Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 52


__ADS_3

***Sebuah rasa hangat yang masih lekat memeluk hatiku dan hatimu.


Tepis segala rasa takutmu sebab aku kan selalu ada bersamamu,


Menatap mata indahmu yang merangkum segala rasa bahagia dalam hidupku,


Aku sungguh jatuh terlalu dalam mencintai dirimu,


Dapatkah kau rasakan betapa besar bermacam rasa cinta yang bersarang dalam hatiku...


Dan hanya tertuju kepadamu...


Inilah naskah cintaku,


Menyimpan begitu banyak ungkapan rasa cinta dan rindu yang hanya milikmu.


Cinta...


Adalah sebuah janji yang tak kan kandas untuk selamanya.


Pintaku padamu...


Tetaplah bersamaku untuk selamanya***


❣❣❣❣


Kegaduhan di atas bangunan terdengar sampai ke minimarket. Merasa itu kediaman Maira sahabatnya, Keano buru buru ke atas meninggalkan market yang kala itu kebetulan tak ada pelanggan.


"Ada apaan??"Dia hampir bertabrakan dengan Burhan di persimpangan tangga.


"Syukurlah! buruan bantuin Maira"Pekik Burhan menunjuk Maira dan Joe yang di seret paksa kedua orang tua Maira.


Ini benar benar kacau, Keano memegang kepalanya agar dapat berpikir cepat.


"Pertama tenangin mereka dulu!"Hanya hal itu yang kini terlintas di pikirannya.


"Om, tante, tenang dulu. Kita ngomong baik baik"


"Jangan ikut campur!"Bentak Ibu. Jari telunjuknya hampir mengenai hidung Keano saat itu.


Dia menatap Keano"Oh kamu Keano??komplotan mereka dong!"Nada bicara Ibu terdengar lebih pada nyinyiran.


"Komplotan??"Ucapnya bernada tanya.


"Iya, kalian para anak anak kurang ajar yang minggat dari rumah demi ke egoisan masing masing. Kalian satu pemikiran, kalo bukan komplotan kalian mau di panggil dengan sebutan apa? Merasa minggat adalah jalan terbaik dari pada menuruti keinginan para orang tua" Ibu menatap Keano nyalang. Kedatangannya ke kota ternyata banyak membuahkan hasil, selain menangkap basah sang anak dia dapat bertemu langsung si anak tetangga kupret yang bikin Maira betah dalam minggatnya.


Buru buru dia menyanggah perkataan Ibunya Maira"Tante, bukan begitu"


"Diem! kalo nggak mau saya jambak rambut kamu mending minggir dari hadapan saya"Bentak Ibu garang.


Demi kesejahteraan rambutnya, untuk sementara Keano minggir dari hadapan sang pawang Maira. Setdah! galak bener emak nya Maira, maen tunjuk tunjuk pula. Kalo bukan emaknya Maira bakal dia gigit dah tuh jari.


Maira terisak"Bu, ini salah paham" Anak gadis itu terus berusaha menyela agar dapat menjelaskan kesalah pahaman ini.


"Kamu juga diam!"Maira juga mendapat bentakan dari wanita yang tlah melahirkannya itu.


Maira terkesigap, hatinya sakit, ini benar benar salah paham. Dan dia tak di beri kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan.


"Om sumpah saya nggak ada hubungan apa apa sama Maira"Joe menjatuhkan diri di halaman kontrakan. Dengan begini tubuhnya akan semakin berat hingga Ayah tak kuasa menariknya agar ikut bersamanya. Gila aja, main nikah aja. Jomblo juga punya harga diri kali.


Ayah mati matian menarik Joe"Eh mata mata, dari pada bengong mending bantuin saya"Serunya pada Burhan.


Burhan mundur dari tempatnya. Dia tak punya nyali ikut campur lebih banyak dalam urusan kelurga ini.


Maira menatap Burhan tajam"Oh jadi kamu mata mata Ibu???sini kupret! di kasih Ibu apa sampe kamu tega khianatin aku??"Jemari Maira mengepal, ugh pengen banget dia melayangkan geplakan di jidat si Burhan. Sayang jarak mereka lumayan jauh.


"Jangan sok galak, lupa kalo kamu sangat bersalah di sini??"Sentak Ibu.


"Bu~~~"Maira merengek"Maira bisa jelasin"


"Nggak ada! kalian udah tinggal satu rumah. Kalian lebih baik menikah"


"Jangan Tan!!saya nggak bisa menikah dengan wanita yang nggak saya cintai"


Keano berniat membantu Maira lepas dari cengkeraman sang Ibu, namun....


"Aw aw aw"Jemari Ibu menarik kuat telinga Keano.


"Minggat nggak???kamu bandelnya kelewatan ya! seharusnya aku bawa orang tua kamu ke sini biar kamu di bawa pulang ke kampung"


keano menangkupkan tangan"Ampun Tan!! sakit, jangan bilang sama orang tua saya dong"


"Makanya minggat sono"Ibu menjauhkan Maira dari jangkauan Keano.


Kasihan, dia sangat kasihan melihat Maira di tarik oleh orang tuanya.


Juga Joe, Ayah begitu kuat menarik dia meski berusaha melawan dengan menjatuhkan tubuhnya.


"Ayah, dia hanya teman yang baru Maira kenal hari ini"Ucapnya berhenti berontak.


Ibu menghentikan paksaannya ketika Maira berhenti berontak. Dada nya kembang kempis setelah pergulatan sengit dengan anak gadisnya sendiri.

__ADS_1


"Iya Om, Tan. Sumpah mati kami baru ketemu hari ini"Posisi Joe sangat menyedihkan saat ini. Celana yang dia kenakan sampai robek di bagian belakang karena gesekan dari halaman kontrakan yang tak di lapisi ubin. Biarlah dia sedikit berbohong, anggap aja ini pertemuan pertama mereka, bakal makin kacau kalau orang tua Maira tahu bahwa mereka sebenarnya memang saling kenal.


Sembari mengusap pantatnya"Akh, saya mohon biarkan kami menjelaskan semuanya Om, Tan"Ucapnya lirih.


Melihat kedua orang tua itu sedikit tenang, Keano beraksi lagi,coba meraih Maira yang jongkok di hadapan Ibu nya.


"Ayok Ra, tangan kamu pasti sakit banget" Ada tanda merah di pergelangan tangannya. Ibu melirik tangan anak gadisnya itu, dia baru tersadar akan keganasannya barusan.


"Tante, ngomong baik baik dulu yuk"Burhan ikut menengahi.


"Menurut hasil penyelidikan saya, cowok ini baru kali ini saya lihat bersama Maira"Ucapnya menghindari tatapan tajam dari dua bola mata Maira.


Gila!!!Burhan yang hampir tiap malam menghabiskan waktu bersama dia dan Keano di minimarket ternyata mata mata Ibu nya. Pantas saja informasi tentang dirinya yang sampai pada Ibu selalu akurat.


Gadis itu melipat kedua tangannya di dada"Penghianat"Decih Maira.


"Di bayar berapa kamu sama Ibu??"Tanya Maira penuh rasa kecewa.


"Ra, Ibumu sangat mengkhawatirkan keadaan kamu. Sejujurnya aku nggak meminta bayaran apa pun terhadap Ibu kamu"Ucapnya lirih.


"Mulut ember! aku nggak percaya. Ibu pasti bayar dia kan??"


"Suka suka Ibu lah. Dia emang nggak meminta bayaran kok, tapi Ibu sering ngirimin dia paket internet doang"Ibu membuang pandangan dari Maira. Dia sangat kesal dengan si gadis. Jauh jauh datang dari kampung malah di sambut dengan pemandangan yang membuat emosinya naik 7 tingkat.


Tatap Maira semakin gusar kepada Burhan"Jadi pertemanan kita sebatas paket internet Burhan??"


"Ra, aku udah melarang Ibu kamu kok. Tapi paket yang masuk mana bisa di kembalikan. Lagian sayang kan kalo nggak di pake"Sahutnya tertunduk.


Maira melepaskan sebelah sendalnya.


"Plak!!"


"Kucrut!!!"Umpat Maira melemparkan sendal itu ke arah Burhan yang bersandar pada pagar bangunan. Sejatinya sendal itu mengenai tubuhnya tapi dia tak berani membalas, dia tau dia tlah lancang kepada Maira. Tapi wajah khawatir Ibu ketika memohon agar selalu mengirim informasi tentang putri nya itu membuat Burhan luluh.


"Anu___saya akan jelasin status saya di sini sekarang. Boleh kan??"Joe bangkit dari duduknya sebab Ayah tlah melepaskan cengkeramannya pada Joe.


"Kamu jangan mengelak, kamu harus tanggung jawab sama anak gadis saya"Ujung mata Ayah masih mengawasi gerak gerik Joe.


Kala itu Joe teringat akan Bryan, yak! Bryan. Pria itu yang harusnya bertanggung jawab terhadap Maira, bukan dirinya.


"Om bukan saya yang harus bertanggung jawab terhadap anak Om dan Tante"


"Diem!"Maira menunjuk Joe. Dia paham kemana arah dan tujuan perkataan Joe.


Ayah dan Ibu menatap Maira bersamaan.


"Maira, apalagi yang kamu sembunyikan dari Ayah sama Ibu??"Tandas Ayah penuh penekanan.


"Ra, buruan ngomong!"Bisik Keano.


"Ya elah Juminten!! ya si Bryan lah"


"Enak aja! dia bukan siapa siapa aku"Maira balas berbisik.


"Mata mu buta! aku aja tau kalian saling suka"


"Biji terong, kamu yang buta. Orang dia punya pacar kok"


"Ya lupain aja pacar pacarannya itu, sementara doang Ra. Dari pada di nikahin sama Joe, mending pinjem nama Bryan aja dulu sebagai pacar kamu"Keano komat kamit bersuara rendah kepada Maira.


"Nggak akh, nanti salah paham lagi"


Di saat yang bersamaan Bryan tlah berdiri di hadapan mereka. Dia menyaksikan pemandangan yang unik di sini. Joe yang baru bangkit dari duduknya sembari mengaduh karena pantatnya di jamin lecet sekarang, Keano yang saling bisik bersama Maira, Burhan yang memegangi sebelah sandal Maira. Dan kedua orang tua Maira yang kini menatap dia penuh tanda tanya.


"Siapa lagi ini??"Batin Ayah dan Ibu.


Bryan kikuk, ini ada apaan??


"Nah!!!"Joe menepuk tangan mengepal pada telapak tangannya.


"Dia yang harus tanggung jawab sama anak gadis Om dan Tante!"Tawanya lebar sekali. Dia lega sang malaikat penolong datang di saat yang tepat.


Meski jomblo dia juga tak berniat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Meski kedua orang tua itu terus menuduhnya sebagai pasangan anak gadisnya, naluri kemanusiaannya tak bisa menerima begitu saya. Lagian Bryan adalah Kakak nya Kaila, bisa di gantung Kaila hidup hidup kalo dia tiba tiba main nikah aja sama tu cewek.


Bryan yang tak tahu menahu menatap kedua orang tua itu bergantian. Anak gadis Bapak sama Ibu?? Apa mereka orang tua Maira??


"Kamu siapa nya Maira??"Tanpa basa basi Ibu langsung bertanya pada intinya.


"Saya.....temen sekolah Maira waktu SMA Tan"Sahutnya apa adanya.


"Ada hubungan apa kamu sama anak saya??"Giliran Ayah yang bertanya. Dia memandang Bryan mula dari atas hingga kebawah. Cakep bener ni orang.


"Saya...."Bryan melirik Maira. Gadis itu nampak tegang menatap kedua orang tuanya.


Jika Joe menolak mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bryan malah melihat peluang besar di sini. Ujung bibirnya menukik naik, apalagi Keano mengacungkan jempol secara tersembunyi kepadanya berkali kali.


Bryan mendadak mendapat suntikan rasa percaya diri"Saya mencintai putri Ibu sama Bapak"Ucapnya lantang.


Jantung Maira berlarian kesana kemari, tak bisa di pungkiri hatinya di dalam sana sangat bahagia atas pengakuan pria itu pada kedua orang tuanya.


Tapi dia menjadikan Maira taruhan, hal itu nggak bisa Maira maafkan begitu saja.

__ADS_1


"Maira, kalian pacaran??"


Gadis itu hendak menggeleng namun Keano mencubit lengannya sebagai peringatan.


"Anjim...sakit!"Desis Maira.


"Ngaku buruan, biar kelar. Market aku tinggal noh"


"Mampus, di omelin Engkong lho"


"Malah bahas si Engkok"Keano geram pada sahabat telmi nya itu. Nggak ada pilihan lain, dengan paksa dia menganggukan kepala Maira meski terlihat jelas di mata semua orang.


Kening Ayah mengkerut.


"Anu Om, Maira lagi ngambek sama saya"Sambar Bryan.


Raut wajah Ibu perlahan berubah. Di tatapnya anak gadisnya lekat lekat"Maira, jawab jujur nak"Pintanya lembut"Ayah sama Ibu cuman nggak mau kamu hidup dalam kesialan karena gagal menikah nak"


Suasana hening. Gadis itu tertunduk sedih, di sini Bryan menyadari dampak dari pertaruhan yang dia lakukan bersama June di masa lalu. Rupanya hal itu menyisakan derita berkepanjangan bagi gadis yang dia cintai ini.


Seandainya dulu dia tak menyerah terhadap Maira, gadis itu nggak akan sempat menyandang status tunangan June dan di tinggal berpulang pada sang maha kuasa sebelum sempat menikahinya.


Setitik air mata menetes menggenangi pipi gadis itu, dia menatap Bryan nanar. Seakan memberi tahu bahwa inilah beban yang harus dia tanggung karena ulahnya di masa lalu.


Bertahun tahun dia lari dari rumah demi menghindari paksaan kedua orang tuanya agar segera menikah"Kamu akan sial jika tak segera menikah"Selalu itu yang Ibu katakan ketika memaksa anak gadisnya untuk menerima perjodohan.


Menurut pandangan orang orang di kampungnya jika anak gadis gagal menikah dan di tinggal meninggal calon suami seperti Maira, dia akan hidup dalam kesialan jika tak segera melangsungkan pernikahan. Sebab itulah kedua orang tua Maira begitu ngotot hendak menikahkan Maira, mereka tak ingin anak gadisnya hidup dalam kesialan.


Namun bagi Maira selama ini hidupnya baik baik saja kok. Nggak ada yang namanya kesialan pernah menghampirinya, yah..selain nunggak bayar uang kontrakan sama ngutang di market Kong Mansur. Itu aja sih, dan bagi Maira dia masih bisa kok mengatasi itu semua.


"Maira~~~"Panggil Ayah pelan. Suara Ayah menyadarkan Maira dari lamunannya.


"Hm...Iya, dia pacar Maira Yah"Ucapnya akhirnya.


Hati Bryan terasa sangat lega. Meski terlihat terpaksa namun kata kata itu datang dari Maira sendiri. Yang penting sekarang jinakin pawangnya dulu yaitu kedua orang tua gadis ini. Masalah Maira bisa dia selesaikan belakangan.


❣❣❣❣


Suasana ruang tamu Kaila dan Lian nampak tenang saat ini, hanya nyala telvisi dengan volume sedang yang menandakan ada sepasang suami istri yang sedang rebahan di karpet berbulu itu. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, dan dua insan itu nampak sibuk dengan gawai masing masing. Lian sibuk membalas chat perihal pekerjaan bersama Vino dan Fatur, sedangkan Kaila sibuk mencari cari negara mana yang akan mereka datangi ketika bulan madu nanti.


Baik Lian mau pun kaila tak ada satu pun yang berniat membuka pintu ketika bel di kediaman mereka berbunyi.


Dengan ujung jempol kakinya Kaila menyenggol betis Lian"Yank, bukain dong"


"Mau cepet bulan madu nggak??"Sahutnya.


"Dari tadi Yank, masih debat aja sama Vino sama Fatur??"


"Hm.."Sahut Lian singkat. Demi apa, Vino ogah mengambil alih pekerjaan Lian meski dengan jelas dia mengatakan akan berbulan madu. Juga Fatur, dia menekankan bahwa Lian sama Kaila mendingan bulan madu di kota ini saja. Dari pada jauh jauh ke luar negeri, pada intinya mereka hanya ingin menghabiskan waktu berduaan saja kan. Dan gencar bikin cucu buat Vivi kan?? begitulah isi dalam pikiran Fatur.


Bel kembali berbunyi. Kaila dengan terpaksa


bangun dari posisi nyamannya demi membukakan pintu untuk sang penekan bel di depan sana.


"Papah!"Pekiknya melihat dari monitor.


Lian beringsut, segera berjalan ke arah pintu.


"Kalian ngapain sih??lama amat bukain pintunya"Tuan Odet menatap mereka bergantian. Ada seringai tawa menghiasi wajah tua nya.


"Papah ganggu kalian ya??"Tanya nya tersenyum.


"Wah Papah apaan sih, kita lagi PW aja depan Tv Pah"Kaila meraih lengan sang Papah dan menggiringnya masuk ke kediaman mereka.


"Sendiri aja Pah??"Tanya Lian sedikit merapikan area ruang tamu mereka.


"Berdua"


"Hah??pintunya udah ketutup tuh"Lian berbalik menuju pintu.


"Sama bayangan"Sambung Tuan Odet.


Lian tertawa"Wuaahhh Papah biasa aja nih"


"Hahahhha, kelak kalo kamu sudah tua sering seringlah bercanda. Biar gantengnya awet kaya Papah"


Kaila terkekeh mendengar ucapan sang Papah.


Lian ikut tertawa, mertuanya itu selain penyayang dia juga memiliki DNA humor yang tinggi. Di susul dengan rasa percaya diri yang tinggi pula.


"Papah mau di bikinin minuman ???atau mau makan??"Tanya Kaila menyurai rambutnya sebelum mengikat rambut hitamnya.


"Minum aja deh, teh hangat aja"


"Baiklah Papah ku yang awet cakepnya"Ucap Kaila memberikan hormat pada sang Papah. Pria tua itu tertawa geli, Kaila yang ceria membuatnya begitu bahagia bisa memiliki gadis ini sebagai anak meski bukan anak kandungnya.


Seperginya Kaila ke dapur, Lian dan Tuan Oder terlibat percakapan tentang bisnis yang mereka geluti. Saat itu Tuan Odet menanyakan tentang si kembar Abraham kepada Lian. Mengingat si kembar Abraham juga sempat bekerja sama bersama Trifam company dengan bisnis sarang waletnya.


To be continued....


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.

__ADS_1


22 Desember 2020.


Salam anak Borneo.


__ADS_2