
****Penikahan bukanlah bisa hidup dengannya...
Melainkan tak bisa hidup tanpanya...
Pernikahan bagaikan rantai dari cincin emas....
Di awali dengan secercah sinar terang...
Dan di akhiri dengan keabadian....
Pernikahan bagaikan melihat bunga yang jatuh di musim gugur....
Selalu berubah dan semakin indah setiap harinya****
__Bait awal dari "Dua Tua Muda"Eps 88__
🍒🍒🍒🍒
" Itu aku??" Tanya Maira pada Ghina. Wajah cantik di dalam cermin membuatnya kagum.
" Iya" Sahut Ghina tersenyum lebar" Kenapa emang??"
Jemarinya menyentuh wajah yang hampir selesai Ghina rias" Kok beda banget, jangan jangan cerminnya bermasalah nih. Itu bukan wajahku" Gerak geriknya terlihat jelas di dalam cermin. Berarti itu memang dirinya sendiri kan.
" Kwkwkkwkwk" Kaila yang memergoki kepolosan Maira tergelak tawa.
Ghina juga tertawa karena kepolosan Maira" Jelasin La!" Tukasnya pada Kaila, sementara dirinya memandangi hasil karyanya pada wajah Maira, hmmmmm~ kurang apa lagi yaaaa~
Wanita yang akan menjadi iparnya beberapa waktu kedepan itu menarik kursi kecil dan duduk di sampingnya, mereka menghadap cermin bersamaan.
" Selama ini kamu jarang dandan yang berlebihan kan??" Ujarnya menyamping memandangi Maira.
Sembari menggeleng" Nggak pernah malah" Sahut Maira.
" Pantesan. Bukan cuman kamu sih, banyak juga pengantin cewek yang pangling melihat wajahnya sendiri setelah selesai di rias.
" Oh~~~" Mulut Maira membulat.
" Di tambah lagi MUA nya jago kaya Ghina, jam terbangnya sudah tinggi banget. Bakatnya juga nggak di ragukan lagi di dunia make Up, aura kecantikan kamu semakin terpancar. Hm....nggak sabar mau lihat ekspresi Kak Bryan pas lihat kamu nanti"
" Kamu terlalu memuji La, baju ku bisa kedodoran nih " Canda Ghina.
" Suer, hasil karya kamu memang oke banget!!" Dua jempolnya mengarah pada Ghina dengan senyum manis. Dan senyuman Kaila menular kepada Ghina.
" Aduh, Kak Bryan pasti pangling banget ini" Ucap Ghina lagi memandang Maira lekat lekat.
Maira menepuk pelan lengan Kaila. Dia tersipu malu karena ucapan Kaila. Teringat akan Bryan membuat jantungnya berdetak abnormal. Bagaimana penampilan Bryan nanti ya?? Batin Maira tiba tiba ingin tahu apakah Bryan sudah selesai di rias juga.
Dia sangat ingin menanyakan keadaan Bryan tapi dia malu. Mereka pasti akan menggodanya jika melakukan hal itu. Dari pada terus di goda hingga membuat wajahnya menjadi merah Maira lebih memilih untuk diam. Toh akhirnya mereka akan bertemu tak lama lagi.
Ghina menyapukan polesan terakhir di wajah Maira, setelah merasa puas dengan hasil akhirnya dia pun pamit diri menyusul Mince sang asisten yang sekarang tengah mengurusi pakaian Bryan.
.
.
.
Kegaduhan terdengar dari kamar Bryan yang di sulap menjadi kamar pengantin. Awalnya sih suasana tenang dan damai, di dalam sana Bryan di temani oleh Brama menunggu sang MUA sembari ngobrol ringan tentang keadaan kantor.
Namun kedamaian itu sirna ketika seorang insan masuk ke sana dan menghacaukan keadaan.
" Selamat pagi, awh ada dua cowok cakep. Siapa di antara kalian yang bernama Bryan??" Ujar sosok mengejutkan Brama dan Bryan itu. Obrolan mereka tiba tiba terhenti.
" Dia" Sahut Brama menunjuk Bryan dengan wajah tegang. Perasaannya mulai nggak nyaman, melihat dari gelagatnya sepertinya orang di depan mereka sekarang ini rada rada unik.
Dari penampilan bisa di bilang dia cukup kece sih, tapi suaranya ketika berbicara kok???🙃
Pria itu tersenyum lebar kepada Bryan" Duileh!! cakep bener pengantin pria nya. Wuih!!! pundak kamu lebar banget, pasti nyaman kalo senderan di pundak kamu" Jemarinya menyentuh pundak Bryan.
Kedua mata Brama tiba tiba mengerjap cepat, apa apaan cowok ini!!
Bryan merasa risih dengan sikap pria itu" Kamu siapa??" Tanya nya menepis jemari pria itu agar menjauh dari tubuhnya.
Pria itu mengulurkan tangan kepada Bryan" Kenalin saya asisten mbak Ghina" Suaranya di halus halusin. Dan terdengar___ aneh!.
Brama perlahan mudur, dia yakin pria ini bukan pria sejati.
Sedangkan wajah Bryan tiba tiba pucat pasih, dia tak menyambut uluran tangan pria itu.
" Brama~~~" Bryan melirik Brama.
Brama semakin menjauh, kini dia tlah berada di depan pintu.
" Sumpah Bram!!! please jangan tinggalin aku!!" Bryan memohon kepada Brama, ini kali pertama dalam hidupnya memohon sepenuh hati kepada cowok, dia mengejar Brama dan menarik lengannya.
" Nggak!! aku geli Bry!!" Brama melepaskan cengkeraman Bryan dari lengannya dengan paksa.
" Aku mohon!!" Pekik Bryan menangkupkan kedua tangan pada Brama.
Rasa Frustasi mengghinggapi diri Brama.
" Biarin deh kalo mas cakep itu mau pergi, ayok mas ganteng sini Mince bantu ganti bajunya" Ya salam~~si Mince pake ngedipin mata ke arah Bryan. Brama bergidik geli, dan Bryan rasanya ingin pergi sejauh jauhnya dari pria tak sejati ini. Mana jemarinya gemulai baget pas manggilin Bryan, oh Tuhan!!!
" Mince??"
" Iya sini mas sama Mince" Panggilnya lembut. Alamak!!! kini nampak jelas bahwa pria itu memang bukan pria sejati. Tubuh Bryan bergetar, mimpi apa dia semalam kok ketemu orang seperti ini di hari pernikahannya. Pake di raba raba pula tadi 😣😣
Bryan menjauh ketika Mince melangkah mendekatinya. Merasakan pergerakan Bryan dan Mince menuju ke arahnya Brama pun kabur tanpa aba aba. Demi Neptunus!!! Brama paling anti sama makhluk melambay dua dunia itu dan sekarang mereka di pertemukan di kediaman Brander. Argghhhh!!! Brama ingin pulang tapi acaran nikahan Bryan belum di mulai.
" BRAMA!!!" Teriak Bryan dari dalam kamar.
Bagai di kejar setan, Brama tak melirik sedikit pun ke kamar Bryan. Dengan jantung berdegup kencang dia semakin menjauh dari mereka sembari memegangi dadanya.
Di tengah pelariannya dia bertemu Lian di ruang tengah" Kenapa kamu??, Bryan nya udah siap??"
Pertanyaan Lian di jawab gelengan kepala oleh Brama.
" Kamu kenapa? kok keringetan gitu??"
" Om Tunder mana??" Tanyanya sembari mengatur napas.
" Au!! aku nanya Bryan kamu malah nanyain Om ganjen"
" Sekarang dia sangat di perlukan" Ucap Brama masih tersengal sengal.
Lian menangkap bayangan Tunder tak jauh dari mereka. Dia nampak menggandeng Selena menuju arah taman" Itu Om Tunder"
Ujung mata Brama mencari sosok Tunder pada arah yang Lian tunjuk.
__ADS_1
" Om!!!" Teriaknya.
Dalam sekali teriakan Tunder dapat mendengar dengan jelas panggilan Brama.
Lian yang masih tak mengerti dengan tingkah Brama kini di tarik paksa menghampiri Om Durjana.
" Oi oi!! kenapa aku di bawa bawa, aku mau nyamperin Bryan!"
" Ikut aja dulu, kamu bakal jantungan kalo menemui Bryan sekarang"
Jantungan?? kening Lian berkerut tak mengerti arah dan tujuan dari perkataan Brama.
" Kenapa sih?? kenceng banget manggilin Om tamvan" Seperti biasa, Tunder merasa hanya dirinyalah pria tertampan di muka bumi ini. Ckckckkck !!
" Iya deh Om tamvan, om sangat di perlukan sekarang. Please tolongin Bryan!!!"
" Aku ke sana ya Bebs" Selena memilih pergi dari hadapan mereka. Di lihat dari gelagat Brama nampaknya sedang ada masalah dan Selena nggak ingin terlibat dalam masalah itu.
" Hm" Sahut Tunder mengusap pucuk kepala Selena.
Kini Lian dan Tunder saling berpandangan.
" Bryan kenapa??" Tanya Tunder.
Lian mengendikan bahu pertanda tak tau.
" Ada wanita dua alam Om!"
" Eh____lelaki dua alam___, tapi..." Brama nampak bingung memberi penjelasan kepada Tunder.
" Bencong??" Lian menerka nerka.
Brama mengangguk" Betul!!!!, dan dia asisten mbak MUA nya"
Lian tepok jidat" Ya salam~~~~" Wajahnya tegang.
" Anti yang begituan juga??" Tanya Brama.
" Iya" Sahut Lian bergidik geli. Suasana tiba tiba terasa aneh bagi Lian.
" Sama" Sahut Tunder. Dia menyusap wajahnya. Menggigit bibir memikirkan apakah ada cara agar bisa menolong Bryan.
" Yaelah Om!! katanya penakhluk wanita kok sama Bencong nggak berani, Bryan gimana dong???"
" Aku emang penakhluk wanita, tapi bukan penakhluk cowok jadi jadian. Ash!! ogah dah. Sumpah aku nggak sanggup!!"
" Om, Bryan cuman berdua sama tu Bencong lho di kamarnya"
" Hah!!" Tunder terkejut. Dia punya pengalaman menggelikan dengan cewek jadi jadian seperti itu ketika masih di luar negeri.
Di tengah kekalutan para pria tiba tiba Ghina hadir di antara mereka.
" Hai Lian" Sapanya ramah.
Lian menghela napas lega" Nah!! ada pawangnya. Ayok buruan ke kamar Bryan"
" Ini aku emang mau kesana, tapi siapa yang kamu maksud pawang??" Ujar Ghina.
" Kamu lah!" Sambar Tunder.
" Pawang? aku?? apa sih??"
" Mince?? emang Bryan di apain??"
" Yah...gini gini" Brama meraba raba pundaknya.
Ghina menutup mulut dengan tangannya menahan tawa. Sementara Lian dan Tunder menggigit bibir membayangkan nasib Bryan di raba Mince.
" Auwh!! Bryan masih hidup nggak sih??" Tunder mikirnya ampe ke sono 😅
" Hus!! Mince nggak bisa makan orang kok" Sentak Ghina dengan tawanya.
" Tapi Ghin, Bryan pasti di raba raba sama Mince"
" Dikit aja kali" Seloro Ghina memimpin mereka menuju kamar Bryan.
Tunder mengekor pada barisan paling belakang" Anak piyak masih perj*ka nggak ya??"
" Om!! jangan mikir yang aneh aneh deh!"
" Bram, kamu nggak tau gimana beringasnya kaum melambay itu. Akh!! aku ngeri kalo ingat pengalaman sama cewek jadi jadian kaya gitu"
" Om pernah main sama Bencong??"
" Nggak!!!"
" Bener Om??" Selidik Lian.
" Yakin Om??" Ghina ikut ikutan.
" Om??" Brama juga ikut mempertanyakan pengalaman Tunder.
" Nggak sempat main kok!! belom mulai keburu ketahuan kalo dia masih punya joni" Seru Tunder membuang muka.
" Huweeekkk!!!" Lian menggelinjang geli. Begitu juga dengan Brama.
Ghina tertawa di antara pria kocak itu. Kini mereka tlah sampai di muara kamar Bryan.
" Jaga jarak!!!" Terdengar suara Bryan meninggi dari dalam kamar.
" Iya ini jauh jauh kok" Dan suara Mince juga terdengar hingga keluar kamar.
Ghina membuka pintu kamar perlahan. Nampak Mince duduk di meja rias, sementara Bryan sepertinya sedang berganti pakaian di kamar mandi.
" Gimana Say, udah kelar??" Tanya Ghina.
" Dia nggak mau aku bantuin pake baju, ugh gemes deh aku Say. Padahal aku cuman pengen liat perut kotak kotaknya dikiiiiiiit aja" Mince benar benar melambay. Dia berbicara dengan tangan bergoyang goyang, jemarinya terlihat sangat lentik. Tunder tak kuasa menatap Mince. Dia tak kuasa ikut masuk ke dalam kamar.
Lian dan Brama masuk beriringan. Biar bagaimana pun Bryan sudah menjadi bagian dari mereka, secentil apa pun cewek jadi jadian ini mereka akan berjuang menyelamatkan Bryan.
" Om, sini!!"
Tunder menggeleng. Kepalanya menyembul dari tepi pintu, mengamati mereka dari sana.
" Mas cakep!!!, sini mas"
Bulu kuduk Brama tiba tiba berdiri.
" Lian!!"
__ADS_1
" Diemin aja Kacrut!!" Sentak Lian.
Mata Mince bertemu pandang dengan Lian" Ya Allah lindungi hamba!!" Batin Lian.
" Eh ada mas cakep lagi, aduh Ghin!! di sini banyak cowok cakep. Ini mah surga dunia!!" Dia bersiap menghampiri Lian dan Brama.
" Eitss!!!, diem di sini aja!! ntar mereka pingsan kalo kamu deketin Mince!" Ghina menahan lengan Mince agar tak beranjak dari duduknya.
" Pengen kenalan"
" Nggak usah!"
" Ayolah Say!!" Rengek Mince.
" Dari sini aja kenalannya!!"
" Pengen salaman"
" Nggak usah, ntar mereka kejang kejang!!"
" Akh Ghina jahat ih!!"
" Mince~~~ kita di sini kerja. Bukan mau bersenang senang sama cowok"
" Kerja sambil bersenang senang Ghina"
" Kamu ih!! kenalan dari jauh aja!!" Sentak Ghina tegas.
Mince manyun. Biar bagaimana pun Ghina adalah majikannya dan dia harus patuh kepada Ghina.
Mince melempar senyum kepada Tunder" Mas cakep yang di luar, kenalin aku Mince"
" Aku____Eman" Sahut Tunder asal.
" Hupffhhh!!" Ghina menahan tawa. Di liriknya Lian dan Brama yang masih waspada.
" Eman? nggak cocok sama muka mas, mas bercanda yaaaa~~~" Kedipan nakal dari Mince membuat Tunder sesak napas.
" Ya pokoknya namaku Eman" Tunder menekankan.
" Kalo mas bedua siapa namanya??" Mince berpindah pada Lian dan Brama.
" Aku Joko dan dia Jaka" Tunjuk Brama padanya dan Lian.
" Iya aku jaka" Tambah Lian pasrah akan nama samaran yang berikan Brama.
" Cakep cakep namanya lokal banget"
Dua pria itu diam. Mereka tak berniat lanjut berbincang bersama Mince.
Mati matian Ghina menahan tawa.
" Udah!! buruan kemasi peralatan kita. kamu tunggu di mobil. Pengantin prianya serahin sama aku aja"
" Oke deh, aku duluan ya. Mas pengantin Mince pamit ya~~~`" Serunya manja ke arah kamar mandi.
" Minggat sono!!!" Teriak Bryan dari dalam kamar mandi. Sebenarnya dia sudah selesai berpakain namun baginya berada di dalam kamar mandi lebih aman ketimbang di luar sana jika masih ada Mince.
" Dih judes amat. Padahal udah Mince belai belai kan tadi"
" BUK!!!" Terdengar suara pintu kamar mandi yang Bryan tendang.
" Mince!!" Sergah Ghina.
" Iya iya, ini Mince pergi kok"
Tunder buru buru masuk dan berlindung di belakang Brama dan Lian sebelum Mince keluar dari kamar itu.
" Ugh!!! cakep cakep banget sih!!!, Mince pamit dulu ya~~~" Ujarnya melambaikan tangan pada tiga pria itu.
" Iya, bye bye" Sahut Lian terpaksa.
🍒🍒🍒🍒
Satu persatu para tamu undangan mulai berdatangan. Seiring waktu kini Bryan dan Maira akhirnya bertemu di depan penghulu.
Benar kata Kaila, Kecantikan Maira benar benar terpancar. Bryan sangat terpana akan kecantikan yang di miliki Maira hingga tatapannya tak bisa lepas dari gadis pujaannya itu.
" Matanya Kak, tolong di kedipin sesekali" Ledek Kaila ketika mengantar Maira duduk bersanding dengannya.
Bryan tersenyum simpul. Sedangkan gadis pujannya itu tertunduk malu. Dalam balutan jas pengantin berwarna putih tulang, Bryan bak seorang pangeran tak berkuda. Dia bagai pemeran utama yang keluar dari dunia dongeng, Kaila benar benar berdebar hingga tak kuasa menatap Bryan lebih lama dan menahan diri dalam pandangan yang tertunduk. Bagaimana kalo dia sampai mimisan karena terlalu terpana akan pesona Bryan?? bikin malu banget kan!!
Di hadapan penghulu dan para saksi akhirnya dua sejoli itu mengucap janji suci. Genangan air mata jatuh membasahi pipi Ayah dan Ibu Maira. Hal yang tlah lama mereka impikan akhirnya terwujud jua. Begitu juga dengan Tuan Odet, akhirnya sang putra melepas masa lajangnya. Para orang tua akhirnya dapat bernapas lega di hari itu.
🍒
🍒
🍒
Malam mulai menyapa, menyisakan lelah setelah seharian menjadi raja dan ratu duduk di pelaminan.
" Kami pamit ya Nak" Ayah dan Ibu bersiap hendak meninggalkan kediaman Brander malam itu"
" Ayah, Ibu___" Bibir Maira kelu. Di pandanginya kedua orang tuanya bergantian. Pandangannya berhenti pada Hendro sang adik semata wayangnya.
" Jangan nakal ya Dek!"
" Iya" Sahut Hendro patuh. Kali ini dia tak berdebat dengan sang Kakak, sejak Maira resmi menikah ada rasa kehilangan di hati Hendro. Meskipun galak Maira adalah Kakak tersayangnya.
Tuan Odet yang ada di sana melarang mereka yang hendak kembali ke kontrakan Maira.
" Menginap saja di sini untuk beberapa hari"
" Iya Tante, Kaila yakin Om sama Tante pasti masih ingin berdekatan dengan Maira kan" Tambah Kaila.
Ayah melirik Ibu.
" Sebenarnya Ibu memang masih ingin bersama Maira" Ucapnya menatap putri kesayangannya.
Akhirnya malam itu keluarga Maira menginap di kediaman Brander.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
16 Februari 2021.
Salam anak Borneo.
__ADS_1