Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 21


__ADS_3

***Biarkan aku berkata jujur...


Sebenarnya akulah yang pertama memperhatikanmu.


Aku lah yang pertama jatuh hati kepadamu.


Oh Valentineku...


Aku sangat mencintaimu...


Aku ingin mendengarmu mengatakan


"Kamu lebih mencintaiku"


Bahkan hal kecil,


Akan sangat bisa menyenangkanku.


Dan semakin hari semakin mencintaimu.


Perjalanan panjang tlah ku lalui,


Mengantarkanku pada dirimu si manis buah kiwiku,


Selama kamu mengatakannya,


Apapun itu aku akan setuju.


Sebab kaulah Valentine semanis buah kiwiku***


❣❣❣❣


Hati seorang pria yang selama ini terperangkap dalam musim dingin kini perlahan tlah sampai di muara musim semi. Bunga bunga nan sempat layu terpapar dingin hatinya yang beku kini perlahan bertunas dan menguncup hingga berkembang kembali. Kupu kupu nan cantik bahkan tlah berterbangan ke sana kemari menyebarkan kebahagiaan di setiap sudut hatinya,hingga seulas senyuman hangat selalu terukir manis di wajah tampan nya.


"Liat tuh dari tadi pagi wajahnya berseri seri banget. Apa kebanyakan wudhu ya tu orang, tetiba kek bersinar sinar gitu muke gersangnya"Dua cecunguk sedang memperhatikan mimik wajah Lian sedari tadi.


Fatur yang tak paham dengan kata kiasan menyahut Vino dengan polos"Emang kalo kebanyakan wudhu muka kita bisa tiba tiba bersinar Vin???"


"Hah"Vino membuang nafas.


"Heran deh, otak kamu emang cetek apa gimana sih Tur. Maksud aku si Lian jadi bersemangat gitu mukanya. Yah...kamu kelewat polos apa hampir oon sih"


"Diem nggak??aku tabok tu bibir!"Ancam Fatur kesal. Si Vino mulutnya emang ngeselin nih. Giliran nyinyir aja juara dia mah.


"Kamu sih.."


"Fokus ke Lian, jangan nistain aku dong. Otak aku lagi nggak peka nih, makhlum kangen bini. Tadi pagi kaga sempat ena ena gegara si kembar bawel mulu"Curcol deh si Fatur. Nasib yang punya anak kembar, mau bermesraan ama bini aja kudu nyuri nyuri waktu.


"Ckckckck...Kasihan banget si Joni, makanya cari pengasuh dong biar jatah si Joni lancar" Tatapan Vino turun pada area sensitif Fatur.


Kedua tangan Fatur berusaha menutupi bagian bawah yang mendapat tatapan penuh iba dari Vino"Biasa aje nyong, pake di pandangin segala. Berasa kamu telanjangin aku Vin"


"Buweeekkkkk!!!, Aku lelaki normal Tur, jangan baper'an nape"Mereka yang awalnya memperhatikan Lian sekarang malah sedikit berdebat perihal si Joni di bawah sana.


Lian melirik ke luar ruangan"Beh...dua manusia durjana, kepo banget pasti tuh. Pake ngintilin ke sini segala"Ucapnya berkomentar.


"Hihihi, Gimana reaksi mereka kalo aku cerita tentang Kaila ya?"Senyum manis kembali membuat dua lesung pipi nya tercetak begitu dalam.


"Nah...kan, senyum lagi tu anak. Ini nggak bisa di biarin Vin, yok kita samperin!!" Fatur melangkah memasuki ruangan Lian di ikuti oleh Vino.


Mendapati dua sahabatnya hadir kembali di hadapannya Lian mendengus kesal pertanda nggak suka.


"Mau apa??"Desahnya sembari membuang nafas.


"Tadi aja cengir cengir sendiri, kita bedua dateng sirna dalam sekejap deh tu senyuman"Celoteh Vino duduk di sofa. Sementara Fatur membuka kulkas mini dan menyabet sekaleng Frenta berwarna merah muda.


"Kehadiran kalian tuh ibarat api yang menyerang kedamaian di negeri Ang, pergi deh aku masih harus kerja nih"


"Belagu, dasar avatar gundul. Cerita dong Li siapa teman kencan kamu??"Tanpa basa basi Fatur duduk di depan Lian sembari menenggak minumannya.


"Kepoooooooo!!!"Seloro Lian tertawa.


Ada rasa lain ketika Lian tertawa. Jelas aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang selama ini di kenal dingin dan kaku.


"Bravo tu cewek, dia mampu menghidupkan hati kamu yang selama ini mati"Vino bertepuk tangan. Dia juga mendekati Lian di meja kerjanya. Duduk bersandar di meja kerja Lian dan kembali melontarkan pertanyaan.


"Cerita dong Li, udah nge teh pula sama tu cewek. Jangan bikin kami penasaran dong!!!"


"Giliran nge teh aja kamu peka banget Vin. Nanti deh kapan kapan aku cerita. Aku perlu bikin laporan ke Papah Papah kita nih" Sahut Lian menepis tubuh Vino dari meja kerjanya.


"Minggat deh kalian berdua, ngerusak pemandangan aja nih. Nggak fokus kerja kan aku nya"Desisnya terus mengusir kehadiran dua makhluk yang doyan saling hina itu.


"What!!!, aku yang tampan dan rupawan kamu bilang ngerusak pemandangan??hey jablay aku ciptaan tuhan yang paling uwu tau nggak. memang ya mulut kalian berdua nggak ada akhlak nya. Iri bilang bos!!"Fatur yang cerewet nggak terima di katain perusak pemandangan.


"Buta karena cinta pasti nih, kalo Fatur mah emang nggak oke penampilan dia, aku lho yang kece badai begini kamu nistain. Jahir banget kamu Li" Tak kalah dengan Fatur, sejatinya Vino juga tak terima di bilang perusak pemandangan.


"Oh Lord!!!" Lian mulai kesal.


"Kalian nggak ada kerjaan ya???bantuin aku bikin laporan aja deh. Sini duduk manis si samping abang"Panggil Lian bertatap mata dengan Vino. Mereka berdua adalah sepupu yang seumuran, tapi jika di hitung hitung Lian emang lebih tua beberapa hari dari si Vino.


Wajah masam terpampang jelas, Vino ogah mendekati Lian.


"Aku yang kerja kamu yang di gajih, dah akh aku balik ke ruangan ku aja. Dasar pelit!!" Gerutu Vino angkat kaki dari situ.


"Mantan duda, kamu nggak berniat mengekor Vino si brondong kinyis kinyis??"

__ADS_1


"Dih...emang aku mbak Jova yang takhluk sama pesona brondongnya. Ogah binggo, tapi aku emang mau balik juga sih"


"Eh jangan ingetin tragedi duda aku mulu dong Li, nggak enak banget tuh"Ujarnya seraya menuju pintu keluar.


"😋Mantan duda, mantan duda"Ledek Lian lagi.


"Udah Tur, otaknya rada miring kali. Banyak ngomong dia hari ini. Syukur deh kayanya dia udah move on dari Kaila"Bisik Vino di ambang pintu. Fatur mengangguk setuju.


Lian mendengar samar samar ucapan Vino"Hahahha, sampe mati aku mana bisa move on dari Kaila guys, apalagi udah nge teh tadi siang"Gumam hati Lian.


❣❣❣❣


Deg deg'an. Jantung Kaila masih jumpalitan hingga sore menjelang. Selepas mengantar dirinya kembali ke Toko bunga Lian berujar"Nanti sore aku jemput"


Tampang seperti apa yang akan dia pasang ketika bertemu Lian beberapa waktu nanti. Berjalannya waktu ingatannya semakin jelas tentang Lian, apalagi sejak kejadian nge teh tadi siang. Teringatlah dia kejadian di Bangkok yang menjadi saksi pertama kali dia menyerahkan diri kepada Lian, setelah sekian lama baru siang tadi mereka kembali memadu kasih.


"Ufh!!!, bener kata Lian, ada sedikit rasa ngilu"Jemarinya memegangi letak ari ari nya.


Melihat Kaila yang sedikit mendesis dengan tangan memegang ari ari Nyonya Sook menjadi khawatir"Kamu sakit La??"


Deg!!!, di tanyain pula sama Bu Bos yang peka binggo.


"Biasa Nyonya, tamu bulanan"Sahutnya berkilah. Padahal baru minggu kemaren dia selesai kedatangan tamu.


"Sakit banget ya??kalo nggak pulang duluan deh"


Kaila menggeleng pelan"Nggak papa Nyonya, maen pulang aja tadi siang Kaila udah ketiduran kan. Masa sekarang waktu kerjanya mau di paksa lagi"Alasan keterlambatannya tadi siang sama seperti alasan Lian"Ketiduran". Padahal jelas jelas olah raga di tengah hari 🤣.


"Namanya orang sakit La, nggak ada segala nggak enak hati. Pulang aja ya La"Nyonya Sook yang baik hati ini sangat perduli kepada sesama. Dia nggak mau Kaila kenapa kenapa, dia udah janji sama Tuan Odet akan selalu menjaga Kaila meski sekarang tlah terungkap bahwa Kaila bukanlah anak kandungnya.


"Nggak nyonya, Kaila baik baik aja kok"


Ghina yang berada di kursi santai ikut berseloro"Pesen jahe hangat sama gula merah aja di kedai Arin, bisa kok. Kemaren aku juga pesen itu pas kedatangan tamu"


"Nah bener tuh, biar perut kamu enakan La"Nampak menekan nomor seseorang ternyata Nyonya Sook menelpon Arin di seberang sana. Tak perlu waktu lama pesanan pun tlah hadir di hadapan Kaila.


"Silahkan di nikmati La"Ujar Arin.


Mau nggak mau Kaila yang berdalih sedang datang bulan menenggak minuman itu di depan mereka. Untung minumannya enak, kalo kaga dia bisa muntah di tempat. Secara Kaila bukan penikmat jamu jamuan seperti itu.


Arin masih betah berada di Toko bunga setelah mengantar minuman itu, dia bercerita panjang lebar tentang pelanggan setia mereka yang setiap pagi selalu sarapan di sana.


"Babang tampan berlesung pipi itu pacar kamu ya La"


Ghina berseru"Tunangan"Lain yang di tanya lain yang ngejawab.


"Wuidih!!!, mantep gacoan kamu La. Bagi resep dong, siapa tau aku bisa dapat calon laki kek babang tampan itu" Ganjennya Arin kambuh deh. Naluri wanitanya membuat dia terang terangan mengungkap keinginannya untuk segera memiliki kekasih.


"Resep apaan??kaya mau bikin masakan aja"Sahut Kaila.


"Segala bawa bawa nasib, tapi ada benernya sih, kalo jodoh nggak akan kemana. Cukup jadi diri sendiri aja" Tukas Kaila lagi. Dia kembali menenggak minuman yang masih anget itu. Enak banget ternyata tu minuman. Bikin perut jadi nyaman.


"Hm...kalo Ghina gimana pas lagi pacaran sama Kak Joen??"Lepas kepoin Kaila si Arin beralih kepada Ghina. Secara suaminya Ghina juga cakep banget tuh, Tuan muda Charllote sih.


"Kalo Ghina mah teraniaya dia"Kali ini Nyonya Sook yang menjawab.


Ghina tertawa mendengar perkataan mertuanya.


"Iya Ghin??"Tanya Arin penasaran.


"Hehehhe, cara Joen mengungkapkan perasaannya tu unik banget Rin, dia punya cara sendiri bikin aku jadi berlama lama berada di dekat dia"


Tak ayal para wanita di Toko bunga itu hanyut dalam cerita mereka. Tak terasa waktu terus berlalu, Lian kini tlah hadir di depan Toko bunga menanti Kaila selesai bekerja.


❣❣❣❣


Mengheningkan cipta di mulai....Lian dan Kaila kini tlah berada di dalam mobil. Kaila yang biasanya suka bercuap cuap kini diam seribu bahasa, Lian yang mendapati sikap kaku Kaila jadi semakin bingung hendak memulai obrolan mereka dari mana.


Jalanan sore ini cukup lengang, biasanya di jam segini bermacam kendaraan berpacu saling adu cepat mengantarkan penumpang kembali ke kediaman mereka setelah beraktivitas di tempat kerja.


Mobil yang mereka naiki berhenti di perempatan lampu merah, ujung mata Kaila menangkap bayang beberapa anak kecil yang sedang mengamen. Lantas dia membuka kaca mobil dan memanggil mereka.


"Mau request lagu apa kakak cantik?"Ujar seorang anak lelaki yang mengingatkannya pada Athala. Yah...anak itu masih sangat kecil, tinggi badannya tak jauh berbeda dengan Athala yang baru mengenyam bangku sekolah dasar.


"Apa aja deh yang penting enak di denger"Sahutnya sembari meraih dompet di dalam tas.


Lian membuka laci pada dashbord dan mengeluarkan beberapa uang puluhan di sana.


"Pake ini aja Yank"Tukasnya melirik Kaila sekilas kemudian kembali fokus menatap ke depan.


"Yank??"


Entah sihir apa yang terdapat pada kata Yank itu hingga kedua pipi Kaila bersemu semakin merah. Blush on yang dia kenakan terasa terlalu menor dalam beberapa detik barusan.


"Makasih"Sahutnya singkat.


Nyanyian pengamen cilik itu berhenti setelah lampu merah berganti hijau.


Dua insan yang terperangkap dalam malu dan kaku itu melanjutkan perjalanan mereka.


Sekian waktu masih betah diam diaman, akhirnya Lian angkat bicara"Balik ke apartemen ya"


"Lho...kok ke apartemen??"


"Itu kan emang tempat tinggal kamu Sayang, aku mah cuman ngejagain aja"

__ADS_1


Kedua pipi Kaila mengembung dengan bibir mengerucut"Nggak akh!!, ntar kamu minta jatah terus!" Ujarnya membuang pandangan ke luar jendela.


Kata JATAH tlah mematahkan kekakuan di antara mereka. Lian tergelak tawa setelah Kaila mengucapkan kata itu dengan wajah mendengus.


"Mau di bahas??"Tanya Lian.


"Nggak!!"Kaila tersenyum dengan kedua mata menyipit"manis nyaaaaaa" Pekik hati Lian.Kaila udah kaya bunglon, sedetik senyum sedetik kemudian cemberut. Untung Lian udah paham betul dengan perangai wanitanya ini.


Jemari Lian memegang pucuk kepala wanita yang tlah kembali di milikinya itu. Meski dengan sebelah tangan Lian cukup mahir dalam mengemudi, Hal ini merupakan hal baru bagi Kaila. Sebab yang dia ingat Lian tak semahir itu dalam berkendara.


"Punya nyawa berapa kamu???, sok keren bawa mobil pake satu tangan"Komentar Kaila merasa sedikit ngeri. Dia belom mau mati yah, sah menikah sama Lian aja belom.


"Ya 1 lah Yank, emang aku kucing punya nyawa 9"


Senyum...Kaila tersenyum mendengar celoteh Lian. Dia rindu Lian yang banyak bicara, Lian yang cerewet dan bawel.


"Makanya fokus nyetir pake 2 tangan Lian, aku belom mau pergi ke akhirat"Tukasnya berharap Lian menyahut lagi perkataanya.


Seringai tawa terukir naik di wajah Lian, mencetak lesung di pipi nya namun tanpa sepatah kata. Dia diam lagi. Melepas belaian nya pada Kaila dan kembali menyetir dengan 2 tangan.


"Huh...dasar kulkas" Gerutu Kaila pelan.


"Apa aku harus memulai percakapan terus?? bisa bisa mulutku berbusa keseringan ngoceh sendiri"Kedua tangannya menyilang di dada, kesal bercampur gemes. Wajah tak tahu menahu Lian membuatnya ingin mengobok obok wajah pria itu.


"Ngomong apa sih La"


Kaila mendengus"Nah...tumben ngomong duluan"


"Apa sih Yank, ngomong yang jelas dong. Nggak pake bisik bisik kaya tadi"Kini mobil Lian tlah sampai di depan panti.


"Nggak kok, kayaknya aku harus membiasakan diri bakal sering ngomong sendiri mulai sekarang. Nasib punya calon suami kulkas ya begini"Gerutunya dengan nyaring. Lian yang merasa tersindir hanya nyengir kuda. Kaila ngambek lagi kan....Kayak nya Kaila yang dulu tlah kembali seutuhnya.


"Maaf deh, aku usaha kok buat berubah kaya dulu"Ujarnya dengan senyuman. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Kaila.


"Beneran nggak mau balik ke apartemen??"Tanya nya ketika tlah sampai di kamar Kaila.


"Belum sah kok mau tinggal bareng, ntar di grebek netizen lho"Dia menghempas tubuh di sofa kamar. Lelah, letih, semua rasa penat bercampur jadi satu.


"Ya udah kita buruan nikah aja biar kamu bisa balik ke apartemen secepatnya"


"Terus??"


Kedua alis Lian bertaut naik"Terus apaan??"


"Tiap hari posisi aku bakal di bawah??"Kaila mulai memancing di air nan keruh.


"Di atas kayaknya boleh juga"Sahut Lian santai.


Bantal sofa seketika melayang dengan indahnya pada Lian yang bersandar di pagar balkon"Giliran ngomongin jatah aja kamunya banyak ngomong. Dasar otak lelaki, langsung nyambung kalo ngomongin olah raga di ranjang"


"Kwkwkkwk, Kamu yang duluan Sayang. Aku cuman menimpali perkataan kamu aja kok"Tawa renyah itu menular kepada Kaila.


"Yeee...baru deh ketawa ngakak. Otak kamu perlu di kasih bayclin nih biar bersih dari pikiran mesum"


"Nggak usah, lebih syahdu miara pikiran mesum kaya begini ketimbang otak aku kamu kasih bayclin. Kaya aku cucian aja"Tanpa Lian sadari dirinya mulai banyak berceloteh. Tak lama lagi dia bakal balik jadi Lian yang somplak nih.


Setelah beberapa waktu bergurau Lian akhirnya bersiap meninggalkan Panti. Tak lupa Kaila mendaratkan sebuah kecupan di pipi Lian.


"Hati hati di jalan"


"Hm..."Sahutnya memeluk sebentar tubuh wanitanya.


Senyum senyum Lian menuruni tangga, tingkahnya menyita perhatian Bi Mun di meja makan.


"Habis menang lotre Nak Lian??senyum di kulum gitu"


"Hehehe...enggak lah Bi, kalo Lian menang lotre bakal Lian kasih semua sama Bi Mun deh"Ujarnya nimbrung duduk di meja makan.


Bi Mun memukul lengan Lian dengan sayuran yang sedang dia bersihkan"Wuuu, gombal banget sih"Lian terkekeh.


"Kak Lian...kapan pernikahannya??Amel mau kok jadi pagar ayu nya"Amel yang nongol dari pintu depan ikutan ngobrol di meja makan.


"Secepatnya deh, Kak Lian mau ngajakin Kak Kaila ketemu orang tua Kak Lian dulu"


"Emang belom pernah ketemu??kan udah tunangan"Bi Mun menimpali.


"Dulu mah udah sering ketemu Bi, tapi sekarang belum. Mereka belum tau kalo saya udah ketemu sama Kaila"Jelasnya.


"Buruan deh Nak Lian, Bibi pengen liat Non Kaila sama Nak Lian bersanding di pelaminan"


"Doa'in aja ya Bi"


"Kamu juga Mel, mau cepet cepet jadi pagar ayu nggak"Tukasnya pada Amel.


"Iya dong Kak, siang dan malam Amel selalu berdoa kepada tuhan yang maha esa biar Kak Lian cepet nikah sama Kak Kaila"


"Lebay!" Seru Bi Mun.


"Biarin"Ujar Amel yang di tertawakan oleh Lian.


To be continued...


Happy reading, jangan lupa like vote dan komen.


9 Oktober 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2