
****Tunjukkan cintamu...
Tidak ada kekuatan yang lebih dari cinta, hanya itu yang kubutuhkan
Katakan cintamu...
Supaya cinta lebih menyebar hingga aku mampu melukis senyuman di wajahmu.
Seperti bintang, aku akan berada di sisimu
Terangi kegelapan, aku akan menjadi cahayamu
Jangan takut, bahkan malam seperti kebohongan ini
Semuanya akan memudar seperti mimpi
Salinglah berpelukan erat...
Tunjukkan cintamu...
Karena aku mencintaimu
Sekarang semua tak kan sulit lagi sayang
Jangan menahan kata cinta
Ucapkanlah...
Ucapkanlah kau mencintaiku****
❣❣❣❣
"Udah malam, ngapain ulet keket masih di sini??"Kaila melenguh jengah melihat tingkah Angela.
"Dia sakit Dek, bentar lagi Kaka antar pulang kok"
"Ya salam...kalo sakit ngapain maksa datang ke sini?? Kaila nggak maksa dia buat datang ke acara pernikahan Kaila kok"
"Kamu kenapa sih Dek, emosi mulu kalo ngomongin Angela"
"Entahlah Kak, buruan anterin pulang sono. Perasaan Kaila nggak ada ngundang dia deh"
"Hus!!, dia anak nya baek kok Dek. Kalo nggak ada dia hari hari Kakak di kampus terasa sepi tau"Ucapnya membela Angela.
"Cih, nggak usah bahas dia lagi. Buruan anterin pulang sono!!"
"Biar dia di sini sebentar, Kakak mau nganterin Maira pulang dulu"
"Serah deh"Decih Kaila meninggalkan Bryan dan menghampiri Lian di kamarnya.
Lian nampak sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Sepertinya itu salah satu dari 3 sahabat somplaknya.
"Siapa??"Tanyanya ketika Lian tlah usai berbicara di telepon.
"Vino"Sahutnya meletakan ponsel di nakas.
"Hmm...kenapa??udah bilang kalo acara kumpul kumpul kita undur besok malam??"
"Iya sayang, ini aku barusan ngasih kabar"
"Bagus deh, akh padahal aku pengen langsung minggat dari sini"Ujarnya menekuk wajah.
"Lho kenapa??ntar Papah kamu sedih lho, masa abis nikah langsung pergi kitanya"
"Aku muak gara gara cewek gatel itu, dia pasti berniat menginap di sini" Emosi Kaila kembali naik, mengingatnya saja membuat Kaila kesal setengah mati.
"Cewek gatel?"
"Itu si Angela, nama doang cakep tapi hatinya busuk"Gerutunya lagi.
"Emang kamu udah kenal dia luar dalam?"
"Enggak sih, tapi sorot matanya nggak bisa bohong. Tatapan matanya sendu ala ala pelakor"
"Astaga Kaila, jangan sembarangan menilai orang. Nggak baik lho"
"Dih siapa yang sembarangan. Tadi aku sempet denger dia ngomong sama pelayan tentang Maira"
"Sejak kapan Kaila ku jadi doyan ikut campur sama urusan orang??"
"Yah sejak sekarang lah, tapi nih Yank kayanya itu pelayan baru deh. Soalnya aku nggak pernah liat tu pelayan"
"Udah udah, sayang mulut manis gini di pake buat gibahin orang. Mending buat nyium aku aja mulutnya"Pinta Lian dengan kedua mata berkedip nakal.
Kaila tersipu malu. Sejak sah di perisitri Lian jantugnya jadi sering deg deg an.
Melihat wajah Kaila bersemu malu Lian menarik wanita itu semakin dekat padanya. Merebahkan sang istri di pangkuan dan mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Gimana rasanya menyandang status istriku??"
"Yaaaa"Kaila menyapukan pandangan ke langit langit kamar yang berhias untaian bunga bunga berwarna warni.
"Ya apa??"
"Yaaaa gitu deh"Ucapnya malu malu.
"Ih jadi merah pipi nya"Goda Lian.
Kaila berguling dari pangkuan Lian, menyabet bantal dan rebahan di samping Lian"Aku capek Lian, kita bobo aja yok"
"Wah nggak bisa sayang. Urusan kita masih banyak banget"
"Urusan apa??semua udah selesai kan. Kita tinggal bobo terus besok pagi buruan balik ke apartemen kita"Ujarnya memainkan helai rambut Lian yang tertunduk menatap wajahnya.
"Nonono ~~~"Ujar Lian menaikan jari telunjuknya ke hidung Kaila.
"Oh, jadi kamu mau ehem ehem??"Todong Kaila.
__ADS_1
Lian sempat bersemu, namun buru buru dia menampik tebakan Kaila.
"Kalo urusan ehem ehem waktu kita masih banyak sayang. Aku tau kamu capek setelah seharian menebar senyum kepada para tamu undangan"
"Ya Tuhan, terimakasih enggkau tlah memberikan suami yang sangat pengertian kepadaku"Ucap Kaila dengan dua tangan menengadah ke atas.
Sudut bibir Lian menukik naik"Makanya sebelum tidur, temenin main kartu dulu ya"
"Hah?"
"Nih, kita main kartu dulu"Sebuah kartu remi keliar dari balik selimut.
"Judi!, haram!"Pekik Kaila tiba tiba.
Lian mencubit pelan pipi bersemu Kaila"Kaga ada yang haram di antara suami istri, orang sekedar main doang. Kita juga nggak pake duit kan"
"Kalo nggak pake duit pake apa dong??"Tanyaya begitu polos.
"Pake ini"Lian menarik piyama yang di kenakan Kaila.
"Maksudnya??"
"Yang kalah harus menanggalkan pakaian satu persatu"
"Hedeh, aku berlebihan menilai suamiku. Ini cuman akal akalan kamu aja kan? kalo mau bercinta bilang aja sayang aku bakal buka baju dengan ikhlas kok"Jemarinya bersiap membuka kancing kancing dari piyama yang dia kenakan.
"Hihihi, bukan gitu kok. Ih otak kamu isinya jorok juga ya. Jangan jangan selama ini aku selalu ada dalam fantasi liar kamu yaaaa"
"Dih mana ada! liat kamu bugil aja aku biasa aja kok" Ucapnya begitu yakin. Padahal.....liat roti sobek Lian yang sedari tadi mengintip dari balik piyamanya aja sudah bikin jantungnya jumpalitan.
Lian sangsi"Waw, beneran??"
"Iya lah, wanita kan selalu bisa mengendalikan nafsu. Beda sama kaum lelaki, liat paha dikit doang langsung pusing si Joni"
"Itu cowok lain Yank, kalo aku cuman bereaksi sama paha kamu. Apalagi___"
"Apa?"Kaila mengerti kemana tujuan perkataan Lian barusan.
"Hehehe , udah deh yuk di mulai main kartunya"
"Nggak, ntar ujung ujung nya kamu serang juga aku nya. Kalo mau di kelonin to the poin aja"
"Nggak kok, aku janji bisa menahan diri"
"Beneraaannn??"
Lian mengangguk yakin dengan dua tangan berbentuk V
Kaila nampak menimbang nimbang perkataan Lian.
Sebuah pertanyaan kembali terlontar"Menang atau kalah di nilai dari mana??"
"Yang duluan bugil jelas kalah dong"
"Yang menang dapat apa??"
Lian menarik kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya"kalo kamu menang boleh beli apa aja pake kartu ini"
"Kalo aku kalah??"
"Ya mau nggak mau malam ini aku dapat jatah dong"Seringai Lian kembali menampakan lesung pipi nya.
Ujung ujungnya kesitu juga kan. Lian memang pandai meminta sesuatu pada Kaila dengan cara halus.
"Cih, akal bulus"Ujarnya melipat dua tangannya di dada.
"Lho..kok ngomong gitu, lagian kalo kamu menang aku nggak akan ngambil jatah malam ini kok. Terussss, kamu boleh memilih mau ke negara mana kita bulan madu"
Lian emang tau apa yang Kaila mau. Sebuah negara terlintas di otak Lian, dan jelas saja Kaila langsung mengajukan nama negara itu untuk mereka datangi berbulan madu.
"Hmmmm, Ke korea??"
Lian mengangguk.
"Beneran??"
"Itu kalo kamu menang ya sayang"Lian senyum ala ala iklan pasta gigi.
Dia kembali menambahkan"Mau ketemu sama idol yang sering kamu liatin di laptop??yang rambut mereka merah kuning ijo kek pelangi pelangi??"
"Yaahhh jangan di hina dong, mereka sumber semangat aku"
"Lah jadi aku apa dong??"Lian cemberut.
"Heheheh, jan ngambek. Ayok main kartunya"Bujuk Kaila.
Lian tersenyum simpul"Sippp, waktunya berburu kelinci putih"Bisik hati Lian.
❣❣❣❣
Gadis itu nampak kebingungan. Dua pria yang katanya pelayan Bos nya itu kini meninggalkannya di pinggir jalan sendirian.
"Ini masih jauh banget, mana udah hampir tengah malam"Bulu kuduk gadis itu tiba tiba merinding disco. Dia sudah terbiasa menyusuri jalanan sepi dengan penerangan yang minim seperti sekarang ini, tapi...itu jalanan menuju kontrakannya, berbeda dengan jalanan yang dia lalui sekarang ini.
Sekarang dia memang berada dalam keadaan yang sama, tapi ini wilayah yang asing baginya. Sampai ke jalanan ini saja baru hari ini, dia sungguh tak habis pikir kenapa orang tua Bryan membangun rumah yang begitu mewah namun berada jauh dari lingkungan khalayak ramai. Otak kalkulatornya pun spontan memperkirakan berapa banyak ongkos yang akan dia habiskan jika suatu saat dia di minta datang sendirian ke kediaman Brander.
"Wow, semoga Bryan tak berniat memintaku datang ke sana sendirian. Dompetku akan menangis karena ongkos ojek yang kelewat mahal"Gumamnya coba melanjutkan langkah.
Dua pelayan abal abal suruhan Angela tadi di minta meninggalkan gadis itu di tengah jalan, jalanan yang tak jauh dari para preman jalanan biasa nongkrong sembari minum dan mabuk mabukan.
Secara tidak langsung Angela hendak menyerahkan gadis itu kepada para preman tersebut, berharap para preman akan memberikan sebuah pengalaman yang luar biasa dalam hidup Maira. Merenggut kesucian gadis itu hingga dia terpuruk dalam lubang hina di kehidupannya. dan...jika hal menyenangkan itu terjadi, maka Angela yakin kisah cinta mereka pasti tak akan berjalan dengan mulus. Keluarga mana yang akan menerima gadis kotor masuk ke dalam kehidupan mereka???
Benar saja, sayup sayup Maira mendengar suara para lelaki terbahak di kejauhan. Beberapa dari mereka nampak sempoyongan sembari berbincang hal tak senonoh sesama mereka.
"Alamak!, gimana lewatnya??"Bisik hatinya. Dia berlindung di balik pohon nan rimbun, sebuah kemustahilan jika dia terus berjalan dengan santai melewati mereka. Di jamin dia nggak akan bisa lolos dengan selamat, relung hatinya memohon agar sang maha kuasa mengirimkan bantuan kepadanya. Dan di sela kesungguhannya dalam berdoa...
"Kenapa kamu sendirian di sini??"
Maira berbalik, sesosok lelaki dengan seringai tawa berada tepat di belakangnya. Di lihat dari penampilannya, bisa jadi dia adalah salah satu dari pria yang mabuk mabukan di sana.
__ADS_1
"Kok diem...."Ujarnya lagi. Aroma alkohol tercium kuat dari dirinya.
Tubuh Maira bergetar. Dia harus apa?? ini jelas kawanan dari mereka, apa dia harus lari??
"Ya! aku harus lari!"Pekik hatinya.
"Sembari menguatkan diri, dia coba menenangkan diri. Anu___lagi nungguin pacar saya"Ujarnya terbata bata.
"Oh, dari pada sendirian di sini mending gabung sama abang. Yok, tuh temen abang di sana asik asik lho"Tunjuknya ke arah yang Maira hindari dari tadi.
Jemari Maira memegang erat botol minuman mineral yang di berikan pelayan tadi. Mungkin sekedar bekal karena mereka tau Maira akan menempuh perjalanan nan jauh.
"Ayok dong, ntar di gigitin nyamuk. Atau kamu emang suka di gigitin nyamuk ya??, gimana kalo abang aja yang gigitin??"Tangan pria itu mulai berani meraih lengan Maira.
Spontan Maira menepis tangan pria itu"Maaf Bang, sebentar lagi pacar saya datang kok"
"Heeiiii, pacar mana yang tega ninggalin ceweknya sendirian di malam nan gelap ini. Sini dong sama abang aja!"
Maira berontak, pria itu menarik paksa Maira"Guyssss!!!"Pria itu memanggil para kawanannya.
Di tempat lain Bryan nampak bingung mencari keberadaan Maira. Dia berkeliling di kediamannya mencari keberadaan gadis itu.
Dia bertanya pada para pelayan yang dia temui namun tak seorang pun yang tau keberadaan gadis itu.
"Apa dia udah pulang??aku sudah memintanya menungguku kan"Ujarnya berkata kata.
Mengenal pribadi Maira, Bryan yakin gadis itu nggak akan pulang tanpa meminta ijin kepadanya. Terlebih urusan hutang piutang mereka kan belum selesai.
Byan berniat menghubungi ponsel gadis itu namun dia lupa ponselnya sendiri tertinggal di dalam rumah.
"Bi Mun, ada liat Maira nggak??"Tanya nya pada si Bibi yang baru saja selesai berbenah di taman.
"Neng Maira,,,,"Si Bibi nampak berpikir sejenak.
"Nyariin siapa Kak??"Amel sedari tadi memperhatikan gelagat sang kakak yang seperti orang kebingungan.
"Temen Kakak dek, yang tadi jadi pasangan Kakak nganterin pengantin naik ke altar"
"Oh, mbak manis itu ya"Nazmi menimpali. Entah nongol dari mana tiba tiba saja Nazmi sudah hadir di antara mereka dengan seabrek alas meja di dalam keranjang yang dia bawa.
"Kamu tau dia di mana??"Tanya Bryan bersemangat.
"Bukannya di anterin pulang sama pelayan sini"
Alis Bryan menyerngit"Pelayan yang mana??"
"Yang kepalanya plontos Kak"
Seingat Bryan nggak ada pelayan di sini yang berkepala plontos.
"Emang dia bilang apa??"Selidiknya lagi.
"Nazmi nggak liat langsung sih, pacar Kak Bryan yang meminta pelayan itu mengantarkan mbak Maira pulang"
"Angela??"Otak Bryan bekerja keras menyusun informasi yang Nazmi berikan.
"Tanyain Non Angela nya aja Den"Saran Bi Mun.
Setengah berlarian Bryan bergegas kembali menemui Angela yang katanya sedang sakit.
📱:"Kalian tinggalin di mana??"Gadis itu nampak sehat sehat saja sekarang. Dia yang tadinya meringkuk kesakitan di sofa sekarang baik baik saja.
Bryan memergoki Angela sedang berbincang dengan si plontos.
📱:"Bagus dah, kerja kalian memang oke. Nanti aku transfer bayaran kalian"
Bryan tertegun. Jadi inikah sifat asli Angela??? Gadis lemah lembut yang sangat dia percayai nyatanya ingin menyakiti Maira.
Senyum kemenangan terukir jelas di wajah Angela.
"Di mana Maira??"Suara itu membuat Angela terlonjak kaget.
"Ah??siapa Bry??"
Tiba tiba Bryan menjadi muak dengan sikap Angela. Secepat itu ekspresi dinginnya berbicara dengan si plontos di telpon berubah polos dengan tatapan sendu kepada Bryan.
"Maira di mana??"Sentak Bryan.
"Aku___aku nggak tau"
Bryan menatapnya dingin. Di raihnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja.
"Aku akan cari tau sendiri" Mengambil kunci mobil dari dalam kamarnya Bryan pergi secepatnya dari hadapan Angela.
Berkali kali dia menghubungi nomor gadis itu namun tak ada jawaban di ujung telpon.
"Ya tuhan!! tolong jaga dia!!"Pinta hatinya pada sang maha kuasa.
"Trrrtttt!!"ponsel Maira kembali berdering. Cahaya dari layar ponsel yang tergeletak di jalanan bagai membelah kegelapan malam.
"Ash...kemana gadis itu??kamu kelamaan sih??"Preman dengan tampilan berantakan berkacak pinggang kesal atas kelalaian rekannya mengejar Maira.
"Hei..aku mabooook, jaaalan ku aja sempoyongan. Giiimana mau ngejar tu ceeewek"Racau temannya itu.
"B4cot akh, ceweknya bening c0k. Cari lagi lah, kita berpencar aja"
"Oke oke, jangan ngomel dong"Sahut preman lainnya.
Berlindung di semak semak Maira menutup mulutnya rapat rapat. Keringat dingin dengan jantung hampir copot gadis itu coba bertahan dalam diam. Posisi persembunyiannya dengan para preman itu sangatlah dekat. Sedikit saja dia bergerak maka habis lah dia.
"Kalian cari lagi, aku mau buang air dulu"Ujar salah seorang dari mereka.
Perlahan langkahnya mendekati semak semak area persembunyian Maira.
Tangisnya pecah, dadanya sesak. Jantungnya terus berdetak keras. Di saat saat seperti ini dia sungguh berharap kehadiran Bryan di sisinya.
To be continued..
Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
__ADS_1
9 Desember 2020
Salam anak Borneo.