Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 13


__ADS_3

***Melihat senyum manismu,


Wajahku memerah dan jantungku berdetak kencang.


Setiap hari...


Setiap menit...


Aku masih saja tergila gila pada dirimu.


Angin menghembuskan rambutmu,


Mengeluarkan aroma wangi yang memikat hatiku,


Setiap menit...


Seriap detik...


Aku jatuh cinta lagi pada dirimu.


Saat menatapmu aku sangat ingin kamu tahu,


Betapa indahnya perasaan manis dan asam cinta ini.


Sedikit romansa dan sedikit debaran terus mendatangkan cinta,


Menggenggam tangan kecilmu membuat wajahku memerah malu.


Kau dan aku berdampingan menatap langit berbintang,


Mengikat janji kau tak kan lama pergi dan aku akan setia menunggu.***


💝💝💝💝


Syila senyum senyum sendiri setelah berbicara dengan seseorang di telepon. Dengan tertatih tatih dia berusaha bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke depan cermin full body yang terletak di sudut kamar.Untung yang terkena pecahan kaca tu tumitnya jadi meskipun tertatih tatih dia masih bisa berjalan tanpa bantuan orang lain. Nggak kebayang betapa lancar dan cerewetnya Bryan tadi malam mewanti wanti dan mengomeli Syila sembari membalut tumitnya.


"Makanya Dek fokus dong, kaca berserakan segitu banyaknya kok nggak kelihatan". Ciat!! dengan erat dia mengikatkan perban di kaki Syila.


"Aw!!, Kak lukanya nggak seberapa sakit, pas Kakak ngiket tu perban malah lebih sakit, lagian begitu amat ngiket perbannya. Perban tu di balut pelan pelan, bukan di iket kaya begini Kakaku yang cakep!!" Nggak kalah cerewetnya dengan Bryan, Syila juga terus berceloteh di hadapan sang Kakak.


Bibi Mun yang saat itu bersama mereka menggelengkan kepala menyaksikan keributan kecil 2 bersaudara itu.


"Ckckckc...nggak heran sih, kalian emang Kakak sama Adek. Yang satu cerewet yang satu nggak kalah cerewet" Ucapnya terkekeh geli.


"Jangan di samain Bi!!, kita mah beda, Saya berwibawa, cakep, baik hati dan tidak sombong, lah ni bocah??" Tunjuk Bryan begitu dekat dengan hidung Syila.


Kedua mata Syila terlihat juling ketika fokus menatap jari telunjuk Bryan.


"Nah tuh,,,juling Bi, super teledor. Idup pula!!" Ujar Bryan melancarkan candaanya.


"Wuidih!!!, ngajak perang nih??, Syila juling gegara jari Kakak tuh" Gadis itu menepis jari telunjuk Bryan dari hadapannya.


Pria yang sedang jongkok di depannya sontak menyodorkan kembali jari telunjuk kepadanya.


"Untung Syila udah makan, udah kenyang! kalo masih laper bisa Syila makan jari nggak berakhlak ini" Ucap Syila menjinjit jari telunjuk Bryan.


Bryan terus menyodorkan jarinya pada Syila, mereka yang awalnya berdebat kini malah bercanda dan terkekeh geli "Nih makan nih, jarinya Kakak pake ngupil dulu ya, sok di makan!!"


"Astaga!!, jorok binggo sih Kak >,<" pekik Syila terus mengelak dari uluran jemari Bryan.


Sementara Bryan dan Syila terus bercanda dan tertawa Bi Mun semakin tertawa geli melihat tingkah mereka.


Kembali pada Syila yang tengah mematut diri di depan cermin. Wajah putih bersihnya nampak bersemu, rasa panas kembali dia rasakan di seluruh wajahnya.


Gadis itu memegangi kedua pipinya sembari mengendik kan bahu "Uh!!, selow dong Syila!!, dia cuman jengukin kamu yang lagi cidera aja. Nggak ada maksud lain kan" Ternyata dia sedang meredam rasa malu dalam dirinya.


"Tapi La...." Sisi lain dari dirinya juga ikutan ngomong "Tapi dia kan kemaren nembak kamu Syila".


Dan lagi..wajahnya kembali merona"Aish!!!cuaca hari ini kok terasa panas gini sih!!" dia berjinjit ke arah kamar mandi. Membasuh wajahnya yang terasa panas ketika mengingat Lian.


Setelah wajahnya terasa sejuk gadis itu kembali bercermin,kali ini cermin di kamar mandi yang menjadi saksi kebahlulannya ngomong sendiri dengan tu cermin.


"Yaaahhh!!, luntur deh bedaknya, musti dandan lagi dong".


Hahhaa Syila begitu heboh sendiri mendapat kabar kunjungan Lian, cepat cepat dia mengeringkan wajah dan memoles make up ringan di wajahnya. Cukup dengan sedikit bedak dan sedikit olesan lipstik berwarna pink muda gadis itu sudah nampak menawan. Tak lupa dia semprotkan parfume Vanilla nan manis di pergelangan tangan dan belakang daun telinga. Kini gadis itu siap menemui Lian yang katanya sedang dalam perjalanan ke panti.


Lagu boyband asal korea selatan BtoB terdengar mengalun merdu dari dalam mobil Lian. Dengan lagu yang bertitle Missing you seakan mewakili kesedihan Lian ketika kehilangan Kaila. Sesekali dia ikut bersenandung menyanyikan bait demi bait, entah sedang dalam sad mood atau happy mood yang jelas Lian nampak menawan ketika sedang mengendarai mobil. Tangan kekarnya dengan lihay memacu badak besinya itu, sesekali dia memegang setir dengan sebelah tangan, udah kaya Oppa Oppa korea yang terlihat ketceh sedang mengendarai mobilnya.


Ujung bibirnya menukik naik, dia tersenyum menampilkan 2 lesung pipinya "Semoga di terima"Ucapnya dalam doa. Dia menghela nafas membuang segala keraguan,dia harus yakin dengan Kailanya, gadis itu pasti akan menerimanya.


Selang berapa lama mobil Lian kini tlah terparkir di depan panti, Bi Mun yang di minta Syila membukakan pintu pagar tertegun dengan kehadiran Lian.


Tak lupa Lian mengunggingkan senyuman mautnya ketika sang Bibi melempar senyum pula kepadanya.


"Selamat siang"Ujar Lian tersenyum ramah.


"Oh Tuhan!!, itu lesung pipi apa kolam ikan, dalem banget" Pekik hati kecil Bi Mun.


"Nak Lian ya??" Tanyanya sembari menyadarkan diri dari keterpanaannya.


Eh!!Lian terkejut, ni ibu ibu kok tau namanya??Pikir Lian,mungkin Syila udah cerita akan kedatangannya pada ibu ini."Iya"Jawab Lian"Syila nya ada Bu??"


"Anu...Bibi, panggil aja saya Bibi"Ujar Bibi Mun sedikit tergagap.


"Non Syila udah nungguin di ruang tamu" Ujarnya mempersilahkan Lian memasuki pekarangan.


Dengan sopan Lian ngikuti Bi Mun ke arah panti, mereka melewati taman kecil yang penuh bunga bunga. Halaman nan luas itu berhamparkan rumput rumput berwarna hijau, selain taman bunga di sana juga terdapat tanaman rempah rempah dapur dan beberapa tanaman herbal. Perlahan Lian melangkah lebih masuk ke area panti sembari menyapukan pandangan ke setiap sudut halaman, Hingga akhirnya langkah Lian tlah sampai di teras panti.


"Silahkan masuk Nak Lian".

__ADS_1


"Makasih Bi".


Bi Mun tersenyum lebar kepada Lian. Ketemu yang cakep begini mood Bi Mun tiba tiba jadi berbunga bunga, Chelsea dan Athala si Bocah SD nampak mengintip dari anak tangga. Mereka menatap lekat lekat pada Lian yang perlahan mendekati Syila, Syila juga nampak tersenyum menyambut kedatangan Lian.


"Lebar banget senyum Kak Syila" Ucap Chelsea setengah berbisik.


"Ho-oh, baru pertama kali liat Kak Syila senyum begitu, gara gara tu cowok kali". Athala ikut berkomentar.


"Aku kalo besar nanti lebih ganteng dari dia Chel" lanjutnya.


Chelsea berbalik menatap Athala yang berada di atasnya"Hm...masih siang, jangan bermimpi".


"Ih, dasar bocah!" Sentak Athala kesal.


"Kecilin volume ngomongnya!!, gini nih kalo bersekongkol sama bocah" Chelsea balas memanggil Athala bocah.


"Ehem!!,sama sama bocah di larang bertengkar, ini ambil kue kalian terus main di teras sana" Bi Mun datang dengan 2 piring Kue dan menyerahkannya pada Athala dan Chelsea.


"Nah kalo ini baru cakep"Ucap Chelsea menuruni anak tangga dan dengan santainya melewati Syila dan Lian di ruang tamu."Permisi om ganteng".


"Ganjen!!"Umpat Athala mengekor di belakangnya.


"Eh eh!! mau kemana?" Tanya Syila.


"Kencan!!, emang Kak Syila doang yang bisa kencan" Sahut Athala ketus.


Chelsea berbalik ke hadapan Athala"Masih kecil nggak boleh pacaran!!".


"Aku tunggu sampe kamu besar!!" Jawab Athala lantang.


Bibi Mun menepok jidat dengan wajah masam.


"Maaf Nak Lian, mereka emang sering berdebat kaya gitu".


"Hehehe, nggak papa kok Bi"Sahutnya.


"Maaf Li, aku nggak bisa bukain pintu, nih kaki aku lagi di iket sama Kak Bryan"


Lian mengalihkan pandangan ke arah kaki Kaila, humornya mendadak muncul. Seorang Bryan mengikat perban dengan imutnya. Pake ikat pita pula.


"Hahaha,,Kakak kamu imut juga ya".


Mereka bertiga terkekeh geli mentertawakan ikat pita hasil karya Bryan Brander.


"Mau aku perbaiki balutan perbannya??" Tanya Lian yang kini duduk di sofa panjang bersama Syila.


"Boleh, aneh kan ikatan Kak Bryan" Ucap Kaila berusaha santai. Tak bisa di pungkiri sedekat ini dengan Lian, hatinya jumpalitan kesana kemari.


Pria itu jongkok di hadapannya dan dengan rapi membalut kaki Syila.


Syila menatap Lian dengan alis mengkerut.


"Makanya kalo jalan tu hati hati Kaila!!"


Syila menggelengkan kepala. Tangannya menekan kening berkerutnya.


Dia memejamkan mata, entah kenapa semua terasa gelap baginya namun terasa nyata ketika dia menutup mata.


"Bangkooookkkkk!!, makasih Lian!!!Terlintas bayangan dirinya berada di bandara bangkok Thailand yang dia lihat dalam mimpi.


"Balik ke indo aku bakal bangkrut lho La!!" Samar sama dia melihat di lengan Lian lah tangannya bergelayut manja.


"Eisshhh!!!" Syila meringis memegangi kepalanya. Tiba tiba kepalanya semakin berat.


"Lho...Syila!!"Lian menyadari ada yang nggak beres dengan Syila.


Kala itu Bi Mun sedang berada di dapur mempersiapkan minuman untuk Lian, dia juga ingin memberikan kue kepada Lian.


"Syila!!, hey kamu kenapa??" Lian memegangi lengan Syila. Gadis itu masih memejamkan mata seolah menahan sakit.


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal?? kenapa kamu menyembunyikannya dari aku!!"


Bayangan mereka berdebat perihal perselingkuhan Riley, Papah Lian juga terbayang di kepala Syila.


Bibi Mun akhirnya datang ke ruang tamu dengan nampan berisi makanan dan minuman.


"Lho.., Non Syila kenapa??" Dia terkejut bukan kepalang mendapati Syila memegangi kepalanya dengan mata terpejam.


"Nggak tau Bi, tiba tiba meringis begini"Ujar Lian panik.


Bi Mun berlarian ke dapur, dia hendak mengambil air putih untuk Syila.


"Hick hick..."Kedua mata Syila terbuka dengan derai air mata.


"Maaf Lian...hick hick.." Kedua tangannya memegangi wajah Lian.


"Hah??" Lian terperangah.


"Ini Nak Lian, kasih minum Non Syilanya!!"Bi Mun tergesa gesa menyerahkan gelas berisi air minum kepada Lian.


"La..!!, kamu kenpa nangis??"


Syila masih terisak dalam tangis. Tangannya memegang erat lengan Lian.


"Minum dulu La, tenangin diri kamu".


Gadis itu semakin sedih menatap Lian,tangisnya semakin menjadi.


Bibi Mun di buat bingung dengan kejadian ini. Dia teringat penyakit aneh yang kerap menghampiri Syila, terkadang gadis itu akan merasakan kesedihan yang mendalam tanpa tau sebabnya.

__ADS_1


"Non Syila emang bisa menangis tanpa sebab Nak, tapi nggak pernah sesedih ini".


Lian kebingungan dengan ucapan Bi Mun, dengan singkat Bi Mun menjelaskan tingkah aneh Syila ketika bersedih tanpa alasan.


Gadis itu masih terisak dalam tangis, tangannya menarik tubuh Lian lebih dekat dan masuk dalam pelukannya.


Lian merasa canggung karena Syila melakukan itu di hadapan Bibi Mun.


Wanita paruh baya itu merasakan kedekatan Syila dan Lian. Dia duduk di samping Syila dan berbicara pelan padanya.


"Non Syila,,,kalo capek istirahat di kamar aja".


Syila tak bergeming. Dia masih betah membenamkan wajah di pelukan Lian.


Lian benar benar di buat salah tingkah oleh Syila, tatapan Bibi Mun seakan penuh makna kepadanya.


Cengkeraman tangan Syila semakin erat ketika Lian berusaha melepaskan pelukan.


"Jangan pergi, jangan marah"Ucapnya pelan.


Lian tak mendengar betul apa yang di katakan Syila lantaran gadis itu tak ingin mengangkat wajahnya yang tenggelam dalam pelukan.


"Anterin ke kamar nya aja Nak Lian".


Raut wajah Lian seketika berubah, sepercaya itu Bibi Mun memintanya mengantarkan Syila ke dalam kamar. Bahaya ni Bibi, dia nggak takut Syila di apa apain sama cowok yang baru dia kenal?? Lian sontak menggelengkan kepala.


"Sama saya Nak Lian" Lanjut Bibi Mun.


Wajah Lian terlihat lega.


"La.. kamu istirahat di kamar aja ya, aku anterin kok".


Gadis itu menggeleng cepat. Dia bahkan semakin menggenggam erat kemeja Lian.


Lian rada rada canggung hendak menyentuh Syila, jujur saja ketika mereka sudah bertunangan kontak fisik yang pernah terjadi di antara mereka hanya sebatas ciuman. Nggak lebih dari itu, mengingat betapa galaknya Kaila, Lian mana berani bertingkah lebih jauh sebelum janur kuning melengkung. Bisa bisa kepalanya bocor sebelum resmi menyandang status suami Kaila.


"Udah deh Nak Lian, gendong aja!!" desak Bi Mun yang begitu gemas dengan tingkah canggung Lian.


"Hayuk!!"desaknya lagi langsung berdiri dan hendak menuntun Lian ke lantai atas.


Apa hendak di kata, Lian yang terpojok karena desakan Bi Mun akhirnya menyelipkan lengannya di kaki dan punggung Syila. Dengan entengnya dia menggendong Syila ke lantai atas.


Aroma yang sangat akrab semerbak memenuhi indra penciuman Syila, dia sangat dekat dengan Lian.


Perlahan Lian merebahkan Syila di pembaringan. Tapi Syila bersikeras memegangi kemejanya.


"Saya tinggal rebus air buat mengompres Non Syila ya Nak Lian" Tanpa banyak basa basi Bi Mun meningalkan mereka di kamar biru muda itu.


"Aku mohon, maafkan aku"Gumam Syila pelan dengan mata sembab.


Entah meminta maaf karena apa, Lian masih tak mengerti dengan sikap Syila saat ini.


Sedikit menundukan kepala mendekati wajah Syila, Lian terperangah dengan bisikan Syila.


Jemari kecil nan lembut Syila menyentuh setiap garis wajah Lian, di pandanginya lekat lekat wajah pria yang tengah terkejut akan sikapnya itu.


"Lian..."


"Hm..."Sahutnya dalam gumam.


"Kamu baik baik aja kan??"


"Hm..."Lian tersenyum kepada Syila.


"Lian..."gadis itu kembali menyebut nama Lian.


"Maafin aku".


Lian memegangi tangan Syila yang masih melekat di pipinya, dia menggenggam erat tangan kecil itu.


"Iya..aku maafin La"tanpa mengerti apa maksud Syila, Lian meng"Iya"kan saja perkataan Syila.


"Lian..."


Lian kembali bergumam menjawab panggilan gadis itu.


"Maaf, aku nggak bermaksud menyembunyikan perselingkuhan Papah kamu"Setelah mengucap kata itu Syila terlelap dalam tidurnya. Dia nampak sangat kelelahan dengan matanya yang sembab.


"La!!, Ka__Kaila!!!" Panggil Lian terbata bata.


"Kaila!!" Ucapnya akhirnya. Gadis itu tak membuka mata, dia hanya merespon dengan mempererat genggaman tangannya pada Lian.


Lian sangat tersentuh, apakah Kaila sudah mengingat semuanya??, Lian begitu ingin membangunkan gadis itu dari tidurnya. Namun kedatangan Bibi Mun membuat dia mengurungkan niatnya.


"Maaf Nak Lian, dia memang terkadang begini". Bi Mun mengompres kening Syila. Mengusap sisa sisa air mata di pipinya.


"Nak Lian, melihat Non Syila nggak mau berpisah dari kamu, bisa nggak Nak Lian jagain Non Syila".


"Saya khawatir dia histeris mencari anda ketika dia terbangun dari tidurnya".


Lian mengangguk pelan pada Bibi Mun.


To be continued...


21 September 2020.


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.


Salam anak Borneo.

__ADS_1



__ADS_2