
****Kesepian membuat waktuku seakan terhenti,
Sebuah rasa yang tlah tersembunyi,
Meronta dan kini membuncah,
Dialah yang bernama rindu.
Langit bagaikan wadah...
Matahari terbenam dan langit malam nan kebiruan,
Perasaan itu memaksaku memberanikan diri melukis wajahmu.
Perasaan itu...hanya engkau dan aku yang tahu.
Keheningan kembali menyapa di sela waktu melukisku,
Meski kau jauh namun nafasmu terdengar manis di telingaku,
Sebab suaramu lah satu satu nya yang dapat menakhlukan hatiku.
Semua bintang di alam semesta berada dalam dirimu,
Dan di setiap malam aku bernyanyi...
Berharap ku berani mengakui semua rasa ini.
Ku buka sebuah buku berwarna merah jambu,
Oh Tuhan...makhluk cantikmu kembali mempesona hatiku.
Sangat jelas dan tak kan terbantah lagi,
Diriku tlah candu akan dirinya dan akan selalu begitu.
Kau yang lembut dan begitu manis di hatiku,
Sedikit pun kau tak berubah dan tetap begitu,
Di sini tepat di jantung hatiku,
Kau meninggalkan aroma manis yang terus menggigit hatiku***
❣❣❣❣
KRINGGGGG!!!Teriakan alarm membuat Lian terloncat dari tempat tidur. Dia mencari sisi kosong di sampingnya"Akh!!calon bini nggak tidur di sini"Lenguhnya kecewa.
📨:"Morning Sayank, kok aku di tinggalin 😣"Pesan terkirim pada Kaila.
Dia meletakan ponsel kembali ke atas nakas. Berjalan dengan langkah terseret ke arah kamar mandi. Sebelum memutar kran dia mendapati jarinya yang masih terbungkus perban"Percuma di parah parahin tetap aja di tinggal tidur sendiri"Dia membuka paksa perban dan segera melaksanakan ritual mandinya.
Di tempat lain, Kaila sudah berkutat di dapur sejak subuh menjelang. Di temani Bi Mun dia berniat membawakan sarapan untuk Lian pagi ini. Tengah fokus menyusun beberapa telur dadar ke dalam kotak bento suara notif dari ponsel yang dia letakan di dalam apron membuatnya berhenti sejenak dari aktivitas.
"Huh, dasar lelaki. Gak sabaran banget. Udah mau nikah juga apa nggak bisa bersabar sedikit"Jemarinya mulai sibuk mengetik pesan balasan kepada Lian. Bi Mun menyunggingkan senyum karena mau tak mau ucapan Kaila terdengar di telinganya.
📨:"Jan kayak anak kecil dong di tinggal sendiri aja udah pake emot mewek, apa jangan jangan kamu beneran mewek aku tinggal tidur sendiri??"Pesan terkirim.
"Ehem!"Bu Mun berdehem.
"Tenggorokannya seret Bi???minum deh"Tukas Kaila paham dengan sindirian si Bibi.
Wanita paruh baya itu tersenyum membuat kedua matanya menyipit"Non....ntar kalo nikah Nak Liannya di ajakin tinggal di sini aja"
"Dih...bisa ancur ini panti Bi!"Kaila langsung menyahut.
"Lah...kok ancur, Nak Lian baek kok. Dari yang Bibi lihat nih dia bukan tipe brutal kok"Si Bibi juga sibuk menata menu sarapan di atas meja makan untuk para penghuni panti.
"Dia kalem kalo nggak ada Kak Bryan, Kak Bryan juga gitu Bi. Kalo mereka berdua ketemu setiap hari bisa amburadul tempat ini. Bibi mau??"Kaila bergidik membayangkan pertempuran yang akan terjadi jika dua lelaki keras kepala itu di pertemukan setiap hari. Bisa hancur dunia persilatan.
Si Bibi tepok jidat"Ups!!Bibi melupakan Den Bryan. Hehehhe untung orangnya gak ada Non"
"Apanya yang gak ada!!"Panjang umur!Bryan nongol dengan rambut bak tersapuh angin puyuh.
"Astaga!!!kenapa tu rambut??"
"Biasa, tadi malam abis kencan barbar sama cewek Kakak"Sahutnya berbangga diri.
"Klontang!!"Centong sayur di tangan Bi Mun mendarat di ubin dapur.
"Den Bryan punya cewek????"Kedua matanya berbinar haru.
Tak kalah terkejutnya dengan ekspresi Bi Mun, Bryan membulatkan kedua mata dengan bibir mengerucut"Bibi meragukan status Bryan??"
Mendapat tatapan tak enak dari Bryan, Bi Mun nyengir sembari mengibaskan tangan"Hehehehe bukan gitu Den, selama ini kan Bi Mun nggak pernah dengar Den Bryan punya kekasih selain non yang ono, Kaget aja gitu"
"Uwww...ketinggalan berita hangat si Bibi mah. Tungguin aja yak, bentar lagi dia ke sini kok jemputin Bryan" Songongnya kambuh. Tak ingin terlihat kerdil di mata Kaila dengan angkuh dia mendongakkan kepala menatap Kaila.
"Cih!Mukanya nyebelin banget. Pen Kaila geplak Kak??"Sang Adik mengepalkan tinju ke arah Bryan.
"Eh!!jangan dong. Ini aset berharga Kakak, kalo ni muka ampe penyok emang kamu mau Kakak nggak punya pasangan di pernikahan kamu sama cebong sawah itu??"
"Apa!!cebong sawah??, ikh mulutnya perlu di rukiyah nih"Kaila menyabet centong sayur di tangan Bi Mun dan mengejar Bryan mengelilingi meja makan.
"Ting tong~~"Bel depan berbunyi. Tanpa di minta Bi Mun bergegas membuka pintu depan meninggalkan dua saudara yang masih kejar kejaran.
"Sini Kaila benerin otaknya, suka bener nistain calon suami Adek sendiri!!"Kaila memblok lari Bryan bersiap naik ke meja makan.
"No!!!, jangan naik!!ntar jatoh!!"Pekik Bryan ngeri.
"Hoh!!takut??"
"Bukan takut!sayang makanannya, kita belom sarapan Dek!!"Seru Bryan mengulurkan tangan.
"Damai, kita damai. Oke Kaila manis"
"Ugh!!baru nyadar kalo Kaila manis!"Sentak Kaila turun dari kursi. Tapi belum puas rasanya jika senjata yang dia pegang tak menjatuhkan korban.
"Pletok!!"Centong mendarat di kening Bryan.
__ADS_1
"Oughhh!!, geger otak Dek!!" Kedua tangan pria itu memegangi jidatnya.
Di saat kritis Bi Mun kembali ke dapur di iringi seorang gadis.
"Den..."Panggil Bi Mun.
"Kotak obat Bi!!"Pekiknya tanpa memandang Bi Mun.
"Lebay!!"Sungut Kaila menarik kedua tangan Bryan"Sini Kaila liat!!"Perempuan itu menduduki kaki Bryan.
"Buset!!, memar cing!"Pekik hati kaila.
"Non..."Panggil Bi Mun lagi. Kaila menoleh pada Bi Mun. Pandangannya tersita pada sosok cantik yang berdiri di sebelah Bi Mun tertawa melihat tingkah mereka.
"Sruk sruk!!"Kaila menarik lengan Bryan yang kembali memegangi jidatnya. Rintihannya masih terdengar.
"Kak!"
"Apa sih..mana kotak obatnya"
"Tuh!!, ada ciwik"Ucap Kaila.
Saat itu Bryan menoleh ke belakangnya. Angela dengan tawa manisnya membuat wajah Bryan bersemu malu.
"Minggat Dek!!"Ujarnya mengusir Kaila. Sontak Kaila yang tadinya duduk di kaki selonjorannya beringsut berdiri.
"Hick...Angelaaaa~~~~"Tangannya menggapai gapai kayak teraniaya banget oleh Kaila.
Gadis itu mendekatinya masih dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Ya elah, kamu masih aja kaya anak kecil. Pake berantem sama Adeknya pula"
"Eh...tau dari mana kalo saya Adeknya?? Saya istrinya keles"Celetuk Kaila teringat bagaimana santainya Bryan mengakui dirinya sebagai istri di depan Maira.
"Dia udah cerita tentang kamu kok, malah sejak pertama kali kita ketemu lagi"
"Ketemu lagi??"
Bi Mun yang juga mengenal Angela sejak lama menjelaskan siapa Angela kepada Kaila. Sama seperti yang lain, Bibi Mun salah satu yang termakan rumor pacaran antara Angela dan Bryan. Hingga saat ini status Angela masih di yakini Bi Mun sebagai kekasih Bryan.
"Oooooo~~~"Bibir Kaila berseloro.
Bryan yang tlah terduduk di sofa ruang tengah memasak tampang angkuh menatap Kaila"So!!!percaya kan sekarang!"
"Bawel"Tukas Kaila bersiap naik ke lantai atas.
"Ini rambut kenapa??"Tanya Angela dengan tawanya.
"Kamu kan yang acak acak tadi malam"
"Ya elah, kamu sih kebanyakan pake pomadenya, kok nyalahin aku sih"
"Anjayani!!!aku ama Lian gak gitu gitu amat!"Gerutu hati Kaila.
Ujung matanya melirik sekilas bagaimana telatennya Angela mengusap jidat memar Bryan"Kak Angela, sekalian dedek bayinya di mandiin yak. Biar nggak telat ke kantornya"
"Hehehe, siap Nona kecil"Sahut Angela. Gadis ini begitu lemah lembut dan baik hati. Tapi entah kenapa Kaila merasa nggak ada kecocokan dalam hatinya terhadap Angela.
"Nyinyinyi~~~, Nona kecil! Nggak lihat aku udah dewasa begini dia panggil Nona kecil. Cari muka banget!"Nyinyir Kaila di lorong menuju kamarnya.
"Tring!!"
📩:"Ya beneran mewek lah, tak ada pesan tak ada tipok maen tinggalin aja. Aku kan jadi kesepian"
📨:"Astaga!!!Makin mau nikah makin gemoy kamunya Li! aku masukin karung juga kamu nih. Buruan siap siap, tungguin aku ya aku udah nyiapin menu sarapan kita"
Kaila duduk di meja rias dan segera menyapukan riasan natural pada wajahnya. Sedikit sentuhan parfume manis cherry blossom menjadi penyempurna penampilannya.
Gadis itu masih duduk manis di ruang tamu ketika Kaila turun dari kamarnya. Tak lupa dia membawa bento yang tlah dia persiapkan dengan sepenuh hati untuk kekasih tercinta.
Meninggalkan pasangan yang katanya"Berpacaran"Kaila hanya melempar senyum alakadarnya ke arah Angela.
Mengendarai motor bebeknya Kaila berangkat menuju apartemen. Kali ini tanpa di antar Bryan, mengetahui sosok kekasih Bryan membuat Kaila jengah. Ada rasa tak rela ketika tahu Kakak nya tlah memiliki kekasih, apakah Kaila cemburu???
Kaila:"Bukan!!, aku nggak cemburu. Hanya saja____ akh kekasihnya kenapa harus gadis itu??"
Author:"Suka suka aku lah 😎😎😎"
Di apartemen...
Tak kalah berdandan seperti Kaila, Lian yang juga tlah tampan dan wangi tengah duduk di meja makan sembari menatap layar laptopnya. Di saat saat dia hendak mengajukan cuti pernikahan masalah tengah terjadi di cabang jepang. Hal ini jelas membuatnya garuk garuk kepala.
"Klik"Kaila muncul di muara apartemen.
"Ya elah Yank, kamu mandi pake air apa pake parfume??" Aroma menyeruak begitu pekat di indra penciuman Kaila.
"Pake air lah Sayank, orang akunya udah wangi dari lahir. Lalu aku bisa apa dong??"Sahutnya tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop.
"Mulut sama mata nggak sinkron nih, tatap aku Lian!"
Bibir Lian menyeringai tertawa"Lebay Yank"Ujarnya mengalihkan pandangan pada wanitanya.
"Wuidih~~~Cantik bener ciwik aku. Ada acara???Mau jalan??"
"Iya, jalan sama Mamah kamu. Lupa perihal pernikahan kita??"Kaila sibuk menata sarapan di meja makan.
"Hehehhe, maaf Sayank. Aku sibuk mulu jadi nggak bisa nemenin mempersiapkan pernikahan kita"
"Sok sibuk, nih sarapan dulu. Tepikan dulu lah Yank laptopnya"Kaila menarik benda itu dari hadapan Lian.
"Oke oke"Tukas Lian.
Sekilas Kaila menangkap info yang Lian pandangi sedari tadi di layar laptop.
"Ck!, jadi~~~beneran bakal sibuk Yank??"
Dia memutar laptop yang berada di tangannya ke arah Lian.
Pria itu mengangkat bahu"Kamu tau kan kinerja Vino??gak mungkin kan aku serahkan tugas ini sama dia"Mengingat Vino yang super duper pecicilan Lian ragu cecunguk itu bakal mampu mengatasi masalah di cabang Jepang.
__ADS_1
"Mau nikah Yank!!malah mikirin hal kaya gini, apa kita harus nikah alakadarnya di
KUA??"
"Sudah Sayank, nggak akan kaya gitu kok. Aku janji bukan aku yang bakal terbang ke Jepang"Janji Lian dengan dua jarinya.
Kaila mengarahkan sumpir ke arah Lian"Ingkar janji aku tinggal pergi lagi!!"
"Hus!!, jangan bilang pergi, ingat kejadian itu bikin aku sesak nafas tau"
"Cih!Aku pegang janji kamu!"Ucap Kaila tegas.
❣❣❣❣
Memasuki area kantor Maira menahan rasa sesak di dada. Mimpi apa dia tadi malam hingga pagi ini harus menyaksikan senyum seorang Bryan, dan sayangnya senyum itu tertuju bukan kepadanya.
"Hati hati di jalan, jangan ngebut!"Ujarnya setengah berteriak.
"👍"Angela mengacungkan jempol kepada Bryan. Bryan bahkan memandangi mobil gadis itu hingga perlahan menghilang di kejauhan.
"Aku rindu kau hujani dengan senyuman itu??"Gumamnya lirih. Perasaan kacau tiba tiba menguasai hati Maira.
Kini dia tlah duduk di meja kerjanya, ada beberapa berkas yang tlah menunggu agar segera dia rampungkan"Trrtt!!"ponselnya berdering, tapi kali ini bukan dari sebuah panggilan atau sebuah pesan.
📍"Arjune day"
"June~~~~"Ucapnya lirih.
#Flashback#
"Hai. Aku Arjune singgih"June mengulurkan tangan kepada Maira, sang gadis idola di SMA kebangsaan.
"Aku Maira"Maira melempar senyum kepada June. Paras cantik dan berhati lembut, penampilan feminim membuat Maira semakin menawan di mata para anak lelaki. Di tambah rambut hitam panjang tergerainya yang terkadang dia ikat sebagian ke belakang dengan berhiaskan pita berwarna merah jambu.
Hari itu ketika tangan mereka berjabatan maka di mulailah perjalanan cinta segitiga di antara mereka.
Di lain waktu~~
"Maira manis....aku bawa bekal lebih nih, makan siang bareng yok"Bryan nan ceria menghampiri Maira yang baru keluar dari kelas. Mereka berbeda kelas namun itu tak menghalangi keakraban mereka.
Kedua mata gadis itu berbinar bak anak kelinci"Mau mau mau!" Lantas mereka berjalan bersama menuju tempat nongkrong mereka di bawah pohon nan teduh samping lapangan basket.
Sering memergoki Maira dan Bryan bersama June sang sahabat dari orok Bryan diam diam menaruh hati kepada Maira. Tak jarang fokusnya buyar kerena memandangi Maira di sela latihan basketnya"Aku harus memastikan hubungan mereka"Tekad June.
Bel pertanda jam pelajaran tlah usai mengiringi langkah para siswa menghambur keluar dari kelas masing masing. Bryan tengah menunggu jemputan sembari bersandar di tembok depan sekolah.
"Bruk!"Sebuah lembaran bola basket sempat dia tangkap.
"Taruhan yuk!"Ucap June sang pelempar bola.
Bryan menggeleng"Capek, aku pengen cepat cepat ngadem di kamar ternyaman ku"
"Dasar anak mami, kalah nih sama aku yang pesakitan!"
"Tuh nyadar dianya pesakitan tapi masih aja maen basket. Inget Jun____"
"Hidup cuman sekali jangan di sia sia'in"Sambar June memotong kata kata Bryan. Ini bukan kali pertama mereka akan berdebat perihal penyakit June. Namun June tak ingin kalah dari penyakitnya, meski semakin parah dia masih enggan menghentikan aktivitas basketnya.
"Bawel!!, aku rutin minum obat kok. Jadi aku akan berumur panjang"Tukas June dengan yakinnya.
Seulas senyum Bryan lemparkan kepada June"Harus dong, kamu lupa janji kita bakal membangun perusahaan besar di jagat raya ini"
June terkekeh"Btw...kamu sama Maira makin hari makin lengket aja. Cie cie...udah jadian nih??"Dia ikut bersandar dengan menyampirkan lengan di pundak Bryan.
"Jadian???ayolah Jun!! kami hanya sahabat. Sama kayak kita berdua"
Jawaban Bryan membuat June yakin akan maju demi mendapatkan Maira. Sejak saat itu June mulai masuk dalam kehidupan Maira dan Bryan. Terang terangan menunjukan rasa sukanya kepada Maira, tanpa Bryan sadari hatinya mulai merasakan perasaan aneh yang tak bisa dia mengerti.
Sore hari di tepian kota Bryan dan June tengah menghabiskan waktu bersama dengan mengendarai motor gede mereka.
"Bryan...."
"Ng??!"Bryan menyahut tanpa menatap June.
"Aku bakal nembak Maira"
Bryan terdiam.
"Hei...mana dukunganmu??"Pinta June.
"Jun...aku baru menyadari tentang perasaanku kepada Maira"Ucapnya lirih.
June tertawa"Itulah bodohnya kamu!aku saja sudah lama menyadari perasaan kamu"
Bryan menggigit bibir"Kamu marah??"
"Aku bukan bocah!sebelum perasaan kamu semakin dalam gimana kalo kita taruhan"
Bryan melenguh jengah"Nggak semua hal bisa di pertaruhin June!"
"Hahaha....kamu takut bertaruh dengan seorang pesakitan seperti aku??"
Di singgung perihal itu membuat hati Bryan menciut. Dia tak ingin June beranggapan dirinya begitu mengasihaninya karena penyakit itu.
"Oke!!apa yang harus kita pertaruhkan??!"Tantang Bryan akhrinya.
"Jika kamu menang kamu yang bakal nembak Maira"Ucap June.
"Kalo aku kalah??"Tanya Bryan.
"Jauhi Maira, putus segala hubungan kamu dan Maira. Aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya"
To be continued...
Happy reading, jangan lupa like vote rate dan komen.
13 November 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1