
****Ku ingin lebih dekat agar kau tau kode cintaku,
Ku ingin lebih dekat agar kau tau ada rindu di hatiku,
Ini terlihat bodoh tapi inilah cintaku,
Aku kan terus buktikan hingga kau yakin akan tulus cintaku.
Berhayal momen mesra kita perlahan melayang di udara
Dua hati saling jatuh cinta...
Itu bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Mungkin sebuah jawaban tlah lama terungkap,
Hanya saja kita tak menyadari akan kebenarannya.
Cinta...kau dan aku tlah di takdir bersama.
Terima itu dan tak usah sembunyikan senyum mu.
Kau...cinta termanis...
Aku tlah lama menunggumu****
🎐🎐🎐🎐
Bel kediaman Lian dan Kaila di pencet membabi buta berkali kali. Lian begitu geram hendak menggeplak jidat si pelaku pencet bel brutal itu.
"Gak sopan banget sih, ini bel kediaman orang. Bukan klakson paman jualan cireng!!"Dengan berkacak pinggang Lian membuka pintu sembari mengomel.
"Jeng jeng!!!!"Para sahabat dan para buntut mereka berjejer rapi di depan pintu apartement.
"Ohohoho, maaf. Di sini nggak ada pembagian sembako. Husss balik rumah masing masing sono"Canda Lian mengibaskan telapak tangan bergaya mengusir para tamu tamu nya.
"Ugh! ku hempaskan ke dasar bumi baru tau rasa"Fatur mengambil kuda kuda siap menghantam Lian.
"Jiittt!"Kerah bajunya di jinjit Mei.
"Buruan masuk, nih si Miya kebelet pipis"
Nampak wajah Miya mesem mesem dengan kaki terapit menahan buang air kecil.
"Aduh, kasian amat si gadis cantik"Lian menarik Miya masuk lebih dulu ke kediamannya.
Gadis cilik itu buru buru menuju kamar kecil, kediaman Lian sudah tak asing baginya. Dia sering ikut bersama kedua orang tua nya ketika Lian masih menjadi seorang pesakitan cinta, jika bukan karena kedua orang tuanya yang sering bertandang ke sini mungkin Lian sudah lama mati dalam kesepiannya.
Suasana kembali riuh ketika mereka semua berada di dalam, Jova dengan perut yang sudah lumayan menonjol, Mei yang sibuk menenangkan si kembar yang mulai rewel, Joe dengan barang bawaan yang memenuhi kedua tangannyan.
"Joe!!"Seru Kaila.
"Siap nyah!!"Sahutnya spontan.
"Hahhhaha jiwa babu nya bergejolak tuh"Canda Vino.
"Kalian jahat, baru juga beberapa hari di sini kalian sudah nge babuin aku. Demi apa aku yang kece badai ini dapat tugas belanja bahan makanan, sendirian pula"Keluhnya meletakan belanjaan ke meja makan di dapur.
"Ya sorry, aku punya 3 bocil yang nggak bisa aku tinggalin. Bayangin deh Mei yang cantik dan manis ini, dia sangat nggak berdaya kalo aku tinggal nemenin kamu belanja, sedangkan dia ngurusin anak anak sendirian"Fatur mulai bermanis lidah. Tapi Mei sebagai wanita yang selalu di puja dan puji nya tak sedikit pun menyungging kan senyum padanya.
"Yank, jangan terlalu manis. Ntar lidahnya aku bikin manisan lho"
"Waaaawwww!!!"Sentak Vino melirik ngeri Fatur.
"Akh sayang, masa di manisin nggak mau"Rengek Fatur bak anak kecil.
Saat itu Miya baru saja kembali dari kamar kecil.
"Ih jangan kek adeknya Miya, udah jadi bapak bapak. Jangan main goda godaan kaya orang masih pacaran"Ucap Mei.
"Miya~~, Bunda jahat"Tak mendapat respon bagus dari Mei, Fatur malah berkeluh kesah pada Miya.
"Jelek Pah"
Ucapan si kecil mengundang tawa mereka.
"Rasain! sok mesra mesraan di depan umum"Joe bersorak gembira atas duka Fatur.
Jova terkekeh geli, ini bukan kali pertama Mei atau pun Miya menolak kemanjaan seorang Fatur.
"Ugh, seneng kamu Joe"
"Hooh"Sahut Joe bahagia.
"Yeee, gitu gitu Fatur udah ada gandengan. Lah kamu??"Vino sebagai rekan sesama penjuang pencari perhatian istri maju membela Fatur. Yah..Mei dan Jova sama sama nggak begitu suka dengan sesuatu berbau keromantisan dan kata puja puji penuh cinta. Tak jarang Vino juga mendapat perlakuan serupa dari Jova jika merayu dan menggoda sang istri.
"Aku udah bilang yak, jangan bully aku. Kalo nggak aku minggat dari sini"Ancam Joe menunjuk nunjuk mereka dengan sosis yang dia keluarkan dari kantong belanjaan.
"Ck, berisik!"Kaila bersuara. Dari tadi dia nyengir nyengir aja, sekarang dia mulai mengatur para tamu agar sedikit tenang.
"Mei sama Jova mari ke dapur sayang"Tukasnya memainkan jari telunjuk ke arah Mei dan Jova.
"Oke oke"Sahut Jova beranjak menghampirinya.
Sementara Mei menyerahkan si kembar pada Fatur yang seketika berwajah masam.
"Jangan cemberut dong, mau di masakin yang enak enak nggak??"Mei bersikap manis ketika ada mau nya.
"Awww, mata ku sakit. Please jangan bermesraan di sini"Seru Joe berlagak menutupi kedua matanya.
"Iya deh kang jomblo"Ujar para sahabatnya lagi.
"Eh ngomong ngomong jomblo, kamu kan satu rumah sama cewek tuh, napa nggak kamu gaet aja tu cewek. Biar status jomblo menahun ini pudar dari hidup kamu"
Ucapan Fatur sontak membuat para sahabatnya berseru...
"Kamu serumah sama cewek????"Ucap mereka kompak.
__ADS_1
Joe melenguh jengah"Seandainya saja" Ucapnya menekuk wajah.
"Lho...ku pikir cewek lho Joe" Timpal Vino.
"Cowok tau!"Serunya duduk berdampingan dengan Vino.
"Akh nggak asik. Ayok Mei kita ke dapur aja"
Pergilah dua ibu ibu muda itu menyusul Kaila di dapur.
"Udah ketemu???"Fatur kembali mengulik teman serumah Joe.
"Aku liat celana bola warna item di jemuran dia"
"Kwkwkwkwkwk, jadi beneran cowok??"Tanya Lian mengolok olok Joe.
Joe mengusap muka Lian"Seneng kamu yaaaaaa"
"Hahahhaha, turun berduka cita ya Joe"Mereka begitu senang akan duka yang melanda Joe. Dia sudah sangat lelah terkurung dalam kesendirian. Entah sampai kapan sang jodoh begitu betah berjauhan darinya. Para sahabatnya udah pada menikah, sedangkan dia....jodohnya aja masih jauh di mata.
🍒🍒🍒🍒
"Saya sudah sembuh. Apa Saya sudah boleh pulang??"Suara Maira memecah kesunyian. Membuyarkan lamunan Bryan menatap lepas ke luar jendela ruang inap gadis itu.
Mengingat pertemuannya dengan Angela, betapa tak tau malunya gadis itu bersikap seolah tak terjadi apa apa terhadap Maira. Bryan jadi ragu membiarkan Maira kembali ke kontrakannya dan tinggal di sana sendirian.
"Kamu pindah aja ya, apartement di sebelah aku belum ada yang nempatin kok"
Maira tertawa. Wajah manis nya begitu indah untuk di pandangi. Poni rata dengan rambut hitam bergerai, pesona ini yang selalu Bryan hindari. Dia selalu tak bisa mengontrol diri hanya karena senyum manis dari gadis yang tak pernah hilang dari hatinya ini.
"Malah ketawa, aku serius. Kamu nggak boleh jauh jauh dari aku. Apa kamu nggak trauma dengan kejadian pahit itu??"Jemari Bryan mengacak rambut hitam legam Maira. Dulu ini bukan hal asing bagi Maira, sikap Bryan yang seperti inilah yang selalu dia kenang. Bryan yang lembut dan hangat, apa kah dia akan kembali menjadi dulu?
"Nggak kok, mereka preman biasa"Ucapnya yakin.
Bryan menghela nafas, begitu polos dan lugunya gadis ini. Tapi dia nggak akan membuka rahasia bahwa mereka bukan pelayannya. Nanti akan tiba saatnya dia mengungkap segalanya di hadapan Maira. Dia tak ingin Maira jadi was was jika tahu ada seseorang yang berniat jahat padanya.
"Lagian gajihku akan habis hanya untuk membayar sewanya Bryan"
"Akh maaf, Pak Bryan"Ulangnya memperbaiki kata kata. Sempat tenggelam dalam lembutnya sikap Bryan, Maira sampai lupa bahwa dia adalah bos nya sekarang.
"Udah, kalo nggak di kantor panggil Bryan aja"
"Udah terbiasa Pak"
"Oh"Sahutnya singkat.
"Mungkin besok kamu sudah boleh pulang, barang barang kamu di angkut sekalian ya"
"Di angkut kemana??"
"Pindah"
"Pak, buat bayar sewa kontrakan yang baru ini aja saya di bantu Keano. Boro boro mau tinggal di apartement, dompet saya bakal nangis bombay tiap hari Pak"Ujarnya kembali memperjelas keuangannya yang jauh di bawah kemakmuran seorang Bryan.
"Kontrakan baru???"Tatapnya penuh tanya. Dia duduk ke pinggiran ranjang untuk lebih dekat menginterogasi Maira. Dia nampak menggigit bibir"Aw, aku keceplosan"Bisik hatinya.
"Kamu pindah kontrakan??"
"Kenapa??"
"Pengen cari kontrakan yang bisa di tempati 2 orang aja kok, syukur syukur kalo muat di tempati orang banyak"Jelasnya lagi.
"Sejak kapan kamu pindah??"
"Malam sebelum Bapak jemput saya, makanya saya mau cepet cepet pulang. Barang barang saya belum di rapiin dengan benar di sana Pak"Jelasnya lagi memasang wajah memelas.
Dua mata cantik menatap penuh harap kepada Bryan, sang hati di dalam sana jumpalitan tak karuan. Spontan jemarinya menarik pipi gadis itu"Makanya kalo ada apa apa tuh bilang, nanti aku yang bantuin kamu beres beres"
"Aw aw, lepasin Pak. Bibir saya cidera, apa Bapak lupa!"Maira berontak coba melepaskan cubitan Bryan di pipi nya.
"Sorry"Cubitan berubah menjadi usapan lembut di pipinya.
"Maaf aku datang terlambat"Ucap ya menatap teduh ke dalam mata Maira.
"Deg!!"
"Deg!!"
"Ke__"Maira tergagap"kenapa nggak pulang sekarang aja"Sambung nya cepat. Detak jantung abnormal membuatnya tak bisa berbicara santai. Dia kikuk, apalagi Bryan begitu betah memegangi pipi nya yang kini bertambah merona.
"Besok pagi aja"Tukasnya membantu Maira merebahkan diri.
"Udah malam, kamu istirahat. Aku janji besok pagi kamu akan pulang kok"Pria itu menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu hingga ke pundaknya.
Sorot mata Maira masih terperangkap pada diri seorang Bryan.
"Kamu sekarang punya hobby baru??"
"Ng??"
"Kemaren kamu melamun, sekarang kamu melamun lagi"
"Kenapa Pak Bryan berubah, apa karena kejadian itu anda jadi begitu kasihan terhadap saya??"Tanya Maira lirih.
"Udahlah. Maaf jika aku bersikap kasar sama kamu kemaren kemaren"
"Saya perlu pejelasan Pak"Ucap Maira menatapnya lekat.
🍒🍒🍒🍒
Semilir angin sejuk membuat Kaila menarik selimut dan masuk lebih dalam di pelukan Lian. Pagi nan mendung, asik berpesta bersama para sahabatnya tadi malam membuatnya lupa menutup pintu balkon.
Perlahan hujan mulai turun, suara rintiknya terdengar bersahutan. Dengan malas Kaila terpaksa bangun demi menutup pintu balkon.
"Hoaaaahhammm"Rasa kantuk masih lekat di pelupuk mata. Tapi....Dia bukan lagi gadis lajang. Sekarang sudah ada suami yang harus dia layani dengan penuh cinta kan kasih sayang.
Di liriknya jam yang berdenting di ruang tamu"05:21"
__ADS_1
Sedikit meregangkan tubuh, Kaila melangkah ke dapur. Menyeduh kopi sembari duduk menatap hujan yang perlahan kian deras di luar sana.
Niatnya sih abis ngopi dia akan mulai berbenah diri. Mungkin di mulai dari cucian yang menggunung di bak piring.
"Hah, seharusnya kalian sudah aku cuci sedari tadi malam"Serunya pada piring piring kotor yang menumpuk lumayan banyak.
Juga tumpukan baju kotor di keranjang samping mesin cuci"Hupffhh!!!, bersabarlah sebentar lagi. Aku akan membabat habis kalian setelah mengisi daya ku dengan kopi ini"Ucapnya lagi.
"Huaahhhaamm!"Lian nongol bersandar di muara kamar.
"Jadi...mbak istri punya kuasa ajaib nih. Bisa berkomunikasi dengan benda mati??"Ucapnya menggoda Kaila yang kedapatan berbicara pada piring dan kawan kawan.
"Hihihi"Kaila nyengir"Ngaco Yank!"
"Mau kopi??"Ujarnya menawarkan secangkir kopinya pada Lian.
Lantas Lian memeluk Kaila yang duduk di sofa biru, di peluknya wanita yang sukses membuatnya menggila karena cinta.
Menarik nafas sembari mencium aroma tubuh wanita dalam pelukannya"Siniin kopi nya".
Kaila berbalik menyerahkan secangkir kopi padanya.
"Cup"Ciuman sekilas mendarat di bibirnya.
"Kopi yang ini sayang"Di sodorkannya lebih dekat pada Lian secangkir kopi di tangannya.
"Enakan kopi yang di sini"Usap lembut Lian pada tepian bibir Kaila.
Lagi dan lagi. Hal ini bukan pertama kali Lian menggodanya, tapi sejak resmi menikah segala hal biasa yang di lakukan Lian padanya mampu membuatnya berdebar dan tersipu malu seperti saat ini.
Wanita itu meletakan cangkir kopi dan membenamkan wajah di pundak Lian. Memeluk pria yang banyak berjuang dan bertahan untuk nya.
"Makasih sudah sangat kuat dan tegar menungguku"Ucapnya masih memeluk erat sang suami.
"Aku bisa menunggu lebih lama dari yang tlah aku lakukan, asal kan itu kamu sayang"Balas Lian sembari mengusap kepala Kaila dengan lembut.
"Serius??"
"Hm"Sahut Lian singkat.
Kaila melepaskan pelukan.
"Apa kamu juga akan sabar menunggu jika aku berniat menunda momongan??"Tatapnya lurus pada dua bola mata Lian.
"Kalo aku sih oke oke aja. Tapi Mamah Yank"Ucapnya menyelipkan helai rambut di daun telinga Kaila.
Kaila terdiam.
Lian menyadari, ada rasa takut di dalam diri Kaila.
"Bilang deh, kenapa kamu seakan takut memiliki momongan??, perasaan kamu nggak anti sama bayi tuh"
"Bukan masalah bayi nya"Sahutnya meletakan kepala di pundak Lian. Pundak itu terasa nyaman untuk dia singgahi, semua terasa aman dan damai ketika dia menyandarkan kepala di sana.
"Ngelahirin itu sakit banget lho Yank"Ucapnya kemudian.
"Kata siapa??"
"Dih...aku udah sering liat di sinetron chanel ikan terbang. Kadang sampe ada yang meniggoy lho Yank"
"Meninggoy??"Ulang Lian dengan kening berkerut.
"Meninggal sayang"Kaila menjelaskan.
"Amit amit jabang pocong Yank, dah jangan ngomongin maut, skip deh bahas momongan. Sekarang cacing di perut udah mulai demo nih"Ujar Lian mengalihkan topik perbincangan mereka. Sebenarnya dia belum merasa lapar, secara tadi malam dia udah makan banyak bersama para sahabatnya.
Mendengar kata kata lapar dari ucapan Lian, Kaila bersiap menuju dapur.
"Oke deh, tapi aku cuci piring dulu ya"Ucapnya memasang apron yang mulai sekarang akan sering menjadi seragamnya ketika bekerja di dapur.
"Aku bantuin deh"
"No!!, mas suami diem di sana aja. Urusan dapur biar aku yang ngerjain"Larang Kaila.
Pasrah dengan titah sang istri Lian akhirnya duduk kembali. Menyalakan Tv dan coba mencari chanel yang menarik untuk di tonton.
Dalam kesibukannya mencari cari chanel yang menarik, terlintas kata kata Kaila barusan.
"Duh...masa ngelahirin anak sampe meninggal??"Gumamnya pelan.
Di tatapnya wanita yang mulai sibuk mencuci piring di ujung sana.
Perlahan dia mendekati Kaila.
Memeluknya dari belakang, membuat Kaila terkejut sebab kedatangannya tak menimbulkan suara.
"Yank!!, balik ke sana deh. Katanya udah lapar??kalo cucian ini belum kelar aku nggak bakal masak lho"Cicit Kaila dalam keterkejutan.
"Bentar doang Yank"Ucapnya mempererat pelukan.
"Udah dong Yank, aku masih jadi pengangguran. Jadi waktu peluk pelukannya bakal banyak banget kok, aku kan stay di rumah terus"
"Nggak usah kerja sayang"
"Ogah!"Tolak Kaila.
"Nggak, kamu di rumah aja. Tungguin aku pulang, kalo ada waktu senggang kita akan jalan jalan. Setiap waktu akan kita lalui bersama, kalo perlu kamu kerja juga bakal aku bawa lho Yank"
"Dih, jangan terlalu bucin sayang. Aneh tau!"
"Kamu bikin aku candu, jangan pernah pergi dari aku lagi"Lian memutar balik tubuh Kaila. Mentap teduh pada dua bola mata cantik milik istri tercintanya.
Kaila melihat ada kesungguhan dalam tatap teduh Lian. Dia pun mengangguk pelan. Dia berjanji, cukup sekali dia bertindak gegabah meninggalkan Lian hingga membuat takdir bersikap begitu kejam kepada Lian. Kesempatan kedua yang di gariskan sang pencipta pada cinta mereka tak kan Kaila sia siakan lagi.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
__ADS_1
14 Desember 2020.
Salam anak Borneo.