
****Di jalanan penuh bunga
Aku kembali melihatmu lagi,
Mulai detik ini kau kan masuk menjadi penghuni hatiku.
Di bawah cahaya sang mentari pagi,
Tlah ku pastikan kemana tujuan hatiku,
Kamu....Hati ini hanya untukmu.
Di temani sang rembulan...
Rasakan sentuh dan belai rindu yang tlah lama tertuju padamu.
Kisah kita akan segera di mulai...
Cukup kau nikmati manisnya cintaku,
Aku yang kan menjadikan engkau milikku****
🏵🏵🏵🏵
Menilik kontrakan baru yang di diami Joe, nampaknya dia tak sendirian di tempat itu. Dia mendapati celana bola berwarna hitam berjemur di balkon kamar sang teman serumahnya. Sedari tadi malam hingga pagi ini dia sengaja menunggu sang penyewa kamar agar bisa langsung berkenalan dengannya, namun sayangnya hingga jam kerjanya tiba tak ada seorang pun yang muncul dari kamar lain dari bagian kediamannya itu.
"Apa dia orang sibuk???kayanya nggak pulang deh tadi malam"Gumamnya merapikan kembali sarapan yang tlah dia sediakan untuk kawan serumahnya itu. Berharap dengan sepiring sandwich mereka dapat saling akrab satu sama lain.
"Hi aku JOE semua yang ada di dalam sini boleh kau nikmati. Salam kenal"Sebelum berangkat Joe menempelkan memo kecil di depan kulkas.
Fatur sudah menunggu kehadiran Joe di ruangannya pagi ini. Setelah sepakat dengan Vino dan Lian maka resmilah Joe bergabung bersama mereka.
"Selamat bergabung duhai pegawai magang"Vino tos bersama Joe.
"Demi pertemanan kalian jangan sering membully aku ya"Pinta Joe berwajah memelas.
"Heiiii!!kita ini teman, sahabat, mana ada sahabat yang tega ngebully sahabat"
"Yakin??"Tanya Joe dengan sebelah alis terangkat naik.
"Hihihi, yakin lah"Fatur nyengir.
"Aku juga yakin"Vino ikutan nyengir.
"Aku pegang kata kata kalian, kalo kalian jahilin aku awas aja. Aku bakal ngambek terus balik ke kota sebelah"Ancamnya mengacungkan jari telunjuk bergiliran pada Vino dan Fatur.
"Cie cie...bilang aja memang kangen sama Mamah kamu, btw kamu kok mau aja di ajak Lian gabung di sini, bukannya restoran Mamah kamu lumayan sukses"
"Hooh tuh, kamu sebagai anak tunggal pasti akan jadi pewarisnya kan"Timpal Fatur.
"Justru itu yang bikin aku minggat ke sini, bisnis kuliner bukan bidangku cuy. Aku udah coba mendalami bisnis itu tapi selama ini hasilnya nol besar. Dah lah biar Mamah ku aja yang bergelud di bidang itu"Jelasnya panjang lebar.
"Manusia durj4na, untung Mamah kamu kalem. Kalo Bunda aku pasti udah di pepes aku nya"
"Apalagi Mamah aku, alamat di geprek aku nya"Tambah Fatur.
"Tapi Joe, mereka tau kan kamu menetap di sini??"
"Iya lah Tur, bisa jantungan Mamah ku kalo aku maen kabur aja"Sahut Joe menilik beberapa berkas di atas meja Fatur.
"Bagus bagus, duileh Joe anak baek banget sih"Goda Vino.
"Najis...."Joe menepis tangan Vino yang hendak bergerilya memegang jemari tangannya.
Fatur terkekeh melihat tingkah mereka. Vino sih nyengir aja, udah lama dia nggak menggoda Joe yang anti banget di pegang pegang laki. Kalo di pegang pegang cewek mah beda urusan itu 🤣.
"Nah karena semua sudah jelas, nih"Fatur melimpahkan tumpukan berkas yang sempat di tilik Joe.
"Di apain??"
"Di makan"Vino gemes.
"Hahahaa di apain kek terserah kamu deh"Fatur malah ikutan bikin Joe bingung.
🏵🏵🏵🏵
Bryan menyuapi bubur hangat dengan telaten kepada Maira. Ini sudah jam kerja tapi tak sedikit pun dia berniat pulang dan segera bekerja. Maira yang menyadari hal itu lantas membuka suara, sedari dia terbangun dari tidur tadi tak banyak yang diri nya dan Bryan ucap kan.
Maira kembali membuka mulut ketika suapan terakhir dari buburnya kembali Bryan suapkan.
"Pak Bryan nggak kerja??"
"Nggak"Ujung jemarinya menyapu bubur yang nampak tersisa di sudut bibir Maira.
Perlakuannya jelas membuat gadis itu kikuk. Hei, ini bukan Bryan yang biasanya, kenapa dalam semalam dia berubah menjadi hangat dan sangat perhatian.
"Sa___saya bisa sendiri Pak"Maira menghindar, mengambil tisyu dan menyeka pinggiran bibirnya pelan. Rasa ngilu ketika menyeka bibir membuatnya spontan mengaduh.
"Makanya biar aku aja, kamu di tampar berapa kali sama preman itu??biar aku patahkan tangannya"Wajahnya tiba tiba terlihat garang. Maira menggeleng, dia tak ingin memperpanjang masalah.
"Aku tau siapa mereka Ra, aku akan cari mereka"
"Nggak usah, sudah di selamatkan saja saya sangat bersyukur"Ucapnya pelan.
Suasana menjadi hening.
Dan...
"Baiklah, kalo itu keinginan kamu. Dan mengenai Angela, dia bukan siapa siapa aku"Ucapnya tiba tiba.
"Ng??"
"Jelas kan sekarang"Tambah Bryan.
"Apa nya Pak??"
Bryan menarik nafas"Angela bukan pacar aku"Ulangnya menjelaskan status dirinya dan Angela. Hal ini harus dia luruskan. Sudah dia putuskan dalam hati kecilnya, mulai sekarang dia nggak akan melepaskan Maira lagi.
Memutar kedua mata sembari menunduk, Maira coba mencerna apa maksud dan tujuan Bryan menyingkap kebenaran ini.
"Kamu beneran nggak punya sodara di sini?? bukannya waktu SMA kamu tinggal sama tante kamu di sini??"Tanya nya mengambilkan segelas air putih dan menyerahkannya kepada Maira.
"Udah lama dia kembali ke kampung"
"Dan saya cuman punya Keano di sini"Ucapnya. Ih jadi dirinya dan Keano sangat dekat??? ada sedikit rasa kecewa menggelitik hati Bryan, kenapa harus sangat akrab dengan cowok lain??kenapa dia nggak sahabatan sama sesama cewek aja??
__ADS_1
"Punggung kamu masih sakit??"
Maira menggeleng.
"Kakinya??"
"Udah baikan kok"Sahutnya menggerak gerakkan pangkal kakinya"
"Kamu berani kalo aku tinggal sebentar??"
Pertanyaan itu sedikit membuat Maira takut, sepertinya Bryan akan pergi. Lantas....siapa yang akan menemaninya di sini??
Mendapati gadis itu terdiam dengan pandangan tertunduk Bryan meraih jemari jemari kecil Maira.
"Aku cuman sebentar kok, nih dari tadi malam aku belum balik ke rumah. Aku harus mandi dan juga sarapan"Ya...Maira baru menyadari pria itu masih mengenakan kemeja yang dia kenakan tadi malam, juga...sudut bibirnya terlihat lebam.
"Itu sudah di obati??"Tunjuknya pada sudut bibir Bryan. Dia tak perlu lagi menanyakan dari mana lebam itu berasal, meski samar samar dia tau Bryan lah yang menyelamatkan nya dari para preman tadi malam.
"Udah kok, aku nggak cuman jagain kamu. Aku juga bisa jaga diri sendiri, dan sekarang giliran kamu yang harus jagain diri kamu sendiri, bentar doang kok" Sahutnya masih menggenggam jemari kecil gadis itu.
Maira menarik pelan jemarinya, dia merasakan tubuhnya seketika berkeringat dingin. Juga sang hati di dalam sana, ayyaaa~~~ untung dia di dalam, seandainya hati itu berada di luar mungkin dia sudah menjungkir balik kan ruangan ini sedari tadi. Hatinya deg deg an banget, tak ada angin tak ada hujan pria nyebelin ini berubah menjadi pria hangat dan sangat perhatian. Tutur katanya pun lemah lembut, Maira jadi merindukan sisi lembut Bryan ketika masih SMA dulu.
"Hei jangan melamun dong"Jentikan jemari Bryan menyadarkan Maira.
"Saya baik baik aja kok, Pak Bryan pulang aja dulu"
Lagi...setelah Maira setuju dia tinggalkan sebentar sebuah usapan lembut di pucuk kepalanya membuat hati Maira menjerit.
"Tunggu aku sebentar ya, aku akan balik ke sini secepatnya"
Maira sedikit mendongakan kepala menatap wajah Bryan, apa yang salah dengan diri Bryan??
Sejenak pandangan mereka bertemu, tak seperti biasanya kali ini Maira menatap lekat lekat pria di hadapan nya ini.
"Pak Bryan aneh"Kata kata itu lolos begitu saja dari bibir nya.
Sudut bibir Bryan terukir naik.
"Cup"Sebuah kecupan mendarat di kening tertutup poninya.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan aku yang aneh ini"Ucapnya memegang pipi gadis itu dan menatap lebih dekat ke dalam matanya.
Bryan merapikan poni Maira selepas mendaratkan kecupan di sana.
Dia pun pergi meninggalkan Maira yang mematung dan ketika pintu tertutup barulah gadis itu tumbang di tempat tidurnya.
"Hoel! ada apa ini??"Gumamnya terkejut.
Dia meraba keningnya"Akh...apa aku potong poni saja??, tapi aneh kan"Ucapnya lagi.
Di balik pintu Bryan terkekeh geli. Tingkah Maira di dalam sana sungguh menggemaskan. Bryan bersyukur gadis itu baik baik saja meski sempat mengalami kejadian pahit dan hampir kehilangan hal berharga dalam hidupnya.
🏵🏵🏵🏵
Menjelang siang hari di kediaman Kaila dan Lian.
"Mbak istri sayang"Lian memeluk Kaila yang masih menggunakan kimono selepas mandinya. Rambut basah sehabis mandinya yang masih terbungkus handuk begitu menarik perhatian Lian.
"Wuihhhh abis ngapain sayang, mandi basah dari ujung kaki sampe ujung kepala yaaaa"Godanya menciumi ceruk leher sang istri.
"Di mana mana orang mandi tuh pasti basah sayang, emang kamu tadi mandinya nggak basah??"Tanya Kaila menyurai rambut Lian yang nampak belum kering sempurna.
"Kamu lepasin aku dong, gimana aku berpakaian kalo kamu terus memelukku kaya gini"
"Pake aja bajunya sayang, aku nggak bakal ganggu"Sahutnya masih memeluk manja sang istri.
"Lian sayang"Lenguh Kaila coba melepaskan diri dari pelukannya.
"Aw, aku deg deg an kamu panggil kaya gitu"Ujarnya menatap nakal Kaila.
"Ugh, memangnya mau di panggil apa lagi?"
"Gitu aja, sederhana tapi nenangin hati"Bisiknya di telinga Kaila. Dia mulai melancarkan triknya di daun telinga sang istri. Menyentuh titik sensitif Kaila yang baru dia temukan tadi malam.
Seketika bulu bulu halus di tubuh Kaila beridiri, dia merespon sentuhan lembut Lian yang kini mulai turun menyentuh titik sensitif lainnya.
"Kamu nggak lapar??"
"Nggak!, makan kamu aja"Sahut Lian berhenti sejenak dari aktivitas nakal nya.
"Tapi aku lapar"Kaila menarik wajah Lian sejajar dengan wajahnya.
"Hmm...oke deh. Kamu mau masak apa kita pesan makanan aja?"Di usapnya pipi wanita yang kini tlah sah menjadi istrinya itu.
"Aku intip kulkasnya dulu ya"
"Iya, abis makan temenin bobo ya"
"Lagi??"Tanya Kaila mengedipkan kedua mata menatap pria berlesung pipi nya ini.
Lian tersenyum lebar"Aku punya misi khusus dari Mamah, mau nggak mau aku harus menyelesaikan tugas itu kan"
"Tugas apa??apa hubungannya sama bobo??"
"Tugas bikinin cucu buat Mamah Vivi"Bisik Lian kembali mendekati Kaila.
Kaila menghindari usaha Lian hendak memeluknya kali ini. Nggak akan selesai urusannya jika dia kembali masuk dalam pelukan pria mendadak mesum ini.
Demi ketenangannya dalam berpakaian Kaila harus memaksa Lian keluar dari kamar, dan jelas saja Lian menolak. Namun Lian akhirnya setuju keluar dari kamar setelah Kaila mendaratkan ciuman manis di bibir sang suami.
Lian coba menenggelamkan Kaila dalam manisnya ciuman lembutnya, namun batas kesadaran Kaila masih di atas rata rata. Menikmati ciuman itu sebentar kemudian menggigit bibir sang suami akhirnya Kaila lepas dari jerat Lian yang terus menggodanya.
"Lapar banget ya, sampe bibirku kamu gigitin"Lian terus mengekor Kaila yang kini tengah sibuk di dapur.
"Iya laper banget malah, makanya jangan gangguin. Kamu cari kerjaan lain sana"
"Aku kan lagi cuti, jadi aku nggak ada kerjaan sayang"
"Ya udah kamu cuci sayurannya"
"Aku nggak bisa"
"Masa nyuci sayuran aja nggak bisa, jangan banyak alasan deh Yank"
"Beneran, aku cuman bisa nyuciin kamu sayang"
__ADS_1
"Aduh Lian....kamu diem di meja makan aja deh"
"Nggak! aku takut"
"Lah...kamu takut apaan??"
"Aku takut merindukan kamu sayang"
Kaila meraih sendok dan bergaya hendak memukul jidat Lian dengan sendok itu.
"Jangan!!! sendok itu sangat berbahaya buat aku sayang"Pekik Lian.
"Ah sendok doang, berbahaya dari mana"
"Ih kamu aja yang nggak tau, sendok itu bisa mengaduk aduk hati aku lho"
Kaila mengulum bibir, ini si Lian kesambet jin alay atau gimana sih. Dari tadi kerjaannya godain dia mulu.
"Sini deh"Kaila menarik Lian ke depan kulkas"
"Di dalam sini es kopi kamu sudah aku bikinin. Sekarang Bapak Lian yang cakep sejagat raya tolong duduk manis aja di ruang tengah. Nonton Tv sambil minum es kopi sedep banget kan tuh"
Lian mengangguk patuh. Kini dia tlah duduk di ruang tengah dengan segelas es kopi bikinin istri tercinta di depan mata.
"Sayang aku mau tanya dong"Kata kata Lian menghentikan langkah Kaila yang hendak kembali memasak di dapur.
"Es batunya"Ucapnya sok memperhatikan sesuatu di dalam es kopinya.
"Kenapa es batunya??"
"Nggak kaya kamu sayang"Ujarnya menyilangkan kedua tangan di dada. Dia seakan enggan untuk menikmati kopi kesukaannya itu.
"Eh, apa lagi sih"Kaila terpaksa kembali mengintip es kopi yang dia sajikan untuk suami somplaknya.
"Es batu ini meleleh di dalam kopi, kok beda sama kamu yang bikin aku meleleh di hati kamu"
Kaila geram. Dari tadi jadi kang bucin banget.
"Udah!, aku nggak jadi masak. Cepet order makanan. Aku lapar!!!"Kaila melepaskan apron nya dan menghempaskannya ke sofa biru.
"Nah gitu dong sayang, makanan siap di order. Sini temenin mamas suami nonton film horor"
"Dih kok film horor??"
"Biar aku bisa peluk peluk kamu, ini film horor nya nyeremin banget lho Yank, di jamin kamu pasti takut banget"
Rahang Kaila seakan lepas saking tak percaya betapa anehnya Lian sekarang. Dapat ilmu dari mana ni cowok kok mendadak kek bang deni cagur 😝.
"Hehehhhe, udah dong bengongnya. Siap siap kaget ya, ini film horor tingkat dewa lho"
Malas menanggapi kebucin an Lian, Kaila pasrah duduk manis di samping mas suami."Iya iya, bilang kek dari tadi maunya di temenin kaya gini"
"Kamu nya aku kasih kode nggak ngerti ngerti sih"Lian menarik bantal sofa dan rebahan di karpet berbulu di depan televisi.
"Sambil nungguin makanan, sini masuk dalam pelukan mas suami"Kedua tangan Lian menggapai gapai ke arah Kaila.
"Cih...dasar ulet bulu. Kelakuannya bikin gatel"Meski mengomel Kaila tetap saja berakhir di pelukan Lian. 😅
🏵🏵🏵🏵
Alunan musik sendu mendayu dayu di dalam Cafe. Angela menatap jalanan dengan pandangan hampa. Dia salah dan dia baru menyadari hal itu. Nggak seharusnya dia berniat mencelakaian Maira, dan sekarang bagaimana keadaannya??.
Berkali kali dia menghubungi Bryan namun tak satu pun pesan atau pun panggilan telpon nya mendapat respon. Bryan seakan menganggapnya tak ada, ini hal yang sangat menyakitkan bagi Angela.
Berniat hendak kembali melakukan panggilan ke nomor Bryan namun dia di kejutkan dengan kehadiran seorang Bryan di depan hadapannya.
"Kenapa nelponin terus??"
Nada bicara, raut wajah, ini bukan Bryan yang biasanya begitu hangat kepadanya.
"Aku kangen aja, kamu pulang jam berapa kemaren malam?? maaf aku nggak nungguin kamu balik"
Wajah tanpa dosa, seakan tak terjadi apa apa Angela bersikap santai dan biasa saja.
Bryan cukup terkejut dengan sikap yang di tunjukan Angela"Apa dia pikir aku tuli hingga tak mendengar percakapannya dengan orang suruhannya itu"Pikir Bryan menatap gadis cantik di hadapannya ini. Dia cantik, bahkan kebanyakan orang mengatakan dia sangat cantik, garis wajah yang di ukir sang pencipta ketika mengukir wajah mempesonanya tak jarang membuat kaum wanita merasa iri akan kecantikannya.
Namun di balik wajah cantik itu,,,yah,, Byan sangat menyayangkan sikap Angela. Dia benar benar kecewa padanya.
"Oh...kirain kenapa, kamu kaya panik gitu. Apakah ada sesuatu yang terjadi??"Selidiknya. Oke, jika cara ini yang Angela inginkan. Perlahan dia akan mengungkap keburukannya dengan tetap menjadi sahabatnya.
"Nggak sih, cuman khawatir sama kamu aja"
"Aku baik baik aja kok. Aku kemaren cuman nganterin Maira pulang terus mampir ke tempat Brama. Dianya ngajakin nonton film gitu, jadi ketiduran deh"Bryan berkelakar.
"Oh...jadi Mairanya ketemu??"
"Ketemu lah, emang kenapa??"Tatapnya lurus pada dua bola mata Angela.
Gadis itu nampak serba salah"Aku___ya bagus deh. Soalnya kamu kan nanyain aku. Aku nggak tau dong kalo dia balik duluan"
"Oh gitu. Ya udah, aku mau balik nih"
"Lho..kok udah mau balik??"
"Aku ke sini cuman mau mastiin kamu aja. Ku pikir kamu kenapa kenapa nelponin mulu"Bryan jengah mengucapkan itu, namun beginilah sikap nya pada Angela dulu, begitu berhatian dan berkata lembut.
Angela nampak tersipu"Balik ngantor??"
"Iya dong. Kenapa??"Tanya nya lagi.
"Nggak ngobrol dulu, aku pesenin minum ya"Tawarnya coba menahan Bryan lebih lama bersamanya"Aku kangen banget lho sama kamu"
"Siang ini ada meeting, aku harus buru buru balik ke kantor"Kilah Bryan lagi. Dia tau Angela menatapnya lekat dengan mata berbinar, pertanda dia sangat mengharapkan Bryan bersama nya saat ini. Namun dia tak akan terkecoh lagi, dia harus cepat meninggalkan Angela dan menemui Maira.
Angela melirik penampilan casual Bryan mula dari atas hingga ke bawah.
"Wuidih...pake di pelototin gitu. Emang ngantor harus selalu pake jas ya???sekali sekali santai biar kaga kram otak nya"Celotehnya menyunggingkan senyuman.
Mendapati Bryan yang tlah santai berbincang dengannya hati kecil Angela akhirnya dapat bernafas lega.
"Dia masih Bryan ku"Bisik hatinya.
To be continued...
Happy reading. Jangan lupa like vore rate dan komen.
__ADS_1
12 Desember 2020
Salam anak Borneo.