Wo Men De Ai

Wo Men De Ai
Part 30


__ADS_3

***Kau adalah matahari terbitku...


Kau adalah penerang di siang hariku...


Sembunyikan bayang bayang ragu dari pikiranku.


Kau adalah senjaku...


Yang berikan awal untuk sang bulan menampakan diri.


Bahkan bintangku pun tak mampu bersinar jika tanpa mu.


Lantas...


Mengapa harus hujan??


Bukankah sama saja,


Baik itu terang atau pun gelap,


Kau dan aku akan tetap bersama selamanya.


Jadi....


Lukislah pelangi saat sang hujan mulai berhenti.


Biarkan angin lembut terus membuai kita dalam manisnya cinta.


Sebab kau dan aku adalah satu****


🏵🏵🏵🏵


"Sayang, tolong buangin sampahnya dong. Sekalian tolong pisahin sampah basah sama sampah keringnya ya"Mei duduk menghadap taman mini di balkon belakang sembari menyediakan irisan beberapa buah untuk Miya. Bunga bunga cantik yang dia rawat dengan penuh kasih memang tak mengkhianati, di saat dia merasa lelah seperti sekarang ini sekedar menatap bunga bunga cantik di dalam pot kecil saja mampu mengurangi rasa lelahnya.


"Sayang, masalah sampah aja harus di pilah pilih. Simpen aja dulu di situ. Lagi tanggung main nya"Fatur sibuk mengatur strategi agar meraih kemenangan bermain game bersama Joe di dunia online. Dia benar benar tenggelam dalam dunia game, bahkan selimut yang dia seret dari kamar pun kini teronggok di lantai menambah suasana berantakan di area ruang tamu mereka.


"Ya elah Yang, tinggal buang sampah aja pake ngeluh. Kalo sampahnya gak di pisahin ntar di tegur Pak RT lho. Gak enak kan!"Timpal Mei sibuk menghampiri si kembar yang terdengar merengek di dalam kamar sana.


Hari minggu yang merupakan hari libur bagi sebagian orang khususnya jiwa jiwa muda berbeda hal nya bagi Mei. Fatur sang suami sedang dalam Mode menyebalkan. Sedari pagi tadi dia sudah sibuk bermain game hingga hampir jam makan siang seperti sekarang ini. Dia hanya sempat berhenti sejenak ketika sarapan, bisa retak jidatnya kalo lagi makan sambil maen hape. Bakal di tabok Nyonya rumah ntar.


Namun meskipun sibuk mengurusi segala keperluan di kediamannya Mei selalu menyempatkan diri mengurusi diri sendiri seperti hal nya mandi dan bebersih diri. Jadi meskipun dalam keadaan super sibuk dia masih terlihat cantik dan juga wangi, berbanding terbalik dengan keadaan sang suami sekarang.


Rambut yang biasa tertata rapi dengan aroma maskulin kini acak acakan dan gersang bak sarang burung tak bertuan. Kaos oblong berwarna hitam yang dia kenakan dari kemaren sore masih melekat di tubuhnya, pertanda sampai siang ini dirinya belum menyentuh banyak air selain membasahi dua biji matanya pas bangun tidur tadi pagi. Mau tau gimana cara Fatur membasahi dua biji matanya?? di celupkanlah dua jarinya ke dalam bak mandi, terus dia gosok gosok dah jari basahnya itu ke dua biji matanya. Udah deh, yang penting belekannya ilang. Hmmm begitulah Fatur kalo sifat malasnya sedang meraja.


"Yank!!Mumu nangis nih, bantuin dong!!"Serunya dari dalam kamar. Sesekali poni rata yang dia jepit ke samping kembali berurai sebab tangan nakal mumu yang tak bisa diam terlebih ketika menangis.


"Miyaaaa...adeknya nangis tuh. Bantuin Bunda gih"Seloronya tanpa menatap Miya.


"Kakak lagi makan buah Pah"Sahut Miya tetap duduk manis di meja makan. Bukan tanpa alasan Miya bersikap cuek dengan perintah sang Papah, di lihatnya sang Papah keasikan main game. Buat apa di tulungin. Hohoho Miya pinter khaannn 😏😏.


"YANK!!!"Teriak Mei kehabisan kesabaran.


"Bentar Sayang, dikit lagi menang!"Fatur balas berteriak.


Kepala Mei sudah mumet tujuh keliling karena si mumu masih bawel, mendengar saudara kembarnya menangis bubu pun ikutan menangis.


"Sayang Bunda~~`uluh uluh..lapar yaaa...Bunda bikinin susu ya"Mei meletakan dua bayi kembarnya ke dalam kereta dan menyeretnya ke area dapur.


Di saat kegaduhan terjadi bel berbunyi pertanda seseorang sedang datang bertamu.


"Yank bukain pintunya!"Pinta Mei kembali meminta pertolongan sang suami.


Fatur kembali memerintah Sang putri pertama"Miya~~`bukain pintunya nak"


Miya melirik sang Bunda. Mei menggeleng, sikap Fatur benar benar kelewatan hari ini. Dia tak membiarkan Miya di buat sibuk sedangkan sang Papah sibuk bermain game sedari pagi buta.


Melihat kode X dari kedua jari telunjuk sang Bunda Miya pun kembali duduk manis menghabiskan cemilan siangnya.


"Ting tong!"Bel kembali berbunyi.


"Sayang, bantuin buka pintu"Nadanya masih santai dan lembut. Namun tatapnya begitu tajam, dan yang di tatap masih santai fokus pada layar ponselnya. Beh..pengen Mei bikin perkedel tu jempol, tapi dia adalah Papah dari anak anaknya...ckckckckckck kali ini anak anak kembali menyelamatkan sang Papah.


Fatur tak bergeming rebahan di sofa sembari terus berkomat kamit"Vin vin!!!jagain towernya Vin!!, Joe cover dong. Buruan!!" Dia tak menghiraukan perkataan sang istri.


"Fatur!!"Hilang sudah panggilan sayang itu. Namun Fatur masih tak perduli.


"Lian!!! rush rush!! dikit lagi!!"Pekiknya pada Lian yang juga bermain game online bersamanya.


"Ting tong!!!"Lagi..bel berbunyi.


"FATUR BASKORO!! BALIK KE RUMAH BASKORO SANA!!"Teriak Mei kehabisan kesabaran. Perempuan itu berkacak pinggang dengan bibir bergetar. Nafasnya turun naik coba mengatasi emosi agar tak lepas kendali.


3 Sahabat yang bermain bersama Fatur dapat mendengar teriakan lantang Mei.


Kedua mata Fatur berkedip kedip bagaikan kunang kunang. Spontan dia meletakan ponsel di atas meja. Melepaskan headset dan bergegas ke arah pintu.

__ADS_1


"Mampos!!"Ucap Lian.


"Minggat dah, biarin kalah"Vino kabur. Left dari permainan.


"Wuidih!!bakal perang. Left juga dah. Papay guys"Joe juga pergi meninggalkan medan perang online mereka.


"Yang, aku bukain pintunya"Fatur mengejar Mei yang juga berjalan ke arah pintu sembari menenteng botol susu si mumu.


"Gak usah!!"Sentak Mei keburu kesal.


Tak kehabisan akal Fatur menyabet botol susu di tangan Mei dan segera mengurusi si kembar.


"Cih!!telat. Bakal puasa 3 hari si joni"Tukas Mei seraya membukakan pintu.


Fatur berbalik pada Mei dengan mumu dalam gendongannya"Yank, masa puasa 3 hari si joni"


"Nanya sama aku, tanya sama diri sendiri. Istri udah kaya babu kamunya sibuk maen game teros. Kenapa dulu mati matian ngejar aku kalo akhirnya dari pagi sampe siang begini mantengin game online mulu!"


"Klik!"Pintu terbuka. Ternyata sosok Kaila yang sedari tadi menekan bel berkali kali.


"Wih...ganggu ya??rame bener kayaknya"Ujar Kaila.


"Yank!!"Fatur masih merengek sembari memberi susu pada mumu. Sementara Miya menenangkan si bubu.


"Gak ganggu kok La, silahkan masuk. Yah emang beginilah keadaan kami. Aku lho punya suami kerjaan nya kalo libur maen game online mulu"Sindir Mei tak menghiraukan rengekan Fatur.


"Duh...gini amat kalo berumah tangga. Jadi takut mau melangkah ke jenjang pernikahan. Padahal aku ke sini mau nganterin undangan pernikahan aku sama Lian"


"Nah!!"Mei bertepuk tangan.


"Mending kamu pikir masak masak deh La!!ampe gosong juga gak apa apa. Si Lian sama gamers nya dengan anak Pak Baskoro ini. Kamu harus tekanin ke Lian tuh, jangan sampe kelewatan maen game nya kalo gak mau si joni puasa 3 hari 3 malam"Di mulailah ceramah rumah tangga oleh ustadzah Mei. Fatur yang sadar bersalah meraih ponselnya yang masih online dengan Lian sebagai pendengar rahasianya di ujung game sana.


"Tuh...sambil ngemong anak aja masih mau maen hape!"Lirikan maut Mei membuat Fatur melepaskan kembali ponselnya.


"Asem si Mei, pake was was in Kaila"Ujar Lian dalam hati.


"Oh..jadi kalo suami macem macem yang dapet hukuman si joni??"Tanya Kaila melirik Fatur yang nyengir kuda.


Jadilah siang itu kedatangan Kaila di apartemen Fatur dan Mei mendapat sambutan luar biasa. Dari pasangan ini dia mendapat wejangan sebelum menikah. Beberapa kali Fatur merasa tersindir dengan wejangan yang di berikan Mei kepada Kaila, tapi kalo di pikir pikir semua perkataan sang istri benar semua sih.


Kaila senyum senyum mendengar celotehan Mei yang terkesan mengomel pada Fatur namun berkedok menasehi kepada dirinya.


Tak terasa sampai lewat jam makan siang Kaila keasikan berada di kediaman sahabatnya itu, hingga Lian yang memang mengetahui keberadaannya datang menyusul ke kediaman mereka dan makan siang bersama di sana.


Mei yang kepalang kesal kembali melanjutkan ceramahnya ketika Fatur dan Lian kini berkumpul bersama.


"Dih...aku cuman ngasih tau Kaila kok Lian, aku gak mau aja Kaila kewalahan kaya aku sekarang"Sahutnya melepas jepitan pada poninya hingga terurailah poni khas Mei yang rata bagai boneka jepang.


"Duh...cantiknya kalo ponian gitu"Fatur bermanis kata.


"Oh!kalo gak ponian jelek begitu??"Serang Mei lagi.


"Kwkwkkkw....wanita maha benar Tur, kita mah bisa apa"


"Bisa cuci piring lah Yank"Tambah Kaila.


"Hah!!!"Sahut Fatur dan Lian bersamaan.


"Nah..betul. Silahkan di mulai bersih bersih dapurnya yak. Inget semua yang kotor tolong di cuciin yang bersih! kami mau ngerumpi dulu di ruang tamu. Sambil nonton oppa oppa kinclong joged joged"


"Kyaaaa!!!!Aku pen lihat Jimin oppa dong Mei!!"Pekik Kaila mengekor Mei ke ruang tamu.


"Aku kangen babang Suga nih!!"Mei tak kalah bucinnya dengan Kaila.


Fatur menatap kepergian dua wanita itu datar"Kita di khianatin Li!!"


"Nasib Tur, apa kita harus dandan kaya oppa oppa itu??"


"Mau pake lipstik??"Tanya Fatur.


Lian memutar kedua bola matanya"****...kurang merona kah bibir ku ini Tur??"


"Huweeekkkk!!!"Fatur mendadak pen muntah"Kerja kerja!!"Ujarnya menyadarkan Lian agar segera menyelesaikan tugas mereka.


🏵🏵🏵🏵


"Hupppffhhh!!!"Helaan berat Maira terdengar hingga ke meja kasir. Keano tahu sahabatnya itu sedang menanggung beban namun dirinya benar benar tak kuasa untuk menolongnya.


"Ra!!!terus gimana dong??"


Maira menatap Keano sayu"Entahlah~~"


Wajah putus asa Maira membuat hati Keano terenyuh. Tapi dia harus apa dong???dia gak punya apa apa yang bisa di jual buat dapatin duit.


Matanya menatap mesin kasir...Haruskah dia meminjam pada Bos minimarket??

__ADS_1


"Ra!!aku pinjam sama Bos minimarket aja yak"


"Huh...punya sahabat sebiji doang, pinternya kelewatan pula. Bos minimarket ini kan Kong Mansur juga"


Keano diam sejenak. Yang punya kontrakan sama yang punya minimarket kan orang yang sama. Masa iya dia pinjem duit buat Maira bayar kontrakan ke tempat dia pinjem duit??? Dih muter muter di situ aja. Bola dunia aja muternya ke london,china, jerman, korea. Lah dia sama Maira muternya Kong mansur lagi...kong mansur lagi. Ckckckckk...otak Keano perlu hiburan nih.


"Hihihihi...Aku jadi ikutan mumet deh, jadi gimana dong??"


Gadis itu merebahkan kepala di meja minimarket"Tau akh. Otak ku kayanya mulai meleleh nih, dari tadi malam di pake mikir. Tapi gak nemu jawaban"


"Apa beneran harus ngadu sama Bryan??"Bisik hatinya.


Tit!!!Seseorang dari dalam Pajero putih menekan klakson sembari menatap Maira.


Suara cukup nyaring itu jelas menarik perhatian gadis itu.


"Pak Brama____"Serunya nampak tak bersemangat. Tangannya terangkat ke udara melambay pada salah satu Bos di tempatnya bekerja.


"Wuihi!kenapa Ra!hidup segan mati tak mau nih"Brama duduk di kursi sebelah Maira.


"Eh..kopi dong satu"Pesannya pada Keano.


"Siap Bos"Sahutnya seramah mungkin. Ini kali pertama pertemuan mereka namun jika Brama persikap baik pada Maira maka Keano juga akan bersikap baik padanya. Keano juga sudah banyak mendengar Brama dari curhatan Maira tentang kejahilan Bryan mempersulitnya ketika di kantor.


"Kebetulan ada Pak Brama, apa pinjem duit sama dia aja yak??tapi___"Maira memandangi sisi samping dari wajah Brama. Hm...Bos satu ini gak kalah ganteng kok dari Bryan. Tuhan memang pemahat terbaik, Maira baru menyadari kalo Brama tuh cakep ternyata. Bahkan hanya di lihat dari samping saja sudah mampu membuat dirinya tak berkedip.


"Ra!!!, kira kira dong kalo liatin orang ganteng. Ilernya tolong di kondisikan!"Tegas Brama tiba tiba menatap balik ke dalam mata Maira.


Spontan gadis itu menepis sisi bibirnya."Hah!!!, anu...gak lah Pak. Gak gitu kok, saya___"Akh..Maira kehabisan kata kata. Dia tertangkap basah sedang menikmati ciptaan Tuhan yang hampir sempurna.


"Tuk"Segelas kopi tlah tersedia di hadapan Brama"Silahkan di nikmatin Bos"Ujar Keano dengan senyum manis.


"Selain kopi di sini juga bisa pesan makanan instan yak??"Tanya Brama mendapati microwave di sudut minimarket.


"Yoi Bos, mau di bikinin makanan ya??"


Brama mengangguk"Aku mau mie kimbab super pedas dong, jan lupa tambahin keju ya"


"Prok!"Keano bertepuk tangan.


"Maira Bos! Maira ahlinya kalo bikin yang begituan"


Maira yang sedari tadi otaknya masih loading mendadak gelagapan.


"Anu....kok aku sih Kean!"


"Lah...jan sungkan begitu lah. Kamu kan tiap hari makannya di sini, ayok tunjukan kebolehan kamu menyulap mie instan menjadi makanan ter mantul buat Bos kamu ini!!"Tegas Keano membanggakan sahabatnya di hadapan Pak Bos.


"Oh ya!!kamu doyan makanan instan ya Ra!kalo bisa di kurangin ya, gak baik buat kesehatan"Ucap Brama.


Keano yang bocor terus nyerocos membuka sisi kismin Maira tanpa menyadarinya.


"Lah si Pak Bos, kalo gak makan yang instan emang Maira mau makan apa lagi??"


"Nasib kita bedua gak jauh beda kok Bos, tiap hari bisanya cuman makan di minimarket doang. Cuman dari sekian banyak kesamaan kita berdua tetap ada perbedaannya. Dan bedanya nih kalo saya uang kontrakan udah di bayar, sedangkan Maira uang kontrakannya udah nunggak 2 bulan. Seenggaknya nasib saya lebih bagus kan dari gadis malang ini"Celotehnya santai tanpa menyadari wajah Maira mulai memerah karena ulahnya.


Maira membatu. Dia malu, dia kesal, pengen jitak pala Keano tapi masih ada Brama. Pen aniaya tu anak juga tapi dia harus menahan diri. Ntar kalo Brama udah gak ada baru lah puas puasin ngasih pelajaran ke mulut bocornya Keano.


"Ra!!beneran kamu belom bayar uang kontrakan??pantas galau begini"


Maira menunduk. Wajahnya terasa sangat panas menahan malu. Akh..si Keano malah nyengir nyengir memilih beberapa bahan untuk menyajikan mie super pedas pesanan Brama.


"Berapa emang??"


"1'5 Bos"Sahut Keano lagi. Anjim tu mulut lemes banget, Maira sampai mengepalkan tangan menahan rasa greget.


"Oh...bagi nomor reg kamu. Saya tf uang nya"


"Gak usah Pak!"


"Dih sok kalem. Ntar di usir ngemper di mana kamu??"


"Keano!!"Bola mata Maira hampir meloncat menatap Keano.


"Dah lah Ra!dari tadi malam kamu gak nemu jalan keluar kan. Pak Brama mau bantuin kamu tapi malah di tolak, somplak akh!"


"Kean___"Seru Maira kesal.


"Udah deh. Sekarang bikinin saya makanan dulu. Laper nih, belom makan. Masalah uang kontrakan nanti kita omongin lagi" Maira hanya bisa pasrah di giring Brama menuju mesin microwave.


To be continued...


Happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.


5 November 2020.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2