Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 50


__ADS_3

****Ku ingin menghabiskan seluruh waktu...


Bersamamu di sepanjang hidupku.


Sudikah kau pinjamkan pundakmu untuk ku bersandar??


Sudikan kau memelukku ketika ku menangis??


Sudikah kau selamatkan jiwaku,


Dan ulurkan tanganmu agar ku masuk dalam peluk mu??


Kau adalah satu satunya yang aku mau.


Kau adalah satu satunya yang aku perlu dalam hidupku.


Kau yang selalu bersinar dan menyinari setiap langkahku,


Kaulah keajaiban yang di miliki cinta untuk ku****


❣❣❣❣


"Sayaaaaannngggg, tolong bukain pintunya"Kaila berteriak pada Lian yang asik bermain game mengenakan headset. Para lelaki kalo udah masuk dalam dunia game, beeehhh di jamin bakal menyebalkan tingkat dewa.


Kayak Lian gini, dia tak bergeming meski berkali kali Kaila meneriaki nya, dia sedang dalam pososi ternyamannya. Duduk manis di pojokan ruang tamu sembari lesehan dengan santainya.


"Gogogo!!! Ayok Tur, maju maju!!!"Serunya terus tak mengindahkan panggilan Kaila.


"Sayaaannnggg!!"Pekik Kaila lagi dari dalam kamar mandi. Demi apa yak, itu yang pencetin bel juga nggak ada akhlak. Ngotot banget minta di bukain pintu. Kaila baru juga sampoan, belum ngebilas rambutnya, sikat gigi pun belom. Apalagi sabunan. Ikh acara mandi manjanya terganggu gara gara bel yang terus berteriak memekak kan telinga.


Dan asemnya meski di cuekin Lian itu bel masih aja menjerit minta di bukain pintu.


"Awas aja kalo nggak penting!, siapa pun tamu itu bakal ku kirim ke kutub utara. Biar nggak bakal balik bertamu lagi"Gerutunya dengan terpaksa mengenakan kimononya. Menyabet handuk kecil dan membungkus rambut penuh busanya.


"Lian!!!"Sentaknya mendapati Lian sibuk komat kamit bermain game online. Mamas suami nampak tak menyadari sentakan nya saat ini.


"Ceklek"


Kaila membuka pintu. Bersiap menerkam sang tamu jika nggak penting penting amat menekan bel kediamannya.


Wajah menawan yang biasanya ceria kini tertekuk sedih, sorot matanya menatap lurus pada Kaila dengan manik wajah seribu duka.


"Lho....kok....."


"Hancur sudah Dek, Kakak rasanya pengen mati aja" Tuturnya begitu lesu lemah tak berdaya.


Bryan berkeluh kesah di hadapan Kaila. Pria yang biasanya tangguh itu kini merengek karena beban cinta yang dia derita. Akh kenapa beban itu terasa berat di pundak lebar nya.


"Masuk dulu deh Kak"Kaila menarik Bryan masuk, memintanya menunggunya di ruang tengah sementara dirinya menyelesaikan ritual mandinya.


"Yank!"


Lian terkejut. Headset di telinganya di tarik paksa Kaila.


"Udah dong ngegame nya!, tuh"Tunjuknya pada Bryan.


"Kenapa oi"Ucap Lian ketus melirik Bryan di sana.


"Kayanya ada masalah deh, aku tadi minta dia ngajakin Maira ke sininya. Tapi dia datang sendiri dengan wajah sedih begitu"Bisiknya khawatir akan keadaan sang Kakak.


"Set dah! kek bocah aja galau galau'an"Decih Lian terpaksa left dari game onlinenya"


"Tapi Yank, dia kalem gitu kok, Hm...."pandangannya tertuju pada Kaila yang masih setengah basah.


"Apa??"Aura centil tercium begitu semerbak dari arah Lian.


Pria itu tersenyum nakal, menampilkan lesung pipi andalannya.


"Biar cepet ngurusin si cebong sawah, sini aku kelar'in kamu mandi Yank"


"No!!!"


"Ayolah, aku jago lho kalo urusan mandiin kamu"Bujuknya lagi.


"Jagain Kak Bryan aja!, aku bukan anak kecil yang nggak bisa mandi sendiri"Kilah Kaila. Heran deh mas suami nggak bisa liat dia basah dikit langsung pengen ikut basah basahan juga.


Jemarinya berjalan nakal di lengan Kaila"Iya tau kok, tapi aku yang mandiin kan lebih seru Yank. Masa kamu menolak aku kasih servise plus plus sih"


Kaila bergidik geli. Buru buru dia melarikan diri ke kamar mandi.


"Yank!!"Panggil Lian tertawa.


"Nggak!, jangan aneh aneh deh Yank"Pekiknya melanjutkan acara mandinya.


Gagal mandiin mbak istri Lian dengan terpaksa menghampiri Bryan.


Pria dengan suit kerjanya nampak murung, menatap ubin apartement Lian dan Kaila dengan tatapan kosong.


Entah tergelitik oleh rasa kemanusiaan dari mana, Lian merasa terenyuh mendapati Bryan jatuh terperosok dalam pedihnya cinta. Dia seakan bercermin pada dirinya di masa lalu yang sempat merasakan hal yang sama seperti pria ini.


"Putus cinta??"Ujarnya melontarkan sebuah pertanyaan yang langsung di balas gelengan oleh Bryan.


"Di tolak??"


Bryan kembali menggeleng.


"Hah~~, ya sudah ayok cerita"Pintanya selepas menghela nafas jengah.


"Kalo mau ngeledekin pergi aja, aku ke sini cuman mau cerita sama Kaila"Sahut Bryan ketus.


"Dari kamu sampe ke Kaila, ntar juga nyampe ke aku"

__ADS_1


"Ya udah nanti aja tunggu kamu dapat cerita dari Kaila"


"Songong!, mau di bantuin nggak?!"Lian mulai greget dengan sikap Bryan.


Bryan mengangkat pandangannya"Serius mau bantu??"


"Ck, derita kamu ya derita bini aku. Derita dia juga derita aku, buruan cerita"Desak Lian siap menerima segala keluh kesah Bryan padanya.


Perkataan Lian ada benarnya juga. Meski berat akhirnya Bryan mulai bercerita, bermula dari persahabatannya ketika SMA, tentang rasa di antara mereka, tentang taruhan mereka, tentang langkah mundurnya, tentang gagalnya pernikahan Maira karena June tlah menghadap sang maha kuasa, hingga sampai ketika semua rahasianya terungkap di hadapan Maira.


"Terus kenapa masih di sini??"


Kening Bryan berkerut, Lian ngerti nggak sih posisi dia. Bukannya dia udah cerita kalo kehadirannya mendapat penolakan dari gadis yang di sukainya itu.


"Kalo nggak ngerti nggak usak sok mau bantuin, buang buang tenaga ku aja cerita sama kamu"Bryan berdecih.


"Nah ini nih, ketahuan banget kalo kamu cadet masalah cinta. Hahahaha level kita berbeda jauh ternyata"Bukannya bantuin, Lian malah mentertawakan Bryan dan jelas hal itu menambah kesal hatinya.


"Kaila~~, masih lama nggak??Kakak balik aja yak"Serunya kesal seolah di perolok Lian.


"Ya elah pake ngambek, gitu doang Brooooo~~~"Seloro Lian.


"Berantem kan, kirain bakal akur"


"Nggak akan!heran kok kamu betah sama ni cowok"Tunjuk Bryan hampir mengenai hidung Lian.


"Ck, ngadu~~~, nangiiiiiiisssss!!"Ledek Lian lagi.


Bryan kesal setengah mati terhadap Lian, nyesel banget dia sempet percaya ni cowok bakal bantuin dia.


"Masalah apa sih Kak??"Kaila kini tlah duduk di samping Bryan, sama seperti Lian tadi dia bersiap menerima segala keluh kesah Bryan kepadanya.


"Maira marah banget Dek, dia juga udah tau kalo dulu dia kami jadikan taruhan"Ucapnya lirih.


"Kakak udah jelasin semuanya??"


"Hm....tapi dia tetap nggak bisa maafin Kakak, dan Kakak malah di usir dari kontrakannya"


Kaila menatap Lian yang duduk di sofa tunggal, Lian hanya mencibir dengan tawa jahatnya.


"Gimana Yank??"


"Kan!!!"Sentak Lian bersemangat"Aku juga kan yang bakal bantuin"


"Dih jangan gitu lah Yank, udah dong ngeledeknya"Rengek Kaila bergelayut manja di lengan suaminya.


Demi neptunus! Bryan berakhir di depan dua manusia bucin ini. Dia berharap banyak pada sang Adik, nyatanya sang Adik malah bersandar pada sang suami yang nggak bisa akur dengannya.


"Kok nanya sama dia sih Dek!?"


"Seluruh jiwa dan raga Kaila kan milik dia Kak"Ucapan kaila membuat Bryan hendak memuntahkan semua isi perutnya.


"Termasuk otak kamu??"


"Ya salaaammmmm, aku balik aja!"


"Kwkwkwkwkk jangan lah"Lian terkekeh geli. Sejatinya dia beneran mau bantuin Bryan kok.


Dengan malas Bryan kembali duduk, menghenyakan diri kembali di sofa biru muda mereka.


"Mau bantuin nggak??"Tanya nya lagi. Dia tau ini sia sia, tapi jika Lian benar punya jalan keluar atas masalahnya yah....mungkin dia akan mencobanya.


"Buruan Yank, kasih saran yang bagus. Jangan becanda mulu"Bisik Kaila.


"Ini mah masalah kecil"Seringai Lian membalas bisikan Kaila.


"Ya udah kasih tau dong Kak Bryan nya!"


"Eit!!ini nggak gratis sayang" nah ini baru ada udang di balik bakwan. Dari kerlingan mata centilnya, sudah jelas Lian minta di servis di atas tempat tidur ntar malam.


"Ayaaa~~~, depan Kak Bryan Yank!"Kaila malu malu meong memukul pelan dada bidang mamas suami.


"Kenapa emang??"


"Malu lah"


"Uluh uluh gemesin banget sih yang tersipu malu"Lian mengunyel unyel pipi Kaila di hadapan Bryan. Sumpah Bryan berasa di kacangin di sini, fix dia salah tempat sore ini.


❣❣❣❣


Menyempatkan diri membeli es krim di minimarket kong Mansur, Joe kini di sambut senyum lebar dari seorang Keano.


"Wuidih~~~, banyak bener beli es krim nya"Ujarnya begitu bersemangat menatap Joe.


"Heheheh, sekalian bagi bagi sama temen satu rumah"Ucap Joe menampilkan susunan gigi putihnya.


"Ini mas nya yang kemaren pesen kopi kan"Keano fokus menghitung belanjaan Joe sembari terus ngombrol dengannya.


"Iya mas, masih ingat aja nih"


"Jangankan mas nya, mantan yang jahatin saya aja saya masih inget mas"Sahut Keano membuat Joe tergelak tawa. Lucu juga penjaga minimarket ini.


"Btw mas nya tinggal di dekat sini ya?"


"Bukan deket lagi. Nih di atas"Tunjuk Joe mengarah pada langit langit minimarket.


Keano terperangah. Di ataskan cuman ada 1 kontrakan, dan itu baru di tempatin Maira.


"Sebentar, di atas mana mas??"Dia menghentikan aktivitasnya menghitung belanjaan Joe.


"Di atas, kontrakan yang di atas ini"Jelas Joe lagi.

__ADS_1


"Set dah!!, jadi dia temen satu rumahnya Maira dong. Tapi tu anak kok anteng anteng aja tinggal serumah ama cowok??"Batin Joe.


"Mas!"


"Mas oi!!"Panggil Joe lagi sebab Keano tak mengindahkan panggilannya.


"Hm...jadi mas nya beli es krim buat temen kontrakan mas??"Tanya Keano tersadar dari lamunan sesaatnya.


"Iya lah, mas nya mau juga??"


"Nggak kok, tapi kalo boleh saran temen satu kontrakan mas itu nggak suka es krim rasa kacang ijo ini. Dia sukanya yang banyak coklatnya"Jelas Keano yang paham betul dengan selera Maira.


"Oh gitu, mas nya kenal sama temen kontrakan saya?? katanya dia juga baru pindah ke kontrakan atas"


"Kenal dong, kenal banget malah"Cengir Joe.


"Oh..."Mulut Joe membulat"Kalo gitu boleh tuker yang cokat aja nggak es krim nya??"


"Boleh kok"Ujar Keano pula. Hatinya ketar ketir, masa iya ni orang tinggal serumah sama Maira. Mana tu anak nggak pernah nongol selepas pindahan kemaren, di telponin juga kaga nyambung.


Seperginya Joe, keano coba kembali menghubungi Maira namun hasilnya tetap sama. Ada rasa khawatir terhadap gadis itu, malam ini Keano berniat naik ke atas sebentar untuk memastikan keadaan sang sahabat.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, Maira keluar dari gang samping minimarket.


"Eh...mbak buket"Joe masih ingat betul dengan wajah Maira. Dia gadis yang di gadang gadang harus mereka satukan dengan Kakak ketemu gedenya Kaila.


Joe menatap wajah Maira lekat lekat"Bener, kamu mbak yang dapat lemparan buket di pesta pernikahan Lian sama Kaila kan?!!"Ucapnya bersemangat.


Berbeda dengan Joe yang yakin tak salah mengenal orang, Maira memutar kedua bola matanya mencari tau siapa lelaki manis yang menyapa nya ini.


"Siapa ya??"Gagal menemukan Joe di dalam memori otaknya pertanyaan itu lolos lah dari bibir seorang Maira.


"Aku sahabatnya Lian sama Kaila"Ujar Joe lagi. Lantas dia bercerita perihal buket yang harusnya jatuh ke tangannya namun berakhir di tangan Maira karena Vino menyenggolnya.


Maira akhirnya mengingat Joe, mereka terkekeh mengingat kejadian rebutan buket itu di pesta pernikahan teman mereka.


Keano mendapati mereka mengobrol sembari tertawa di depan minimarket.


"Cih, jadi beneran temen sekontrakan. Dasar ulat bulu, semoga Ibu kamu di kampung nggak tau kalo anaknya tinggal satu atap sama cowok bukan mahrom"Gumam Keano sembari menghitung belanjaan pelanggan.


"Liatin apaan sih mas??"Tanya si pelanggan mendapati Keano sesekali melirik Maira yang masih ketawa ketiwi di luar sana dengan mulut yang terus berkomat kamit hendak memarahi gadis itu.


"Nggak kok Dek, lagi gemes aja sama temen saya"Ujarnya menyunggingkan tawa.


"Oh..temennya yang mana??"Tanya si pelanggan yang masih mengenakan seragam putih abu abu itu.


"Itu yang cengir cengir sama cowok di luar sana"Sahut Keano menunjuk Maira dengan mulutnya.


Si pelanggan menoleh pada Maira"Oh, tapi bagi saya mas nya lebih gemesin lho. Boleh minta nomer hape nya nggak??"


Tweeeewwww!!!


"Hah??"Keano bengong. Ini kali pertama ada cewek memujinya tanpa basa basi, langsung minta nomer hape pula.


"Buat apaan ya??"Tanyanya polos.


"Hm....."Cewek itu menatap Keano dengan senyum termanisnya.


"Kan saya sudah bilang, mas nya gemesin. Saya sering ke sini cuman mau ketemu sama mas nya lho"


Bunga bunga seakan bertebaran di atas kepala Keano. Dia di godain anak gadis orang guys. Tanpa di sadari wajahnya bersemu, dia merasakan panas pada wajahnya.


"Ayo dong mas, boleh ya minta nomor hapenya" Pinta si bocah SMA itu lagi.


"Anu dek, mas udah punya bini"Sahutnya dalam cengiran.


"Serius mas??"kedua bola sang pelanggan membulat.


"Siapa yang udah punya bini??"Maira nongol, mendengar sekilas obrolan Keano dan gadis SMA itu.


"Mas nya bilang dia udah punya bini??"


Maira mengangguk menatap nakal Keano.


"Adek nya suka sama mas ini??"


"Heheheh pengen kenalan aja sih"


"Oh boleh banget. Sering sering aja belanja di sini, sering bertemu akan menimbulkan cinta lho dek"Cerocos Maira asal.


"Lagian mas nya lajang kok"Sambungnya lagi.


Ucapan Maira membuat wajah gadis itu tersenyum senang. Sementara Keano nyengir terus, pamer wajah cakepnya yang makin cakep kalo lagi senyum.


"Kenalin saya sisil"Dia mengulurkan tangan kepada Keano.


Keano ragu ragu. Maira menarik tangannya dan membuat mereka bersalaman.


"Keano, nama mas nya Keano Dek"Bukannya Keano yang memperkenalkan diri. Malah Maira yang penuh semangat membuat mereka berdua berkenalan.


"Oke, mulai hari ini saya akan mengejar mas nya dengan setulus hati"Seru gadis bernama Sisil itu.


Tawa Maira pecah. Ni anak serius naksir si Keano. Yang di taksirin malah betah banget senyam senyum dengan wajah tersipu malu.


"Sisil pamit pulang dulu ya, babay mas Keano"Dia berdadah ria kepada Keano. Juga berpamitan kepada Maira.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


18 Desember 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2