
****Kau yang datang padaku dengan malu-malu,
Kau yang hadir dalam mimpi berpendarku...
Kau sangat bersinar dan menerangi seluruh duniaku,
Dengan jantung berdebar,
Tanpa sadar aku berjalan ke arahmu,
Langlah demi langkah ku lewati dan berakhir tinggal di sisimu,
Hatiku meleleh ketika menikmati senyum manismu,
Jantungku semakin berdebar ketika tatap kita saling bertemu,
Ingatlah selalu senyumku ini hanya padamu,
Bungkus senyumanku dalam manisnya kenanganmu,
Hanya kata kata ini,
Dan ini akan selalu ku ungkapkan di hadapanmu,
Engkau yang tercantik dengan senyum termanismu****
🍒🍒🍒🍒
Kesenangan...
Kenikmatan...
Dua kata yang tak bisa Tunder lewatkan begitu saja. Apalagi sang gadis terus bergelayut manja di lengan kekarnya, membuat naluri lelakinya meronta untuk segera membuktikan kejantanan sang Joni di bawah sana.
" Kamu tunggu di sini ya, aku harus ke mobil sebentar" Selena memperlakukannya dengan sangat lembut. Tunder bak seorang raja yang selalu di elus dan di manja sang budak yang terlalu mencintai dan memujanya.
" Ngapain ke mobil??? mau kabur??" Goda Tunder menarikan dua jemarinya di wajah cantik Selena. Akh...hidung gadis ini juga terasa janggal ketika menyentuhnya. Seperti....ada sebuah batangan yang mendongkrak tinggi hidungnya. Hahahhha batin Tunder kembali tertawa. Di tempat yang terang benderang ini dia baru menyadari bahwa wajah cantik Selena juga tak luput dari tangan seorang dokter bedah plastik.
Selena berbisik pelan " Bukankah kita akan melakukannya??"
" Melakukan apa??" Pancing Tunder sedikit membuka kancing dari kemeja yang dia kenakan.
" Akh!! ayolah Om ganteng, aku sudah dewasa. Dan aku juga punya banyak jurus yang ingin ku lancarkan kepadamu!" Sebuah cubitan manja mendarat di perut Tunder.
" Hahahhaha, aku takut kau akan jantungan jika berada di bawahku!"
" Aku bisa main di atas, gimana??" Senyum lebar Selena sukses membuat Joni kembali meronta.
Jemari Om durjana itu mulai menjelajahi setiap inci wajah cantik Selena. Membuat gadis itu merasa terbang ke angkasa. Padahal....Tunder ingin lebih mengetahui bagian mana lagi dari wajah cantiknya yang juga di permak di meja operasi.
Lipatan matanya begitu besar, Tunder yakin ini juga hasil oplas. Hm....bibirnya begitu tebal dan menggoda...oke!! gadis ini juga melakukan filler pada bibirnya.
" Cup" Sebuah kecupan Tunder berikan di bibir tebal gadis itu.
Wajah sang gadis mendadak merah merona.
" Ijinkan aku ke mobil sebentar" Bisiknya lagi merangkul tubuh tegap Tunder.
" Aku sudah ada di sini, apa yang kau inginkan lagi?? apa kau mau kita melakukannya di dalam mobil??"
Selena menggeleng cepat" Bukan!! hm...akan lebih aman jika kita memakai pengaman kan??" Sorot matanya bagai seekor anak kucing menggemaskan.
Tunder menelan saliva, oke!! kali ini dia akan memberikan les kuda kudaan kepada gadis ini" Baiklah! jangan lama"
" Aku akan kembali secepatnya!" Seru Selena senang.
Tunder mengantarkan Selena ke muara pintu hotel, dia masih memandangi punggung gadis itu hingga dia menghilang masuk ke dalam lift.
Ketika dia hendak berbalik kembali masuk ke dalam, sosok Maira keluar dari dalam lift yang bersebelahan dengan lift yang di masuki Selena.
" Mbak bidadari!!" Gumam Tunder. Maira tak mendengar suara Tunder, dia fokus meneliti nomor nomor yang tertera di pintu kamar hotel.
Rasa penasaran membawa langkah Tunder untuk mengikuti langkah gadis itu.
Ada yang aneh, kenapa langkah Maira nampak goyah. Tangannya menyusuri dinding demi menyeimbangkan langkahnya....dan...
" Bruk!!" Gadis itu ambruk.
" Ma____" Panggilan Tunder terputus karena kehadiran seseorang.
" Cepat bawa dia ke kamar 201" Perintah seseorang yang tiba tiba muncul di dekat Maira.
Jarak Tunder dan Maira lumayan jauh, di sana dia terus mengikuti kemana dua pria itu membawa Maira yang nampak hilang kendali.
" Tuk!" Ponsel di genggaman Maira terjatuh tanpa dua pria itu sadari.
Bak agen rahasia Tunder begitu cekatan mengawasi Maira dari kejauhan. Dia meraih ponsel Maira dan memasukannya ke dalam saku celananya.
" Astaga!! jelas mereka berniat jahat pada si Maira. Ck...si anak piyak gak guna banget sih!!" Umpatnya pada Bryan.
Di sela penyelidikannya dia mendengar langkah kaki mendekatinya. Bergegas dia berlagak sedang membaca pesan di ponselnya, seorang gadis berambut pirang melewatinya tanpa rasa curiga. Dia memasuki kamar 201.
Tunder yang suka bermain dengan ponsel pintarnya kembali mengambil bukti kejahatan. Sempat sempatnya dia mengambil foto si gadis pirang yang tengah memasuki kamar 201 tanpa gadis itu sadari.
Drttrrrr!!! ponsel Maira bergetar. Menampilkan nomor tak di kenal sedang melakukan panggilan.
__ADS_1
📲:" Maira!!!"
Belum sempat Tunder berbicara, suara sesorang di ujung telpon lebih dahulu berseru begitu semangat padanya.
📱:" Siapa nih??"
📲:" Lho...ini siapa??_____"
Tunder diam meresapi suara siapa yang sedang menelpon Maira ini.
📱:" Bryan!!"
📲:" Om Tunder!!!" Bryan tersentak. Gimana ceritanya si Om durjana bisa menerima panggilan di ponsel Maira. Hatinya ketar ketir mengetahui Om sialan itu jelas sedang bersama calon istrinya.
📱:" Heh anak piyak, buruan balik. Maira sedang dalam bahaya!"
📲:" Bahaya gimana?? Maira sama Om jelas dia sedang dalam bahaya. Om kan buaya!!" Cecar Bryan menahan kesal kepada Tunder.
📱:" Ck! nanti aja ngomel ngomelnya!! buruan balik ke kota. Maira di culik!!"
Bryan panik. Bisa bisanya Maira di culik.
📲:" Jangan bercanda Om!!, siapa yang nyulik Maira!!" Sentaknya putar balik.
Meninggalkan Nida yang masih melepas rindu dengan sang kekasih di konter hape itu" Pak Bryan mau kemana??"
" Balik ke kota!" Sahut Bryan berlari kembali ke kediaman Nida dan Ayah nya.
Tanpa menghiraukan Nida, Bryan bergegas berlari dan segera meninggalkan daerah pesisir itu menuju kota dengan mobilnya.
📲:" Om serius?? Bryan udah di jalan ini!"
📱:" Sumpah mati. Aku rela membujang seumur hidup ku kalo ngeprank kamu!" Sahut Tunder" Aku kirim buktinya" Sambungnya menyalin nomor baru Bryan dan mengirim foto yang sempat dia ambil sebagai bukti.
Tunder juga menyebutkan hotel tempat Selena menggelar pesta ulang tahun. Butuh waktu hampir 1 jam dari jarak Bryan sekarang jika hendak ke sana.
Mengetahui bahwa Angela lah yang sedang berniat mencelakai Maira, Bryan memohon dengan sangat kepada Tunder agar segera menyelamatkan gadisnya itu.
Kali ini Tunder dan Bryan bekerja sama demi Maira, niat ingin menyelamatkan Maira kini lebih utama ketimbang hasratnya yang begitu ingin mencicipi tubuh bohay Selena. Untuk saat ini masalah ***_*** itu dia kesampingkan dahulu.
Daun telinganya menempel di pintu kamar 201. Terdengar sayu suara terkekeh di dalam sana. Juga...suara lenguhan seorang wanita!!!
Maira menggeliat di tempat tidur. Entah kenapa dia merasakan panas di sekujur tubuhnya, panas yang membuatnya tak sadar melepaskan helai demi helai pakaian yang melekat di tubunya.
" Awhhhkenapa panas sekali" Ujarnya menyusuri setiap lekuk tubuhnya sendiri. Tiba tiba hasratnya melonjak naik, dia butuh pelepasan. Tapi bersama siapa?? kedua matanya menatap Alex dan Aron yang nampak samar di pandangannya.
Mereka semakin tertawa lepas, sekuat apa pun Maira menahan diri dia tetap tak kuasa untuk tak menggeliat dan melenguh karena hasratnya.
Angela diam di pojokan yang lepas dari pandangan Maira. Dia sengaja tak menampakan diri di hadapan gadis itu, jika kali ini gagal dia masih bisa mendekati Maira dengan dalih sebagai sahabatnya kan.
" Oke" Ujar Aron memainkan dua alisnya. Sejujurnya hati nuraninya tengah bertarung saat ini. Dia bukan pria jahat! dan ini kali pertamanya melakukan sebuah kejahatan seperti ini.
" Aku mohon tolong aku~~~" Pekik Maira lemas. Matanya memerah menatap Aron.
" Aku mohon" Ucapnya dengan napas turun naik.
" Aku____, bisa menolongmu. Tapi kau harus merelakan tubuhmu untuk ku" Aron mendekati Maira. Gadis itu menggenggam jemari Aron, ini bukan kehendaknya. Namun dorongan nafsu terus menuntutnya untuk segera melakukan hal memalukan itu.
Maira merasakan sakit, kepalanya terasa mau pecah. Nafsunya sangat besar saat ini, membuatnya terus menggigit bibir bawahnya dengan napas berat.
Kegelisahan menguasai dirinya, rasa panas itu membuatnya hanya menyisakan pakaian dalam saja di tubuhnya.
Ragu ragu Aron kembali mendekati Maira. Gadis yang sangat cantik, bisa jadi dia juga akan jatuh cinta padanya jika mengenalnya sedikit lebih lama. Namun...bayangan Bryan hadir di dalam pikirannya. Gadis ini milik Bryan!!!!
Alex dan Angela keluar dari kamar 201. Tunder bersembunyi di tikungan lorong hingga mereka menghilang dari pandangannya.
" Bukannya ada dua pria" Gumamnya.
Tanpa membuang waktu pintu kamar 201 di dobrak paksa oleh Tunder.
Suara ribut membuat Aron terkejut. Baru saja dia hendak membuka pintu____
" BRAK!!!" Tendangan Tunder berhasil mendobrak pintu kamar 201.
Maira nampak tak berdaya di tempat tidur, rasa gusar membuat Tunder hilang kendali.
" BUG!!!" Bogem mentah mendarat di wajah tampan Aron.
" Akh!!! kau siapa??!"
" Gak usah tau aku ini siapa!!! lelaki biadab!! bedebah!!! rendah sekali perbuatanmu!!" Berkali kali Tunder melayangkan tinjunya di wajah dan tubuh Aron.
" BUGH!!" Aron tak bisa tinggal diam. Demi membela diri dia juga melayangkan balasan tinjunya pada wajah Tunder.
Sudut bibir Om durjana mengeluarkan darah. Dia menepisnya dengan ujung jari jempol" Bangs*t!!! apa kesalahan Maira sampai kau tega melakukan ini padanya!!"
" Buk!!" Kembali sebuah pukulan mendarat di tubuh Aron.
" Eisshh!!! Apa urusanmu!!" Teriak Aron mendesis kesakitan.
" Hei!! kau___lelaki menjijikan. Dengan cara hina ini kau menodai seorang wanita. Bikin malu kaum lelaki !!! cuih!!" Cecar Aron.
" Ayyaaa~~, tolong aku. Panas!! akh~ aku perlu seseorang memeluku~~" Racauan Maira membuat Tunder semakin geram. Apalagi melihat pakaian Maira berserakan di lantai tak beraturan. Dia menarik selimut demi menutupi tubuh hampir telanjang Maira.
" Kau dengar!! dia yang memohon pertolongan. Kau pergilah dari sini. Aku harus membantunya melakukan pelepasan" Aron coba bernegosiasi dengan Tunder. Dia mendekati Maira yang melempar selimut dari tubuhnya.
__ADS_1
Namun____" Buk!!"
Bak samsak tinju, Aron terus di gebuki oleh Tunder dan kali ini sungguh membabi buta.
" Kepar*t!!! kau apakan dia hah??"
" Arg!!! aku gak ngapa ngapain!! kau tiba tiba datang. Aku belum melakukan hal aneh padanya!!" Pekik Aron lelah dan tersungkur di lantai.
" BUGH!!" Aron sudah babak belur, namun Tunder tak berniat menghentikan tinjunya di wajah dan tubuh Aron.
Melihat Aron sudah tak berdaya dia menyeret tubuhnya ke sudut kamar, menarik dasi yang di kenakan Aron dan mengikat kedua tangannya dengan erat.
" Hei...pahlawan kemalaman, kau curang! kau pasti ingin menikmati tubuh gadis itu sendirian kan" Ucap Aron lemah.
Geram...Tunder menarik wajah babak belur Aron dan kembali menghajarnya hingga tak sadarkan diri.
Beruntung keributan mereka tak membuat orang lain gaduh, mungkin mereka terlalu hanyut dalam pesta di bawah sana. Tunder menutup pintu dan menatap Maira yang masih menggeliat bak cacing kepanasan" Apa yang harus aku lakukan pada gadis ini"
Drtttt!!!! ponselnya berdering dan itu dari Bryan.
📲:" Maira gimana Om??"
📱:" Salah satu pelakunya sudah aku gasak, Cuman...Maira kayaknya dalam pengaruh obat sejenis Blue wiz*ard"
📲:" Blue_____Wi__" Bryan terbata bata.
📱:" Sudahlah. Aku akan membantunya mengatasi efek dari obat itu. Kau cepatlah ke sini!!"
📲:" Om!!!" Pekik Bryan.
📱:" Apa lagi sih bocah!!"
📲:" Bantuin Mairanya gimana??" Tanya Bryan ketar ketir. Gila aja!! di saat Maira bernafsu begitu malah si Om buaya yang sedang bersamanya.
📱:" Kamu pikir aja sendiri" Tunder mematikan panggilan. Membuat Bryan semakin gelisah dalam perjalanan nya menuju hotel.
🍒🍒🍒🍒
Malam itu di waktu yang sama Kaila membawa snack choco bar kesukaannya dengan dua kaleng minuman bersoda ke ruang tengah. Di sana Lian tengah sibuk memilah film apa yang akan mereka nikmati malam ini.
" Kok choco bar lagi Yank" Tegurnya melirik beberapa snack itu Kaila letakan di atas meja.
" Kenapa?? gak suka??"
" Bosan!! lagian gak sehat tau. Ntar tubuh kekar aku banyak lemaknya gegara makan coklat mulu"
Kaila dengan cuek memasukan potongan choco bar ke dalam mulutnya. Menyodorkan dirinya ke hadapan Lian dengan separo choco bar tersisa di luar gigitannya.
" Kalo cara makannya kaya gini kamu bosan nggak??" Jurus menggoda Kaila sukses membuat Lian kalah telak.
Dia menggigit sebagian choco bar di bibir istrinya, sekalian aja dia kecup tu bibir meski hanya sekilas.
" Allahuakbar!!!!" Pekik Wahab. Tamu tak di undang datang di saat tak tepat. Di susul Wita yang mengekor di belakang langkah sang suaminya.
Kaila merasa malu, perlahan dia beranjak menjauhi Lian dan duduk selonjoran di sofa panjang.
" Aish!! ngapain ke sini Pak ustadz?? kaga ceramah??" Lengus Lian kesal kehadiran Wahab dan Wita pas dia baru memulai adegan mesra bersama istri tercintanya.
" Dih...ustadz juga manusia Lian, bukannya harus ceramah mulu!! lagian istri kamu yang mengundang kami ke sini" Sahut Wahab memegangi pecinya.
" Kami mau nonton drama korea, emang ustadz mau ikutan??" Ucap Lian membenahi letak duduknya.
Wita tertawa bersama Kaila, para suami kalo ngumpul selalu aja berantem.
Wahab melepaskan peci nya" Nih!! ustadz nya udah aku tinggalin di sono, sekarang aku lagi gak jadi ustadz. Ayok buruan setel dah film korea nya" Dia meletakan si peci jauh di sofa pojokan ruang tamu.
" Kwkwkwkkw bisa bisa, gimana kalo kita nonton drama yang banyak adegan ehem ehem nya" Tawar Lian.
" Eh buat apa??" Sela Wita.
" Ya...buat nambahin ilmu di atas ranjang lah" Sahut Lian santai.
" Gila!!, bisa abis amalan ku kalo ngikutin selera kamu Li. Kaila....suami nya di kasih rem dong. Nonton film begituannya di kurangin. Ntar antara amal sama dosa berat di dosa lho"
Kaila hanya nyengir menanggapi ocehan Wahab. Sementara Wita ikutan ngemil choco bar kesukaan Kaila.
" Wah nggak seru!! dah deh ambil peci kamu. Ustadz tetap aja ustadz, kita nonton film horor aja!!" Lian berpindah selera. Niatnya nonton yang seger seger, tapi kalo nonton sama Wahab bisa penuh telinganya di kasih ceramah gratis mulu sama si ustadz muda itu.
" Hooh deh, nonton film horor aja"
" Betul!!, mumpung ada pak ustadz" Lian membenarkan perkataan Kaila.
" Apa hubungannya film horor sama pak ustadz??" Tanya Wita di sela gigitan choco bar nya.
" Kalo setan nya muncul kan bisa langsung di bacain surah yaasin sama pak ustadz Wit"
Wahab melempar bantal ke arah Lian" Ngeledek teros!!! buruan tentuin film nya. Masalah bacain surah mah gampang. Kalo perlu aku rukiyah sekalian tu setan" Perkataan Wahab membuat Lian kembali melempar kan bantal sofa kepada Wahab. Terus aja bertengkar kaya gitu. Wita dan Kaila sudah biasa dengan suasana para suami yang doyan saling lempar candaan dan hinaan. Hingga beberapa saat kemudian barulah mereka benar benar terhanyut dalam suasana horor dari film yang mereka saksikan.
To be contiued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
13 Januari 2020.
Salam anak Borneo.
__ADS_1