Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 16


__ADS_3

***jika waktu kembali,


Akankah kenangan terhapus??


Kata kata yang tak bisa aku katakan,


Apakah kau dapat mengetahuinya??


Aku membuatmu merasa lelah,


Dan hidup dalam air mata,


Hatiku sangat menyesal,


Maka ku mohon maafkan aku.


Tapi...aku telah mengatakan kepadamu,


Aku tak bisa hidup tanpamu.


Bagiku...Waktu akan berlalu hanya jika ku lalui bersama dirimu.


Aku mencintaimu...selamanya akan begitu.


Tolong peluk aku dengan hangat,


Agar aku dapat hidup dalam cinta ini***


💖💖💖💖


Perdebatan ringan antara Bryan dan Lian menyisakan tanda tanya di benak Syila, bawa bawa nama dia sih. Pake acara minta di balikin pula, emang apa hubungan dia sama Lian hingga tu cowok begitu ngotot meminta Bryan mengembalikan dirinya kepada Lian. Lagian...dia udah punya tunangan kan, apa lagi lagi karena wajah pasaran ini hingga Lian bersikeras menekankan bahwa dirinya adalah Kaila.


"Igh!!, apa aku harus benar benar operasi plastik saja" Ujarnya sembari mematut diri di depan cermin yang ada di lorong antara kamarnya dan kamar Bryan.


Bi Mun yang memang hendak memeriksa keadaannya datang dengan semangkuk bubur ayam kegemarannya"Makan dulu ya Non, tadi cuman sempat minum susu kan" Ujar pelayan itu meletakan nampan berisi bubur di meja depan cermin.


"Bi...apa sih yang di permasalahin Kak Bryan sama Lian tadi" Tanya nya mengaduk aduk bubur sambil sesekali meniup nya.


Si Bibi hanya mengendikan bahu pertanda tak tau apa permasalahan dua pria itu.


"Bibi...."Rengek Syila.


"Suer Non, Bibi denger sih tapi nggak ngerti apa yang mereka permasalahin"


"Mereka sebut sebut nama Syila kan"


"Hu-um"Ujar wanita paruh baya itu mengangguk.


"Non...sebenarnya Non Syila suka nggak sih sama Nak Lian??"


Entah kenapa pertanyaan Bi Mun membuat wajahnya merona malu.


Spontan dia melepaskan sendok yang dia pegang dan memegangi kedua pipinya"Ah...Syila demam lagi kan Bi"


Seulas senyum mengembang di wajah Bi Mun, dia bukannya tak pernah muda. Hal yang sedang di alami Syila juga pernah di alaminya.


"Cie...demam apa demen Non" Godanya.


"Demam Bi..nih wajah Syila memanas, kebetulan Bibi bawa bubur ayam panas, Syila sarapan terus minum obat dulu ya" Gadis yang kelewat polos itu hendak membawa nampan berisi bubur masuk ke dalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika si Bibi menahan lengannya dan berkata"Non..kalo suka akuin aja, jangan di pendam ntar di sabet orang lho. Nak Lian manis banget lho apalagi kalo senyum. Lesung pipi kembarnya bisa menyihir setiap lawan jenis"


"Jadi Bibi naksir Lian??" Tanya Syila dengan seringai tawa.


"Lah kaga Non!!, duh si Enon mah kaga ngarti apa pura pura nggak ngarti sih!!"


"Au ah..gelap!!" Syila beranjak dari hadapan Bi Mun dan menghilang di balik pintu.


Sembari garuk garuk nggak jelas Bi Mun berkomentar "Siang begini di bilang gelap, mana lampu koridor terang benderang pula" Masih dengan bermacam gumaman Bibi Min juga beranjak dari lorong dan turun ke lantai bawah. Masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan.


💖💖💖💖


Di belahan bumi yang lain Lian tak ayal seperti benalu, dia menempel pada Bryan dan mengekornya kesana kemari.


"Kamu mau ikut aku kerja??" Tanya Bryan ketika Lian juga memarkir mobilnya di basement perusahaan Brander.


Lian mengangguk meng'Iya'kan pertanyaan Bryan.


Raut wajah Bryan seketika datar, gila ni cowok. Pikirnya melangkahkan kaki keluar dari area basement dan melangkah ke pintu utama.


"Lho..pake muter, kenapa nggak langsung masuk lewat sana aja" komentar Lian menunjuk area parkir karyawan yang memiliki akses langsung ke dalam perusahaan.


Pria itu berbalik dan menatap Lian yang berada di belakangnya"Kamu orang luar, seenaknya ngikutin aku. Itu mobil kamu juga parkir di area karyawan"


"So???" Lian terkekeh"Jadi karena itu kamu nggak mau masuk ke perusahaan ini lewat pintu bekalang??"


"Nah itu otak kamu bisa di pake mikir"


Jawaban Bryan membuat Lian kembali terkekeh.


Tingkah Lian membuat Bryan semakin kesal"Pergi deh Li..aku mau kerja" Tangannya mencoba mendorong tubuh Lian agar menjauhinya.


"Eitss...maen pegang aja"Lian menepis area dada bidangnya yang nyaris saja tersentuh tangan Bryan.


"Buju buset!!, apa yang ada di otak kamu Li!!"


"Kamu mesum" Sahut Lian bervolume nyaring.


Jelas saja ucapan Lian mengundang perhatian para karyawan yang berada di sekitar mereka.


Menanggapi berpasang mata yang menatap penuh tanya kepada mereka Lian yang aslinya raja drama langsung menjahili Bryan.

__ADS_1


"Nih...bos kalian, maen sentuh aja. Ini tempat umum ya Bryan, banyak orang yang lihat, gini gini aku juga bisa malu tau"


Wajah Bryan seketika memerah bak kepiting rebus, bahkan rona merah itu menjalar hingga ke telinganya"Gila kamu Li!!"


"Aku gila karena tingkah kamu Bryan"


Abis sudah! Kata kata absurd Lian membuat dugaan para karyawan semakin menjadi jadi.


"Pak Bryan,..."Tegur asistennya..


"Nggak!!, jangan mikir yang aneh aneh"Sentak Bryan mendengus kesal.


"Cepat kamu antar Pak Lian ke parkiran karyawan, nggak seharusnya dia berada di sini sekarang" Perintahnya.


"Bukannya cuman karyawan yang boleh parkir di sana??" Bisik para karyawan.


"Mulai sekarang terkecuali Pak Lian"Ujar karyawan lain.


"Ckckckckckck kalian pernah denger tentang Pak Lian yang dingin sama cewek kan??"


Semakin di gosok semakin sip, itulah gosip.


"Bentar, jangan pegang pegang!" Lian menghindari Yuta sang asisten Bryan yang hendak menuntunnya ke area parkir.


Langkah Lian yang semula di jauhi Bryan kini menjadi dekat lagi sebab Lian kembali memangkas jarak di antara mereka.


Tanpa di sangka kegilaan Lian semakin menjadi, dengan mesra dia meminta untuk makan siang bersama Bryan.


Duh!! pengen banget bogem mentah Bryan daratkan di wajah tanpa dosa itu, namun berpasang mata yang memandang kepada mereka menyelamatkan wajah Lian kali ini.


"Gimana??"Tanya si edan Lian dengan kedua alis menari nari turun naik.


Berasa pengen muntah, Bryan begitu eneg dengan tingkah gila ini"Oke!!, nanti aku Wa. Sekarang kamu pergi deh, pen muntah aku Li dengan sikap kamu"


"Duh belom di apa apain udah pen muntah aja"


"LIAN!!!" Sentak Bryan yang mulai kehabisan kesabaran.


"Kwkwkkwkwkw"Lian tertawa lepas. Dia menang banyak pagi ini, melihat wajah merah padam Bryan hatinya menjadi sangat terhibur.


"Aku pergi ya Bro, jan telat ya. Aku nggak akan makan kalo nggak sama kamu" Ledekannya semakin menjadi.


"Gila!!!"Umpat Bryan kembali bergidik. Tanpa di giring Yuta akhirnya Lian angkat kaki dari tempat itu dengan sendirinya.


"Apa liat liat??Semua nggak seperti yang kalian pikir ya!!" Sentak Bryan pada para karyawan yang rata rata menahan tawa.


"Jangan galak dong Pak Bryan, apalagi sama Pak Lian" Goda Pak Brama selaku rekan kerjanya.


Bryan menekuk wajah masam, dia lebih memilih meninggalkan area itu dari pada melayani olokan dan ejekan mereka.


"Lian sialan!!! aku balas kamu nanti!!" Umpatnya lagi.


Fokus mengendarai badak besinya Lian yang mengambil libur hari ini merasa bingung akan tujuannya, mau balik ke panti pasti nggak di terima Syila. Mau balik ke apartemen...males banget. Ujung ujungnya dia bakalan kesepian lagi kaya hari hari biasanya.


Tepat di lampu merah Lian teringat tempat yang sering dia kunjungi ketika masih bersama Kaila, area jembatan di pinggir sungai.


Perlahan Lian memasuki area taman kota berbelok ke area parkir dan berjalan menuju pinggiran sungai.


Jam menunjukan pukul 9 pagi.


Semesta nampak berbaik hati terhadap Lian, suasana pagi nan cerah dengan semilir angin sepoy sepoy menjadikan tempat itu terasa begitu sejuk.


Bermandikan cahaya mentari pagi Lian seakan melawan hari dengan membentangkan kedua tangan menatap sungai. Kapal kapal plesir yang membawa wisatawan bersantai menggelitik hati Lian.


"Kapan bisa ngajakin Kaila menyusuri sungai seperti mereka"Gumamnya lirih. Meski sering ke sini namun hal demikian belum sempat mereka lakukan.


"Tring!!" Pertanda ada pesan yang masuk di ponselnya.


📩:"Nggak ngantor kamu??" Papah Riley.


"Hedeh...baru juga senang sebentar udah nongol aja si Papah durjana" Gerutunya menarikan jempol di atas layar ponsel.


📨:"Meliburkan diri"Balasnya begitu malas.


📩:"Makan siang bareng Papah ya"


📨:"Udah ada janji, mau makan siang bareng temen"


📩:"Cewek??"


Pake kepo pula si Papah, Lian yang terlanjur kecewa dengan kesalahan Riley di masa lalu merasa jenuh dengan sikapnya.


📨:"Iya cewek, udah ya Pah. Lian sibuk"Dia meng'iya'kan saja pertanyaan Riley, siapa yang tahu Bryan bisa berubah jadi cewek nanti siang.


Pesan yang Lian kirim tak mendapat balasan, hanya tanda centang 2 berwarna hijau pertanda pesan tlah di baca. Sampai detik ini Lian belum bisa memaafkan kesalahan Riley yang menjadi menyebab perpisahannya dengan Kaila.


Begitulah penyesalan, dia selalu datang di akhir cerita kaya pak polisi di drama drama india 😅, hoel!! gabut lagi kan aku nya.


Lian kembali meresapi udara sejuk, dia duduk di kursi sepinggiran sungai sembari menyapukan pandangan ke para pedagang yang sibuk membenahi stan masing masing.


Stan kopi yang berada di barisan ujung menyita perhatian Lian, tanpa berpikir panjang dia melangkahkan kaki ke stan tersebut. Dan keberuntungan kembali menyertai Lian pagi ini, Dalgona Ice kegemarannya juga tertera di menu stan itu.


Memilih tempat duduk di barisan depan, sembari menunggu pesanan garis mata Lian masih memperhatikan kapal wisata yang berjalan hilir mudik di sepanjang sungai.


"Misi selanjutnya...ngajakin Kaila naik kapal itu" Ujarnya membingkai kapal tersebut dengan jari telunjuknya layak nya seperti seorang fotografer.


💖💖💖💖


Bosan...rasa itulah yang sedang memeluk Syila siang ini. Gimana enggak bosan??kakinya yang cidera ini menghambat pergerakannya, demi menghemat energi Syila lebih banyak menghabiskan waktu di kamar saja.

__ADS_1


Baru juga pukul 10 siang, Syila sudah menonton beberapa episode drama china di laptop nya.


Ponsel yang tergeletak di lantai tiba tiba menarik perhatiannya.


"hm....kemana ya??"Ujarnya.


"Tapi..., Akh...pake cidera segala ni kaki" keluhnya merutuki kaki yang masih terbalut perban.


Jempolnya membuka aplikasi berwarna hijau, niatnya mau kirim pesan ke Bryan buat beliin Waffle di kedai Arin pulang kerja nanti. Namun manik matanya terfokus pada pembaharuan yang Lian up date di kolom status nya.



"Sepi"


Tulis Lian pada pembaharuan terbaru.


"Ugh!!, sepi tapi jalan jalan"Gerutu Syila kesal mengetahui Lian sedang menghabiskan waktu di luar, sementara dirinya terperangkap dalam kamar nan sepi dan terasa kosong saat ini.


Lantas tak mau kalah dengan Lian, Syila memotret keadaan kamarnya sekarang dam mempost nya di pembaharuan status terbaru.



"Sepi tuh kaya gini, sendiri di kamar sepi. Bukan jalan jalan sembari ngopi"


Tanpa dia sadari status itu udah ter upload dan dapat di lihat setiap kontak pertemanan yang ada di aplikasi berwarna hijau nya. Tak terkecuali Lian.


Tentu saja Lian memperhatikan apa yang Syila lakukan, jelas jelas Syila lah orang pertama yang mengintip pembaharuannya.


"Hehehehe, bilangnya nggak mau di ganggu, sekarang malah sindir sindiran" Tukas Lian sembari mengetik pesan pada Syila.


📨:"Bosen Non??"


Syila membaca pesannya namun terlalu gengsi untuk membalas.


Kening tertutup anak rambut menjadi sasaran empuk telapak tangannya"kelewat pintar kamu La...pake nyindir tu cowok pula. Bahaya ni jempol, kelakuan sama pikiran kok nggak sinkron sih" Dia ngomong dah sama jempol yang tertuduh sebagai pelaku penyindiran kali ini.


Tring!!! Nampaknya Lian kembali mengirimkan pesan.


📩:"Di read doang, aku culik mau nggak?"


"Ada gitu mau nyulik pake bilang dulu" Kali ini Syila ngomong sama ponsel. Wah rada rada geser otak ni cewek.


Merasa Syila tetap tak membalas pesannya Lian memotret kapal wisata yang sedang berlabuh di dermaga.


📩:"Jalan jalan yok, naik kapal ini"


Hahahaha...umpan Lian begitu menggiurkan.


Telihat Syila sedang mengetik pesan balasan namun hal itu dia urungkan"Aku lagi ngambek sama ni orang, lagian bahaya kan kalo aku maen jalan aja sama ni cowok. Mana tadi minta aku nya di balikin pula, kalo aku beneran dia culik gimana dong??"Bermacam pikiran aneh menari nari di dalam kepala Syila.


📩:"Ya udah kalo nggak mau. Aku ngajakin temen kantor aja. Selamat siang Syila" Lian tak kehabisan akal, dia bersikap seolah menyerah membujuk Syila agar bersedia menghabiskan waktu bersama nya.


📨:"Jemput sekarang"


"Hick...jempol lucknat, seenaknya mengetik dan mengirim pesan pada Lian" Lagi...jempol tak berdosa itu menjadi kambing hitam. Padahal empu nya aja yang somplak, jelas jelas dia tertarik sama Lian eh pake jual mahal segala. Ckckckckck..


Bak pesawat jet, Lian segera meninggalkan stan tersebut dan bergegas menjemput Syila.


"Wow, sorry Bryan...acara makan siang kita batal" Ujarnya yang kini sudah berada di dalam mobilnya.


Berlagak nyalahin jempol, nyatanya sekarang Syila sangat bersemangat memilah dan memilih pakaian apa yang akan dia kenakan.


Beberapa pakaian terbaiknya nampak berjejer di pinggiran tempat tidur.


Setelah berpikir lama pilihannya jatuh pada atasan sabrina lengan panjang berwarna putih tulang yang memperlihatkan sedikit pundaknya, di padu padankan dengan jeans panjang berwarna biru muda. Untuk sepatu.... Syila bingung, apa dia bisa memakai sneaker??hello tumit nya masih cidera ya, terus dia musti pake apa??sendal jepit??akh..sekedar mikirin sendal aja Syila jadi pusing tujuh keliling.


Kelamaan mikir, Lian yang gasfoll keburu dateng"Non..."Ketuk Bi Mun pada pintu kamar Syila.


Sedikit berjinjit demi menghindari tumitnya berpijak ke lantai Syila membuka kan pintu untuk Bi Mun.


"Lian udah dateng??"


"Kok tau Non??"Kedua mata Bi Mun berkelana ke sekujur tubuh Syila yang tlah berganti pakaian


"Oh..udah janjian ya Non??Sok atuh di lanjutkan kalo mau jalan jalan" Kedua tangan Bi Mun menjulur mempersilahkan Syila turun menemui Lian.


Gadis itu menggoyangkan Kakinya pada Bi Mun.


"Ops...iya yah, pake sendal aja Non" Kali ini Bi Mun paham dengan masalah Syila.


"Masa pake sendal jepit Bi..."Cicit Syila bingung.


Tanpa di duga Bi Mun berseru pada Lian yang berada di ruang tamu"Nak Lian..Non Syila nggak bisa jalan nih, mau pake sendal aja dia bingung"


"Bi!!!" Hardik Syila.


"Sini aku gendong" Lian sama gila nya dengan Bi Mun.


"Nah tuh..udah siap gendongin Nak Lian nya"Ujarnya tertawa kecil.


"Ish!!, jahir akh si Bibi" Ketus Syila cemberut.


"Ayok La..."Desak Lian, keburu jam makan siang ntar nggak jadi jalan sama Syila malah makan siang bareng Bryan. Dih ogah banget Lian mah, tujuan dia mau makan siang bareng Bryan kan demi ngedeketin Syila aja.


To be continued...


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.


Sabtu, 3 Oktober 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2