
****Meskipun kita mengalami perubahan...
Meskipun kita perlahan menua...
Ingatlah aku pernah bilang padamu...
Aku akan menemukan jalan pulang kepadamu.
Aku tak pernah bisa melepaskanmu,
Tak kan bisa meskipun aku mau,
Karena meski saat aku sendirian,
Hanya kamu yang ada dalam pikiranku***
_______Way back home. By: Shaun.
❣❣❣❣
Rasa kesal setelah mendengar keputusan sang Papah siang ini membuat Bryan diam seribu bahasa. Apalagi hal yang dia takutkan sekarang akan benar benar terjadi.
Seperti yang Fatur katakan,Tuan Baskoro dan 2 pemimpin tryfam memang menunjuknya sebagai pengganti Lian.
Ingin sekali dia melakukan protes namun ucapan Tuan Odet membuatnya hanya bisa menelan kembali niat hatinya.
" kamu nolak berarti Lian bakal boyong Kaila ke Jepang. Papah gak siap berpisah jauh dari Kaila" Wajah tua nya tertunduk sedih. Entah sedang berakting atau memang terlalu dalam di rundung duka, kening tua nya semakin berkerut menatap penuh harap pada Bryan.
Satu satunya cara sekarang, dia harus segera menghalal kan Maira. Jika gadis itu tlah resmi menyandang status sebagai nyonya Brander maka pergi dan tinggal di Jepang pun dia gak akan keberatan.
Tapi permasalahannya....
Gadis itu masih menolak cintanya. Meski kedua orang tuanya begitu menerima dirinya, namun sang anak gadis masih membangun tembok dingin nan tinggi antara dirinya dan si gadis.
" Oi..ada gosip baru lho" Bisikan aneh Brama membuat Bryan bergidik. Anjirr dah suaranya rada meresahkan gitu, Bryan sebagai cowok normal merasa aneh dengan cara Brama membisikan kata kata itu di telinganya.
" Bisik nya biasa aja, gak pake tiup tiup telinga gitu. Jigong kamu nempek di dinding telinga aku kan, ck aku harus pulang nih" Mengunyel unyel telinganya Bryan nampak risih dengan perlakuan Brama.
" Ya sorry kalo bisikan ku membawa jigong, hihihi" Brama tertawa mengusap tepian bibirnya.
" Tapi apa hubungannya jigong sama balik ke rumah??" Tanya nya sembari duduk bersama di perpus Brander Company.
" Ya mandi lah. Jigong kamu kan banyak virus nya"
" Plak!!" Majalah di depan Bryan mendarat mulus di atas kepalanya.
" Sakit bedebah!!" Umpatnya menatap horor Brama.
" Mulut kamu yang bedebah, heran deh kamu kok suka banget ngata ngatain aku. Aku salah apa sama kamu?? aku kurang baik apa sama kamu??" Wajahnya seakan akan dialah yang teraniaya di sini. Padahal jelas jelas dialah pelaku geplakan di kepala Bryan.
" Cih, sok melankolis. Eneg, pengen muntah" Cibir Bryan bangkit menuju susunan buku buku di belakang Brama.
" Sialan, semoga hantu betina di sini niat berkencan sama kamu. Kebetulan kata orang orang si hantu betina itu paling doyan baca buku sambil berdiri di tempat kamu itu Bry"
Bryan melangkah balik ke hadapan Brama.
" Jadi itu yang kamu bilang gosip??"
" Huum, horor kan. Makanya jangan suka ngelamun di sini" Cerocosnya bersandar dengan dua tangan terlipat di dada.
" Sinting!!, gak ada gosip kaya gitu. Sudah deh kamu pergi sana! aku sibuk"
" Ya elah, aku ke sini demi kamu. Kehadiranku di perpus ini dapat di hitung dengan jari 5, harusnya kamu berbangga diri punya sahabat perhatian seperti aku"
Bryan menoyor jidat Brama" Jangan lebay"
" Suer Bry, aku udah denger kabar jadwal keberangkatan kamu ke Jepang___"
Bryan melotot" Hah!!!? udah di jadwalin??"
" Iya, aku ke sini kan mau nyampein berita itu sama kamu"
" Ya salam~~ aku gak bisa nerima gitu aja. Aku harus protes nih"
" Hei mau protes kemana?? Papah kamu ada urusan di luar"
" Kemana?? kok Papah aku hari ini aktif bener" Ujarnya melenguh sembari menyandarkan diri di rak buku.
" Katanya sih mau jemput Om kamu"
" Hah!!!" Bryan nampak sangat terkejut.
" Om yang mana??" Tanyanya seakan tak ingin kenyataan ini sama seperti apa yang sedang dia pikirkan.
" Emang kamu punya Om berapa??" Seringai tawa Brama. Sorot matanya seakan mengejek nasib buruk yang sedang menanti Bryan.
" Astaga!!!" Pekik Bryan jongkok memegangi kepalanya.
Belom kelar masalah kerjaan, pake kedatangan manusia menyebalkan bin durjana. Jika Om rese itu akan kembali hadir dalam kehidupannya....maka hari hari suram sedang menantinya di masa depan.
❣❣❣❣
Dua pria beda generasi duduk bersedekap pada posisi masing masing.
5 menit yang lalu menjadi awal perjumpaan mereka setelah hampir 2 tahun tak saling bertatap muka. Dan sedari tadi belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Odet hanya menampakan diri di hadapan Tunder dan sang adik spontan mengekornya keluar dari area bandara.
" Langsung ke rumah apa balik ke kantor dulu Tuan?" Tanya Rivan sang asisten pribadi Tuan Odet.
" Langsung ke rumah aja" Jawabnya singkap padat dan jelas.
Mengintip wajah Tuan Odet di sampingnya...Tunder sang adik merasa di rugikan kali ini.
Jauh jauh dia datang dari luar negeri memenuhi panggilannya. Meninggalkan para kekasih bohay nya di sana demi sang Abang yang katanya sangat memerlukan kehadirannya sekarang. Namun setelah dia hadir di hadapannya...si Tua bangka ini masih saja bersikap cuek bebek terhadapnya.
" Cih!! tau gini aku gak bakal balik" Decihnya membuang pandangan ke luar jendela mobil.
" Diam!" Suara berat Tuan Odet berisi tekanan.
" Dari tadi aku diam" Sahut Tunder santai.
" Tapi barusan kamu ngedumel"
" Oh ya?? salah dengar kali" Tunder tetap santai menanggapi Odet yang serius.
" Jangan kau pikir aku tuli" Hawa di dalam mobil mulai terasa hangat.
" Aku nggak bilang Abang tuli"
" Sikapmu mengatakan seperti itu!" Tekan Odet lagi. Rivan merasa tak enak hati berada di antara mereka.
__ADS_1
Tunder mencibir " Penyakit Tua bangka, baper berlebihan"
" Tunder!!" Tuan Odet kembali meninggikan suara.
" Odet!!" Dan Tunder tak kalah galaknya dari sang abang.
Sebagai yang lebih tua, Tuan Odet memilih mengalah berdebat dengan adik semata wayangnya. Dia hanya mendecih setelah menatap tajam pada Tunder, dan si adik bersikap acuh sembari memasang earphone ke telinganya.
Usianya sudah hampir kepala 4, namun sikapnya lebih kekanak kanakan di banding Bryan. Setiap waktu yang ada di otak nya hanya bersenang senang dengan wanita, selebihnya dia akan tidur dan mabuk mabukan saja.
2 tahun yang lalu karena ulah playboy nya dia terpaksa di ungsikan ke negara tetangga karena bermain hati dengan istri orang. Sungguh hal memalukan bagi Tuan Odet, namun apa hendak di kata. Hanya dia satu satunya saudara yang dia punya sekarang.
" Katakan! apa yang kau perlukan dariku??" Tanya Tunder bersandar di sofa tunggal ruang tamu kediaman yang tlah lama dia tinggalkan.
" Hai Bibi" Sapa nya ramah pada Bibi pelayan.
" Selamat datang Tuan Tunder" Ujarnya meletakan minuman jus kesukaan Tunder.
" Thanks bibi manis" Ucapnya sembari mengedipkan mata. Si bibi mesem mesem menanggapi sikap ganjen Tunder.
" Kembali bekerja di perusahaan" Ucap Odet membelakangi Tunder.
" Hahahaha, aku sudah nyaman dengan keseharianku. Gak deh. Terimakasih masih menyimpan sedikit kepercayaan kepadaku"
" Aku suda tua Tunder, sudah saatnya kamu kembali mengurusi perusahaan" Ujarnya berbalik menghadap sang adik.
" Lho...si anak piak kamu mana?? dia sudah dewasa dong sekarang"
" Dia punya kesibukan yang lain"
Tunder menikmati minumannya" Ck, jadi setelah di campakan anak kebangganmu sekarang aku di pungut kembali??"
" Jaga ucapan kamu! aku mengungsikan mu ke luar negeri karena ulahmu sendiri??"
Kedua alisnya menukik naik" Hei!! itu bukan salahku! salahkan mendiang Papah yang mewariskan wajah tampan menawannya kepadaku!"
" Edan!" Umpat Odet.
" Siapa yang edan?? istri orang menggilai wajahku ini yang harusnya kau panggil edan" Ujarnya dengan lagak sombong.
" Sudahlah!! kamu kaya perempuan saja begitu mendendam. Pokoknya mulai besok kamu akan kembali ke kantor!"
" Aku lupa cara menggunakan komputer" Kilahnya.
" Alasanmu terlalu aneh"
" Aku lupa jalan ke kantor" Ujar Tunder lagi.
" Otak timun"
" Iya, karena itu jangan berharap banyak pada otak timun ini. Biarkan aku bersenang senang saja Odet. Please!!!"
" Nggak!!, aku sudah membiayai hidupmu selama ini. Sekarang saatnya kamu membalas kebaikanku"
" Aku bisa membalasnya dengan cara lain kan"
" Misalnya??" Tanya Tuan Odet ragu ragu.
" Mencarikan gadis boday aduhay binti seksi untuk menjadi kakak iparku. Gimana??" Senyum nakalnya membuat Odet muak.
" Gila!!"
❣❣❣❣
Bryan menunggu Maira di parkiran sembari bersandar pada mobilnya. Helai rambut hitamnya nampak bergoyang tersapu angin sore nan sejuk. Sungguh pemandangan yang menyejukan mata.
Beberapa karyawan wanita menatap penuh kagum padanya, apalagi Bryan memiliki sisi samping yang sangat menawan.
" Nungguin siapa Pak??" Tanya 2 karyawan wanita yang memberanikan diri menanyai Bryan.
" Calon istri"
" Yiaahhh...sudah punya calon Pak" Wajah mereka nampak murung.
" Hehehehe, belum di konfirmasi sih. Doa kan saya ya"
Senyum itu membuat hati dua wanita itu menghangat.
" Beruntung sekali wanita yang sedang Pak Bryan perjuangkan itu. Semangat Pak!! pepet terus sampai ke pelaminan" Seru mereka memberikan semangat kepada Bryan.
" Makasih semangatnya. Wuidih...jadi makin PD nih" Ucap Bryan malu malu.
" Btw Pak, nunggu calon istrinya kok di depan kantor Bapak. Jangan bilang calon istrinya____"
" Maira!!!" Panggil Bryan ketika Maira sang gadis pujaannya baru keluar dari pintu utama perusahaan.
Dua wanita itu terbelalak" Maira___"
" Hem" Bryan tersenyum.
" Set dah tu cewek, pendatang baru udah berani merangkak naik menjilat Pak Bryan" Dua wanita itu saling berbisik.
" Semangat Pak. Kami permisi ya" Ujar mereka pamit diri pada Bryan. Mereka berlagak mendukung namun di belakang mereka mencibir Maira.
" Terimakasih, hati hati di jalan" Sahut Bryan ramah.
Seperginya dua karyawan itu Maira kini tlah berada di hadapan Bryan.
" Ada apa Pak??"
" Pak?? aku calon suami kamu" Bryan menekankan.
" Jadian aja nggak, maen jadi calon suami aja!" Maira cuek enggan menatap sorot mata Bryan.
" Ya sudah sekarang kita jadian"
" Enak aja!"
Bryan tersenyum " Iya dong, siapa juga yang nggak mau sama yang enak enak"
" Apaan sih Pak?? manggil saya cuman mau ngomongin hal gak berfaedah ini??"
" Aku kangen"
Maira terdiam. Dia juga kangen, tapi gengsinya lebih besar dari rasa rindu itu.
" Makan tu kangen" Jawabnya ketus menerobos melewati Bryan. Dia tersenyum malu di belakang Bryan.
" Ra!!, aku serius. Aku mau kita menikah!"
__ADS_1
Kaki gadis itu mendadak terasa lemah.
" Kamu mau menikah dengan ku kan??" Tanyanya penuh harap.
Maira masih tak bisa berkata apa apa. Mendadak di ajak nikah kaya gini membuat Maira bingung harus memberikan jawaban seperti apa.
TITTTTT!!!! suara klakson membuat mereka berdua terkejut.
" Oi anak piak!!! om ganteng kembali" Tunder nongol dengan mobil Tuan Odet di hadapan Maira dan Bryan.
Seketika Bryan merasakan masa mudanya akan menjadi suram. Apalagi kehadiran Om menyebalkan ini ketika dia bersama Maira.
" Akh!! kenapa nongol sekarang sih??" Sentak Bryan kesal dengan suara tertahan.
" Eh anak piak, udah sore. Buruan pulang Papah kamu udah nungguin mau makan malam bareng"
" Suka suka Bryan dong mau pulangnya kapan. Om ngapain nongol di sini?? bukannya Om udah di banned di negara ini??" Lenguhnya kesal.
" Kurang asem!! Om bukan terosis ya!!" Geram Tunder.
" Om itu terosis rumah tangga orang. Balik ke luar negeri aja sana. Cewek cewek di sini akan terancam keselamatannya kalo ada Om di sini" Cecar Bryan.
" Oh ya??" Tunder menatap Bryan dengan alis terangkat sebelah.
" Cewek ini manis bener, boleh kenalan dong" Tunder berucap sembari turun dari dalam mobil.
" Nggaak!!!" Pekik Bryan menyambar tangan Maira.
" Hei!!, baru juga mau kenalan. Emang kamu siapanya dia??" Tangan Maira di tahan oleh Tunder. Kini tangan gadis itu berada di tangan Bryan dan Tunder.
" Om!! lepasin!!"
Maira nampak gak nyaman si posisi ini.
" Wuidih...anak piyak sangar amat sih sama Om sendiri. Ntar kualat lho..." Seringai tawa Tunder membuat Bryan semakin kesal.
" Maaf, tolong lepasin tangan saya....Om" Ucap Maira pelan.
" Om?? aduh...jangan ngikutin anak piyak ini dong. Aku Tunder, panggil aku Tunder. Nama kamu siapa manis??" Senyum yang di miliki Tunder sempat membuat Maira terpana. Dia tampan apalagi ketika tersenyum. Mata tajamnya terasa hangat ketika bibir tipisnya menukik naik membentuk senyuman hangat itu.
" Saya Maira" Sahut Maira seakan terhipnotis dalam pandangan wajah rupawan Tunder.
" Plak!!" Bryan memukul tangan Tunder yang tengah bersalaman dengan tangan Maira.
" Aku antar pulang Ra! ayok buruan"
" Eh eh eh~~ main bawa aja. Om ganteng belum banyak ngobrol sama gadis cantik jelita ini" Ucapnya berusaha menahan kehadiran Maira.
" Ayok Ra!!" Tarik Bryan memalingkan kepala Maira yang masih menatap Tunder di hadapannya.
" Aku pulang sendiri aja Bry"
" Nggak!! aku yang anter. Bapak sama Ibu kamu masih ada di kontrakan kan??"
" Iya, emang kenapa??"
" Aku mau ngomong sama mereka"
" Aku ikut ya Ra" Tunder mensejajarkan langkah bersama Maira dan Bryan.
" Ck!! Om pulang deh!!" Desis Bryan.
" Apaan sih Bry, dia terlalu cantik buat aku tinggalin. Aku juga mau ketemu sama Ibu dia, aku yakin pasti Ibu kamu wanita yang sangat cantik menawan. Anaknya aja secantik bidadari, gimana Ibu yang telah melahirkan gadis bidadari ini" Tatapnya pada dua bola mata cantik Maira.
" Please Om jangan gangguin Maira. Ini calon istri Bryan!!" Sentak Bryan.
Tunder tertawa" Hahahhaha, baru calon kan. Maira~~ sama aku aja ya manis. Aku lebih ganteng dari anak piyak ini kan" Tunjuknya di depan wajah Bryan. Dasar jari sialan!! Gerutu hati Bryan.
Maira tak tahu harus berbuat apa. Tunder sangat banyak bicara, cerewet, PD tingkat dewa. Tapi dia memang cakep banget sih.
" Anu Om__"
" No!!!" Tunder meletakan jari telunjuknya di bibir Maira.
" Jaga tangannya dong Om!!"
Tunder menepis tangan Bryan" Panggil aku Tunder, jangan pake Om"
" I__iya Tun_der" Sahut Maira tergagap.
" Nah bagus. Mau ngomong apa tadi manis??"
" Saya mau pamit pulang"
" Aku anterin" Dia menawarkan diri.
" Bryan yang nganter"
" Ck..." Decihnya menatap sinis Bryan.
" Maaf Tunder, aku di antar Bryan saja" Maira memberanikan diri menolak tawaran Tunder. Gila aja!! baru kenal langsung mau nganterin pulang. Meskipun katanya dia Om nya Bryan, Maira tetap harus jaga jarak dong.
" Hummmm" Tunder berwajah sedih.
" Oke deh, tapi aku minta nomor hape kamu ya"
" Udaaah!!" Muak di ganguin Tunder, Bryan menarik Maira hingga akhirnya gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
Dia menghentikan langkah Tunder yang menyusul Maira" Please Om, jangan Maira. Cari cewek lain aja"
Tatapan serius Bryan membuat selera bercanda Tunder buyar.
" Akh!! kamu nggak asik Bry"
" Bryan serius sama dia, please jangan di gerecokin"
Akhirnya dia pun melangkah mundur" Ya udah. Anterin deh sono"
" Awas aja kalo masih gangguin" Ancam Bryan melangkah memasuki mobil.
" Ok" Sahut Tunder melingkarkan jari jempol dan jari tunjuknya ke arah Bryan.
" Nggak janji" Desis Tunder pelan menatap mobil Bryan yang perlahan pergi meninggalkan dirinya.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
3 Januari 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.