
****Terpisahkan bagai kutub utara dan kutub selatan.
Seperti langit dan bumi yang mustahil bersama.
Di duniaku,
Tak akan ada bayangan orang lain.
Namun kau mengisi segala rasa hampa di relung hati ini.
Hatiku pun terbuka untukmu,
Kau pun berkuasa di dalam hatiku,
Cinta bukan hanya sekedar suka,
Namun juga tak luput dari rasa gugup.
Inilah aku yang terlalu serakah,
Cinta adalah keajaiban yang sungguh tak dapat di duga.
Semakin ku pikirkan semakin sulit tuk ku hindari.
Oh takdir,
Tolong beriku jawaban atas segala teka teki dari ujian cinta ini.
Berikan ku jalan agar dapat merajut kasih dan bersama dirinya untuk selamanya****
❣❣❣❣
Senyum penuh teka teki menghiasi wajah Bryan. Pahatan sang maha kuasa itu terlihat begitu mempesona di mata Maira, sejak lama dia menyimpan rasa padanya di lubuk hati yang paling dalam. Meski tlah melewati waktu nan panjang rasa manis itu masih saja menggelitik hati kecil Maira agar bersandar pada pria di hadapannya ini.
Gadis itu menoyor kepalanya sendiri"Sadarlah Maira!dia bukan Bryan yang dulu"Gerutu hatinya. Pesona Tuan muda Brander ini sempat membuatnya pangling, namun kenyataan di dunia nyata tengah menantinya"Hutang??hadehhh, kesalahan apa yang aku lakukan di kehidupan dahulu hingga terjerat hutang dengan Bryan bertanduk merah ini"Liriknya sekilas pada Bryan.
"Jadi...saya harus pindah ke depan Pak??"
"Iya dong, saya bukan supir taksi kan"
Segera gadis itu keluar dan masuk kembali duduk di samping Bryan. Rintik hujan membasahi rambut hitam terurainya. Wajah putih bersihnya pun tak luput dari sentuhan sang hujan di luar sana.
Tanpa di sangka Bryan menyabet tisyu dan menyeka sedikit air di wajah Maira.
Gadis itu terpaku"Oh hati! berhentilah berdetak terlalu keras. Pria ini bisa saja mendengar teriakan engkau di dalam sana"
Namun sang hati bertindak tak patuh pada tuannya. Detaknya yang abnormal membuat nafas gadis itu tertahan dan kedua tangannya mengepal menahan sebuah getaran.
Kedua matanya mengerjap berkali kali, "Ayolah....berhenti di situ Bryan. Jika kau semakin mendekat aku bisa lepas kendali dan menerkam mu!"Jerit hati Maira.
"Ra~~~~"
"Ah!"Maira terkesigap.
"Ongkos menyeka wajahmu karena air hujan mahal lho, aku bisa menambahkannya di daftar hutang kamu kan??"Seringai tawanya meruntuhkan imajinasi manis Maira.
Maira mendesis"Gila ya gila aja! pake tebar pesona pula. Ternyata di otaknya cuman ada hutang dan hutang"Maira menarik kasar tisyu di tangan Bryan.
"Saya bisa menyekanya sendiri Pak"Ucapnya menghapus segala pikiran indah di hatinya barusan.
"Kalo saya menghabiskan tisyu ini apakah di hitung hutang juga Pak??"Tunjuknya pada sekotak tisyu di atas dashboar.
"Free, pake aja sesuka kamu. Di jamin gratis kalo yang itu mah"
Tanpa banyak pikir Maira menarik terus menerus isi dalam kotak tisyu itu. Dia gunakan semua tisyu itu untuk menyeka rambutnya, wajahnya, bajunya, sampai ke sepatu yang sedang dia kenakan.
"Sepatu juga di lap pake tisyu??"Tanya Bryan rada nggak ikhlas melihat kelakuan Maira.
Berlagak polos"Kata Bapak ini bisa saya gunakan sesuka hati, gratis kan??"
Bryan mengangguk.
Sisa tisyu pun Maira masukan ke dalam tasnya tanpa meninggalkan selembar pun di dalam kotak.
"Kenapa nggak sama kotaknya aja di masukin tas kamu??"Sindir Bryan.
"Oh boleh Pak??"Tanyanya dengan wajah meremehkan. Gadis itu semakin arogan. Dia memasukan paksa kotak tisyu ke dalam tasnya dan membenarkan duduknya dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Pengen aku keluarkan hati yang panas ini terus di mandiin di bawah guyuran air hujan"Gerutu batinnya.
Bryan menahan tawa, gadis ini semakin menggemaskan ketika menekuk wajah seperti ini.
"Kok diam??oh..mikirin hutang ya??"Di sela mengendarai mobilnya Bryan memecah kesunyian beberapa menit lalu.
"Tenang aja Pak, cepat atau lambat saya akan membayar hutang hutang itu. Meskipun separo dari hutang itu adalah hutang gaib, aneh dari 2 juta melonjak jadi 10 juta. Cih!!"Maira mendengus kesal.
"Sudah di bilangin, saya nggak mau di bayar pake uang"
"Jadi??"Maira menumpukan pandangan hanya kepada Bryan. Tiba tiba terperangkap dalam pandangan Maira, giliran hati Bryan yang jumpalitan di dalam sana.
"Anu___"Bryan mengontrol diri. Terlihat dia menarik nafas sesaat.
"Besok pagi aku jemput"
"Kemana??"
"Mau ngelunasin hutang nggak??"
"Ya mau lah, tapi apa hubungannya dengan menjemput saya besok pagi Pak??"
Maira berdiam sejenak, kedua matanya berlarian kesana kemari coba mencerna apa maksud perkataan Bryan.
__ADS_1
"Hah!"Gadis itu meletakan kedua tangan di pundaknya. Otak kecilnya berpikiran terlalu jauh.
"Heiiii, aku tau apa yang terlintas di otak kotormu ini"Ujar Bryan mengelus kening Maira.
"Terus??"Tanya Maira menepis jemari Bryan di keningnya.
"Kamu percaya sama aku kan??"Wajah yang begitu yakin.
Maira tersadar Bryan nggak akan melakukan hal memalukan seperti yang otaknya pikirkan.
"Besok pagi pagi sekali aku akan jemput kamu di kontrakan"Ujar Bryan lagi.
"Hmm...jemput di minimarket saja"
"Kenapa??"
"Suka suka saya lah"Maira tak ingin Bryan mengetahui kepindahan kontrakannya.
"Oke"
Setelah sepakat dengan janji temu mereka besok pagi dua insan itu berpisah di basement perusahaan Brander.
❣❣❣❣
Pagi yang hangat menyapa bumi dengan segala keindahannya. Pucuk pucuk bunga nan cantik bertebaran di setiap sudut kediaman Brander. Sejak subuh buta para pelayan sudah sangat sibuk mempersiapkan pesta pernikahan sang Nona Muda Brander.
Di kediaman Althario.
Vivi dan Riley sudah nampak rapi dengan setelan couple yang mereka kenakan. Sanggul nan simple namun elegan membuat Vivi yang manis nampak semakin manis di usia yang tak lagi muda.
"Ck...si gula batu, manis bener sih"Goda Rilley memainkan helaian rambut yang sengaja di sisakan sedikit menambah kesan elegan seorang Vivi.
"Minuman kali gula batu. Malu sama umur Pah, jangan kaya anak muda yang masih goda menggoda"Dia menepis jemari Rilley.
"Lho...kita kan emang masih muda sayang"Ujarnya memasukan tangan ke dalam sakunya. Meski tak lagi muda Rilley masih terlihat keren untuk pria seumurannya.
"Ih sebentar lagi kita bakal menimang cucu, jangan ganjen terus ya kakek Rilley!"Tukas Vivi memeriksa pakaian sang suami.
"Iya deh Nenek Vivi"Balas Rilley menyentil hidung sang istri.
Jika di lihat seperti ini siapa yang menyangka bahwa hubungan manis suami istri ini pernah di singgahi seorang pelakor. Untung saja Vivi di ciptakan sang maha kuasa dengan hati yang seluas samudera, setinggi angkasa, sedalam bumi, dan sebesar dunia. Permohonan maaf Rilley yang di pergoki Kaila selingkuh dengan asisten Baskoro dapat dia terima dengan ikhlas.
Terlihat sangat mudah bagi Vivi untuk memaafkan Rilley kala itu, tapi sakitnya hati siapa yang tahu?? begitu juga dengan Lian, bahkan hingga detik ini hati Lian belum sepenuhnya memaafkan pengkhianatan sang Papah terhadap mereka.
"Buruan berangkat, bunga palsu biar di siram setiap hari nggak bakal tumbuh akar"Ucap Lian melewati Papah dan Mamah nya di ruang tengah. Setiap kali melihat adegan romantis mereka berdua hati Lian tiba tiba bergemuruh kesal. Jika saja saat itu sang Papah tak selingkuh, Kaila pasti nggak akan mengalami peristiwa pedih.
"Lian.."Panggil Vivi lirih. Mimik bahagia perlahan pudar dari wajahnya.
Lian cuek masuk ke dalam mobilnya"Akh~~~maafkan Lian Mah"Bisik hatinya. Wajah sedih Rilley juga tak luput dari pandangannya"Ayolah Lian, berbesar hatilah. Pada akhirnya kau akan menikahi Kaila juga"Malaikat bersayap putih coba mendamaikan hatinya.
Di kontrakan tak jauh dari minimarket Kong Mansur Maira nampak tergesa gesa. Dengan langkah seribu dia berlarian di gang kecil berharap sampai tepat waktu di minimarket.
"Hosh hosh hosh!!untung deket doang"Gadis itu terduduk sembari mengatur nafasnya.
Maira mengangguk, matanya tertuju pada botol air mineral yang di pegang Keano.
"Bagi dong, haus nggak sempet minum di rumah"
"Ya elah, kamu amburadul banget sih Ra. Beneran jogging??"Keano menyerahkan minuman yang tlah berkurang separo karena dia minum kepada Maira. Di sapukannya pandangan dari ujung kaki hingga ujung rambut gadis itu.
"Ada gitu jogging pake baju tidur??"
"Awhh!!leganya~~~`"Seloronya selepas menenggak habis minuman Keano"Ada dong, aku contohnya"Ujarnya pamer penampilan.
"Pake sendal jepit??"
Maira menatap alas kakinya"Entahlah. Kamu pikir aja sendiri"
"Dasar aneh, kamu penduduk bumi bukan sih??"
"Hina aja teros"Nada bicara Maira meninggi.
"Hehehhe, habisnya penampilan kamu terlalu oke buat lari pagi. Sampe nggak bisa di cerna sama otak ku yang pintar ini"
"Bukan pintar, tapi kelewatan pintar"Cibir Maira sambil lirik kiri dan kanan di pinggir jalan.
Melihat gelagat Maira"Nungguin orang??"
"Hooh"
"Siapa??"
"Orang lah"
"Udah lah, buang buang waktu debat sama kamu"Keano mayun menatap jalanan.
Maira menyahut tanpa menatap Keano"Makanya sono balik, nggak capek begadang semalaman"
"Bawel"Keano berniat pergi balik ke kontrakan buat pingsan sampai nanti sore.
Namun Keano mengurungkan niat ketika mobil Bryan menepi di depan minimarket.
Sembari mengintip di kaca mobil"Eh Pak Bryan, gimana ceweknya??pembalutnya nyaman kan??"
Wajah Bryan berubah pias, anjim ni anak. Nggak liat situasi nanyain masalah pembalut di depan Maira.
"Baik kok, aman aman"Ujarnya singkat.
"Buruan Ra"Serunya membuyarkan lamunan Maira. Gadis itu terpaku mencerna pertanyaan Keano pada Bryan.
"Iya Pak"Ujarnya lemas tak bersemangat.
__ADS_1
"Apaan coba, pagi pagi di jemput pacar orang. Akh dasar Maira bodoh"Rutuknya pada diri sendiri.
Keano lanjut balik ke kontrakan sementara Bryan dan Maira terperangkap dalam diam di dalam mobil yang Bryan kemudikan.
"His!!, kenapa harus aku??pake ngasih libur pula. Aku mau di bawa kemana???" Dalam diam hati Maira bertanya tanya. Membuang pandangan ke luar jendela mobil dia sampai tak menyadari Bryan berkomentar tentang penampilannya.
"Oi, kamu mandi nggak??"Ujarnya kembali bertanya menatap Maira turun naik.
Maira tersadar"Mandi lah Pak, nih bau sabunnya masih tercium kok"Gadis itu pamer pergelangan tangannya pada Bryan.
"Iya iya, wangi sabun aja bangga"
Maira mendecih memajukan bibirnya cemberut"Saya kan miskin Pak, wangi sabun kaya begini aja saya sudah seneng. Beda sama Pak Bryan yang wanginya bisa tercium dari 1000 meter depan belakang kiri kanan atas bawah pokoknya ke segala penjuru deh"Cerocos Maira menumpahkan rasa kesalnya.
"Jelas lah, saya kan mandi pake parfume"Bryan songong. Ngadi ngadi ni cowok. Supaya apa coba mandi pake parfume, asal ngomong doang dia mah.
"Oke oke, ngomong ngomong saya mau di bawa kemana pagi pagi begini??anak anak sekolah aja kayanya masih belom berangkat sekolah tuh"Pandangan Maira menyisir jalanan yang mereka lalui. Bocil bocil emang tak terlihat sedari tadi, orang masih jam 6 kurang kok.
"Diem deh"
"Bapak nyulik saya??"Tiba tiba pikiran aneh melintas di otaknya.
"Ada gitu orang nyulik ngaku??"Liriknya dengan alis turun naik.
"Jadi Bapak beneran nyulik Maira??"Wajah Maira tegang.
Bryan menghela nafas"Bawel!!mau bayar hutang nggak??"Ujarnya berusaha fokus ke depan.
"Tapi nggak pake di culik juga Pak! turunin Maira dong"Rengeknya menarik kemeja Bryan.
"Peraturan nomor 2 'Di larang memaksakan kehendak kepada Bos'"Ucapnya menahan tawa. Wajah panik Maira tu gemesin banget. Dia jadi pengen menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Ayolah Pak Bryan, saya akan bayar Hutang itu sampai lunas kok. Lepasin saya please!"Gadis itu memohon berharap belas kasih Bryan.
"Ck, jan bawel deh. Saya lagi nyetir, kamu tenang aja sumpah kamu ntar bakal aku balikin kok"
"Habis di culik di balikin lagi???gimana ceritanya??"Kedua matanya berlarian ketika berpikir. Andai mereka memang berpacaran, pasti sedari tadi sudah di rengkuh Bryan wajah manis itu dalam dekapannya.
"Kalo otak kecil mini kamu nggak ngerti mending diem deh"Komentarnya berpaling dari wajah menggemaskann Maira.
"Di hina lagi, nggak Keano nggak Bryan terus aja menghina ku" Gumam hatinya.
"Oke"Maira akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri. Meski sedikit resah dia yakin Bryan nggak akan macam macam terhadapnya.
Melewati hiasan penuh bunga berwarna warni, pilar pilar besar penyangga kediaman Brander nampak berbalut untaian bunga bunga yang sanggup membuat Maira terus bersorak wow! wow! wow! dan wow!!! sedari tadi.
Gadis itu begitu terpana dengan sentuhan jemari lentik Nyonya Sook dan para pekerjanya menyulap kediaman Brander bak dunia penuh bunga.
"Bryan!!!, banyak sekali bunganya"Pekik Maira memanggil manggil Bryan yang berjalan mendahuluinya. Lonjakan kebahagiaan membuatnya lupa akan posisi Bryan sebagai atasannya.
"Buruan"Lengannya di tarik Bryan agar bergegas mengikutinya.
"Bryan! ada acara apa di sini???"Tanyanya setengah berlari. Langkah kecilnya tak sebanding dengan langkah besar Bryan, berjalan bagi Bryan tapi berlari bagi Maira.
"Nikahan Adek ku"Jawanya singkat.
"Oh...mau dong ntar kalo Maira nikah di bikin pesta berhias bunga kaya begini"Ujar gadis itu spontan. Kedua matanya terus berlarian kenyusuri setiap sudut kediaman Brander.
"Deg!"Bryan menghentikan langkahnya. Maira yang berada di anak tangga bawah jadi menabrak punggung Bryan yang tiba tiba berhenti.
"Emang kamu udah mau nikah??bukannya alasan kamu minggat dari rumah karena nggak mau di nikahkan??"Bryan berbalik menatap wajah Maira. Di lihat dari sudut ini wajah Maira yang terdongak menatapnya membuat hati Bryan berlarian. Di tambah dua bola mata itu terus berkedip menatapnya bak anak kucing memohon minta di pungut.
"Kalo sama pria idaman saya ya mau lah Pak, kalo orang yang nggak saya cintai kaya si Udin siapa juga yang mau"Ucap gadis itu.
"Apa sekalian aku nikahin aja ni cewek? barengan sama Kaila dan Lian??" Pikir Bryan dalam lamunan.
"Tapi jodoh saya masih belum nongol Pak"
Ucapan gadis itu menyadarkan Bryan dari lamunannya.
"Oh___belom nongol___"Bryan kikuk.
"Eh masih ingat saya atasan kamu???perasaan tadi panggilnya Bryan doang, nggak pake Pak begitu"Mereka lanjut naik ke lantai atas menuju sebuah kamar yang kembali membuat Maira terkagum kagum.
"Hehehehe sorry Pak, jarang jarang liat yang cantik kaya bunga bunga ini, maafkan kelancangan mulut saya ya, jangan di tambahin ke daftar hutang ya!"Pintanya coba memberikan senyum termanis kepada Bryan.
Pria itu menatap teduh Maira"Kamu jauh lebih cantik dari bunga bunga ini Maira"Bisik hatinya.
"Maira~~~"Kaila senang bukan kepalang sang Kakak membawa pasangannya. Aw! Aw! Aw! tangan mereka gandengan pula.
"Uwwwww, dalam sekejap udah gandengan aja"Goda Kaila melirik jahil pada Bryan. Nampak pria itu buru buru melepaskan pegangan tangannya"Dia jalannya lama jadi Kakak tarik aja, jangan macem macem deh tu otak"Ujarnya menjaga sikap.
Maira yang tak mengerti apa maksud Bryan membawanya kemari hanya tersenyum kepada Kaila.
"Kak Sena, mereka berdua pengiring pengantin utamanya"Bisik Kaila pada rekan kerja Ghina.
"Oh, oke oke"Sena paham dengan maksud Kaila.
"Nah yang cewek aku tangani dulu ya, Ghin kalo udah kelar kamu yang tangani cowoknya kan??"
"Gampang, dia mah bisa pake baju sendiri kok"Sahut Ghina tertawa mengolok pada Bryan.
"Terserah Nyonya Joen aja deh, apalah daya aku di sini hanya remahan rengginang yang tak di anggap"
"Ngambeeekkkk~~~"Ledek para wanita terkecuali Maira. Melihat Bryan juga terkekeh bersama mereka Maira merasa iri, sudah lama dia tak bercanda dan tertawa bersama Bryan seperti mereka.
To be continued....
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen ya.
4 Desember 2020.
__ADS_1
Salam anak Borneo.