin perusahaan. Gegara kelamaan nungguin Lian, waktu istirahatnya terbuang sia sia, demi menghemat waktu Bryan berakhir di kantin perusahaan dengan semangkok soto ayam dan secangkir es teh.
Sembari menyeruput es teh jemari Bryan mencoba menghubungi Adik tersayang, Syila.
Tak berbeda dengan Lian, gadis itu juga tak bereaksi pada panggilan telponnya apalagi sekedar pesan singkatnya.
"Jangan jangan____"Dia beralih menelpon ke panti dan benar saja, Bi Mun mengatakan"Non Syila jalan sama Nak Lian"
Suap demi suap Bryan menyantap makanannya dengan kesal, kali ini dia kecolongan. Lian yang gesit dapat menyalipnya dan membawa Syila jalan jalan bersamanya.
"Lho...bukannya bakal makan siang bareng Pak Lian?" Brama menarik kursi kosong di depan Bryan dan duduk di hadapannya.
"Ku pikir kita nggak sedekat ini kan Bram??"Udah kesal karena kecolongan, Brama yang menyebalkan pake nongol pula.
"Hey...kesal sama pasangan sih boleh, tapi jangan di limpahin ke orang lain dong"
"Hupffhhh...tolong ya Bram, aku lagi males berdebat. Nggak ada apa apa di antara aku dan Lian, kami lelaki normal"
Meski Bryan bersikeras menyangkal dugaan miring tentang dirinya nyatanya Brama masih saja tersipu menahan tawa menatapnya.
📲 Trtrrrrrtt......"Lian calling"
"Nah...lelaki normal nelponin kamu tuh" Seloro Brama berdiri hendak meninggalkan Bryan.
"Ish!!! sialan kamu Bram" Umpatnya.
Brama terkekeh menanggapi umpatan Bryan.
📲"Buruan kerumah sakit!Syila pingsan"
📱"Kamu apain Li, aku bakal buat perhitungan sama kamu!" Sentak Bryan mengambil langkah seribu ke arah parkiran.
📲"Buruan!!!" Hardik Lian tak mengindahkan omelan lawan bicaranya.
Setelah mengetahui Rumah sakit tempat Syila di larikan Bryan segera memacu kendaraannya dan melintasi jalan raya secepat dia bisa.
Lian memasukan ponselnya ke saku celana, genggaman Syila begitu erat pada tangan kanan nya. Gadis itu tak melepaskan pegangannya pada Lian meski dalam keadaan pingsan.
Cukup lama Lian memandangi wajah yang sangat dia rindukan itu, hingga seorang Dokter datang kembali setelah memeriksa Syila di awal kedatangan mereka.
"Dia nggak papa kan Dok??"
Dokter yang sudah memeriksa keadaan Syila menggeleng pelan.
"Apa dia kehilangan ingatan??"
Lian mengangguk.
"Sepertinya ingatannya mulai kembali, namun...Biasanya setiap ingatan itu muncul akan memicu rasa sakit yang hebat di kepalanya" Jelas Dokter.
"Apa itu berarti dia nggak bisa mengingat masa lalunya lagi??"
"Bisa, tapi secara perlahan" Sahut Dokter.
"Enggak juga, tergantung ketenangan pasien. Maka dari itu saya anjurkan pasien untuk tetap dalam mood yang baik, apalagi dalam tahap pemulihan"
"Hosh hosh...kamu apakan Adik aku Li!!" Bryan yang datang dengan nafas berderu langsung ingin menghantam Lian.
"Aku yang berhak marah sama kamu Bryan!!" Ucap Lian menatap Bryan tajam.
"Secara perlahan, harusnya sedari dulu kamu membantu Syila mengingat siapa dirinya. Bukan memberinya identitas palsu atas nama Syila, Adik perempuan kamu yang sudah meninggal!!" Bentak Lian penuh amarah.
Dokter berusaha melerai pertengkaran mereka"Maaf...pasien perlu istirahat, tolong selesaikan masalah kalian dengan tenang"
Lian coba meredam emosi, berkali kali dia menghela nafas demi membuang rasa kesal pada Bryan.
"Dok...tolong jelaskan keadaan gadis ini padanya, dia yang slama ini menyembunyikan kebenaran atas diri gadis ini"
Bryan ngotot"Aku salah apa??"
"Dia Adik ku___"
"Adik kamu sudah meninggal Bryan!!" Bentak Lian memutus kata kata Bryan.
Bryan terhenyak karena amarah Lian, begitu egois kah dirinya?? tapi Kaila datang dengan sendirinya kepadanya??bukankah itu pertanda Kaila adalah pengganti Adiknya yang tlah tiada itu??
Dokter melihat keterpurukan dalam diri Bryan, nampaknya pria itu perlu penjelasan lebih mendalam.
"Buka pikiran kamu Bryan, buka mata kamu! Syila udah meninggal, bahkan di depan mata kamu!!"
Bruk!!!Bryan tak berdaya, dia tersungkur ke lantai.
Lian meraih ponsel"Aku akan menghubungi Tuan Odet, hal ini harus segera di selesaikan"
"Tolong Li...jangan" Pintanya memelas kasihan.
"Kamu kejam Bryan, kamu egois, hal ini menyiksa aku juga Kaila. Dan Syila mu yang tlah berada di surga juga"
Ada sungai kecil mengalir dari kedua mata Bryan, dia melupakan Syila kecil dan terlalu fokus mempertahankan Syila yang nyatanya adalah Kaila.
📱"Selamat siang Pak Odet"
Bryan menatap Lian nanar, ini kah akhir dari hubungannya dengan Syila??
"Maaf Bryan, kamu harus menerima kenyataan ini" Lian perlahan melepaskan genggaman tangan Kaila yang masih memejamkan mata dan membantu Bryan bangkit. Dia melanjutkan obrolannya dengan Tuan Odet.
Di dampingin Lian, Dokter menjelaskan kondisi Kaila kepada Bryan, pria itu nampak menolak anjuran Dokter untuk perlahan memulihkan ingatan Kaila.
"Cepat atau lambat ingatannya akan kembali Pak Bryan"
Bryan terus menyangkal ucapan Dokter itu.
"Bryan..."Tuan Odet kini hadir di antara mereka.
"Papah sudah bertemu Syila, sekarang ada Yuta yang menjaganya"Pria baruh baya itu duduk bersama di ruangan Dokter. Dia menyetujui anjuran Dokter untuk perlahan membantu Kaila mendapatkan kembali ingatanya.
"Pah..."
"Dia akan tetap menjadi putri Papah, tapi bukan sebagai Syila" Tukas Tuan Odet. Nampak raut kesedihan juga bersarang di wajah tua nya. Namun dia nggak bisa bersikap egois seperti Bryan yang bersikeras menekankan bahwa gadis itu adalah Syila.
"Tok tok..."Yuta mengetuk pintu.
__ADS_1
"Nona Syila sudah siuman Tuan"
"Gimana baiknya Dok??"Tanya Tuan Odet.
"Kamu kembali ke ruangan Syila" Perintahnya pada Yuta lagi. Dan segera asisten Bryan itu melenggang kembali ke ruangan tempat Syila di rawat.
"Kita lihat kondisinya dulu Tuan"Dokter segera melangkah ke ruangan Syila di ikuti Lian, Bryan dan Tuan Odet.
Nampak lemah dan pucat, Kaila nampak tak berdaya.
Tuan Odet menduduki kursi di samping ranjang pesakitan Kaila. Tanpa suara, kedua bola mata Kaila memandang sendu pada lelaki paruh baya itu.
"Syila..."Ucapnya pelan.
Syila menggeleng pelan. Anak sungai kembali mengalir dari kedua matanya. Bibirnya tergigit dalam isak tangis.
"Kaila...."Ucap Lian pula.
Tangis Kaila semakin menjadi, beginikah sakitnya mendapatkan kembali separuh ingatan.
Bryan berlutut di samping ranjang pesakitan Kaila..."Dek...kepalanya masih pusing??"
Kaila kembali menggeleng.
"Terus kenapa nangis??" Jemari Bryan dengan telaten menyeka genangan air mata di pipi Kaila.
"Hick hick...maaf, aku bukan Syila Kak"
Dunia seakan berhenti berputar. Tuan Odet menghela nafas dalam dalam"Kamu sudah ingat semuanya Nak??"
"Nggak semuanya Pah, tapi Syila tau bahwa Syila adalah Kaila"
"Dok..."
"Perlahan semua ingatannya akan segera pulih Tuan Odet. Selamat, putri Tuan akan segera sembuh"
"Apa dia sudah bisa pulang Dok??"Tanya Tuan Odet.
"Sebaiknya dia beristirahat beberapa saat, saya akan memberikan beberapa resep vitamin untuk menunjang kesembuhannya"
"Terimakasih dok"
"Sama sama Tuan, itu sudah tugas kami. Kalau begitu saya permisi untuk mempersiapkan resep Nona Syila"
Dokter pun pamit diri dari kamar Kaila di iringi seorang perawat bersamanya.
"La...kamu tetap Adik Kak Bryan, meski pun ingatan kamu sudah kembali"
"Apa kalian masih mau menerimaku??yang aku ingat aku sebatang kara di dunia ini"
"Tentu!!"Seru Tuan Odet bersemangat.
Pandangannya bertabrakan dengan tatap mata Lian"Boleh kan Lian??"
"Kenapa Tuan meminta ijin sama saya??"
"Kamu tunangannya kan??" Tuan Odet balik bertanya.
Wajah Lian seketika bersemu, berbeda jauh dengan raut kecewa di wajah Bryan. Apa dia tlah kalah dari Lian?? apa akhirnya Syila akan kembali pada Lian??
Selang beberapa waktu perawat kembali ke ruangan Syila dan meminta Tuan Odet datang ke ruangan Dokter.
"Papah tinggal sebentar ya, kamu baik baik sama Kak Bryan ya"
"ngm..."Sahut Kaila tersenyum kecil.
Seperginya Tuan Odet Lian hendak mengambil alih satu satunya kursi yang paling dekat dengan ranjang Kaila.
"Eitsss..., aku Kakak nya. Kamu harus mengalah sama aku!!"
"Aku tunangannya!!"Balas Lian.
"Deket mana Tunangan sama Kakak??"
"Ya tunangan lah!!"
"Ya Kakak lah!!"Seru Bryan lagi.
Kaila tersenyum memandangi dua lelaki kesayangannya.
"La...kamu beneran ingat sama ni orang??"Tanya Bryan mengulik tentang Lian.
"Hm..."
"Siapa??" Tanyanya lagi.
"Lian"Jawab Kaila singkat.
"Aku siapa??"
"Kak Bryan"
Jemari Bryan menjentik riang"Nah dari panggilan aja udah beda. Kamu mah 'Lian doang' kalo aku 'Kak Bryan'.."
Kedua alis Lian menyerngit pertanda bingung.
"Aku lebih deket sama Syila, dah gitu aja deh intinya"
"Cih..manusia aneh"
"Lho...Ada panggilan Kakak tersemat di bagian depan namaku'Kak Bryan' berarti aku lebih bertahta di hatinya ketimbang kamu"Celoteh Bryan panjang lebar.
"Hoel!!!otak kamu mikirnya begitu??, aneh"Seloro Lian yang mengalah dengan kursi itu.
"Heh!! bodo amat mau di bilang aneh kek, yang penting Syila tetap Adek aku!! awas kalo kamu ngotot deketin dia"
Jelas Lian terperanjat mendengar perkataan Bryan"Aku bakal nikah sama dia, kok kamu sewot sih"
"Susah ngejelasinnya, intinya aku nggak suka sama kamu!!"
"Aku lebih nggak suka sama kamu, aku sangat normal ya Bro, aku pria sejati deketin kamu aja demi dapatin Kaila lagi"
"Kan...kamu super nyebelin Lian"Bryan semakin kaya bocah merutuki Lian.
"Hahahhha, kok kamu makin sewot sih Bro??"
Perdebatan Bryan dan Lian masih berlanjut. Kaila diam saja menyaksikan dua lelaki yang nampaknya nggak akan akur ini.
Begitu pula dengan Yuta sang asisten. Dari pada kena getahnya dia memilih berjaga di depan pintu.
To be continued...
Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.
__ADS_1
04 Oktober 2020.
salam anak Borneo.