
**** Bagaimana cara menarik benang jodoh dan mengikat kita berdua,
Tak perlu bermacam alasan,
Kita hanya perlu tahu bahwa ini adalah cinta.
Asalkan melangkah dalam satu irama,
Sakit dan derita seperti apa pun tetap engkaulah satu satu obatnya.
Ku ketuk pintu hatimu dengan panggilan spesial,
Kau menatap mataku dengan segala cinta yang akan kau berikan kepadaku.
Ingin jadikanmu hanya milikku,
Kau ingin jadikanku hanya milikmu,
Malam ini....
Masa depan penuh warna sedang menanti kita,
Tetaplah bersama meski dalam suka atau pun duka,
Tetaplah hangat dalam sebuah tatapan dari kelembutanmu,
Selalu bersama,
Hanya kita berdua,
Kita bertatapan dan saling mendampingi,
Bisikan angin menyatu dalam bahasa kasih dan sayang kita,
Membisikan kebahagiaan akan segera tiba,
Dan kita kan saling berpelukan selamanya,
Saling berpelukan seumur hidup kita...***
🍒🍒🍒🍒
Sempat terjaga hampir semalaman, akhirnya kedua mata Bryan menyerah setelah melakukan panggilan pada Adik semata wayangnya, Kaila. Bahkan ketika sang matahari tlah naik dengan sempurna menerangi bumi Bryan masih tertidur dengan lelap nya.
Maira diam terpaku di samping Bryan, jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dan dia tlah terjaga sejak 1 jam yang lalu. Dirinya hampir berteriak ketika pertama kali membuka kedua mata, antara menyadarkan diri sambil menyusun kepingan kepingan kenangan tadi malam di dalam otaknya.
" Tuhan, apa yang terjadi kepadaku?" Bisik hatinya. Rasa tak nyaman itu semakin menjadi ketika mendapati pakaian yang di kenakannya tlah berubah.
Dia mendudukan diri di tepian ranjang, merasakan area sensitif nya sedikit janggal.
Terbesit ingatan ketika dia tumbang, ketika dia menggengam jemari Aron, ketika dia memohon pada Bryan, ketika Tunder menggendongnya ke dalam bak mandi, juga...tubuh hampir telanjangnya!!
" Oh lord!!!" Gadis itu menepuk keningnya berkali kali.
Keterkejutannya bukan hanya sampai di situ saja, dia berjalan ke depan cermin dan membuka kancing piyamanya.
" Hah!!!, apa aku benar benar melakukannya bersama Bryan??!" Pekiknya tak mampu menahan suara yang lolos dari bibirnya. Seperti yang Selena lihat tadi malam, ada banyak tanda merah kebiruan di tubuhnya. Seketika dia kembali mendekati Bryan, demi memastikan ingatan yang melintas di pikirannya dia pun perlahan sedikit menyibak selimut yang menutupi tubuh Bryan.
Kedua tangannya membungkam mulutnya yang hampir kembali terpekik, bukan hanya dirinya. Bryan juga punya tanda merah kebiruan itu di____lehernya!!! owh kenapa harus di situ??? bagaimana dia menyembunyikan tanda itu dari pandangan orang lain???
Gadis itu bersandar di kepala ranjang, habis sudah. Area sensitif nya terasa berbeda, di tubuhnya begitu banyak tanda merah kebiruan, pakaiannya tlah berganti, dan dalam keadaan tak sadar sepenuhnya dia meyakini tlah melakukan hubungan terlarang bersama Bryan. Meskipun mereka calon suami istri, tapi hal ini salah!! tak seharusnya melakukan pencoblosan sebelum pemilu!!!
" Bodoh!! bodoh!!" Berkali kali dia merutuki dirinya sendiri. Jika hal ini sampai di ketahui sang Ibu, Maira auto di gantung Ibu di pohon cabe!
" Sruk!" Jemari Bryan menggengam jemari Maira dan menarik lengannya masuk kedalam selimut.
Maira tergagap " Pak____".
" Aku masih sangat mengantuk, ayok tidur lagi" Suara berat Bryan membuat kedua mata Maira mengerjap. Begitukah suara khasnya ketika bangun tidur??? kenapa menggetarkan hati?? akh!!! Maira merasa dirinya mendadak berpikiran mesum.
" Maira~~~ sampai kapan mau diam begitu. ayo tidur lagi" Ucap Bryan kembali. Mungkin benar dirinya masih sangat mengantuk, kedua matanya masih tertutup rapat meski sembari berbicara kepada Maira.
" Anu___sudah jam 9 Pak" Cicitnya pelan.
" Berhenti memanggiku Bapak, biarkan jam itu berdenting hingga nanti sore. Kita harus lanjut istirahat Maira, eh...istriku"
Hah!! istriku??? kenapa kata kata itu bagaikan kata pamungkas yang menggetarkan hati ??? jantung Maira menciut ketika Bryan memanggilnya dengan sebutan 'istriku'
__ADS_1
Maira yang kembali terpaku dalam diam membuat rasa khawatir Bryan kembali memuncak. Dia bergegas bangun dan menuju kamar mandi, mencuci muka agar rasa kantuknya sirna.
" Gimana keadaan kamu??" Ujarnya kembali menghampiri Maira.
" Ya salam~~~ rambutnya sedikit basah, kok aku jadi ngebayangin apa yang kami lakukan tadi malam?? apa aku benar benar berubah jadi cewek mesum??? Otak Maira traveling dengan sendirinya. Bayangan Bryan yang bertelanjang dada menari nari di dalam pikirannya. Dalam keadaan basah, lenguhan dan sed*han mereka bersahutan. Oh my god!! Maira bergidik demi menyadarkan diri dari pikiran aneh itu.
" Sruk!!" Bryan memeluk tubuh kecil Maira, mendekap gadis itu dengan sangat erat. Jantung yang sudah berlompatan sedari tadi serasa hendak meloncat keluar dari dalam dada Maira. Sumpah jantungnya gak bisa di kondisikan saat ini.
" Aw!!! saya nggak bisa napas Pak!!" Tepuknya pada lengan Bryan. Dia berusaha menjauh dari Bryan, takut suara jantung yang lagi dangdutan terdengar di telinga pria itu.
" Oh, maaf. Ayolah berhenti memanggilku Bapak. Juga kata baku itu, balik jadi Maira yang berbicara santai kepadaku seperti kita masih SMA dong sayang" Pinta Bryan melonggarkan pelukannya. Heran deh, ni cowok santai banget memeluk dan bicara sayang sayangan kepada Maira. Sebelumnya Bryan masih rada kikuk gitu, sejak kejadian semalam rasa percaya dirinya melonjak naik. Gadis ini miliknya!! selamanya akan menjadi miliknya!!
" Akan___a_k_u usahakan" Ucapnya terbata bata.
Wah, pelukan Bryan membuatnya merasa nyaman. Bermacam pikiran yang sempat beradu di dalam otak nya perlahan tenang kembali.
" Kamu kok bisa ketemu sama Aron sih??"
" A_ku..." Maira coba membiasakan diri berbicara santai pada Bryan.
" Ke pesta tadi malam bersama Angela, dan si kembar juga hadir di pesta ultah tadi malam" Sahutnya. Gadis itu masih berada dalam dekapan Bryan. Seperti takut akan kehilangan Maira, Bryan tak berniat melepaskan pelukannya dari gadis itu.
" Sejak kapan kamu temenan sama Angela?"
" Lumayan lama sih, memangnya kenapa??"
Bryan meraih ponselnya di tepi tempat tidur, menunjukan foto yang di kirim Tunder padanya tadi malam. Ponsel pintar Tunder menangkap sosok Angela dengan jelas meski dari jarak yang lumayan jauh.
Hati Maira mencelos, jadi Angela dalang di balik deritanya tadi malam.
" Mulai sekarang jauhin Angela ya" Pinta Bryan bernada lembut pada gadisnya. Dia tak ingin terkesan mengatur dalam kehidupan Maira, dia hanya menegaskan agar lebih berhati hati ketika berhadapan dengan Angela.
" Iya, eh..bukannya ka_mu sedang berada di pesisir??" Gadis itu masih sedikit aneh karena tlah lama tak berbicara santai kepada Bryan.
" Gimana aku bisa tenang berada di sana kalo kamu dalam bahaya seperti tadi malam" Dia mengangkat wajah Maira agar pandangan mereka bertemu. Sorot matanya menggambarkan kekhawatiran yang mendalam pada gadisnya.
" Apa aku melakukan hal memalukan??" Tanya Maira ketar ketir. Ya!! dia sadar pasti tlah melakukan hal memalukan kepada Bryan. Misalnya....melecehkan pria itu. Ckckckckck, Maira merasa bagaikan seorang penjahat yang tlah menodai tubuh calon suaminya. Wajahnya merah padam mengingat betapa mesumnya dirinya mencetak tanda kepemilikan di tubuh Bryan.
" Maira....sebaiknya kita segera menikah"
" Bukannya kita memang akan segera menikah" Sahut Maira.
" Kamu setuju?"
" Aku setuju" Sahut Maira yakin. Ada sebuah senyum terukir di wajah Bryan. Terasa Maira mengeratkan pelukan di tubuh Bryan, dan di saat itu ketukan dari petugas hotel membuyarkan masa masa bermesraan mereka.
" Aku aja yang bukain pintu" Bryan menahan Maira yang hendak turun dari ranjang. Mengelus pucuk kepala Maira dengan lembut sebelum berjalan ke arah pintu.
Pria itu kembali setelah menerima pakaian mereka berdua yang tlah bersih.
Dan wajah Maira mendadak berubah bak kepiting rebus ketika underwear nya terpampang nyata di hadapan Bryan.
" Aku mandi duluan ya!!" Pekiknya kikuk merampas pakaiannya dari tangan Bryan. Juga pakaian dalamnya.
Sudut bibir Bryan kembali terukir naik, lucu deh kalo Maira malu malu meong kaya gini. Dia kan biasanya rada judes, dalam mode malu malu seperti ini bikin dia nampak semakin menggemaskan.
Setelah membersihkan diri Maira meminta Bryan menceritakan kejadian tadi malam dengan jelas kepadanya. Wajahnya terasa tebal, memanas dan kembali memerah menahan malu. Tak pernah terpikir dia akan menggoda Bryan dan berinisiatif mencium bahkan menjamah tubuh pria itu dengan leluasa. Bayangan dirinya mendes*h dan melenguh memohon bantuan Bryan untuk melepaskan hasratnya.....awh!!! Maira ingin mati saja rasanya. 😱😱😱😱😱😱
🍒🍒🍒🍒
" Selamat siang, Nona Angela. Anda harus ikut kami ke kantor polisi sekarang" Dua anggota kepolisian datang menjemput Angela ke Apartemennya.
Gadis itu mudur dari langkahnya, polisi!!!
" Tapi Pak__apa kesalahan saya?" Ujarnya coba berlagak polos.
" Anda tlah melakukan tindak kejahatan kepada Nona Maira"
" Tapi___"
" Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi" Tanpa basa basi dua anggota kepolisin itu menyeret Angela keluar dari gedung itu. Rasa malu menampar wajah Angela, sepanjang perjalanan dia terus menundukan wajah dan coba menutupi wajahnya dengan rambut pirang yang dia turunkan ke depan. Udah kaya mbak kunti aja kan penampilan Angela sekarang.
Bukan hanya Angela, Si kembar juga tlah di gelandang ke kantor polisi. Selain foto yang di miliki Tunder, bukti dari CCTV hotel menjadi saksi kejahatan mereka.
Tunder terkekeh, bukan Bryan yang melaporkan kejahatan Angela dan Si kembar, tapi dirinya. Dan hal itu membuat dirinya bagaikan seorang superhero sang penyelamat mbak bidadari. Jelas saja dia tertawa puas karena tlah melaporkan para penjahat itu.
Di belahan bumi yang lain Lian dan Kaila beserta Wahab dan Wita tengah berjejer teratur di tepian danau. Masing masing fokus pada ujung pancing yang mereka lempar ke dalam danau untuk mendapatkan ikan.
__ADS_1
Sejauh ini baru Wahab yang berhasil menggiring sang ikan keluar dari danau itu, hal itu membuat Lian kesal. Lagi lagi dia kalah dari pak ustadz muda ini. Cih!!!
" Dahlah!! udahan aja mancingnya. Aku udah lapar" Pancing di tangan Lian dia tarik ke atas dan menggulung kembali tali pancingnya.
" Lho...kan kita sudah sepakat, yang kalah harus memasak makan siang kita kan. Emang kamu bisa masak??" Wahab nampak sumringah. Dia menang, dan itu membuat hatinya girang dan gembira.
" Cih!!! biasa aja mukanya pak ustadz, aku punya istri yang pinter masak tau!!"
" Kalo gitu bukan kamu yang masak. Berarti kamu ingkar janji"
" Eh manusia sok tanpa dosa, Kaila juga gak dapat ikan kan. Otomatis dia juga kalah"
" Oi lelaki tak bertulang, kamu tega banget sih membuat Kaila harus menanggung hukuman atas kekalahan kamu"
" Berantem lagi" Bisik Kaila.
" Biarin, cuekin aja" Balas Wita berbisik jua.
Lian menggeram kesal, di bilang lelaki tak bertulang. Hei!! dia lelaki sejati, bukan siang jadi Lian malam jadi Liona!!!.
" Hm...aku pengen makan sup ayam" Gumam Wahab. Itu kode buat Lian, dan sontak sindirian Wahab itu membuat Lian semakin kesal.
" Hupffhh!!, kamu beli ayam deh sono. Ntar aku yang masak"
" Ogah, aku punya ternak ayam kok di suruh beli ayam"
" Kan ayamnya harus di sembelih dulu Wahab, kamu udah nyebelin jangan bikin aku naik darah yak!"
" Heh, kamu lupa kalo aku ini seorang ustadz?? kalo cuman nyembelih ayam sih gampang" Jentikan jari kelingking Wahab di depan wajah Lian menambah kadar kekesalan di hati Lian. Dia pun menepis tangan Wahab dan segera beranjak dari tempat duduknya.
" Ustadz kok sombong"
" Bidi imit!!" Wahab semakin songong.
Para istri hanya cekikikan menonton perdebatan para suami. Dan tawa mereka semakin menjadi ketika Lian dan Wahab kembali dari perternakan Wahab dalam keadaan cemong dan badan penuh bulu ayam.
" Kalian menangkap ayam apa main kejar kejaran kek anak paud di kandang ayam??" Gelak tawa Kaila terdengar bergema di tepi danau. Tempat mereka berkemah tak jauh dari perkebunan dan peternakan milik Wahab.
" Suami kamu payah, sama ayam aja takut" Gerutu Wahab melepaskan peci putihnya. Jika seperti ini aura pengusahanya barulah terlihat jelas, selain melanjutkan dakwah sang ayah di kampung ini Wahab juga seorang pengusaha perkebunan dan peternakan yang sukses.
" Aku kan anak kota, gak kaya kamu anak desa yang udah biasa menangkap ayam dari orok" Lian membela diri.
" Eh cebong sawah, mesipun dari desa aku menghabiskan masa sekolah dan kuliahku di kota. Kamunya aja yang terlalu manja sampe sama ayam hidup aja takut begitu" Cecar Wahab.
" Akh!! aku capek. Buruan kamu sembelih tu ayam. Aku mau mandi dulu" Ujar Lian berjalan hendak kembali ke arah Villa.
" Enak aja!! abis di sembelih ni ayam bulunya harus di cabutin juga. Bantuin dulu lah" Seru Wahab menghentikan langkah Lian.
Pria itu berbalik tak percaya. Begini amat mau masak ayam di desa, perasaan kemaren kemaren dia di masakin Kaila ayam gak ribet kek begini deh " Kamu ngerjain aku ya??"
" Emang aku kurang kerjaan??" Wahab balik nanya.
" Lah itu, kenapa mau makan ayam aja harus ribet kek begini sih"
" Kaila dari kemaren ngasih aku makan ayam nggak ribet kaya kamu" Lanjutnya terpaksa kembali menuju Wahab.
" Kaila pasti beli ayam potong sama Kang sayur"
" Nah kenapa kita gak beli ayam nya di Kang sayur juga" Sambar Lian.
Wahab mendengus kesal" Ini udah siang, mana ada Kang sayur lagi. Kamu bawel banget sih Li!!!" Sentaknya mulai habis kesabaran.
" Gelud deh" Seru Wita. Dari tadi dia dan Kaila duduk manis menyaksikan berdebatan para suami, gemes juga kan akhirnya.
" Jangan dong, ntar anak kota ini lecet istri solehah ku" Wahab lembut sekali berbicara kepada Wita. berbeda jauh ketika dia berdebat bersama Lian.
" Yank" Panggil Lian mengharap bantuan dari sang istri.
Kaila tersenyum " Kami harus ke perkebunan, mau metik sayuran sayang. Masalah ayam nya kami serahkan sama kalian, masalah sayur mayur serahkan sama kami"
Sahutan Kaila membuat Lian cemberut memandangi Kaila dan Wita yang mulai berjalan meninggalkan mereka menuju perkebunan.
Wahab dengan wajah songongnya meminta Lian menyalakan api untuk merebus air panas. Mau gak mau Lian harus berada di bawah kendali Wahab kali ini. Demi makan sup ayam dia harus bekerja sama dengan sahabat menyebalkan berkedok ustadz, akh!! coba aja ada Fathur sama Vino. Dia pasti akan di belain sama dua sahabatnya itu.
To be continued...
happy reading. Jangan lupa like vote rate dan komen.
__ADS_1
19 Januari 2020.
Salam anak Borneo.